
POV Mario
[ Bro... Gue punya Kabar baik buat lu bro ]
[ Pokoknya ini Kabar baik, dan lu harus bayar gue mahal atas kerja keras gue ini ]
[ lu harus segera nyusulin Bebeb lu, dan bawa dia pulang, langsung lu nikahin, gue tunggu lu besok di bandara jam 2 siang, kita ke sana sama-sama ]
'Deretan chat yang dikirimkan oleh bobi ke HP ku, sungguh seperti oase yang menyegarkan di tengah panasnya padang pasir, aku benar-benar merasa bahagia, karena tak lama lagi aku akan bertemu dengan sang pujaan hati, aku berjanji kali ini aku gak akan biarkan dia pergi, apalagi lepas, akan aku buktikan kalau aku ini pantas dan bisa bersandingan dengan Alisha,' gumamku dalam hati
Aku pun segera mempersiapkan keberangkatan ku untuk besok, walaupun sekarang sudah malam dan badan terasa lelah, tidak menyurutkan ku untuk berbenah keperluan ku selama di sana. Berita ini benar-benar membuatku bahagia, di tengah kesedihanku karena berhenti menjadi dosen, pengorbanan ku tidak sia-sia. Senyum selalu terbit di wajahku, setelah semua barang selesai aku benahi, aku turun ke bawah untuk bertemu Papahku, dan meminta izin ke Amerika besok.
Ku lihat ruangan rumah ini sangat sepi, rumah sebesar ini, memang hanya ada aku dan Papah dan pembantu yang selalu melayani Papah, semenjak Mamah gak ada Papah lebih banyak berdiam diri di ruang kerjanya, menikmati kesendiriannya sambil minum kopi buatan mbok inah, dan memandang lekat-lekat foto Mamah yang terpajang.
Aku melangkahkan kaki ku ke ruangan Papah dan membuka pintunya. Benar saja, Papah sedang melamun.
'Kasian sekali Papah, seharusnya Papah menikah lagi biar ada yang mengurusnya, 'gumam ku dalam hati.
"Pah... Maafin Mario masuk tanpa ketok pintu dulu" ujarku. Papahku seperti kaget tersentak karena mendengar suara ku.
"Eh Mario... Masuk Nak"
"Papah lagi ngapain?" tanyaku menatap wajah Papah yang semakin tua dari umur aslinya.
"Biasa... Selesai ngurusin kerjaan, Papah bengong liatin foto Mamah kamu, apa lagi yang bisa Papah lakuin untuknya"
"Menikah lagi Pah!"
"Ngawur kamu Yo, Papah tuh yang nunggu kamu nikah, ngasih Papah cucu, bukan Papah yang nikah lagi" ujar Papah merengut kesal, aku terkekeh melihat raut wajah Papah seperti itu.
"Ia Pah... Mario lagi usaha buat bawa calon istri Mario pulang dan bisa berkumpul bersama kita disini"
"Kamu mau jemput Alisha? Apa kamu tau Yo? Kemaren Papah datang ke perusahaannya Agam, dan menceritakan semua tentang kamu" ujar Papahku, membuatku mengernyitkan dahiku.
__ADS_1
"Terus....gimana Pah? tanggapan Pak Agam."
"Awalnya dia kaget dan shock ternyata tersangka nya adalah anak dari temannya sendiri, Papah berkali-kali meminta maaf sama Agam, atas kelakuan kamu Yo. Dan meminta alamat rumah Alisha supaya kamu bisa bertemu dan menikahinya, supaya kamu bisa bertanggung jawab..." Ucap Papahku menggantungkan kalimatnya, Papah menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya kabar buruk yang akan aku dengarkan selanjutnya.
