
Saat Agam tiba di kantor, Agam langsung di datangi oleh direktur keuangan yang bernama pak Agus, dan asistennya Arsen, mereka bertiga sangat terburu- buru dengan keadaan kantor yang mulai goyang, karena perusahaan harus kehilangan 50% saham perusahaannya, dan harus mencari dana pengganti untuk menambal kekurangan.
"Jadi bagaimana? mereka semua sudah menarik saham mereka?" tanya Agam kepada kedua orang penting di perusahaannya.
"Ia pak, dan kini kita kehilangan setengah dari kas kantor pak," ucap pak Agus cemas.
"Lalu bagaimana rencana bapak? apa kita akan mencari investor baru," tanya Arsen.
"Hey... Hey.... Kalian berdua tenanglah jangan panik dan Jangan risau, bagiku masalah sepele ini mah, gampang buat saya," ucap Agam sombong sambil menjetikan jarinya. Arsen dan Agus hanya melirik satu sama lain, karena melihat Bos mereka saat ini yang terlihat sangat santai, kelewat santai malah.
"Jangan pada bengong gitu, aku seharusnya berterima kasih sama Riki, karena dia, kita tau mana kawan mana lawan, dan semua investor yang menjadi lawan, harus segera kita singkirkan." Terang Agam jumawa.
"Jadi pak Agam ada solusi untuk perusahaan bapak?" tanya Agus penasaran.
"Agus.... Agus..... Oh jelas! saya selalu punya cara dalam menghadapi masalah," ucap Agam dengan logat Jawa.
"Besok akan di adakan konferensi pers, dan Arsen! saya minta kamu urus semuanya, jangan ada satu pun yang terlewat, saya ingin berita ini nantinya menjadi Viral dimana-mana, kalo perlu undang semua wartawan." Ucap Agam.
"Baik pak, Akan saya laksanakan!"Ucap Arsen.
"Dan ini bahannya," ucap Agam menyerahkan sebuah dokumen untuk Arsen. Dokumen tersebut di baca oleh Arsen, saat membaca Arsen melotot melihat tulisan di dokumen tersebut.
"Beneran ini pak....?" Teriak Arsen yang lupa dia sedang bicara dengan Bos nya.
"Ekh... Maaf pak... Saya tidak sopan," ucap Arsen lagi, langsung menutup mulutnya.
"Apaan sih luhh... Kaget amat," bisik Agus.
"Kamu kaget? Wajar sih... Tapi itu benar adanya.... Kamu minum saja dulu Gus..." ucap Agam santai.
"Kok Agus pak yang di suruh minum, kan saya yang kaget," tanya Arsen bingung.
"Biar Agus kuat menghadapi kenyataan " ucap Agam asal.
"Bapak bisa aja.... Baiklah pak saya izin undur diri pak untuk mempersiapkan semuanya sekarang, jadi besok sudah siap?" ucap Arsen. Agam hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Saya juga pak, izin mengundurkan diri pak permisi," ucap Agus ingin menyusul Arsen keluar, karena penasaran dengan isi dokumen tersebut.
"Loh.... Agus...Agus.... Kenapa kamu mau berhenti? gaji kamu kurang disini? kan saya sudah bilang tenang aja perusahaan saya gak bakalan bangkrut!" ucap Agam Dengan logat jawanya sengaja mengerjai Agus, karena Agus lucu dan supel. Agus Terbengong sesaat.
"Siapa yang berhenti pak... Bapak mau memecat saya?" ucap Agus sedih.
"Lah tadi kamu sendiri yang bilang saya izin mengundurkan diri, berarti kamu pengen berhenti toh....?" Canda Agam.
"Enggak pak, itu...itu... Lidah saya keseleo pak... Ia pak keseleo.. hehehehe..."
"Oh kirain Kamu mau berhenti, kalo bener bakal saya kabulin!"
"Ya jangan lah pak.... Kasian keluarga saya di kampung."
"Bagus itu, kerja untuk keluarga ya... Tapi jangan lupa kamu cari pasangan, biar gak jones mulu."
__ADS_1
"Ya Allah si bapak saya di bully lagi, jodoh selalu saya cari pak, tapi dapet nya zonk terus, matre semua ceweknya, gak mau di ajak susah dulu, maunya langsung shopping, ke salon untuk perawatan, pusing nantinya pak Bos!"
"Hahahhaha... Gak apa-apa, kali ini kan kamu banyak duitnya."
