
POV Nissa
Alhamdulillah semenjak keluar dari penjara sudah beberapa hari ini, pasangan sejoli itu tidak menggangu ku, hidupku terasa bahagia dan senang, aku sudah tak was-was lagi, tapi tetap saja rasa kewaspadaan tetap harus di tingkatkan, karena tak menutup kemungkinan penyakit mereka berdua bisa kambuh. Hari ini aku hanya diam saja di rumah, bersantai sambil menonton drama Korea kesayangan ku, yang berjudul Alchemist Of Soul, sungguh cerita yang menyayat hati, kisah yang indah dan kesetiaan yang nyata sampai akhir, andai aku punya pasangan seperti Jang UK, udah ganteng, kaya, pemberani lagi, walaupun pada awalnya dia itu menyebalkan, sambil memakan kueh brownies buatan mamah yang enak tak ada tandingannya ini, badanku jadi semakin berisi apalagi sekarang perutku sudah kelihatan besarnya, ku elus-elus perutku sayang rasanya tak sabar menanti anakku cepat besar agar bisa merasakan tendangan kaki nya di perut ku. Saat sedang asik menonton Drakor brownies kecintaan ku habis, mau ambil ke luar malasnya minta ampun, jadinya aku hanya minum dan membiarkan cemilan ku kosong sambil terus menonton drama kesukaan ku.
Tok tok tok....
" Nissa.... Lagi ngapain nak... Ngerem Bae dikamar... Kaya anak lagi di pijit aja " ucap ibuku yang masuk ke kamarku dan langsung duduk di sampingku, akupun hanya menoleh dan memberikan senyuman terbaikku untuk wanita paling spesial dalam hidupku ini.
" Hehehehe mamah biasalah.. nih nonton Drakor kesukaan mah "...
" Kamu gak lupa sayang hari ini itu jadwalnya ke dokter cek kandungan ".
" Oh ia mah.... Jam berapa telat gak aku... Duh kok bisa lupa sih "
" Setengah jam lagi udah mau mulai, Ayuk siap-siap mamah tunggu di depan ya "
" Ok mah aku ganti baju dulu ". Setelah aku selesai bersiap siap aku dan mamah pun pergi ke rumah sakit diantarkan pak Dadang, saat tiba di rumah sakit kami pun langsung ke poly kandungan, tapi pas kamu sedang jalan, ada yang menepuk pundaku dari belakang, ketika aku berbalik, seketika aku kaget memandang wajah laki-laki di belakang ku, akupun seperti pernah bertemu, tapi di mana aku lupa.
" Maaf.... Bapak siapa ya. Ada perlu dengan saya ".
" Mba Nissa lupa sama saya, waduh saya sedih banget loh... Padahal saya selalu ingat sama mba Nissa, saya Agam mba Client di tempat kerja mba Nissa dulu... Kita pernah ketemu di ruangannya pak boy mba "
" Oh ia aku ingat pak Agam yang itu yaa.... Maaf ya pak kalo saya tadi kurang sopan, oh ia kenalkan ini mamah saya ".
" Mah kenalin ini pak Agam Client di perusahaan pak boy dulu mah ".
" Arum.. mamahnya Nissa " ucap mamah sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
" Agam Tante, kalo boleh tau pada mau kemana ya " tanya Agam.
" Kita mau cek kandungannya Nissa nak Agam "
" Oh mba Nissa sedang hamil, lalu suaminya gak ikut mba "
" Tidak pak agam, saya sudah bercerai dengan suami saya ".
" Maafkan saya mba Nissa, saya gak bermaksud "
" Ga apa-apa nak Agam, oh ia nak Agam lagi sibuk gak "
" Ga bu aku sedang free, kesini hanya jenguk Client yang sedang sakit, kenapa ya Bu ".