"Dan kamu tau apa jawaban Agam Yo?" Tanya Papah, membuatku semakin penasaran, aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Dia cuma bilang, kamu itu dulu seperti pengecut, yang nyerah gitu aja, apalagi pas tau kalau Alisha sudah memberitahukan kalau dia gak hamil, kamu pergi gitu aja, gak ada tanggung jawabnya, gak berusaha untuk Alisha padahal alisha itu benar-benar sedang hancur, bahkan dia selalu teriak-teriak dalam tidurnya. Dia selalu mimpi buruk, makanya Agam dan istrinya membawa Alisha ke psikolog untuk di terapi mentalnya, dan di bawa keluar negri. Jujur Mario, Papah begitu malu, dan hati Papah hancur mendengar keadaan Alisha waktu itu, sedangkan kamu....?. Kamu biasa aja, sehat wal Afiat dan yang Papah lihat, kamu seperti tidak punya beban sama sekali. Papah benar-benar kecewa sama kamu" jelas Papah menceritakan semuanya dan aku begitu terperangah mendengar penjelasan Papah, seketika hatiku sakit, seperti di hantam ribuan batu. Aku memang brengsek, kenyataan yang baru aku ketahui benar-benar mengoyak hatiku dan jiwaku, dan aku harus berjuang keras untuk mendapatkan hati Alisha dan menjadikannya milikku.
"Usaha kamu untuk mendapatkan Alisha sangat berat Mario, walaupun Agam adalah teman Papah, tapi Papah tidak akan membantumu untuk mendapatkan Alisha, papah sudah sangat malu kepada Agam Nak! Jika kamu memang sungguh-sungguh ingin memiliki Alisha, perjuangan kamu sungguh berat, karena bukan hanya Alisha yang harus kamu hadapi, tapi keluarganya Agam juga yang harus kamu hadapi" ujar Papah yang sekali lagi menyentilku. Tapi semangat ku tidak akan pernah sudut, tekadku untuk mendapatkan Alisha sudah mendarah daging.
"Papah tenang aja, Mario pasti akan bawa menantu bapak ke rumah kita. Mario akan buktikan ke Pak Agam, bahwa Mario pantas untuk menjadi suaminya Alisha Pah" ujar ku tegas.
"Kamu harus buktikan Mario, jadi kapan kamu akan mencari Alisha dan membawanya pulang ke sini?" tanya Papahku.
"Besok Pak.... Mario dan Bobi akan ke Amerika, kita berdua akan ke LA Pak, Bobi udah dapat alamatnya Alisha yang ada di sana."
"Bagus Nak, itu adalah perjuangan, lanjutkan dan buatlah Papah juga almarhumah ibu kamu bangga ya Nak!"
"Selalu Nak, Papah akan selalu doain kamu"
"Makasih ya Pah" ucapku tulus, Papah hanya menganggukkan kepalanya saja, dan tersenyum kepadaku, akupun keluar dari ruangan kerja Papah.alu kembali ke kamarku untuk istirahat tidur, karena besok adalah hari yang bakalan sangat panjang.
Keesokan harinya....
Dari pagi aku sudah olahraga, sarapan dan mempersiapkan fisik juga mentalku. Karena hari ini dan seterusnya akan terasa berat, aku harus siap menghadapi tantangan apapun itu. Jam 12 siang aku sudah bersiap dengan pakaian ku dan koper yang akan aku bawa untuk ke LA. Sengaja aku hanya bawa baju seadanya, karena pasti akan repot, mending nanti aku beli pakaian aja di sana, kalau pakaian yang ku bawa kurang.
"Pah... aku berangkat dulu, doain aku ya Pah" ucapku saat akan pergi ke bandara, aku diantar Papah tapi hanya sampai luar rumah saja. Karena kondisi Papah sedang lemah, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Papah dalam keadaan seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan lain, aku harus menjemput kebahagiaan ku bersama anakku dan Alisha. Papah sudah ada suster dan Dokter yang akan memeriksakan tubuhnya setiap hari, bahkan Suster yang aku sewa untuk merawat Papah, aku pinta untuk tinggal di rumah Papah 24 jam.
"Ia... Semoga kamu sukses, jangan pulang ke sini, kalau belum bawa Alisha ke hadapan Papah."
"Ia pah... Aku pasti akan cepat bawa Alisha ke sini" ujarku, aku pun meninggalkan Papah dan mulai menaiki mobilku ke arah bandara dengan waktu yang tak lama, karena jalanan yang lancar mobil pun sampai di bandara Sukarno Hatta. Aku mencari kontak bobi, untuk menanyakan keberadaannya.
