MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
KEMARAHAN HERMAN


__ADS_3

Nissa dan keluarga nya pergi menggunakan pesawat jet pribadi untung menemani Alisha di sana, sedangkan Arka dan Rayyan hanya beberapa hari karena bentrok dengan jadwal kuliah mereka berdua dan tidak bisa di tinggal kan begitu saja.


Alisha melihat Ke jendela pesawat menampilkan gedung-gedung tinggi di Jakarta yang indah, setetes kemudian air matanya jatuh ke pipi Alisha. Mengenang hidupnya yang begitu sempurna, mempunyai orang tua dan Abang-Abang yang sayang padanya, tak lupa para Nenek dan Kakeknya yang selalu memanjakan nya, Karena cucu perempuan satu satunya. Impian Alisha untuk kuliah di Universitas yang sesuai dengan keinginannya, bahkan Alisha sudah merencanakan untuk Langsung terjun untuk bekerja di perusahaan Papahnya saat dia sudah lulus nanti, tapi semua rencana hanya tinggallah rencana, Alisha sekarang hamil, dan harus pergi sementara waktu dari rumahnya dan kasur empuknya untuk tinggal di negara orang lain dalam waktu yang tidak di tentukan.


"Sayang.... Berjuang bersama Mamah ya. Kita akan hidup bahagia di sana, kalau perlu Mamah akan pindah kewarganegaraan agar kita tidak perlu kembali ke Indonesia dan bertemu dengan manusia BRENGSEK itu lagi.


"Selamat tinggal Jakarta, semoga kita bertemu lagi" lirih Alisha saat pesawat semakin tinggi mengudara.


Keesokan harinya........


Mario uring-uringan karena selalu mengingat Alisha di pertemuan terakhir, tatapan matanya yang dingin tapi penuh luka itu. Menganggu pikiran Mario, tapi apa yang bisa Mario lakukan, Mario tidak bisa memaksa Alisha jika dia ingin sendiri, tidak ingin Mario menikahi nya, padahal kan niat Mario baik, agar Alisha jika melahirkan nanti di dampingi oleh Mario, dan tidak akan membuat Alisha malu, saat Alisha melahirkan tanpa suami nanti.


"Pusing gue ini lama-lama. Mikirin tuh cewek, keras kepala, bodo amat lah sekarang, toh gue udah berusaha buat tanggung jawab, tapi anaknya sendiri gak mau, tapi gimana sama anak gue nanti. Kalau dia manggil cowok lain dengan sebutan Ayah." Mario berpikir keras tentang kemungkinan tersebut, tapi untuk saat ini biarkanlah. Mungkin Alisha saat ini butuh waktu untuk menenangkan diri, dan menyembuhkan mentalnya.


"Lebih baik aku siap-siap ke kampus, dari pada mikirin hal yang tidak berguna." Ucap Mario yang langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Mario menjalankan mobil nya dengan riang gembira, salah dirinya jika dia tidak di ijinkan untuk menikahi Alisha, seenggaknya Mario masih bisa melihat anaknya kelak, Karena jujur bahkan sampai saat ini, Mario belum memiliki perasaan apa-apa terhadap Alisha, dia menikahi Alisha hanya untuk bentuk tanggung jawab saja, tapi jika Alisha kekeh dengan keputusannya Mario bisa apa.


Mario pun sampai di parkiran dan langsung menuju ke arah kantor nya untuk membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di tas kerjanya.


__________&&&&&&&&&____________


Herman pergi ke kamarnya setelah nafsu makannya hilang karena mendengar ocehan tidak jelas dari anak sambungnya itu. Jujur Herman sudah berada dalam titik jenuh sekarang, cintanya pada Kokom perlahan memudar karena sifat Kokom akhir-akhir ini. Tapi kalau untuk berpisah rasanya juga tidak mungkin, dia sekarang sudah tua. Walaupun ketampanan di wajahnya masih terlihat. Herman melihat wajah nya di pantulan cermin, dan bengong, seperti sedang berpikir sangat keras.


"Sebenarnya gue masih bisa kan dapet daun muda. Wajah gue masih ganteng juga," dengan PD nya Herman melihat-lihat wajahnya yang di penuhi dengan kerutan halus tak kasat mata.


Tok....tok... tok...