" Begini mau gak mengantarkan kita berdua untuk check up kandungan nak Agam, kasian Nissa tidak pernah diantarkan suaminya selama cek kandungan "
" Mamah apaan sih, maaf ya pak Agam jangan dengerin mamah saya, kalo gitu kami permisi ya pak " ucapku yang langsung menarik tangan mamah ku menjauh, aku gak habis pikir kenapa mamah bisa punya pikiran seperti itu, aku kan jadi malu.
" Ih Nissa, kok tarik tarik mamah, kan mamah lagi ngomong sama nak Agam kali aja dia mau nganterin kamu Nis "
" Mamah yang apa-apaan, aku kan malu lagian buat apa mamah minta pak Agam buat nemenin aku check up " ucapku yang langsung mengambil kursi tunggu karena kamu sudah sampai di ruangan tunggu poly kandungan.
" Nak mamah tau, apa yang kamu pikirkan, selama kamu cek kandungan mamah selalu melihat wajah sendu kamu, mata sedih kamu, saat melihat pasangan suami istri yang bersama untuk cek kandungan, kamu sedih kan nak, mangkanya pas lihat nak Agam, dan sepertinya dia tertarik sama kamu, ya siapa tau kamu bisa merasakan seenggaknya diantarkan oleh lelaki, walaupun bukan suami kamu nak ".
" Kan bisa diantar papah mah, lagi pula aku ga apa apa kok mah " ucapku tersenyum getir, padahal yang mamah katakan itu benar adanya.
" Antar sama papah itu beda nak meskipun sama sama lelaki, sayang kan mamah juga pernah ngerasain jadi kamu nak, hamil kamu dulu ".
" Ia mah, aku ngerti kok tapi aku gak apa-apa, jangan gitu lagi mah, aku malu ".
" Ya udah sayang nama kamu udah di panggil, hayu masuk "
" Tante Arum... Mba Nissa mari saya antar ke dalam saya juga ingin tau perkembangan bayi mba Nissa " ucap pak Agam tiba tiba datang menghampiri kami dan tersenyum, ya Allah kenapa hati ku deg-degan kaya gini cuman melihat senyum pak Agam doank.
__ADS_1
" Eh silahkan nak Agam masuk berdua sama Nissa aja , Tante tunggu disini "
" Tapi mah "
" Udah masuk aja kalian berdua ya ".
" Ya udah mari pak Agam ". Ucapku. Dan akhirnya aku pun masuk berdua dengan pak Agam berdua keruangan dokter. Saat di ruangan dokter Melisa, tiba-tiba dokter tersenyum, aku pun bingung ada apa.
" Wah.... Akhirnya Bu Nissa di temani suaminya juga, si bapak ini kemana aja toh istrinya lagi hamil ya temenin kerja jangan jauh jauh" ucap dokter Maya terus menerus sambil senyum tiada henti, akupun kaget bagaimana menyikapi ini, aku memang tidak pernah memberitahukan mengenai perceraian ku kepada dokter Melisa, dan kalo ditanya aku hanya bilang suamiku sedang kerja di luar negri.
" Ia dok Alhamdulillah urusan saya di luar negri sudah selesai,, jadi saya bisa mengantarkan istri saya untuk cek kandungan, saya juga ingin melihat anak saya dok " ucap pak Agam malah mengiyakan, cocok juga aktingnya benar benar menjiwai. Akupun hanya tersenyum malu mendengar dokter Melisa berbincang akrab dengan pak Agam.
" Mari Bu Nissa kita lihat bagaimana si Dede bayi di dalam kandungan ibu, sudah lima bulan ya Bu "
" Ia dok, tak terasa sudah lima bulan " ucapku, asisten dokter Melisa pun menaruh jeli di perutku, selanjutnya dokter Melisa menggunakan alat USG nya.
" Nah lihat ini pak sudah terbentuk ya pak, ini matanya, kuku tangan, dan kaki nya, dan Alhamdulillah bayi nya sehat ya pak "
" Ia dok, saya bahagia bisa melihat bayi saya dok, makasih ya dok " ucap pak Agam yang semakin pintar dengan aktingnya, aku hanya tersenyum getir, tapi ada perasaan bahagia yang tidak bisa di ungkapkan, hati ini sangat bahagia, melihat pemandangan pak Agam melihat bayiku, dan mengucapkan kata kata itu, seperti diantarkan suamiku sendiri, hal yang selalu ku inginkan semenjak aku hamil, tapi aku tak bisa mengalaminya, dan hari ini, aku bisa merasakannya.
