
Mobil mewah itu melaju dengan begitu pelan, tapi di dunia ini memang tidak ada yang tau hati orang seperti apa? dan tidak ada yang tau juga, jika seseorang bisa merencanakan sesuatu hal yang lumayan membuat bulu kuduk kita merinding. Nissa dan mbok Jum pergi ke rumah asistennya yang rumahnya tidak begitu jauh, walaupun tidak satu komplek, tetap saja rumah Ruth dekat dengan kediaman Nissa dan anaknya, layaknya Bos yang baik dan pengertian Nissa menjenguk pekerja nya itu dengan tentengan dan buah tangan, bahkan makanan yang enak pun tidak luput dari perhatian Nissa, hanya saja tidak ada yang tau tentang apa yang di rencanakan Nissa di dalam makanan tersebut, seseorang bisa menjadi malaikat bagi orang lain karena mereka pun baik kepada kita. Tapi banyak juga orang akan berubah menjadi iblis yang mengerikan jika mengganggu apalagi menjahati kita, Itulah manusia.
Nissa dan mbok Jum pun sampai di rumah mungil nan asri, Ruth tinggal bersama ibunya yang dari cerita Ruth sendiri, ibunya sudah tua renta. Dia tinggal hanya berdua, sedangkan suaminya pergi meninggalkan nya bersama wanita lain, itulah alasan kenapa Nissa bisa menerima Ruth di rumahnya, walaupun sebenarnya Nissa tidak perlu tenaga kebersihan, karena di rumah yang lumayan besar itu, Nissa selalu bekerja sama membersihkan rumah bersama mbok Jum, dengan alat kebersihan yang super canggih jadi sangat membantu dalam hal bersih bersih.
"Ini rumahnya mbok?" Tanya Nissa ke mbok Jum sambil melihat keluar jendela, Nissa melihat bentuk rumah dari Ruth. Ternyata rumahnya lumayan juga, asri.
"Ia non, Ini rumahnya. Menurut orang yang bibi suruh sih benar Non disini alamatnya." Ujar mbok Jum.
"Tapi beda ya mbok sama yang di ceritakan dulu, aku masih ingat waktu pertama kali dia ngelamar kerjaan ke rumah. Katanya rumahnya kecil dan dia hanya tinggal berdua dengan ibunya yang sudah renta." Ujar Nissa masukin penasaran, sepertinya Ruth adalah seorang penipu, Untung saja tidak ada barang Nissa dan Alisha yang hilang. Pikir Nissa.
"Ia Non, sebaiknya kita masuk aja Non, mbok pengen lihat keadaan ibunya yang katanya struk itu" ujar mbok Jum yang keluar duluan dari mobil, Nissa pun keluar di ikuti dengan supir yang membuka garasi belakang dan mengeluarkan makanan serta buah tangan lainnya.
Nissa melihat-lihat sekitar rumah, sangat sepi tapi rumah ini sangat bersih seperti terawat, bahkan Bunga-bunga yang di taman sangat cantik seperti di rumahnya. tapi fokus Nissa teralihkan dengan bunga yang beberapa hari ini dia cari, bunga mawar dan lili yang dia beli dengan harga mahal, hilang entah kemana? Nissa menghampiri dua bunga tersebut dan menggelengkan kepalanya serta menyunggingkan senyum sinisnya.
"Dasar pencuri!" gumam Nissa yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Pak Roger. Tolong bantu masukan dia bunga ini ke dalam mobil ya Pak. Dan hati- hati, karena bunga ini bunga kesayangan saya" ujar Nissa memanggil supir pribadinya itu, mbok Jum yang bingung melihat Nona nya marah-marah lekas menghampiri Nissa.
"Kenapa Non?" Ujar mbok Jum setelah berada di sisi Nisa.
"Lihat mbok, bunga ku yang ku rawat, ada disini, pantas saja kemarin-kemarin aku cari gak ada, ternyata pencurinya ada disini!" kesal Nissa sambil melipatkan tangannya di dada. Amarah Nissa benar- benar sedang memuncak sekarang, tapi Nissa berusaha untuk menelan amarahnya itu, dan membalas pencuri itu dengan cara yang paling sadis.
