
Kokom mendelikan matanya ke arah Nita.
"Ngomong apa kamu barusan?" ketus Kokom.
"Ekh... Sorry Mah! becanda doang, gitu aja kok sewot" ujar Nita terkekeh.
"Lagian ngomong gak pakai di saring dulu, apaan ngomongin karma-karma segala"
"Lagian nih Mah ya. Mamah gak liat apa yang terjadi di rumah kita itu sama persis dengan apa yang kita lakuin ke rumah Bapak" ujar Nita melipat tangannya di dada.
"Apa jangan jangan ini ulah Bapak kamu ya?"
"Akh masa sih Mah beda sehari doang"
"Ia juga sih,lagian kita kok gak bangun sama sekali, seperti di kasih obat tidur, kalau mereka melakukan semua ini, Harusnya berisik, tapi kita gak denger sedikitpun" jelas Kokom. Nita hanya menganggukkan kepalanya saja seperti sedang berpikir.
"Aku gak ngerti Mah" Ujar Nita.
"Astaga... punya anak satu kok oon banget ya."
"Udahlah gak usah pusing, besok aku mau ke kantor Papah. Mau kerja, jadi kepala aku gak mau di pusingin sama hal yang berat-berat"
"Kamu ini! Ya udah kita beresin semua barang-barang ini"
"Mah semua pada rusak, Ini barang punya Papah apa punya ibu kontrakan ya"
"Kamu foto semua kejadian ini. Barang- barang pada rusak semua, bilang aja ada maling yang masuk rumah."
"Ok" ujar Nita, dia pun pergi ke kamarnya untuk mengambil HP dan mulai mengambil gambar dan dikirim kan ke Papah kandungnya.
Beberapa menit kemudian, Saiful Papahnya Nita langsung menghubungi anaknya Nita.
[ Assalamualaikum Pah. Lihat rumah kontrakan ini, kemasukan maling Pah, semua barang pada rusak, ini semua barang nya milik Papah, apa milik yang punya kontrakan ] ujar Nita saat dia mengangkat telepon dari Papahnya.
[ Itu semua barang-barang milik Papah Nak, tapi kenapa bisa hancur semua kaya gitu, mahal kalau mau beli lagi nanti. Bapak gak punya uang sebanyak itu, buat ganti baru ]
[ Ya udah Pah, gak usah di ganti aja, kita masih bisa pergunakan yang masih bisa di selamatkan ]
[ Ya pake yang ada aja dulu, nanti kalau Papah ada uang Papah ganti yang baru ]
[ Besok Nita jadi kerja kan Pah di kantor Papah ]
[ Ia jadi, kamu kesini jam 8 ya Nak, jangan telat! nanti Papah tunggu kamu di lobby ]
__ADS_1
[ Ia Pah, makasih ] ucap Nita. Sambungan telepon pun di matikan oleh Papahnya Nita.
"Gimana Nit, apa kata Papah kamu?" Ucap Kokom penasaran.
"Kita beresin aja semua ini Mah, kalau ada yang bisa kita gunakan, kita gunain aja, kalau gak ada, ya udah tinggal kita buang."
"Terus... Gak ada gantinya gitu?"
"Gak ada Mah, Papah lagi gak punya duit katanya buat ganti semuanya, biarin aja dah kasian Papah Mah, kita juga gak butuh-butuh banget. Toh kursinya juga masih bagus kayanya, cuma di balikin doang sama si tersangkanya"
"Padahal Mamah pengen minta yang baru, yang lebih bagus, semua perabotan"
"Maruk dasar! Ini ni karena keserakahan Mamah, kita jadi sial begini" ucap Nita ketus.
"Udahlah, gak usah kamu ngata-ngatain Mamah. Kamu sendiri juga maruk dan serakah. Kamu juga nikmatin kan semua yang Mamah dapetin"
"Ia sih... Ya udahlah ya, kan anak itu gak beda jauh dari orang tua, jadi kalau anaknya gendeng, Jangan nyalahin anak, salahin aja emak nya yang juga gendeng" ucap Nita dengan entengnya.