" Ya sudah, di jaga ya pak Bu Nissa nya, di jaga baik-baik, dan untuk Bu Nissa Vitaminnya jangan lupa di minum, makan yang sehat dan enak enak ya, supaya Dede bayi dalam kandungan tumbuh dengan gizi seimbang" ucap dokter Melisa tulus.
" Ia makasih banyak ya dok kami permisi dulu " ucapku yang langsung berdiri dan diantarkan oleh pak Agam keluar.
" Sok kami permisi terima kasih banyak dok " ucap pak Agam, sebelum keluar pintu ruangan, dan dokter Melisa hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
" Makasih banyak ya pak, udah nganterin aku ke dalam, dan maaf banget aku jadi ngerepotin kaya gini ". Ucapku tulus dengan senyum yang masih menghiasi wajahku, dan entah kenapa bahagia yang kurasakan ini masih sangat besar membludak rasanya.
" Gak apa-apa mba Nissa, saya sekalian nostalgia, karena dulu saya juga sering antar istri saya untuk cek kandungan ".
" Oh ia, pak Agam jadi lama karena nganterin saya, bagaimana dengan istri pak Agam, saya takut terjadi salah paham nantinya ".
" Oh maaf kalo begitu pak, mari " ucapku, dan kami pun sudah sampai di tempat tunggu mamah yang sedang duduk di kursi, sambil memainkan HP nya, mamah lagi ngapain sih serius amat, batinku .
" Udah datang, udah selesai periksanya nis ".
" Udah mah, kayanya kita pulang aja yuk '.
" Mba Nissa dan ibu mau saya antarkan pulang" ucap mas Agam .
" Ah gak perlu pak, kami berdua diantarkan supir kok kesini nya "
" Ia nak Agam, tapi kalo nak Agam mau main, hayu ikut aja sama kita " ucap mamah langsung to the points aja, aduh mamah benar-benar dah. Pikirku
" Kapan kapan aja Tante Arum saya mainnya, saya harus kembali ke kantor soal nya, kalo boleh sih saya minta no wa nya mba Nissa aja, boleh gak mba ".
" Wa saya pak Agam " ucapku, dengan wajah kaget.
" Ia mba Nissa boleh tidak ".
" Oh boleh, 08xxxxxxxx ".
" Ok bentar aku ambil HP-nya dulu, 08xxxxx ".
" Ya udah kalo gitu, Tante Arum dan mba Nissa, saya pamit duluan ya ". Ucap pak Agam pamit, tapi kenapa dia menatapku seperti itu, dan dia tersenyum lagi, ya Allah semoga kaki aku gak lemas.
" Nis.... Kamu ga apa apa, kok gemetaran".
" Ahhh gak apa-apa kok mah, hayu kita pulang, tapi Nissa pengen ke Mall mah, tiba-tiba pengen banget makan ramen , hehehe "
" Hayoo ngeles aja kamu, terpesona ya, lagi Love-Love ya " ucap mamah meledekku.
__ADS_1
" Ih mamah apaan sih, kaya anak ABG aja, aku ini udah tua mah, malah mau punya anak sekarang "
" Lah emang kenapa, kalo yang namanya Benih-benih Cinta itu mah gak Mandang umur Nis " ucap mamah sambil tersenyum menyeringai.
" Ya udah ngeledekin terus aja mah, aku laper hayu mah "
" Ya udah hayuuu " ucap mamah sambil mengandeng tanganku dan kami pun pergi menuju Mall.
