MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
KEKONYOLAN HERMAN


__ADS_3

Acara lamaran Alisha dan Mario pun sudah selesai dan sukses, acara akad akan di lakukan 2 Minggu dari sekarang. Setelah melamar Alisha. Mario dan keluarga kembali ke rumah yang di sewa oleh Mario dan Bobi.


Mario sebenarnya sedikit sedih, karena tidak bisa melihat Alisha, padahal rasa rindu yang sangat besar. Hingga akhirnya, Mario hanya bisa melakukan Video call dengan Alisha. Saat di dalam mobil menuju ke rumah yang Mario sewa. Kondisi Alisha yang sedikit lemah karena usia kandungannya yang mau memasuki usia 9 bulan, pipi Alisha semakin chubby dan perutnya sangat besar karena mengandung anak kembar, Tapi itu malah membuat Mario semakin cinta dengan Alisha, bahkan jika Alisha ada di depannya ingin rasanya Mario mencubit pipi Alisha, dan menciuminya dengan gemas. Sekarang mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga di rumah sewaan itu.


"Jadi bagaimana Yo? Kalian mau nikah disini apa di Indonesia aja? Om pikir mending disini aja, karena kan kita memikirkan keadaan Alisha juga" ucap Tania, tantenya Mario yang memang telah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Dan Tania lah yang selalu memberikan support kepada Mario apalagi semenjak ibunya Mario meninggal. Orang tua Bobi memang sudah menganggap Mario seperti anaknya sendiri.


"Mario akan melakukan akad di sini Tante, makanya nanti malam Mario langsung terbang lagi ke Indonesia untuk mempersiapkan semuanya" Ucap Mario sambil menyenderkan punggungnya.


"Ya udah, kita semua juga harus pulang sama- sama, karena kan gak mungkin kamu menyiapkan semuanya sendirian, dan Tante bakalan bantuin kamu mengenai seserahan dan perintilannya" ucap Tania semangat.


"Bukannya tadi udah seserahan ya Mih. Kok ngasih lagi."  Tanya Bobi bingung.


"Ya gak apa-apa. Karena kan tadi yang di jadiin seserahan itu gak komplit lagian Siapa sih yang nyiapin, masa seserahan buah strawberry, dress, Sepatu hak tinggi lagi, ya Allah Mario. Calon istri kamu itu lagi hamil masa di kasih high heels" Ucap Tania melipat kedua tangan di dadanya. Mario yang mendengarkan ucapan tantenya hanya bisa cengengesan dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Yah gimana Tante, aku kan belinya dadakan kemarin, sama Papah pula"


"Ya udah biar besok Tante sendiri yang bakalan beliin seserahan semuanya. Bahkan tas yang kamu beliin juga tas seperti itu Mario, tas gendong dikira istri kamu anak SD apa, hadeuh...!" Kesal Tania sembari menggelengkan kepalanya.


Azzam yang melihat adik iparnya yang ngomel-ngomel ke anaknya, hanya bisa tersenyum geli.


"Ini lagi mas Azzam, makanya kalau ada apa- apa tuh rundingan, Kan jadinya malu-maluin, Untung aja cincinnya yang Mario kasih itu cantik dan elegan, jadi gak terlalu malu-maluin banget" marah Tania lagi kepada Kaka iparnya.


"Salahkan saja ponakanmu itu Tania, ngasih tau Kaka juga dadakan. Masa mau lamar anak orang hari ini ngasih tau, besoknya langsung terbang buat ngelamar Kan gila!" ucap Azzam melihat kesal kepada anaknya.


Bobi, Raka Dan Tania kompak melihat ke arah Mario. Dengan tatapan tajam masing- masing.

__ADS_1


"Yah mau gimana lagi. Aku juga baru di telepon sama Bebeb Alisha. Kalau dia mau Nerima aku dan suruh aku melamar dia secara resmi, Makanya langsung aja sat-set. Dari pada di nanti nanti kan" Ucap Mario membela diri.


"Ya seenggaknya kasih napas juga, Bambang" ucap bobi kesal.


"Hehehe ya maaf" ucap Mario.


