
"Alisha..... Kamu ternyata disini, mamah cariin dari tadi Nak" ujar Nissa yang keluar dari persembunyiannya.
"Mamah.... Mamah Nyariin Alisha, apa nyari Papah? Kangen yah sama Papah, Baru seminggu juga Mah" ledek Alisha. Nissa Menghampiri Alisha dan mbok Jum, lalu duduk di sebelah putrinya.
"Bu...Saya izin ke belakang dulu ya Bu" ujar mbok Jum yang langsung bangun dari duduknya.
"Mau kemana mbok? diem aja disini sama kita..." tanya Nissa
"Mbok mau masak Bu, sudah mau sore"
"Oh ia atuh makasih ya mbok" ujar Nissa, dan mbok pun menuju dapur. Nissa melihat anaknya yang semakin gemuk, apalagi dengan kandungan kembarnya
"Kamu ini, Mamah kalau kangen sama Papah kamu, tinggal telepon aja, terus Papah bakalan nyamperin Mamah deh, dengan kecepatan cahaya."
"Ia dah, yang bucin tingkat kodok, tapi aku seneng liat Mamah sama Papah selalu mesra" ujar Alisha tersenyum melihat Nissa.
"Cucu-cucu Oma gimana di perut Mamah, sehat sehat kan"
"Mah, Alisha pengen pulang ke Indonesia Mah Kangen rumah, kangen makanan sana, terus Mamah juga pasti gak bisa jauh-jauh dari Papah."
"Tapi kamu gak apa-apa memangnya kan, kehamilan kamu masih 5 bulan sayang, nunggu kamu lahiran aja ya sayang"
"Atau Alisha gak mau balik lagi ke Indo Mah, Alisha mau tinggal disini"
"Kok kamu bilang gitu, habis kamu lahiran, kamu bisa lanjut kuliah Nak, biar anak-anak kamu Mamah yang urus."
"Mah, makasih ya Mah, Mamah selalu ada di samping Alisha dalam keadaan apapun Mah"
"Ia sayang, kamu itu satu-satunya Putri Mamah dan kecintaan Mamah, jadi Mamah bakalan selalu siap siaga buat kamu"
"Ia mamah, aku gak tau lagi apa yang aku lakuin kalau gak ada Mamah, bahkan aku sempet mikir untuk gugurin mereka, tapi aku gak sanggup Mah, aku menyayangi mereka Mah"
"Ia sayang, kamu pokoknya jangan mikir yang aneh-aneh, harus selalu ceria dan sehat biar cucu-cucu Mamah juga sehat" ujar Nissa langsung memeluk Alisha erat. Nissa tau akan kesedihan anaknya, yang kini pasti sedang merindukan Ayah dari anak-anak nya itu.
"Gimana mabok kamu? Udah mendingan?"
"Lumayan lah Mah, gak separah di awal."
"Baguslah, tapi kamu udah bisa makan nasi belum"
"Coba yuk mah, aku lapar" ujar Alisha yang masuk kerumah dengan Mamahnya Nissa.
"Ayuk sayang... Kamu mau makan apa? nanti Mamah masakin buat kamu" ujar Nissa bertanya kepada anaknya.
__ADS_1
"Mah... Sebenarnya ada hal yang benar-benar aku inginkan sekarang tapi bukan makanan" ucap Nissa saat mereka sudah di dapur melihat mbok Jum memasak, mbok Jum yang mendengarkan pembicaraan mereka menerka, apa nona mudanya ini, akan mengatakan yang sebenarnya kepada Mamahnya.
"Ngomong aja sayang, apapun ngidam kamu, yang kamu mau, Mamah akan berusaha untuk kasih apapun ke kamu sayang"
"Tapi kayanya ini mustahil"
"Sayang dengerin Mamah, kita harus berusaha, ada Allah bersama kita, jadi jangan takut yah. Kamu mau apa bilang sama mamah?"
"Sebenarnya.... Tapi aku malu Mah" ujar Alisha yang malah menutup mukanya membuat Nissa gemas di buatnya.
