MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
SINDROM KEHAMILAN SIMPATI


__ADS_3

POV Nissa


Aku memeluk putri ku erat, hatiku menangis melihat keadaan putriku yang hamil tanpa suami, sama seperti dulu aku mengandung anakku Arka. Kenapa nasib putriku harus seperti ini, bernasib tragis, di perkosa, dan hamil tanpa suami. Seandainya saja Alisha mau di nikahkan dengan Mario dulu. Pasti kejadiannya tidak seperti ini.


"Mamah nangis ya? Alisha ada salah ngomong ya Mah" ucap Alisha memandang wajahku sendu, Alisha menghapus air mata di wajahku dengan ibu jarinya. Aku terhenyak sesaat, tapi perasaan ini kembali aku kontrol, aku tak mau membuat putriku semakin bersedih.


"Enggak sayang, Mamah bangga sama kamu, putri Mamah yang tabah dan kuat ya. Apapun akan Mamah lakukan buat kebahagiaan kamu nak " ucapku mengelus lembut rambut putriku yang halus. Alisha tersenyum sangat manis sekali.


"Bu... Makanannya sudah siap" ucap mbok Jum, ku alihkan pandanganku ke arah mbok Jum yang sudah menata makanan di atas meja makan, aku pun tersenyum kepada mbok Jum.


"Ayok sayang kita makan dulu, nanti kita bahas tentang ngidam kamu kali ini" ujarku yang mengayang Alisha ke meja makan.


Selesai makan Alisha izin padaku untuk ke kamar. Karena perutnya begah dan sedikit ngantuk, walaupun aku sudah melarangnya untuk tidur, karena barusan banget makan, tapi katanya Alisha hanya akan duduk duduk di atas kasurnya.


Saat aku liat Alisha sudah masuk ke kamar, aku pun ke kamarku dengan jalan cepat, untuk mengambil HP yang tersimpan di atas nakas. Ku buka HP ku dan ku cari kontak Arka dan Rayyan lalu aku menghubungi mereka melalui Video call secara bersama-sama.


Dering pertama Arka tidak mengangkat sambungan Video call ku. Tapi dering selanjutnya Alhamdulillah dia mengangkat nya.


"Assalamu'alaikum Nak" ucapku terlihat wajah Arka dengan senyuman manisnya.


"Waalaikum salam Mah. Tumben Video call kenapa mah" ucap anakku Arka dengan wajahnya bingungnya imut sekali anak ku yang satu ini. Untungnya tidak seperti Bapak kandungnya yang amit-amit itu.


"Sebentar Nak... Mamah mau telepon Rayyan dulu, buat gabung di Video call kita" ucapku yang langsung menghubungi Rayyan dan Alhamdulillah langsung diangkat oleh anakku yang copy paste ke mas Agam.


"Assalamualaikum mah... Loh ada Abang juga.. assalamu'alaikum bang " ujar Rayyan.


"Waalaikum salam Yan, gak lagi sibuk kan?" tanya Arka kepada adiknya itu.


"Enggak bang... Kenapa bang?"


"Minggu temenin Abang ke Tasik yu, Liat pembangunan Supermarket" Ujar Arka.


"Wah boleh tuh... Ayuk bang sekalian jalan-jalan bosen Rayyan di kosan mulu, gak ada si bontot."


"Beres nanti Abang jemput ya."


"Ia bang Ok" ucap anakku-anakku, dan aku yang menghubungi mereka hanya bisa diam melihat mereka asik bicara berdua.


"Eh ia Mah, Mamah sehat kan mah?" ucap Rayyan yang baru sadar aku menghubungi nya.


"Mamah sehat kan? maaf kita cuekin Mah...Hihihihihihiiii" sekarang abangnya yang malah meledekku.


"Kalian ini... Mamah sehat Alhamdulillah, Mamah mau minta tolong sama kalian bisa..." Ucapku.


"Tolong apa Mah? bisa kok" ucap Arka.


"Mamah minta tolong ke kalian berdua buat menuhin ngidamnya Alisha bisa kan?" ucapku menjelaskan maksudku sekarang.


"Bisa... Emangnya Alisha mau makan apa mah. Biar Arka sama Rayyan yang cariin Mah" ujar Arka


"Sebenarnya sih, Gimana yah Mamah ngomongnya? yang Alisha mau bukan makanan tapi Video sama barang"


"Video apa Mah, sama barang apa nanti kita bantuin cariin, pokoknya buat si bontot apa sih yang gak bisa kita berdua lakuin Mah."