Keesokan harinya, saat makan siang tiba akupun berniat untuk mengunjungi restoran ku, karena sudah lama aku tak kesana, sekali. Aku pengen banget makan di sana, makanan ala western, memikirkannya saja membuatku menelan ludah, akupun pamit ke mamah dan diantarkan oleh pak Dadang, saat sampai depan restoran, tiba-tiba saja ada mas Herman menghampiri ku, akupun malas kalo harus meladeni dia, padahal aku senang sekali semingguan ini tidak melihat dia dan tidak di ganggu sama sekali, tapi dia pasti kekeh dan gak bakalan pergi.
" Nissa tunggu, apa Kabar " ucap mas Herman saat sudah ada di depan ku .
" Baik mas Alhamdulillah, ada apa ya, bukannya sudah jelas kalo mas gak bisa temuin aku lagi dan ga boleh ganggu aku lagi, kamu baca kan surat perjanjiannya kemaren " ucapku sedikit kesal tapi ku coba kutahan.
" Ia mas mengerti, tapi mas tiba-tiba pengen banget ketemu sama kamu nis, mungkin ini bawaan anak kita kalo ya, dan perut kamu juga sudah membesar, mas pengen banget ngelus perut kamu Nis "
" Maaf mas tapi akunya gak pengen, dan gak mau jadi hormati keinginan ku "
" Ok baiklah, tapi bisakah kita bicara sebentar ini mengenai Fina nis, dia kecelakaan "
" Fina kecelakaan, maksud kamu "
" Bolehkah kita duduk dulu Nis di restoran kamu, sekalian makan mungkin "
" Kamu mau makan mas, tapi bayar yah jangan minta gratisan, tar aku rugi soalnya "
" Ya tuhan Nis, masa perhitungan banget kamu sama aku "
" Mau ngomong apa enggak nih, kalo enggak aku tinggal "
" Ya udah hayu atuh ". Ucap mas Herman, dan kami pun masuk ke restoran ku dan menduduki bangku yang dekat jendela paling pojok.
"Kenapa sama Fina mas to the point aja "
" Mas mau pesen dulu lah Nis lapar, kamu juga lapar gak? "
" Ribet banget sih " ucapku, entah kenapa aku kesal sekali sama mantan suamiku ini, semoga nanti anakku tidak mengikuti ayah nya baik wajah maupun sifatnya, Amin.
" Dinda sini " ucapku pada salah satu pelayan di restoran ini, yah aku memang hapal pada semua nama pegawai di restoran ku ini.
" Ia Bu Nissa, apa Kabar Bu mau pesan apa "
" Tau nih sih bapak ni kamu tanyain aja mau pesen apa "
" Mba aku pesan Spaghetti jamurnya 1 ya mba, terus minumnya es jeruk " ucap mas Herman yang memesan makannya kesukaannya.
" Mba Nissa mau pesan juga "
" Aku jeruk anget aja Din "
" Ia mba, Dinda pergi dulu ya mba " ucap Dinda, dan aku hanya mengangguk kan kepalaku saja.
" Ngomong sekarang mas, ga usah sok Sokan merasa penting " ucapku pedas, karena aku malas berlama-lama dengan mas Herman.
" Ok gak sabaran banget sih kamu, masih sayang ya kamu sama Fina, kalo masih sayang kasih lah dia pekerjaan disini Nis, kalo gak di butik kamu, minimal jadi Manager ".
" Udah ngomong ngelanturnya, aku tinggal sekarang ya, jangan lupa tuh makanan di bayar, kalo enggak cuci piring seminggu disini " ucapku agak tinggi.
" Tunggu ia ia ini aku cerita, Fina kemaren kecelakaan, dan ternyata dia lagi hamil Nis, aku gak tau itu anak siapa, dia kan juga belom lama ini sering tidur sama tuh bandot tua, karena kecelakaan itu dia pendarahan hebat dan kandungannya luka deh, terus karena luka diangkat deh rahimnya Fina, dan otomatis Fina gak bisa punya anak lagi ".
" Rahim Fina diangkat, dan kamu cerita kaya gini dengan gaya biasa aja mas..! " ucapku semakin jengkel..
__ADS_1