MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
KEKECEWAAN HERMAN


__ADS_3

Herman terbangun di sebelah istrinya yang tertidur dengan pulas, kemarin sore saat istri dan anak sambungnya sedang tidak ada di rumah, Herman langsung mengambil semua perhiasan Kokom dan dia taruh di tas kerjanya, karena Kokom tidak akan berani membuka tas kerjanya itu.


Herman melihat wajah istrinya yang tertidur pulas, dan merasa tak percaya, ternyata di balik wajah yang polosnya tersimpan rencana licik yang ingin menguasai kekayaan dari ibu ku.


"Aku dan Ibu mau kamu tipu Kom! Jadi ini tujuan mu Kom menikah denganku dan mendekati ibuku? untuk menguasai tanah milik orang tuaku dan tanah milik Arka. Tapi kenapa kamu begitu baik dan penurut saat awal awal pernikahan kita" lirih Herman yang masih menatap Kokom dengan intens dalam tidurnya.


"Apa semua itu hanya kepura-puraan kamu saja, agar aku mau menghidupi kalian berdua, mau membiayai hidup anakmu dan membuatku melupakan anakku sendiri" lirih Herman merasakan sesak di dalam dadanya. Herman merasa sangat di khianati oleh istrinya, bahkan rasa sakitnya lebih sakit dari pada di selingkuhi. Dengan langkah yang gontai Herman berjalan ke kamar mandi. Dia membasuh badannya di kamar mandi dengan bersih. Padahal masih sangat pagi, bahkan matahari pun belum menampakkan dirinya. Herman yang sudah lama tidak melaksanakan kewajibannya yaitu sholat shubuh. Walaupun dia sering bangun pagi pun, dia masih saja malas untuk melakukan sholat. Setelah selesai dengan pakaiannya Herman pergi membawa tas kerja nya di pagi buta. Di saat istri dan anak sambungnya sedang tertidur lelap.


Herman mengendarai motornya dengan kecepatan pelan sambil menikmati dinginnya pagi, entah kemana tujuannya pagi-pagi buta ini dengan membawa tas kerja yang berisikan perhiasan Kokom.


Setelah berjalan pagi menggunakan motornya hingga jam matahari sudah terbit. Herman berhenti di pinggir jalan. Dia melihat jam yang bertengger di tangannya. Tak terasa sudah jam setengah 7 pagi.


"Kayanya mendingan ke kantor aja, dari pada motor-motoran gak jelas kaya gini" gumam Herman, dia melanjutkan mengendarai motornya untuk ke kantor kecamatan.


Saat sampai di kecamatan, kantor masih sepi karena jam masuk itu jam 8 pagi. Herman masuk ke dalam kantor dengan kunci yang di bawanya. Karena semua staf mempunyai kunci pintu kantor, saat sudah sampai di dalam, Herman langsung duduk di sofa yang sengaja di sediakan untuk tamu datang berkunjung, Herman menidurkan badannya dengan selonjoran dan matanya menatap langit-langit kantor, masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya kemarin. Hal yang paling menyakitkan adalah istrinya sengaja tidak mau mempunyai anak bersama nya, padahal Herman bisa berobat. Herman mengehembuskan nafasnya kasar dan mencoba memejamkan mata untuk tidur sebentar karena baru jam 7 kurang.


Tak berapa lama Darto pun sampai di kantor kecamatan, dia melihat ada motor yang sudah nangkring cantik di depan kantor.


"Tumben amat ada yang udah datang, rajin dia, biasanya gue yang paling rajin" ujar Darto yang langsung mematikan mesin motornya dan masuk ke dalam kantor, karena kuncinya sudah terbuka.


Darto melihat ada manusia yang sedang rebahan di sofa depan, dia pun melangkahkan kakinya mendekati lelaki tersebut, saat sudah berdiri di pinggir sofa, Darto menggelengkan kepalanya melihat Herman sedang tertidur dengan lelapnya.