"Bapak .... Bapak.... Buka pintunya Pak, ibu mau bicara," ujar Kokom yang berada di luar pintu.


"Kenapa kamu teriak-teriak dari luar...?"


"Pak maksud kamu apa bicara gitu tadi ke Nita Pak?"


"Sudahlah jangan ngajak ribut kamu, aku tuh capek sama kelakuan kamu dan Nita, yang pengen menang sendiri. Lama-lama aku jengah dengan kehadiran kamu disini," ucap Herman keras.


"Tapi kamu kan udah janji akan menganggap Nita seperti anak kamu sendiri, kenapa kamu malah bilang seperti itu dan nyakitin hati Nita!"


"Sadar gak, kamu sama kelakuan kamu Kokom hah.... Selama ini kita menikah ada aku menolak apa yang kalian inginkan, bahkan aku diam saat kalian menjual tanah warisanku. Tapi kalian sedikitpun gak ngerti tentang masalahku."


"Bukan gitu Pak.... Wajar lah Nita hanya minta ingin kuliah doank, dan sudah jadi kewajiban bapak sebagai kepala rumah tangga."


Plakkkkkk...


"Capek saya ngomong sama kamu ya Kokom... Kalau kalian gak mau ngerti tentang keadaan saya, lebih baik kalian pergi dari rumah saya sekarang." Herman menampar pipi Kokom dengan keras.. membuat Kokom menangis dan meringis.


"Kamu tega nampar aku dan usir aku Pak hiks..." ucap Kokom dengan mata menatap tajam Herman.

__ADS_1


"Kenapa saya gak tega, kalian aja gak pernah perduli sama saya, pergi kalian!"


"Mah ada apa? Mamah kok nangis ?" ucap Nita langsung memeluk ibunya.


"Pak tolong jangan pukul Mamah lagi. Aku gak akan minta kuliah lagi Pak. Asal jangan pukul Mamah lagi. Dan usir kita dari sini Pak!"


"Terserah kalian saja. Jika kalian berdua masih gak tau diri. Dan bebal mending kalian pergi, karena aku capek ngurusin manusia tidak tau diri seperti kalian berdua!" Herman langsung pergi ke luar rumah karena kesal, rumah yang dulu penuh kehangatan dan kesederhanaan berubah menjadi neraka bagi Herman saat Kokom berubah.


"Mah, sakit ya? Mamah gak apa-apa kan?"


"Bapak kamu udah berubah Nit, dia udah gak sayang Mamah lagi."


"Ia Mah, Bapak udah berubah, udah gak sayang lagi sama kita, aku kecewa dengan kata-kata Bapak Mah,"


"Pokoknya Mamah, bakalan cari no nya Arka, kita akan rebut tanah itu dari nya... Kamu harus kuliah Nita. Biar kamu sukses menggaet cowok kaya di sana."


"Tapi apakah bisa mah... ?" Lirih Nita


"Kamu pasti bisa, kita harus keluar dari kemiskinan ini, dan kita balas kelakuan Arka dan keluarga nya, apalagi adik Arka yang perempuan, kamu masih ingat kan kelakuan dia."


"Ia Mah... Aku masih ingat tamparan itu mah... Aku juga ingin balas dendam."


"Dengan uang penjualan dari tanah punya Arka, kita bisa memiliki bahkan membeli apa aja. Kamu juga bisa membeli mulutnya si Arka dan adik-adiknya itu."


"Ia Mah.... Ya sudah Mamah harus dapet no teleponnya Arka di HP Bapak, sekarang aja mumpung bapak lagi keluar, aku tidak melihat bapak membawa HP nya tadi."


"Ia Mah, Nanti aku liatin cepetan Mah!"


Kokom pun masuk ke dalam kamarnya bersama Herman, di dalam kamar Kokom melihat ke arah mana saja, mencari HP Herman, bahkan sampai di bawah bantal dan kasur tapi tetap saja HP Herman tidak ia temukan, Kokom membuka laci yang ada di nakas, dan jreng ketemu, Kokom pun langsung membuka HP Herman yang memang tidak pernah di kunci, dia langsung membuka aplikasi chat dan mencari no Arka.