"Kamu ini... Ngomong sekarang gak... Kalau enggak Mamah kelitikin nih"
"Jangan Mah... Tapi Mamah janji jangan marah sama aku ya Mah" ujar Alisha.
Nissa melihat ke dalam wajah anaknya. Apa mungkin Alisha akan mengatakan hal yang tadi pagi dia katakan ke mbok Jum ya? gumam Nissa dalam hati.
"Ia sayang ngomong aja... Mamah akan usahakan buat kamu. Kamu mau minta apa? Jalan-jalan ke APRIKA?"
"Bukan Mah, ngapain ke sana? Ketemu si pelakor, oh...no!"
"Lah terus....."
"Aku sebenarnya pengen banget Mah ngeliat wajah pak Mario, mungkin ini keinginan babies Mah... Aku juga pengen banget setiap malam Meluk baju nya pak Mario, Tapi mustahil kan Mah, keinginan aku ini" lirih Alisha sendu, Nissa yang melihat anaknya sedih membuat Mata Hatinya ikut terluka juga. Nissa tidak mau melihat anak kesayangannya itu menangis.
"Sayang, kenapa kamu gak katakan saja sama Mario kalau kamu membutuhkan dia, kenapa dulu kamu nolak sayang?"
"Maafin Mamah Nak, harus nanya sama kamu pertanyaan kaya gitu, pertanyaan yang buat kamu sakit sayang" ujar Nissa memeluk erat anaknya, Alisha menangis mengingat kejadian itu. Dadanya sesak, tapi dia tidak mau memperlihatkan nya ke Mamahnya. Mbok Jum yang melihat itu semua hanya bisa menangis dalam diam.
"Sayang pokoknya apapun keputusan kamu akan Mamah dukung, dan soal permintaan kamu ini Mamah akan pastikan kamu akan mendapatkan nya." ujar Nissa yang masih memeluk putrinya itu.
"Gimana caranya Mah?" tanya alisha dengan wajah yang berbinar melepaskan pelukan Mamahnya itu.
"Kamu kan punya tiga laki-laki yang bucin sama kamu, manfaatin aja mereka sayang" ujar Nissa tersenyum.
"Akh... Mamahku memang Ter-ter-terbaik dah pokoknya" ujar Alisha yang kembali mulai tersenyum.
"Pokoknya bagaimanapun caranya mereka harus mendapatkan pakaiannya Mario dan mengambil video nya Mario secara langsung. Gimana kamu setuju?"
"Ia Mah...Alisha percaya sama Mamah pokoknya.
Keduanya pun tertawa gembira. Mbok Jum yang melihat keduanya bahagia ikutan bahagia juga, mbok Jum pun melanjutkan acara masaknya di dapur takutnya masakannya gosong.
\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
POV Herman
Aku membuka mataku setelah semalaman tidur dengan nyenyak malam itu, setelah berdamai dengan keadaan, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua untuk istriku agar ia bisa berubah, aku akan mengarahkan istriku menjadi lebih baik dan penurut seperti dulu lagi, dia tidak ingin pernikahannya kali ini gagal seperti tiga pernikahanku yang dulu, aku lelah harus memulai hubungan baru dengan orang lain.
Aku melihat Kokom yang ada di sampingku sedang tertidur dengan pulas nya, Kokom adalah wanita yang beberapa tahun ini selalu menemaniku di saat susah dan senang, semua itu terasa cepat bagi ku, tapi dengan Kokom lah aku tau arti sebuah kesetiaan.
"Aku akan mencoba sekali lagi mempertahankan pernikahan kita Kom, aku malu jika harus bercerai dengan kamu dan menikah lagi dengan wanita lain, Arka akan semakin membenciku, karena orang pasti melihat Bapaknya si tukang kawin dan si tukang selingkuh, aku tidak mau anakku membenciku lagi" ujar Herman di sebelah Kokom yang masih tertidur lelap.
Aku akan membuat Arka bertanggung jawab akan hidupnya dan membiayai semua kebutuhan ku dan keinginan ku, karena aku lah Bapak kandungnya, dan itu sudah menjadi kewajiban Arka untuk berbakti kepada orang tuanya, Batinku.
Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk membersihkan diriku dan bersiap-siap untuk olahraga karena kebetulan hari ini kecamatan sedang libur. Setelah mandi ku lihat Kokom masih saja tertidur, ku hampiri Kokom yang mulutnya sedang terbuka lebar sekali.
Ya tuhan... aku baru tau setelah bertahun- tahun, dia kalau tidur bersisik seperti ini. Tumben sekali jam 6 kaya gini dia belum bangun, Ucapku dalam hati.
"Kokom bangun....! sudah siang ini, aku mau pergi" ucapku sambil menggoyang-goyangkan badan Kokom. Kokom pun menggeliatkan badannya dan membuka mata perlahan, Kokom bangun dengan merentangkan tangannya ke atas, dan menguap sangat lebar. Seketika bisa ku cium bau-bau neraka yang berasal dari mulutnya.
"Sikat gigi sana, bau banget mulut kamu" ucapku kesal.
"Bapak mau kemana? pagi-pagi udah rapih" tanyanya dengan wajah yang masih mengantuk.
"Pagi ini aku mau olahraga di taman, ada senam, kamu jangan lupa beres-beres di rumah dan masak, pas aku datang makanan harus udah ada di meja" ucapku yang langsung pergi meninggalkan Kokom yang masih blank mungkin, karena baru bangun dari tidurnya.
Aku keluar rumah dan mengambil motorku dari garasi yang luas, yang muat satu buah mobil dan semoga saja suatu saat nanti aku bisa mempunya mobil lagi seperti dulu, saat aku masih nikah dengan Nissa. Perpisahan dengan Nissa adalah hal yang paling bodoh yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Aku jadi melarat kaya gini, seandainya aku tidak bercerai dengan Nissa, hidupku pasti akan bergelimang harta, dan mempunya anak yang tampan dan cantik, yah seandainya bisa ku putar waktu, Batinku.
Aku pun mengendarai motorku ke taman Yang agak jauh dari rumahku, untuk melakukan olahraga jalan cepat saja, tubuhku yang masih prima ini harus ku jaga dengan sebaik mungkin, walaupun aku sudah tua, tapi aku tidak boleh kalah dengan Agam yang mempunyai tubuh yang kekar karena gym nya, aku juga harus bisa mempunyai tubuh dengan otot yang sempurna walaupun tanpa gym, alias olahraga gratis dan Itu malah lebih praktis.
Aku menaruh motorku di parkiran yang sudah penuh dengan kendaraan roda dua disana. Padahal baru jam 7 pagi, tapi taman ini sudah penuh aja dengan lautan manusia, karena perut yang lapar, aku pun mencari sarapan lontong sayur, sepertinya enak, Pikirku.
Setelah beberapa saat ku cari lontong sayurnya akhirnya ketemu juga dan ku hampiri penjual lontong sayur itu, pembelinya lumayan cukup ramai, aku pun mengantri sebentar beberapa menit.
"Pak ... Lontong sayur nya 1 ya Pak" ucapku sambil duduk di bangku yang sudah di sediakan.
"Ia sebentar ya pak ... Pedes gak pak?" ucap sang penjual.
"Biasa aja Pak" ucapku. Lalu sang penjual pun langsung meracik lontong sayur pesanan ku.
Saat aku sedang menunggu makanan ku jadi, pundakku di tepak dari belakang dan aku terkejut kenapa ada si Putri disini.
"Hay mas Herman olahraga disini juga" ucapnya bahagia sekali sepertinya bertemu dengan ku.
"Ia seperti yang kamu lihat"
"Wah kebetulan banget ya. Kita ketemu disini, Jangan-jangan kita berjodoh lagi mas" ucapnya yang membuatku melihat ke arah wajahnya dan melihat senyuman masih terukir di bibirnya yang seksi itu.
__ADS_1
"Jangan becanda Put, aku udah punya keluarga"
"Ia mas... Aku ngerti kok, Aku cuma becanda jangan di masukan ke hati ya mas. Tapi kalau mas Herman mau jadiin aku istri kedua aku mau kok mas..."