"Beneran ya kalian mau lakuin" ucapku memastikan.

__ADS_1


"Ia Mah kita janji" ucap Arka dan Rayyan kompak.


"Si bontot mau Videonya dosen Mario Langi ngajar, sama baju nya Mario kalian kirim ke sini" Ucapku.


1 detik...


2 detik...


3 detik...


Tak ada tanggapan dari anak-anakku, raut muka mereka juga seperti sedang memikirkan sesuatu atau tidak mengerti apa yang aku katakan.


"APAAAA...?" teriak Arka dan Rayyan kompak.


"Gimana caranya Mah. Lagian kenapa harus si Mario sih. Si bontot itu Akh... ngeselin banget sih Mah, kalau harus ngeliat muka dosen Peak itu" ujar Rayyan merengut. Aku mengerti apa yang kedua anakku pikirkan. Mereka berdua juga merasakan rasa sakit yang sama karena ulah dokter Mario itu. Sempat ingin ku penjara kan saja si Mario itu, tapi Alisha mencegahnya, biarkan dia di landa rasa bersalah seumur hidupnya. Ucap alisha waktu itu.


"Yah mau bagaimana lagi Nak. Maunya si bontot lagi ngidam, tar kalau gak di turutin ponakan kamu ngeces.. mau kamu nak... Punya ponakan ngeces.. tolonglah kali ini aja " ujarku dengan wajah memelas berharap ke dua anakku dapat luluh dan menuruti kemauan ku...


"Ya udah Mah. Kita berdua bakalan usahain gimana pun caranya, buat dapetin bajunya si Dosen Peak itu." Ujar Rayyan sarkas.


"Janganlah bilang dia Peak, apalagi dengan embel-embel Dosen Nak. Gak semua Dosen kaya gitu, itu hanya oknum nanti kalau ada yang denger bahaya" Ujarku menasehati anakku Rayyan karena dia sangat membenci Mario.


"Ya udah Mah, butuh berapa hari kira- kira" tanya Arka, bisa ku lihat dia sedang menghembuskan nafasnya kasar.


"Secepatnya anak-anakku yang ganteng"


"Ya udah kita eksekusi besok ya Yan! Sibuk gak besok?" Ujar Arka.


"Gak sih bang Rayyan lagi free di kampus"


"Besok Abang jemput kamu, kita langsung ke kampus nya Alisha yang dulu ketemu sama si Mario"


"Ia"


"Ya sudah Mamah tutup dulu ya. Semoga misi kalian sukses. Habis itu kalian berdua kesini ya sama Papah."


"Alah Mamah, bilang aja kangen Papah, pake alibi kita suruh kesana bareng Papah Telepon mah telepon Jangan gengsi gitu" ujar Rayyan meledekku, anakku yang satu ini memang paling bisa.


"Ikh kamu ngeledekin Mamah mulu, ya udah Mamah tutup dulu, assalamu'alaikum."


"Waalaikum salam" ucap anak-anakku kompak. Aku pun mematikan sambungan Video call kami bertiga.


Aku menghela nafasku kasar, Berdo'a semoga saja, rencanaku berjalan lancar. Geregetan juga sih sebenarnya, tapi ini keinginan si bontot, dan cucu-cucuku, jadi harus aku turuti.


Drt...drt...drt...


HP ku kembali berdering, pas kulihat suamiku telepon, Kenapa ya? Pikirku.


[ Halo assalamu'alaikum Pah ]


[ Waalaikum salam baby ]


[ Dih... Kok jadi alay gitu sih mas ]


[ Kata anak-anak, kamu kangen sama aku ]

__ADS_1


[ Masa... Kata siapa ]


[ Tadi barusan aku ngomong ]


[ Papah jangan GR, itu mah akal-akalan anak-anak aja, yang suka pada ngeledekin kita ]


[ Mamah mah, ngaku aja sih ngapain bohong segala. Papah berangkat ya malam ini, Papah juga kangen sama Mamah ]


[ Astaghfirullah Pah, udah tua, udah mau punya cucu, jangan lebay ]


[ Gak apa-apa sayang sama istri sendiri ini. Sampai ketemu besok assalamu'alaikum my love ]


[ Waalaikum salam Pah ] ucapku yang langsung ku tutup teleponnya, aku gak kuat mendengar kata kata lebay suamiku..