"Jangan-jangan.... barang-barang di rumah ada lagi yang dia bawa juga Non? Nanti mbok jum sambil liatin di rumahnya Non, kalau terbukti kita langsung ambil aja" ucap Mbok Jum selidik.
"Tapi dia gak pernah masuk ke kamarku dan Alisha kan mbok?" tanya Nissa
"Enggak non, kamar non, nona muda sama tuan muda kan selalu terkunci, cuma mbok sama pemilik kamar yang bisa masuk" ujar mbok Jum.
"Ya udah kita masuk sekarang," ujar Nissa yang langsung melangkahkan kakinya ke depan pintu, mbok Jum pun mengikuti Nissa dari belakang.
Tok... tok ..tok...
Nissa mengetuk pintu rumah itu berapa kali, pintu pun terbuka dan terlihatlah seorang lelaki mudah yang muncul menyapa Nissa dan mbok Jum.
"Selamat pagi, ini benar rumahnya Ruth?" tanya Nissa kepada laki-laki tersebut yang sekilas seperti terpesona dengan kecantikan Nissa. Lelaki tersebut masih melihat wajah Nissa dan berdiam, tanpa membalas pertanyaan Nissa. Dan itu membuat Nissa merasa jengah.
"Halo ... Bapak mendengar saya tidak?" ujar Nissa dengan suara agak sedikit keras. Tapi itu sukses membuat lelaki itu kembali ke realita kehidupan.
"Akh maaf ... Saya sempat terpesona dengan kecantikan anda, ini benar kediaman Ruth? Kalau boleh tau anda siapa dan ada keperluan apa?" tanya lelaki tersebut dengan senyum selebar daun melinjo.
"Saya Bos nya Ruth dan Ruth ini bekerja sebagai asisten di rumah, saya kesini ingin menjenguk Ruth. Karena dia izin gak masuk, takutnya dia kenapa-kenapa?" ujar Nissa yang membuat laki-laki di depannya ini semakin melihat Nissa dengan tatapan yang menyebalkan.
"Bisakah anda menurunkan tatapan mesum anda itu tuan! Jika tidak ingin orang saya mematahkan tangan anda" ucap Nissa dengan ancamannya, Nissa memandang tajam laki-laki yang ada di depannya ini. Dan saat Nissa mengancamnya, lelaki tersebut langsung menundukkan pandangannya dengan malu.
"Bisakah saya masuk menjenguk pekerja saya." Tanya Nissa lagi dengan suara yang dingin.
"Oh maaf silahkan!" ujar lelaki tersebut membolehkan Nissa masuk dengan mbok Jum dan supir pribadinya yang telah kembali, setelah menaruh bunga yang di curi.
__ADS_1
Nissa dan mbok Jum, serta pak Roger pun masuk di ikuti oleh lelaki yang tinggal di rumahnya Ruth.
"Kalau boleh tau anda siapa nya Ruth ya? Karena setahu saya Ruth hanya tinggal dengan ibunya yang sedang sakit" Tanya Nissa saat sedang berada di rumah tengah rumah Ruth.
"Saya itu suaminya bu Nissa, nama saya Zidan, hanya saya dan Ruth yang tinggal disini berdua, tidak ada orang lain apalagi ibunya Ruth, karena setahu saya Ruth itu anak yatim piatu" ucapnya yang membuat Nissa mengepalkan tangannya.
"Terus Ruth nya di mana? bisakah kami menjenguk nya?" Tanya Nissa lagi dengan ucapannya yang masih dingin.
"Oh silahkan ke kamarnya Bu Nissa, mari saya antar" ucap Zidan mengantarkan Nissa dan mbok Jum ke kamarnya Ruth yang berada di belakang rumah. Nissa dan mbok Jum mengikuti Zidan di belakang.
Zidan membuka pintu yang menampilkan Ruth dengan kondisi yang menghawatirkan, tapi tak ada yang melihat, Nisa tersenyum sangat tipis dengan keadaan Ruth.
Ruth sedang tertidur dengan pulas. Dengan keadaan seluruh kulit Ruth merah-merah dan terdapat banyak bintik-bintik kecil. Nissa dan mbok Jum serta Zidan masuk ke dalam kamarnya Ruth. Dan melihat keadaan Ruth, saat mendengar suara bising Ruth pun membuka matanya dan dia pun kaget terbelalak melihat Bos nya sudah ada disini.