"Kamu aja kali yang gendeng, Mamahnya enggak ya" ketus Kokom
"Kita beresin Bu sekarang aku lapar. Ayok Mah biar cepet!" ujar Nita yang mulai merapihkan bagian depan rumahnya di bantu dengan Kokom
"Astaga Nita, TV kita ini rusak parah,
yang rusakin apa gak punya otak ya? kalau aku tau siapa yang rusakin! bakalan tak jadiin perkedel tak bejek-bejek" Ujar Kokom marah.
"Pokoknya ibu gak terima seenggaknya Papah kamu harus beliin TV dulu lah. Mamah gak bisa nonton sinetron azab kesukaan mamah kalau begini"
"Lah Mamah tontonannya azab, bukannya sekarang kita lagi kena azab ya"
"Enak aja kamu kenapa juga Mamah harus kena azab. Dengerin ya Nit, Mamah ini cewek baik-baik, cewek Sholeh rajin menabung gak sombong cantik lagi"
"Sholeh apaan sholat aja gak pernah, Tuh sombong tadi ngaku-ngaku cantik"
"Tau akh, ngomong sama kamu males bikin darting aja" ucap Kokom, mereka berdua pun kembali membereskan rumah kontrakan itu dalam diam, walau sesekali di selingi dengan pertengkaran kecil... Setelah selesai membersihkan dan membereskan kekacauan yang terjadi di kontrakan Kokom, mereka berdua rebahan di lantai dan menatap langit- langit. Keringat membasahi wajah dan dahi mereka. Muka mereka berdua Kumal dan kusam, bahkan Kokom dan Nita belum sikat gigi dan cuci muka sama sekali.
Kokom dan Nita pun saling berhadap-hadapan, Nita mengehembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba Kokom menutup hidungnya.
"Nit... Astaga, kamu kentut bau banget!"
"Enak aja sembarangan, Mamah juga bau tuh mulutnya, kaya bau naga!" ketus Nita.
"Kita berdua kan belum mandi, belum sikat gigi juga, ya tuhan... Udah jam berapa ini Mamah mau mandi." Ujar Kokom. Dia pun bangun dari rebahannya lalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mah, sekalian Mamah masak aku lapar" teriak Nita.
"Masak aja sendiri! Mamah capek!" teriak Kokom dari dapur.
"Ikh... punya Mamah kok ngeselin ya, udah tau anaknya gak bisa masak, pake di suruh masak, aku juga lagi capek banget, mending tidur disini aja lah." Ucap Nita.
Kokom yang sedang mandi di kamar mandi sambil bernyanyi. Sedangkan Nita sedang tidur di lantai tak beralas. Tiba-tiba ada seekor tikus yang mengendap-endap dan menghampiri badan Nita yang sedang terlelap. Tikus itu mengendus-endus bagian kaki Nita. Dan melewati kaki Nita. Tapi karena kuku tangan tikus yang tajam, Tikus tersebut menggigit kulit kakinya Nita sehingga berdarah, itu pun tikusnya langsung kabur.
"AAAAKKKKKHHHHHHH" teriak Nita saat merasakan kakinya sakit dan pedih, dia pun bangun dan kaget. Mata Nita melotot saat kakinya berdarah. Nita pun melihat tikus itu masuk ke dalam sela-sela lemari.
"Tikus bodoh, kurang ajar!" teriak Nita.
Kokom pun sontak kaget mendengar itu.
\_\_\_\_&\_\_\_\_
Arka dan Rayyan sudah sampai di Jakarta malam hari dan mereka semua sudah sampai di rumah kedua orang tuanya yang ada di Jakarta. Arka dan Rayyan pun sudah siap-siap pagi ini untuk kembali ke Bandung. Mereka sudah sarapan bersama dan membawa kebutuhan mereka masing-masing. Rayyan kembali ke Bandung menggunakan mobilnya sendiri, sedangkan Arka akan ke Tasik terlebih dahulu untuk bertemu Pak Budi karena Senin depan Arka akan kembali ke Amerika untuk memulai kuliahnya, agar ketika pernikahan Alisha di laksanakan urusan Arka di kampus sudah selesai.
Alisha menikah 2 Minggu lagi ketika kandungannya 9 bulan. Dan Mario pun sudah mempersiapkan segala kebutuhannya untuk menikahi Alisha, acara persiapan di rumah Nissa pun sedikit demi sedikit telah di persiapkan, tinggal menunggu hari H nya, maka Mario dan Alisha akan sah menjadi pasangan suami istri.