Aku pun ngantuk karena kebanyakan ngomong dengan keluarga ku yang gesrek jadi mendingan mengistirahatkan pikiran dan badan biar full charge.


"Akh... Nikmat mana lagi yang kau dustakan Nissa" gumamku lalu merebahkan tidurku dan menutup mata menuju ke alam mimpi.


_____________


POV Author


"Pak Mario, Akhir-akhir ini kok saya suka liat wajah pak Mario pucat gitu. Kurusan juga loh, terus suka mual-mual gitu, Pak Mario masuk angin" ucap Atika salah satu dosen yang meja nya di pinggir meja Dosen Mario.


"Saya gak apa apa Bu Tika, entah kenapa udah sebulanan ini, nafsu makan saya menurun. Terus saya mual terus di pagi hari. Idung saya juga sensitif, kalau nyium bau yang gak enak, langsung mual." Ujar Mario menatap lesu ke arah Tika, bahkan Mario merebahkan tubuhnya di atas meja dengan tangan di selonjorkan ke depan.


"Aneh... Padahal Pak Mario itu belum menikah kan ya." Ujar Tika bingung.


"Memangnya kenapa Bu? Kok bisa mengaitkan dengan pernikahan." Tanya Mario penasaran, Mario pun bangun dari tidurannya di meja.


"Yah biasanya kalau begitu tuh... Jika pasangan suami istri nih, Istrinya lagi hamil kan suka ngidam tuh, mual, muntah, mabok kaya gitu lah Pak, terus sensitif juga idungnya, tapi ada juga istrinya lagi hamil tapi yang mabok suaminya, yang mual, muntah suaminya, itu namanya sindrom kehamilan simpati Pak." Jelas Bu Atika panjang lebar.


"Tapi kan bapak belum punya istri. Nikah aja belum ya Pak. Gimana bapak bisa mabok karena istri yang lagi hamil kan ya Pak. Hahaha..."


Deg....


"Apa jangan-jangan, Akh... tapi gak mungkin. Wanita itu sudah membunuh anakku, apa dia bohong sama aku dulu. Ujar Mario dalam hatinya. Mario masih terus termenung memikirkan perkataan teman sesama Dosennya itu.


"Pak Mario... Pak Mario... Halooo..." Ujar Atika yang memanggil Mario, sampai menggoyangkan tangannya.


"Akh...ia Bu Tika maaf tadi saya melamun"


"Mendingan Bapak pulang sekarang, ke rumah sakit. Cek kondisi Bapak kenapa bisa kaya gini? Tapi Bapak makan mah aman kan" tanya Atika lagi penasaran.


"Aman gimana maksudnya Bu? saya beneran gak ngerti.


"Maksud saya... Bapak nasi mah masih bisa makan kan Pak Mario" ujar Tika


"Jujur udah sebulan ini, saya gak bisa makan nasi. Setiap saya makan nasi, selalu keluar lagi, bahkan saya benci banget sama nasi" lirih Mario lemas, menceritakan penderitaan nya kepada Atika.


"Wah ....wah...wah... Pak Mario... habis hamilin anak orang ya?"


"Maksudnya gimana Bu Tika? mana mungkin saya hamilin anak orang" ucap Mario gugup.


"Lah itu yang pak Mario katakan tadi, Itukan tanda-tanda sindrom kehamilan simpati, kalau gak percaya sama saya Pak mendingan pak Mario ke rumah sakit aja. Kalau bener ucapan saya. Inget-inget Bapak udah tidur sama siapa dan cari wanita itu, pasti sekarang dia lagi hamil. Dan bapak harus tanggung jawab nikahin dia. Kasian Pak anak orang Pak, Kalau hamil tanpa suami itu beban hidupnya double Pak" Ujar Tika panjang lebar sambil menampilkan wajah nelangsa.

__ADS_1


"Saya mending ke rumah sakit dulu aja Bu... Siapa tau aja emang badan saya lagi kurang fit, masuk angin, makanya saya gak mau makan nasi sama suka muntah- muntah" ujar Mario.


"Ya udah semoga ya Pak" ucap Tika meng-aminkan.


__ADS_2