MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
KARMA DI BAYAR TUNAI


__ADS_3

Kedua orang suruhan teman Arka pun keluar dengan hati bahagia. Tugas gampang, duit gede, pikir mereka. Kedua orang itu pun segera pergi dari rumah Kokom dan sedikit berlari ke tempat di mana sepeda motor mereka di sembunyikan. Tempatnya yang lumayan jauh dari rumah Kokom dan sepertinya keberuntungan sedang memihak kepada mereka berdua, malam ini jalanan sangat sepi, tidak ada satupun orang yang lewat, jadi sangat memudahkan mereka melancarkan aksinya.


Mereka berdua pun sampai di tempat motor. Segeran saja mereka pergi dari kampung tersebut. Menembus gelapnya malam dan sepinya jalanan.


Saat sudah sampai rumah, salah satu orang suruhan temannya Arka pun memfoto sertifikat yang berhasil dia bawa. Entah sebenarnya temannya Arka hanya meminta mereka untuk menghancurkan barang-barang yang ada di kontrakan nya milik Kokom, tapi saat dia berhasil mendapatkan sertifikat rumah. Dia ingin mengambilnya dan memberitahukan kepada Bos nya.


"kali aja bayaran gue di tambah, gara-gara bawa sertifikat ini" ucap salah satu dari orang suruhan temannya Arka itu. Dia pun mengambil foto sertifikat dengan nama pemiliknya, setelah itu dia mengirimkannya ke Bos yang menyuruh nya.


"Misi selesai" ucap lelaki tersebut sambil mengetikan kata yang sama di chat.


( Misi success dan selesai )


( Ok bayarannya akan saya kirim sekarang, dan jangan lupa kamu jaga sertifikat itu, nanti akan saya ambil sekalian saya tambahin bonus kamu ) ujar temanya Arka.


Teman Arka pun mengirim gambar sertifikat rumah Herman kepada Arka sekaligus memberitahukan kalau misi sudah selesai, beberapa menit kemudian Arka pun menerima balasan chat dari temannya dengan wajah bingung.


"Ini kan sertifikat rumah Bapak, kenapa ada sama ibu Kokom?" ujar Arka mengernyitkan dahinya.


"Tapi biarlah, Ini bisa aku jadikan senjata agar Bapak tidak merecoki hidupku dengan tingkah anehnya"  ujar Arka berbicara sendiri Rayyan yang melihat Arka senyum- senyum dan ngomong sendiri, merasa takut dan bergidik ngeri. Arka dan Rayyan kini sedang berada di pesawat pribadi milik Agam, karena esok Rayyan harus kembali ke kampus dan Arka pun harus mempersiapkan segala kebutuhannya untuk pindah kuliah di MIT. Amerika.


"Lu kenapa bang? liatin HP sampai senyum-senyum dan ngedumel sendiri. Lu punya gebetan ya bang?" Tanya Rayyan ngeledek.


"Gak apa-apa, gue lagi ngerjain si Nita sama emaknya, tapi lu tau dek, Gue dapetin jackpot kayanya." Ujar Arka yang membuat Rayyan semakin penasaran dan membulat kan matanya.


"Apaan bang? Dapet foto jeleknya om Herman ya? Apa dapet Videonya si Nita jadi sugar Daddy, baguslah Video itu bisa aku gunakan buat ngancem dia, biar gak ganggu mulu, Risih di gangguin mulu sama tuh nenek lampir" ujar Rayyan kesal.


"Ia, kamu jangan terlalu kesal sama benci sama si Nita, tar malah suka loh" ucap Arka menggoda adiknya itu.


"Ikh... Jangan bilang gitu lah bang! Ngeri saya" Ucap Rayyan menggedikan badannya.


"Udah akh tidur, perjalanan masih lama soalnya" ucap Arka. Rayyan pun tertidur dengan pulas nya.


\_\_\_\_&\_\_\_\_


Keesokan harinya...


Herman yang pagi-pagi sekali membersihkan rumahnya, dari keadaan rumah yang sangat berantakan. Herman pun sudah meminta ijin kepada pak camat kemarin, untuk tidak masuk hari ini. Dan Herman pun memberikan bukti foto, kalau rumahnya baru saja di masuki orang jahat dengan menghancurkan semua barang- barang yang ada di rumahnya.


