
POV Mario
Dok.... Dok... Dok....
Kepalan ku terasa perih karena terus saja menggedor-gedor pintu Kayu jati ini, kemana kedua manusia tadi, seenggaknya dengarkan aku bicara ini malah makin pergi dan ngunciin di sini, ya Allah apes banget, batinku.
"Buka... Woy...! Pada budeg ya... Buka!"
Dok ..dok..dok... Kudengar pintu pun terbuka dan munculah wanita yang tadi mengantarkan kami ke ruangan ini...
"Mba cowok yang berdua tadi kemana mba?" tanyaku.
"Mereka berdua sudah pergi," ucap wanita itu, wajahnya datar sekali, apa aku punya salah sama dia ya???
"Kenapa saya di kunciin? saya bisa laporkan ke Polisi restoran ini! dengan laporan mengganggu kenyamanan saya," ancamku. Ingin ku lihat ekspresi takut dari wanita di depanku ini, tapi nihil.
"Laporkan saja, saya permisi," ucapnya yang langsung pergi meninggalkanku, kurang ajar, aku mengepalkan tanganku, lebih baik aku tanya sama Kiran dimana Alisha berada, enak aja Abang nya mau misahin aku sama anakku, ngimpi langkahi dulu tonjokan ayahku, batinku. lekas saja aku pergi keluar restoran ini, sebenarnya ini restoran siapa wangi bener masakannya aku jadi lapar, mana rame banget, tapi entar aja, ada hal yang lebih penting dari sekedar makan, ucapku dalam hati. Aku pun segera memesan taksi online agar mengantarkan ku kembali ke kampus, semoga saja si Kiran masih di kampus. Ekh tapi kenapa gak gue telepon aja HP nya si Kiran dasar beloon gue, batinku sambil memukul kepalaku. Aku pun mengambil HP ku dan mencari aplikasi bertanda hijau, setelah di buka ku cari chat grup kampus dan mencari kontak Kiran, setelah ketemu langsung saja ku hubungi anak itu.
[ Halo assalamu'alaikum Kiran kan? ]
[ Ia pak Mario, ada yang bisa Kiran bantu ]
[ Kamu masih di kampus? ]
[ Masih pak ]
[ Ya sudah jangan pulang dulu, tunggu saya di kampus ] Handphone ku matikan, aku pun dengan sabar menunggu taksi online.
"Lama banget sih, giliran di tungguin gak muncul-muncul," menengok kanan kiri tuh mobil belum sampai juga, kalau ku cancel tar lama lagi, akh sial... Batinku.
Tid..tid...
"Pak Mario ya pak?"
"Ia pak saya, hayu pak, saya buru-buru" aku pun langsung naik ke taksi online, dan berangkat lah taksi ini dengan kecepatan sedang.
"Pak ngebut dikit Pak, saya lagi emergency."
"Siap pak!"
Supir taksi online benar-benar ngebut, terbukti dengan waktu sesingkat ini aku bisa cepat sampai di kampus, lekas sampai aku memberikan tips, karena pembayaran sudah lewat aplikasi, setelah itu aku langsung ke kantor ku dan untungnya kiran menunggu ku di sana.
"Kiran untung kamu belum pulang," aku ngos-ngosan karena lari ketempat ini, takutnya si Kiran kelamaan dan main kabur aja.
"Kenapa emangnya Pak? Kok pake lari-lari segala, kan saya sudah janji sama Bapak, bakalan nungguin Bapak disini" Kiran melihatku bingung, aku tau isi pikirannya ini.
"Ayok kita duduk di sana, ada yang mau saya tanyakan sama kamu?"
"Siap pak!" aku dan Kiran pun duduk di bangku taman.
"Kamu tau Alisha rumahnya di mana?"
"Saya tau pak, kenapa memangnya kenapa ya pak?"
"Bisa antarkan saya kesana sekarang,"
"Maaf pak tidak bisa,"
"Loh kenapa?"
"Karena itu bukan ranah saya pak,"
"Kalau perlu izin, kamu bisa telepon dengan Alisha, pasti di ijinkan, saya kan dosennya."
"Tetap saja pak, saya tidak berani, keluarga Alisha itu, bukan keluarga biasa, walaupun Alisha mengizinkan, saya tetap tidak berani, orang tua Alisha bukan keluarga sembarangan Pak!"
__ADS_1
"Gimana ini ya?"
"Apa bapak melakukan kesalahan dengan kepada Alisha Pak?"
"Saya.... Saya hanya..."
"Wah berat itu pak, pantas saja.. Abang- abangnya Alisha datang dan mencari Bapak."