"Cih bahkan namanya saja Arka anakku. Bapak gak ada tanggung jawab aja, sok-sokan ngaku anakku," gumam Kokom pelan yang benci dengan kelakuan suaminya.


Kokom pun me screenshot no Arka. Lalu di kirim ke HP nya supaya cepat, setelah itu menghapus bukti foto terkirim tadi di aplikasi chat, dan di galeri HP Herman, biar barang bukti hilang, sudah beres Kokom pun mengembalikan hp Herman ke tempat semula, dan diapun keluar dari kamar itu.


"Gimana Mah, dapat no nya...?" Tanya Nita penasaran.


"Tentu dong... Gampang buat ibu Mah,"


"Bu gimana kalau kita mau di mutilasi kaya omongan orang sebelahnya Arka Bu,"


"Orang itu cuma bercanda, lagian emang kenapa kamu takut, ibu rasa Arka itu orangnya kleper-kleper gak mungkin dia mampu bunuh orang."


"Takut aja Mah... Melihat keluarga mereka yang kaya... "


"Sebentar lagi kita juga bakalan kaya sama kaya Mereka, dan ibu bisa membeli tas, perhiasan yang di miliki Nissa... Perempuan sombong itu hahaha."


"Ia Bu ... Aku juga mau beli kalung yang waktu itu aku ambil dari kamar wanita itu... "

__ADS_1


"Lagian kamu pake ketahuan segala, kan lumayan kalo kamu dapat, buat kita pamerin ke tetangga sini, kalo kita tuh orang kaya yang punya berlian asli."


"Ia Mah... Kurang ajar emang cewek itu."


"Ya sudah kita ke dapur aja, Mamah mau buat makanan, kalau gak ada makanan nanti bapak tambah marah sama kita."


"Ia Bu, aku juga laper."


Keesokan harinya......


Herman seperti biasa berangkat ke kecamatan setelah kemaren hari libur, Herman sama sekali tidak memakan makanan yang di buatkan istrinya, kemaren juga dia tidak makan malam di rumah, Herman pun mendiamkan Kokom dan Nita, dan tak bicara sama sekali, walaupun Kokom berusaha untuk minta maaf dan mengajak Herman untuk bicara, tapi Herman seakan tidak perduli dengan Kokom dan anaknya. Herman sangat jengah berdekatan dengan mereka, seakan mereka itu adalah makhluk tak kasat mata yang tidak terlihat.


"Pak ... Bapak tunggu Pak... sarapannya sudah aku siapkan pak..."


Herman tidak mengindahkan ucapan dari Kokom, dia terus berjalan sampai ke motornya dan menyalakan mesin motornya.


Dan berangkat begitu saja.


"Awas aja kamu Pak... Kalau aku udah dapatin tanah itu, kamu akan aku tinggalkan, kurang ajar kamu Pak," geram Kokom kesal. Kokom pun kembali ke dalam rumah dan melanjutkan sarapan pagi nya.


"Mah Bapak tidak sarapan sama kita Mah"


"Biarkan saja, nanti juga bapak baik sendiri"


"Ya udah Mah.. kita makan aja..."


"Mah bagi uang dong... Uang jajanku udah habis,"


"Kamu ini boros banget sih... Mamah sudah gak ada duit lagi, buat makan doang, gajian Bapak kamu masih semingguan lagi"


"Mamah gimana sih... terus aku jajan dari mana?"


"Gak usahlah jajan dulu..."


"Ikh gak asik dong... Kalau aku lagi kumpul teman-teman, terus mereka pada jajan sedangkan aku bengong sendirian, aku malu"


"Ya gak usah nongkrong diam aja di rumah"


"Ikh Mamah Mah, ya bosen aku"


"Nita... Mamah gak bisa minta uang ayah kamu, bisa di usir kita dari rumah ini. Ngeliat ayah kamu masih marah gitu. Kalau ayah kamu gak lagi marah Mah gampang Mamah mintanya... Sudah kamu tahan dikit aja seminggu gak usah jajan, kalau enggak kamu malak siapa kek gitu."


"Siapa yang mau aku palak mah?"


"Makanya punya pacar sana... Biar ada yang jajanin, terus kamu porotin dia"


" ku mau nya yang kaya dan ganteng kaya Rayyan Mah"

__ADS_1


"Tau lah terserah kamu aja..."


__ADS_2