"Man... Bangun man...! udah pada mau datang Staf man" ujar Darto yang mencolek pipinya Herman.. supaya bangun, Herman pun bangun seketika. Kaget mendengar suara temannya itu, Herman menghembuskan nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Herman


"Jam setengah delapan, lu ngapain sih tidur di kantor? kabur lu dari rumah?" tanya Darto.


"Enggak.. gue cuman berangkat ke pagian aja ke kantor, karena gak ada orang gue tidur dulu masih ngantuk soalnya." Terang Herman.


"Ya lu ngapain datang kepagian, biasanya juga datang mepet lu."


"Lagi males gue di rumah, kalau di kantor boleh nginap, gue pengen nginep disini beberapa hari"


"Ya mana boleh lah, udah Kalau ada masalah tuh selesaikan, jangan di hindari" ucap Darto bijak.

__ADS_1


"Tar deh gue mau nanya ke lu, kali aja lu punya solusi buat masalah gue" ujar Herman


"Ya udah kita ke meja aja sekarang, bentar lagi mau pada datang soalnya." ucap Darto yang bangun dan melangkahkan kakinya ke meja kerja nya , Herman pun melakukan hal yang sama.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_&&&\_\_\_\_\_\_\_\_


Kokom terbangun di pagi hari, dia bingung tidak mendapati suaminya di sampingnya, karena biasanya jam 6 ini, Kokom biasanya bangun dan suaminya itu masih tertidur lelap.


"Mas Herman kemana? apa lagi di kamar mandi?" gumam Kokom.


"Tapi gak ada suara orang lagi mandi," ujar Kokom lagi, Kokom pun menyibakan selimutnya dan bangun menuju kamar mandi yang tidak terkunci. Ia melihat ke dalam kamar mandi, ternyata kosong tidak ada siapa-siapa.


"Mas Herman gak ada, apa lagi jogging kali, ya udahlah biarin aja, mending aku mandi beberes rumah bikin sarapan buat mas Herman, biar kalau mas Herman balik dari jogging nya dia gak marah- marah" ujar Kokom yang langsung mandi saat itu juga, setelah mandi Kokom pun memakai pakaian dasternya yang baru, lalu membersihkan tempat tidurnya. Setelah kamar tidur rapih, Kokom pun keluar dan menyapu rumah hingga rapih dan bersih, di pungutnya sampah yang berserakan di sekitaran rumah, rumah sudah rapih, Kokom langsung memasak sarapan untuk suaminya serta anaknya sambil bernyanyi riang. Setelah semua pekerjaan rumah selesai. Kokom pun duduk di meja makan sambil menunggu kedatangan suaminya.


"Ini mas Herman kok lama banget ya? mending aku mandi dulu aja lagi, badan keringetan" ujar Kokom yang balik ke kamar untuk mandi.


Kokom sudah siap dengan baju rumahannya, untuk menunggu suaminya pulang di kursi tamu, tapi sampai jam setengah delapan pun suaminya belum muncul juga. Kokom jadi khawatir, takutnya suaminya itu di goda janda kembang.


"Mas Herman kemana sih? belum pulang jam segini" gumam Kokom karena resah, Kokom pun ke kamar untuk mengambil HP nya dan mencari kontak suaminya itu, setelah ketemu Kokom langsung menelpon suaminya itu dan berdering, percobaan pertama gagal, karena suaminya tidak mengangkat teleponnya. lalu Kokom mencoba lagi tapi Kokom harus menelan kekecewaan karena mas Herman suaminya itu malah me reject sambungan teleponnya.


"Kok malah di reject sih? sialan lagi ngapain sih dia? jangan-jangan bener lagi. Dia lagi di godain sama janda kembang komplek sebelah, awas aja pas pulang, akan aku buat perhitungan dengan mas Herman" geram Kokom kesal. Kokom masih menunggu suaminya itu hingga jam 8 pagi. Kokom masih saja terus melihat jam dinding di tembok nya itu.