"Seberapa kuat keluarga Alisha?"
"Mereka keluarga yang sangat berkuasa, tapi sebenarnya keluarga Alisha sangat baik hati Pak, buktinya mereka gak pilih- pilih dengan siapa mereka ingin dekat, tapi kalau ada yang berani menyakiti anggota keluarganya, mereka sangat menakutkan Pak, apalagi ayahnya Alisha."
"Semenakutkan itu... !"
"Ia Pak, denger-denger dulu juga ayah kandungnya Abang Arka pernah di kirim ke Papua, karena ingin merebut Arka dari ibunya."
"Apa kamu bilang di kirim ke Papua?"
"Ia Pak... Makanya saya gak berani mencari masalah dengan keluarga Alisha, mental saya belum kuat, saya masih muda Pak."
"Tapi saya benar-benar harus bertemu Alisha."
"Alisha beberapa hari ini, gak bisa saya hubungi Pak, Handphone nya mati, maaf Pak saya gak bisa bantu, saya gak berani"
"Ya sudah kalau gitu, makasih ya Kiran."
"Sama-sama Pak, Saya permisi dulu."
Kiran pun pergi, aku menghembuskan nafasku lelah, lelah karena berlari tadi, lelah juga karena pusing dengan masalah ini. Karena tak ada urusan lagi di kampus, aku lebih memilih pulang dan mengistirahatkan kepalaku, siapa tau saja besok aku bisa menemukan jalan keluar dari masalah ku ini.
Tapi bentar, aku kan bisa tanya bagian Administrasi pendataan siswa.
Aku pun melangkahkan kakiku ke ruang admistrasi dengan langkah seribu, tapi gak lari, karena nafasku masih ngos-ngosan.
"Siang Bu Nita," ucapku dengan wanita yang ada di depan ku ini.
"Saya mau tanya alamatnya Alisha Bu?" tanyaku langsung to the point
"Alisha yang mana ya pak? nama alisha banyak pak,"
"Hadeuh nama panjangnya siapa ya? itu anak semester 1 ikut kelas saya Bu, Manajemen bisnis."
"Oh Alisha Wijaya, sebentar ya saya liat dulu di data base."
"Alisha Wijaya, kaya pernah denger nama Wijaya, tapi di mana ya..." gumamku mengingat-ngingat.
"Nah ini dia alamatnya Pak," Bu Nita pun menyerahkan kertas yang berisikan alamat Alisha, aku heran ini komplek perumahan elit, jadi benar Alisha berasal dari keluarga konglomerat," batinku.
"Makasih ya Bu Nita, saya pergi dulu,"
"Ia kan sama-sama."
Aku pun segera saja pergi dari kampus menuju parkiran mobil dan berangkat menuju ke alamat Alisha yang di berikan oleh ibu Nita.
Saat sampai di depan komplek perumahan ini, aku pun langsung menanyakan alamat rumah Alisha kepada Pak satpam penjaga pintu gerbang komplek, setelah itu ku kendarai mobil ku ke alamat yang di tunjukan oleh Pak satpam tadi, Sampailah aku di depan pagar yang sangat tinggi tapi rumahnya tidak terlihat dari sini. Aku pun turun dari mobil, dan melihat satpam yang sedang duduk di pos satpam dekat pagar rumah.
"Assalamualaikum Pak... Haloo..." Ucapku kepada Pak satpam, Alhamdulillah satpam itu mendengarkan dan menghampiri ku.
"Cari siapa pak?"
"Benar ini rumah Alisha Wijaya? Saya Mario Dosen di kampusnya Alisha,"
"Oh pak guru Dosen. Ada keperluan apa ya pak... ?"
"Saya ingin bertemu dengan Alisha bisa pak?"
__ADS_1
"Di tunggu ya Pak, saya telepon orang rumah dulu,"
"Ia terima kasih," ucapku Pak satpam itu pun masuk ke pos dan kulihat dia sedang bicara dengan seseorang melalui gagang telepon.
Tak lama Pak satpam pun menghampiri ku lagi.
"Silahkan Pak masuk, bapak maju terus aja, nanti ada yang bukain pintu di rumah nya Pak Agam, karena sudah di beritahukan, kalau saya antar, saya capek balik kesini lagi nya, maaf ya pak."
"Ia Pak gak apa-apa, makasih ya Pak."
Aku pun masuk ke dalam, ku jalankan mobilku menuju ke halaman yang luas yang pinggirannya di penuhi dengan bungan rose, jika melihat bunga rose aku jadi kembali mengingat almarhum ibuku, yang sangat menyukai bunga mawar itu. Aku pun turun dari mobil, ku lihat ada seorang perempuan paruh baya, mungkin itu asisten rumah tangga ini.