"Itulah pak, saya gak mau dapet cewek yang mau karena duit saya doang, lagi nyari yang benar-benar tulus."
"Wah susah sih itu, tapi adalah pasti, istri saya sebagai contohnya."
"Kalau ibu Bos mah, sudah tidak di ragukan lagi pak."
"Ya sudah kamu balik ke ruangan kamu gih.... Gak jadi kepoin si Arsen kan, bawa apaan tadi dia?"
"Oh ia pak.... Hehehe bapak tau aja pikiran saya, permisi pak" ucap Agus.... Pak Agam hanya menganggukkan kepalanya lagi, dan Agus keluar dari ruangannya.
Agam pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Tak berapa lama kemudian Pak Bram, ayahnya Agam tiba di kantor Agam dan langsung masuk keruangan Agam melewati lift khusus pemilik perusahaan. Sang sekertaris yang sudah mengetahui ayahnya Agam, ingin membukakan pintu, tapi Pak Bram mengangkat tangan, meminta untuk sekertaris tersebut duduk saja.
"Papah udah sampai" ucap Agam saat melihat papahnya membuka pintu ruangannya.
"Gimana perusahaan kamu? kurcaci lima itu sudah menarik semua sahamnya " ucap Pak Bram, ayah Agam yang langsung duduk di kursi depan kursi anaknya Duduk.
"Ia Pah... dan kantor ini kehilangan kas lumayan cukup besar, tapi biarkanlah saja, aku jadi tau kalo mereka semua tidak bisa di ajak bekerja sama lagi," ucap Agam.
"Ya sudah ini waktunya kamu memimpin perusahaan kamu yang asli gam."
"Tapi aku mau pindahin head office nya disini Pah, bukan di Bandung."
"Gak apa-apa... Kamu atur sendiri bagaimana enaknya kamu saja."
"Yah begitulah HAHAHAHHA" tawa Bram membahana, Agam hanya mencebikan bibirnya kesal.
Drt... drt.. drt
"Siapa?" tanya papah Agam
"Si Riki, udah berani datangin rumah Agam Pah."
"Ya sudah, sekarang saja kita berangkat nya."
"Ia Pah" sahut Agam, mereka berdua pun pergi dari kantor Agam menuju rumah Surya ayah Riki.
Sesampainya di rumah orang tua Riki. Pak Bram dan Agam langsung di sambut oleh Pa Surya, mereka bertiga pun langsung duduk-duduk di kursi ruang tamu.
"Gimana nih Kabar nya sehat ?" ucap Pak surya
"Alhamdulillah sehat, Sehat itu rezeki no 1 bener gak Pak Surya?" ucap Bram.
"Jadi gimana nih Pak Surya, Kita berdua langsung aja nih ke intinya, Anak bapak sepertinya semakin ngaco sih menurut saya Pak Surya, Maaf nih sebelumnya kalau saya agak sedikit kasar ngomongnya Pak Surya" ucap Bram to the point.
"Si Riki, oh..... Tenang saja Pak Bram, saya sudah suruh Riki, buat gak ganggu lagi Agam, dia dipastikan bakalan mengikuti kemauan saya, bapaknya." Ucap Surya yakin.
"Yakin Pak! Tapi Riki berani datangin Nissa kerumah Agam loh, Hari ini juga pak, Anak saya menerima laporan dari Bodyguard nya, dan Bapak tau para Investor Agam, sudah menarik saham dari perusahaan Agam, karena anakmu si Riki nawarin saham nya Ke mereka semua masing masing 4% loh Pak Surya, menurut saya si Riki terlalu berani banget ngasih saham cuma-cuma, sebesar 20% lagi, ga rugi tuh Pak? Kalau di duit kan lumayan bisa capai puluhan milyar, Ia kan." Ucap Pak Bram memancing Surya.
__ADS_1
"Si Riki nawarin saham ke investor nya Agam buat apa?" Tanya Pak Surya?
"Ya buat sabotase perusahaan Agam lah. Pak Surya....Pak Surya.... Sudahlah jangan pura-pura... Kamu itu gak pinter akting Pak Surya, Sudahlah Pak Surya, Lagian juga tadi sudah dikasih tau di telepon kan dan saya sudah jelasin apa yang Riki lakukan ke perusahaan Agam ... Dan itu benar-benar membuat saya marah Pak Surya, " ucap Pak Bram dingin.
Glek.... Pak Surya berusaha menelan salivannya yang sialnya terasa susah karena tiba-tiba tenggorokan nya kering.