Arka mengendarai mobilnya dengan pelan menuju tasik. Dalam perjalanan Arka mendengarkan musik cold play Group band raksasa terkenal dunia.
Drt...drt...drt....
Hp Arka berbunyi, Arka melihat nama pemanggil. Lalu menghembuskan nafasnya kasar. Lelah Arka terus-terusan di telepon dan di ganggu oleh Bapaknya seperti di kejar rentenir, bahkan sudah 20 kali Herman itu menghubungi nya hari ini. Dengan malas Arka pun mengangkat telepon dari Bapak kandungnya itu, dengan memakai headset bluetooth yang terpasang di telinganya.
[ HALOO ARKA, KAMU KEMANA AJA SIH? BAPAK TELEPON GAK PERNAH DI ANGKAT? MAU JADI ANAK DURHAKA KAMU! ] teriak Herman saat teleponnya sudah tersambung.
[ Waalaikum salam, ada apa Pak?] ucap Arka yang malas menjawab kata-kata pedas bapaknya.
[ Kamu di tanya Bapak? jawabannya apa, Begini didikan Nissa dan agam yang maha sempurna tiada cela itu. Sampai-sampai membuat kamu menjadi anak yang tidak sopan dan pembangkang seperti ini! ]
[ Hmmm ] Arka terkekeh mendengar ucapan Bapaknya yang lagi-lagi menyalahkan Mamahnya.
[ Tau apa Bapak tentang Mamah dan Papahku yang tercinta. Jangan jadi bapak yang sok perduli dah dan nyalahin orang lain. Kalau anda sendiri aja tidak sadar dengan perbuatan anda? Kalau saya tidak di ajarkan sopan santun sama orang tua saya, saya tidak akan sudi berbicara bahkan untuk sekedar mengobrol dengan Bapak kandung yang tidak tau diri ini, tidak pernah mau tau tentang anaknya bahkan sudah lepas tanggung jawab begitu saja, jadi anda tidak perlu koar-koar tentang bagaimana orang tua saya mendidik saya, karena mereka sangat mendidik saya dengan baik dan saya ingatkan kembali, saya akan hormat pada orang yang berhak saya hormati. Bukan seperti anda yang gila hormat dan gila harta, walaupun anda Bapak kandung saya sendiri ] ucap Arka skak mat, mata Herman melotot bahkan mati kutu oleh ucapan Arka. Herman pun sadar, dia telah melewati batas, karena apa yang di ucapkan Arka semuanya benar, sejak Arka bayi, kecil hingga dewasa sekarang, Herman tidak pernah mau tau tentang kehidupan Arka, bahkan melihat Arka pun tidak! Ketika saat Herman di Rumah sakit jiwa dan di nyatakan sembuh pun tidak ada niatan Herman sama sekali untuk menengok Arka.
[ Bukan seperti itu Nak. Bapak hanya ingin kamu sedikit lebih menghargai bapak saja, Mau sehebat apapun Agam dia bukan ayah kandung kamu, akulah ayah kandung kamu, ada darah ku di dalam tubuhmu, dan kamu harus ingat itu! ]
[ Apalah arti kandung atau bukan kalau ternyata Papah Agam lebih baik dari ayah kandung ku sendiri, sudah ya! kalau tidak ada hal yang penting saya akan tutup, saya sibuk banyak urusan ]
[ Tunggu Arka, tunggu jangan di tutup dulu! Bapak masih ingin bicara sama kamu ] ucap Herman. Arka yang kesal setengah mati pun membelokkan mobilnya ke pinggir jalan untuk menerima telpon, karena jika masih dalam keadaan menyetir Arka takut akan berbahaya karena emosinya tidak stabil setelah mendengar ucapan Herman yang unfaedah itu.
[ Mau bicara apa? dari tadi kan juga udah bicara pake segala ngehina Mamah! Aku tadinya hormat sama Bapak, karena permintaan Mamah, tapi mendengar Bapak suka sekali hina dan nyalahin Mamah dan Papah aku, ingat pak aku gak terima dan bakalan gak akan tinggal diam ] ucap Arka dingin.
__ADS_1
Glekk...
Herman merasa ngeri dengan anak nya ini.