Herman mengembalikan peralatan makan kedalam tempatnya dan mencuci sendok dan garpu yang berserakan di lantai lalu menyapu kamarnya, membereskan pakaian yang berhamburan keluar yang ia rasa malas untuk mencucinya kembali. Herman pikir, pakaian itu tidak akan Herman pakai lagi.


Herman pun mengeluarkan laci plastik di gudang, agar tidak berantakan di rumah. Herman membersihkan tempat tidur dan menyentuh bagian bantal.


"Aman... masih ada" ucap Herman saat meraba barang yang dia masukkan ke dalam bantal, tapi ia tidak memeriksa dalamnya.

__ADS_1


"Siapapun yang ngerusak rumah gue. Bakalan gue bales berpuluh-puluh kali lipat, lihat aja nanti!" Kesal Herman yang masih sedang menyapu lantai di kamarnya.


Herman menghembuskan nafasnya kasar melihat barang-barang yang dia punya rusak, apalagi TV kesayangannya bisa hancur seperti itu. Dia pun mengehembuskan nafasnya lagi, saat melihat sofa di ruang tamu nampak memiliki sobekan yang sangat panjang.


"Ni orang punya dendam kesumat kali ya sama gue." ujar Herman mencak- mencak.


"Gimana gue bisa beli lagi? Akh males banget kalau harus pake duit tabungan, bisa abis tabungan gue kalau di pakai mulu" ujar Herman melihat barang- barangnya yang menyedihkan ini.


"Arka...! Ya dia pasti sekarang mau bantu aku, Gak mungkin lah dia tega sama Bapaknya, gue minta aja sama si Arka, tv sama sofa dari tokoknya, dia kan pasti jualan tuh di Mall Earth." Ujar Herman tersenyum senang mendapatkan ide yang sangat brilian.


Segera saja Herman mencari letak HP nya tapi dia lupa di mana dia simpan HP nya tersebut.


"Mana ya HP gue? udah di cari berkali-kali kok gak ketemu," gerutu Herman pada dirinya sendiri. Dia pun masih belum balik dari kamarnya dan ruang tamu mencari HP nya itu. Padahal HP nya dia simpan di meja makan. Faktor u ini mah! Sudah mudah lupa.


"Oh ia...Hp gue kan ada di dapur. Dasar pikun" ucap Herman sambil menepuk keningnya. Dia pun segera ke dapur mengambil HP yang tergeletak di meja makan.


Herman segera membuka HP nya dan mencari kontak Arka, tapi berapa kali pun Herman menghubungi Arka. Hp Arka tetap mati tidak tersambung.


"Kemana sih nih si Arka, punya anak satu kok gak bisa bantuin Bapaknya tiap di butuhin selalu ngilang" ucap Herman misuh-misuh dan marah.


"Akh sialan gak bisa di hubungi! Apa aku samperin aja ke Mall nya ya mumpung libur, dia pasti mau bantuin aku sekarang. Mana mungkin dia tega kalau ngedenger aku abis di rampok" ucap Herman


"Ia lah.. mending mandi dulu, habis itu ke Mall nya Arka, pasti dia udah pulang, sekalian minta oleh oleh.. masa Bapaknya yang ganteng ini, gak di kasih oleh-oleh" ujar Herman yang langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kokom pun bangun dari tidur nyenyaknya, saat matahari sudah menampakkan sinarnya yang sangat tenang. Sedangkan Nita, masih terbuai dengan mimpi kokom bangun dan langsung terduduk di ranjangnya, matanya masih sedikit terpejam, diapun mengucek matanya yang sedikit silau karena sinar matahari yang masuk sedikit dari celah-celah jendelanya. Tapi saat mata Kokom terbuka semuanya. Mata Kokom semakin nambah melotot Dan...


"AKKKKHHHH..... " Kokom menjerit sekencang-kencangnya hingga batuk di akhir jeritannya..


Uhuk...uhukkk....


Nita yang mendengar jeritan Mamahnya pun langsung terbangun dari tidur indahnya.


"Gempa... Gempa..." Ujar Nita yang langsung turun dari kasurnya. Nita langsung berlari ke arah kamar Mamahnya, tanpa melihat sekeliling rumah kontrakan nya yang berantakan


"Mah... Ada gempa mah? Ayok kita keluar! Ujar Nita yang masuk kedalam kamar Mamahnya dan langsung menarik tangan Mamahnya.