"Dengan bapak Mario," ucapnya langsung kepadaku, dan aku pun menganggukkan kepalaku saja.
"Mari ikut saja nyonya dan tuan sudah menunggu anda di dalam" ucapnya.
Glekk....
Ya tuhan, aku harus tahan mental, aku pasti bisa menemui mereka, ini semua demi anakku yang ada dalam kandungan Alisha, batinku. Saat aku masuk ke dalam, aku melihat dia manusia laki-laki dan perempuan yang masih sangat terlihat gagah dan cantik, mereka kakaknya Alisha atau orang tuanya, batinku.
"Selamat siang, Silahkan duduk pak Mario," njirrr ni orang karismanya savage.
"Ia pak selamat siang .. maaf kalau saya mengganggu, saya kesini ingin bertemu dengan Alisha, dan ingin meluruskan permasalahan saya dengannya pak."
"Untuk masalah apa?" aku semakin gugup di buatnya, apa ini ayah ya Alisha ya.
"Sebenarnya... Mungkin bapak sama ibu sudah mengetahui tentang saya dan Alisha."
"Ia ... Saya sudah tau, dan saya tidak akan tinggal diam bagi siapa saja yang sudah menyakiti anak saya.
Glekkkk....
Habis gue...apa gue juga mau di kirim ke Papua... Jangan sampai dah.
"Maafkan saya Pak... Saya memang salah, telah melukai Alisha Pak, karena pengaruh alkohol, tapi saya benar-benar tidak bisa di pisahkan dengan anak saya, dan saya akan bertanggungjawab."
"Tanggung jawab? apa yang kamu maksud? apa hanya karena anak saya hamil, kamu ingin bertanggung jawab, sedangkan jika anak saya tidak hamil, kamu kelas tanggung jawab."
Glekkkk....,
Aku kesulitan menelan salivaku, perkataan ayahnya Alisha sungguh- sangat membuatku tertekan, dan semua yang di katakan nya sangat benar.
"Bukan begitu Pak, Saya sudah berusaha untuk bicara dengan Alisha, tapi Alisha selalu menghindari saya."
"Oh... Jadi anda nyerah, tidak mau berusaha lebih! Anda telah menghancurkan masa depan Putri saya satu-satunya, tapi anda lepas tanggung jawab seperti ini, SAYA INGATKAN KEMBALI BAPAK MARIO YANG TERHORMAT, Alisha anak saya tidak perlu pertanggung jawaban dari lelaki pengecut seperti anda, yang tidak punya prinsip dan tidak mau berusaha lebih lagi... Saya masih mampu untuk menyelesaikan masalah anak saya, Jadi anda lebih baik jangan lagi muncul di kehidupan anak saya, dan tutup mulut anda, jika anda bertingkah, maka saya yang akan menutup mulut anda selamanya."
Ya tuhan.... Ini orang gembong mafia apa ya?
"Tapi Pak, saya ayah dari anak yang di kandung Putri bapak."
"Ya terus memang kenapa? ada masalah!"
"Apa bapak mau? anak Bapak melahirkan tanpa ada suami di sisinya."
"Saya serahkan semua ini ke anak saya Alisha, dan Alisha sudah memutuskan untuk tidak mau melihat muka Bapak lagi, jadi saya harap Bapak bisa menerima keputusan anak saya, karena trauma yang bapak ciptakan sangat mendalam bagi mental anak saya."
Aku benar-benar terperangah dengan kata kata ayahnya Alisha, apakah Alisha mengalami hari-hari yang berat karena perbuatan ku.
"Jadi lebih baik anda pergi dari sini dan Jangan lagi menemui anak saya!"
Jujur hatiku sakit, sangat sakit malah, jika harus berpisah dengan anakku, tapi apa mau di kata, aku terlalu takut untuk melawan ayahnya Alisha.
"Saya permisi Pak..." ucapku lesu, aku pun keluar dari rumah megah ini, tanpa bisa berbicara langsung dengan Alisha, sungguh ini di luar apa yang aku bayangkan.
\_\_\_\_&&\_\_\_\_
__ADS_1
"Lihat saja, kamu bisa lihat sayang, dia hanya pecundang, baru di bentak segitu doank udah soak," ucap Agam kepada istrinya karena geram melihat tingkah Mario.
"Ia Papah benar. Dia gak pantas menjadi menantu kita, orang klemer-klemer kaya gitu sok-sokan mabok lagi," ucap Nissa. Yang hanya bisa menghembuskan nafas kasar.