"Ya udah, yang penting kan semua berjalan dengan lancar ya, walaupun ada yang begitulah. Jadi sekarang mendingan kita siap- siap untuk pulang ke Indonesia dan mengurus segala macam hal. Dan kamu Bobi usahakan semua kerjaan kamu beres 2 Minggu ini. Papah juga bakalan ngerjain urusan kantor dengan cepat. Kamu Mario urus dengan segera semua keperluannya di catatan sipil, dan pastikan pak penghulu bisa ikut kita ke LA. Dan untuk Mamah, bantu Mario dengan asisten rumah tangga Ka Azzam dan bi Sani untuk mencari segala keperluan seserahan. Biasanya wanita tau akan hal itu. Dan untuk kak Azzam, jaga kondisi ka Azzam, dan segera urus segala sesuatu di kantor ka, Biar saat nanti Mario dan Alisha menikah, tidak ada yang menghambat atau menghalangi. biar segala urusan lancar. Dan kamu Mario! Berdoa terus sama Allah ya Nak, jangan tinggalkan sholat!" ucap Raka dengan nasihat- nasihat bijak dan rencana panjangnya. Semua orang yang berada di ruangan ini pun mengangguk menyetujui ucapan Raka. Mereka pun bubar dan memasuki kamar masing-masing. Karena merasa lelah dan harus istirahat karena esok akan pulang pagi- pagi ke Indonesia.


Di tempat Nissa... Semua orang yang sudah melaksanakan acara lamaran pun kembali


Ke kamar masing-masing begitu pun dengan Arka. Rumah pun menjadi hening dan ruang tengah pun gelap gulita. Tidak ada suara, karena jam pun sudah menunjukan 1 malam Tapi tiba-tiba HP Arka berbunyi tanda panggilan masuk di salah satu aplikasi chat nya, Berulang kali Hp Arka nyala-mati nyala- mati, berisik karena panggilan itu untung saja setiap kamar disini di desain dengan ruangan kedap udara, jadi mau seberisik apapun di kamar tidak akan terdengar ke luar.


Karena suara HP yang menganggu. Arka pun terbangun dari tidur nyenyak nya. Di raihnya HP yang berada di atas nakas. Sejenak Arka membuka matanya untuk mengembalikan kesadarannya. Arka melihat siapa yang menelpon dia malam-malam begini. Saat tau siapa penelpon malam yang mengganggunya. Arka pun menyebikan mulutnya.


"Ya Allah si Bapak mau ngapain lagi sih?! Malam-malam gini telepon, apa dia gak tau di sini malam ya? Mau marah dosa Bapak sendiri, ga marah tar ngelunjak orangnya" gumam Arka kesal, dengan terpaksa Arka pun memencet tombol hijau dan menerima panggilan Bapaknya.


[ Halo... Arka kamu gimana sih, dari tadi Bapak telepon gak di angkat-angkat. Sengaja kamu menghindar dari bapak Nak? apa Mamah kamu ngelarang kamu untuk bicara sama Bapak? Ingat Arka! walau bagaimanapun aku ini Ayah kandung mu Nak. Apa salah aku ingin dekat dengan anakku sendiri? dan menebus semua waktu yang telah hilang ] Ucap Herman, saat Arka mengangkat teleponnya. Herman berbicara di telepon dengan nada sedikit tinggi hingga membuat kuping Arka serasa budek, sampai- sampai Arka menjauhkan HP nya dari telinga Arka sendiri.


[ To the point aja Pak, aku ngantuk, apa Bapak gak tau kalau disini tuh tengah malam, waktunya istirahat ]


[ Ia Papah tau di sana sekarang malam, tapi kan disini siang Nak, Bapak cuma bisa telepon kamu pas Bapak sedang bangun, kalau malam bapak ngantuk jadi gak bisa telepon Kamu ]


[ Terus gimana sama Arka yang tidurnya di ganggu sama Bapak? apa bapak gak merasa bersalah ] Ucap Arka telak, Herman pun terdiam sesaat.