"Gempa... di mana? kok Mamah gak kerasa." Ujar Kokom yang perhatian nya teralihkan karena kelakuan anaknya.


"Tadi Nita denger suara jeritan Mah, ayok Mah!"


"Itu mah Mamah yang ngejerit Nita, ya tuhan punya anak gadis satu tapi kok lemot banget ya." Ujar Kokom memijit kepalanya yang sangat sakit.


Nita pun jadi bingung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi tak sengaja matanya menangkap banyak sekali pakaian Mamah yang berserakan di lantai kamar Mamahnya.

__ADS_1


"Astaga... Mamah! kenapa baju Mamah pada di bawah sih? kotor tau, udah capek-capek nyuci, di taro di lantai kaya gini" ucap Nita yang sangat cempreng suaranya.


"Aduh Nit! kamu gak usah ngomong mulu! pala Mamah jadi pusing banget mikirin kamar Mamah yang berantakan. Mamah mau lihat apa aja yang ilang" ucap Kokom yang kemudian bangun dari duduknya di kasur dan menghampiri lemari pakaiannya


Kokom pun bingung, melihat isi lemari dari atas sampai bawah. Setelah itu Kokom melihat ke lantai tempat berserakan bajunya Kokom mencari sertifikat yang hilang.


Kokom mengangkat seluruh pakaiannya dan melemparkannya lagi dengan wajah panik. Kokom meremas rambutnya dengan kedua tangannya.


"Mamah kenapa sih? bukannya bajunya di beresin malah di berantakin lagi" Ujar Nita yang mengambil baju yang berserakan di lantai. Nita mengambil pakaian Kokom satu persatu dan di taruh pakaian tersebut di ranjang kokom.


"Gawat Nita...Gawat...!" Ujar Kokom yang menghampiri Nita dan memegang pundak Nita dengan kasar.


"Sakit Mah! kenapa sih?" Tanya Nita yang berusaha untuk melepaskan cengkraman Mamahnya.


"Sertifikat rumah mas Herman hilang Nita. Kamu gimana sih? gak ngerti-ngerti!" Teriak Kokom. Nita baru memahami apa yang Mamahnya katakan.


"Mamah gak usah bohong sama aku ya! Gimana bisa ilang?!" Ucap Nita


"Kamu malah nanya Mamah, Kita kemalingan Nita!"


"Coba cari lagi Mah! Kali aja mamah lupa" ujar Nita yang sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Gak ada Nit, kemaren kan Mamah langsung taruh tuh sertifikat di bawah pakaian Mamah. Sekarang pakaiannya berantakan sertifikat Mamah ikutan ilang Nit, gimana ini?" ujar Kokom menggigit kuku tangannya.


"Akh...Mamah ngeselin, gagal dah kita dapat duit banyak! Gimana sih mamah?! perhiasan ilang, sekarang sertifikat ilang, gak bener nih Mamah kalau nyimpen barang- barang" ujar Nita kesal.


"Udah kamu jangan nyalahin Mamah Mulu"


"Terus aku harus nyalahin siapa? Bapak Herman? ya... gak mungkin kali Mah! Dia aja kali ini mungkin lagi nangis di pojokan ngeliat rumahnya yang berantakan.


"Ayokk...kita cari keluar! kali aja bener kata-kata kamu. Mamah lupa nyimpennya, tapi kenapa lemari Mamah berantakan kaya gini, pakaian semua di luar."


"Udah Mah... kita cari aja sertifikat itu sampai ketemu" ucap Nita. Kokom pun hanya menganggukkan kepalanya saja.


Mereka pun berdua keluar kamar dengan Nita mengikuti di belakang Kokom.


"Nit..... Lihat..." Bruggg....


"Nita yang melihat Mamahnya pingsan langsung mendekati Mamahnya.


"Mah... bangun Mah... jangan becanda ah, gak seru! jangan tidur di lantai dingin juga kotor Mah, bangun!" ucap Nita sambil menepuk-nepuk pipi Kokom tapi Kokom tetap saja tidur dalam pingsannya. Nita pun melihat ke depan dan matanya melotot melihat rumahnya berantakan, bangkunya terbalik semua, tv rusak, bahkan magic com pun rusak.


"Ya tuhan ... Karma Di Bayar Tunai ini mah namanya..." Ujar Nita menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2