"Ini anak gadis jam segini baru bangun, kamu gimana mau dapet kerja Nita. Kalo kamu bangunnya aja siang, rejeki kamu di patok ayam nantinya!" ujar Kokom kesal melihat kelakuan anaknya itu.


"Mamah ngapain sih? pagi-pagi udah nyanyi aja, berisik tau gak sih mah." Teriak Nita kesal.


"Berani kamu bentak-bentak Mamah sekarang Nita" teriak Kokom kesal.


"Lagian pagi-pagi udah berisik Mah, malu sama tetangga, tar di kira Keluarga kita keluarga orang hutan lagi, hobinya teriak teriak mulu" Ujar Nita yang langsung duduk di sebelah ibunya.


"Kamu mandi sana Nit, bau itu mulut kamu, mana itu upil di mana-mana, gadis kok jorok" ucap Kokom yang merinding disko melihat rupa anaknya di pagi hari, yang jauh dari yang namanya terkesan anggun.


"Ia mamah bawel, aku mandi dulu" ujar Nita yang langsung masuk ke kamar untuk mandi di kamar mandi di kamarnya.


Setelah beberapa jam Hingga jam sembilan pagi. Herman belum juga kembali ke rumahnya. Kokom merasa cemas. takutnya Herman kecelakaan atau benar-benar di goda sama janda komplek sebelah.

__ADS_1


Nita yang sedang memakan-makanannya pun heran melihat wajah ibunya yang pucat dan sangat khawatir itu.


"Kenapa sih Bu? Dari tadi muka asem banget, Sepet liatnya" ujar Nita.


"Bapak kamu Nit. Dari pagi buta gak ada di kamar sampai sekarang kemana ya?" ujar Kokom cemas.


"Akh masa sih. Udah berangkat kali mah ke kantor."


"Kok dia gak sarapan dulu. Gak pamit lagi sama Mamah."


"Udah sih Mah. Gak usah khawatir bapak udah gede ini"


"Kamu kapan mau ngelamar? udah siang belum berangkat"


"Hari ini mah.. doain ya. Biar di terima?"


"Ia kamu nya yang menyakinkan biar si terima "


"Sebenarnya Nita lagi bad mood Mah, buat ngelamar hari ini," ujar Nita sambil terus memakan nasi goreng nya entah sudah berapa piring.


"Kenapa emangnya?" ujar Kokom penasaran.


"Kamu jangan Ngadi-ngadi deh Nit, udah bener ngelamar hari ini, pake acara mood-moodan apaan lagi itu?" ujar Kokom kesal.


"Nita dari kemaren lagi kesal Mah, ketemu sama anak bapak, si Arka itu yang sombongnya amit-amit. Dan Mamah tau apa yang lebih heboh dari pertemuan Nita sama si Arka"


"Emang kamu ketemu Arka di mana?"


"Di jalan melati Mah, tanah milih Nenek endang yang di kasih ke si Arka yang SERAKAH itu!"


"Lagi ngapain dia disitu Nit?"


"Ternyata di tanah itu lagi di bangun Supermarket gede banget Mah. Luasnya kaya Mall di atas Supermarket ada bioskop dan di atas nya lagi ada mesjid sama food court, bisa Mamah itung kan. Disana itu tempatnya strategis dekat jalan. Deket sekolahan sama kampus juga, sama dekat perumahan. Itu tanah di tengah-tengah itu semua. Pasti Supermarket itu bakalan rame dan Mamah pasti tentu bisa mastiin berapa pendapatan perbulan nya yang bakalan di dapetin si Arka" ujar Nita wah.


"Kurang ajar emang anak sialan itu. Udah tanahnya di kuasai, sekarang malah bangun Mall. Apa bapak sudah tau?" ujar Kokom.

__ADS_1


"Entahlah Mah, Nita gak tau" ujar Nita menggerakkan bahu nya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_&&\_&\_&&\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2