[ Udah to the points aja, ngapain Bapak ganggu Arka tidur ]

__ADS_1


[ Bapak ingin pergi ke sana ka, Kamu Nissa bayarin kan tiketnya. Bapak ingin ke rumah Nissa Mamah kamu. Bapak janji Bapak gak akan ngerusuh ]


[ Pak... Tolong mengertilah Pak! Disini ada Papah dan keluarga besar kami, untuk apa Bapak kesini? Apa bapak tidak canggung, apalagi bertemu dengan kakek yang masih sangat membenci Bapak! udahlah Pak jangan buat Arka tambah pusing dengan permintaan konyol Bapak itu, lagi pula Bapak kan tau sendiri. Arka sedang bangun usaha dan uang Arka habis di sana. Arka belum Punya uang sebanyak itu. Dan lagi Bapak gak mungkin kan tinggal di rumah Mamah ]


[ Kirim aja no Mamah kamu, Biar Bapak yang bicara dan nasehati Mamah kamu, jangan pernah halangi Papah untuk dekat dengan  kamu ka, bapak tau kamu pasti di larang oleh Mamah dan Papah sambung kamu kan? ]


[ Terserah Bapak, mau percaya atau enggak, itu bukan urusan aku, dan aku tidak akan memberikan apa yang Bapak minta ] ucap Arka yang langsung mematikan teleponnya agar tidak di ganggu oleh Herman. Herman sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Bapaknya itu.


"Astaghfirullah,  kenapa aku harus punya Ayah kandung yang konyol ini. Tuh kan malah ngehujat Bapak sendiri. Udahlah mending matiin aja nih HP, biar gak berisik" gumam Arka yang langsung mematikan HP nya, arka pun kembali tertidur dengan nyenyaknya.


Sedangkan di belahan bumi lain. Herman begitu marah karena arka tidak mengikuti keinginan nya. Herman sempat mencari di google, tentang kota Lost Angeles yang indah dan banyak spot yang menarik di sana, sungguh Herman ingin sekali pergi ke luar neger untuk jalan-jalan. Apalagi bisa sekalian belanja barang-barang mewah disana, Khayalan Herman membuatnya lupa, kalau Arka, walaupun anaknya, tapi Arka tidak bisa dia atur begitu saja.


Herman pun kembali mengerjakan tugasnya. Tapi fokus Herman kembali terpecah. Karena keinginan yang sangat menggebu-gebu tapi tidak bisa terpenuhi. Darto sahabatnya Herman yang kebetulan di ruangan tempat Herman bekerja melihat Herman tengah uring- uringan pun menghampiri sahabatnya itu, dan langsung duduk di kursi depan meja yang memang sengaja di sediakan untuk para warga yang ingin memakai jasa Herman.


"Lu kenapa man...? dari tadi gue liatin, Kerjaan lu kaya anak gadis yang lagi mikirin pacarnya yang gak pulang-pulang." Ucap Darto yang langsung membuat Herman melihatnya.


"Kagak, gue lagi kesel aja sama si Nissa, bisa- bisanya si Nissa itu ngelarang-larang dan ngomong yang enggak-enggak sama si Arka sih" ucap Herman bersungut-sungut kesal.


"Lah males gue ngasih tau lu, Lagu lama...! Kirain otak lu udah gak konslet lagi, ini malah semakin menjadi. Udahlah man...Jangan ganggu keluarga mereka terus. Seharusnya lu itu ambil hati anak lu, jangan malah ngejelekin Ema nya. Kadang kadang otak lu pinter, tapi kadang otak lu kelewat pinter jadinya konslet otak lu"  ujar Darto kesal.


"Lu bukannya dukung gue, malah ngomel lu! gak tau sih lu persoalannya apa!"


"Emangnya kenapa?" tanya Darto yang akhirnya penasaran.


"Si Nissa sekarang tinggal di Amerika sama suaminya. Lu banyangkan dong, Amrik cuy! gue ngomong sama si Arka, gue juga pengen sekali-kali ke sana, dan kebetulan kan si Arka lagi di Amerika, baru kemarin berangkat naik pesawat punya Papahnya. Gue minta ikut gak di ajak sama si Arka, durhaka emang tuh anak!" Ucap Herman kesal.

__ADS_1


"Duh Gusti...NU maha Agung... Punya temen kok otaknya beneran sengklek sih ya" ucap Darto yang memijit kepalanya pusing tiba- tiba.


__ADS_2