"Tenang aja.... Aku bakalan beresin semua kekacauan ini Pak Bram."
"Sudah telat," .... Kedatangan kami kemari hanya ingin menyampaikan, saya Bram akan menarik semua saham saya yang ada di perusahaan Pak Surya, dan akan membatalkan semua bantuan untuk perusahaan Bapak, dan asal Bapak tau, sudah lama organisasi yang selalu membantu Bapak itu, Agam lah pemimpin nya, jadi sudah jelas semuanya...! Ucap Pak Bram yang kembali membuat Pak Surya kaget dan pucat mukanya saat itu.
Braaakkkkk.... Tiba-tiba pintu terbuka dan di sanalah berdiri Riki beserta Johan dengan tatapan kaget pula.
"Loh Pah... Kenapa ada Agam di sini?" ucap Riki yang memandang Agam dengan tatapan benci dan tajam.
"Ok. Pak Surya Kita pulang dulu, biang kerok sudah datang, kalau masih disini, gak tau dah mungkin Agam bakalan buat anak kamu lumpuh," jelas Pak Bram.
"Ayuk Pah, Agam masih banyak kerjaan," ucap Agam yang langsung berdiri di ikuti oleh Pak Bram, sedangkan Riki yang di abaikan oleh ayahnya hanya diam, sambil melihat sebenarnya apa yang terjadi?.
"Tunggu Pak Bram! Kita bisa bicarakan ini lagi Pak Bram."
"Maaf Pak Surya, Tadi kan sudah kita bicarakan baik-baik, Tapi semakin menjadi, dan saya sudah putuskan dengan mantap, " tegas Pak Bram. Agam hanya melihat Riki dengan tatapan meremehkan, dan malas sekali meladeni anak bocah yang baru pertama kali jatuh cinta itu
"Hahahaha Agam... Agam... Kamu pasti kesini untuk meminta bantuan ayahku kan?," ucap Riki sombong karena tidak mendapatkan tanggapan dari ayahnya. Agam hanya melihat sekilas Riki dengan senyum meremehkan, lalu lebih memilih pergi dari pada berdebat dengan orang gila.
"Saya sudah bilang ceraikan Nissa, dan berikan Nissa padaku, maka perusahaan kamu itu tidak akan bangkrut!" teriak Riki sombong sambil melipat dadanya. Agam hanya tersenyum melihat tingkah Riki yang gila beneran.
Plakkkkkk....
"Papah kenapa menamparku?" Teriak Riki kesal karena ditampar oleh Papahnya sendiri.
"Masuk kamu sana ke kamarmu sekarang...! dan Johan kamu! sekarang juga kamu kembali ke kantor!.
"Baik pak bos saya izin undur diri," sahut Johan.
Riki gak mau ke kamar pa! Riki ingin melihat wajah kehancurannya sekarang," tantang Riki.
"Ingat kata-kata saya Pak Surya! Baru saja kita omongin.. nih lihat...Saham saya sudah di tarik, jadi sekarang kita gak punya urusan lagi. Ucap Bram yang memperlihatkan chat dengan asistennya di kantor. Dan itu berhasil membuat mata Riki terbelalak.
"Pak Bram... Tunggu Pak.. Jangan lakukan itu Pak Bram ... Saya mohon pak, tanpa bantuan dari Bapak, perusahaan saya akan hancur." ucap Pak Surya.
"Bapak bisa memikirkan perusahaan Bapak bangkrut atau tidak, tapi hanya diam saja ketika saya memberikan peringatan ke Bapak sebelumnya, saya juga seorang ayah dan seorang Pengusaha, gak ada yang mau anaknya mengalami kesulitan, dan perusahaannya hancur. Ucap Pak Bram telak.
"Sudahlah, sadar diri rik, kamu tuh itu siapa? Senjata Maka Tuan kan jadinya, bukan aku yang hancur, tapi malah kamu yang hancur." ucap Agam sarkas.
Pak Bram dan Agam pun meninggalkan rumah Pak Surya dengan berbagai perasaan.
Bugh.... Bugh....
Riki di tampar oleh ayahnya dan di tendang pula perutnya.
"Dasar anak gak berguna kamu, sudah Papah bilang, jangan ganggu perusahaan Agam! masih saja ngeyel kamu! sekarang perusahaan kita hancur, tanggung jawab kamu hah.... !" Ucap Pak Surya yang langsung menendang Riki yang sebenarnya pelan.
__ADS_1
"Pah... Ampun Pah...." Ucap Riki yang memegang perutnya sakit."