[ Halo Bob... gue di bandara, lu di mana? ]
__ADS_1
[ Bandara luas men, lu belah mana? ] ujar Bobi menggunakan bahasa yang aku tidak mengerti, padahal itu adalah bahasa sunda.
[ Oh ia... Gue masih di Lobby pintu masuk selatan, lu kesini ya. Males gue harus masuk nyariin lu! ]
[ Ekh dasar si pemalas, lu aja yang kesini, gue di ruang tunggu gate yang ke LA. cepetan bentar lagi kita take off.
[ Ya udah tunggu disitu ] ujarku. Aku pun mematikan panggilan telepon ku dan mulai menarik koper ku untuk menghampiri sepupuku yang gesrek itu.
Setelah lumayan berjalan jauh. Akhirnya aku bisa melihat tangannya yang melambai-lambaikan ke arah ku.
"Lu lama banget sih Yo! Jamuran nih gue" Kesal Bobi. Aku hanya cuek melihat Bobi yang misuh-misuh.
"Gak usah alay deh lu. Ayo cepetan masuk!15 menit lagi take off" ujarku yang menarik lagi koperku untuk check in. Bobi mengikuti ku dari belakang dan masih ku lihat wajah dia yang makin kesal, karena aku mengacuhkannya bodo amat, batinku.
Aku dan Bobi sudah berada di pesawat yang sudah terbang di atas ketinggian sekian, perjalanan ku cukup lama, aku dan Bobi yang memilih tiket kursi bisnis, memutuskan untuk tidur sepanjang jalan, karena kursinya juga sangat empuk, sangat sayang kalo di lewatkan, apalagi perjalanan kita ini bisa mencapai belasan jam.
Setelah belasan jam lamanya....
Aku dan Bobi pun sudah sampai di LA. setelah melewati transit di bandara negara lain, sungguh badan ini rasanya patah. Seperti remuk redam, coba kalau udah punya istri, apalagi kalau udah anak, pas pulang capek kaya gini, ngeliat senyuman Alisha dan anak kami, pasti hilang sudah rasa lelahku, khayalan yang harus segera terlaksana olehku.
"Bob... kita di jemput siapa?" tanyaku ke Bobi, karena mobil belum ada, saat kita berdua sudah di luar bandara.
"Nah itu dia... kita ke rumah dulu aja, gue udah sewa rumah dekat rumahnya Alisha, jadi kita gampang bulak-balik ke rumah doi, takutnya lu sering di usir" ucapnya yang membuat mataku menatap nya tajam.
"Wow easy Superman, tar dari mata lu ke luar laser lagi. Gue gak punya kriptonit." ujar Bobi makin gesrek. Aku hanya diam dan langsung masuk ke mobil, saat mobil sudah ada di depan kami berdua, kita pun masuk dan langsung di antarkan ke komplek perumahan Alisha.
Mobil pun sampai di depan rumah yang di sewa oleh saudaraku, rumah yang minimalis tapi mewah, aku pun melihat sekitar perumahan sini yang nampak sudah lengang, pantas saja karena ini sudah malam, sudah jam 1 dini hari. Kami berdua pun masuk ke rumah untuk istirahat, saat aku menutup mata, aku berharap bisa bermimpi bertemu dengan Alisha dan memeluknya.
Esok harinya... pagi-pagi aku sudah bangun, karena sudah menjadi kebiasaan ku. Segera saja aku ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Sarapan ku sangat sederhana hanya roti dengan selai coklat, karena aku belum belanja sedikit pun. Setelah makan, karena masih pagi, Aku memutuskan untuk olahraga terlebih dahulu menghirup udara yang nyaman, sambil mendatangi rumahnya Alisha, aku berharap bisa bertemu dengannya hari ini. Baju olahraga pun sudah aku pakai dan sangat pas dengan tubuhku. Aku pun keluar rumah dan bagaimana dengan Bobi dia masih tidur saja dengan lelapnya.
Aku berjalan perlahan-lahan melihat rumah sekitaran ku dan mencari alamat yang pernah di berikan Bobi. Saat aku menemukan alamatnya, bagai pucuk di cinta ulam pun tiba, sang pujaan hati sedang mundar-mandir di depan rumahnya.
"Alisha!" lirihku tanpa sadar sungguh aku sangat merindukanmu.
__ADS_1