"Bu Nissa" Ujar Ruth yang langsung bangun dari tidurnya.
"Santai aja Ruth, duduklah! aku dengar kamu sedang sakit? apa ini parah, kenapa tidak mau ke rumah sakit?" tanya Nissa dengan suara di buat selembut mungkin, Nissa pun duduk di sisi ranjang Ruth. Ruth sangat kaget melihat Bos nya ada disini.
"Kamu mau ke rumah sakit gak?" tanya Nissa.
"Gak perlu Bu, kemarin saya sudah ke klinik, tinggal tunggu hasilnya saja bu" jawab Ruth menjelaskan.
"Hasil apa...memangnya kamu di tes?" tanya Nissa.
"Enggak Bu... hanya saja kata dokter kemarin. Kalau dalam dua hari gak ilang, saya akan ke rumah sakit lagi" lirih Ruth di buat selemah mungkin.
"Aku bawakan makanan untuk kamu Ruth. Buah-buahan dan ini ada makanan khas Indonesia, bubur ayam. Disini pasti gak ada kamu harus makan sekarang habiskan biar bisa langsung minum obat" ujarku. Sambil menyerahkan bungkusan sterofoam yang berisikan bubur ayam buatanku.
Ruth membuka bubur ayam tersebut dan bisa ku lihat dia langsung ngiler di buatnya.
"Zidan bisa kamu suapin istri kamu sekarang?" tanyaku.
"Bisa Bu, Ayo sayang aku suapin" ujar Zidan yang kemudian duduk di samping Ruth, aku pun bangun dari dudukku dan duduk di kursi yang ada di kamar, memastikan Ruth memakan bubur itu hingga tandas.
"Gimana enak kan?" ujar Nissa. Ruth yang memakan lahap bubur itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja
"Nah di rantang ini juga ada rendang sama opor ayam. Kamu makan juga bersama suami kamu, kalau nasi mah ada kan?" ujar Nissa.
"Ada Bu... Terima kasih atas makanannya" ujar Zidane, di lihatnya bubur yang ada di wadah itu sudah habis semuanya. Nissa tersenyum sangat tipis sehingga tidak ada yang melihat senyuman smirk yang menyeramkan itu.
'Bagus...! habiskan semuanya!' Ucap Nissa dalam hati.
"Sudah habis ya... Sini wadahnya, biar saya bantu buang" ucap Nissa,
Wadah tersebut di berikan oleh zidan ke tangan Nissa, Zidane masih saja melihat Nissa dengan tatapan menyebalkan. Walaupun dia terlihat malu-malu, Nissa hanya menatap dirinya jengah.
"Oh ia.. ibu kamu mana Ruth? katanya kamu disini tinggal dengan ibumu" Tanya Nissa dan itu sukses membuat Ruth kaget. Bisa Nissa lihat mata Ruth melotot lebar.
__ADS_1
"Itu... Itu...." Ucap Ruth gugup.
"Kamu kan selama ini tinggal sendirian Ruth. Ibu kamu sudah meninggal, ibu siapa yang kamu maksud" tanya Zidan dan membuat Ruth pucat pasi.
"Kamu kan tau, aku paling tidak suka dengan manusia pembohong... " Ujarku dingin...
Ruth menatap ku horor...
"Sebenarnya saya tidak bermaksud untuk berbohong Bu, saya benar-benar sedang membutuhkan uang Bu" ucap Ruth ketakutan.
"Ya sudah istirahat lah! semoga kamu cepat sembuh ya dan ini gaji terakhir kamu Ruth. Saya sudah tidak membutuhkan tambahan asisten rumah tangga" ucap Nissa menatap Ruth dingin.
"Tapi kenapa Bu...? Saya mohon Bu jangan pecat saya, saya benar-benar minta maaf Bu!" Ujar Ruth mencoba meraih tangan Nissa, tapi Nissa pergi menjauh.
"Bu tolonglah maafkan istri saya dan biarkan dia tetap bekerja di rumah ibu..." Ujar Zidane menatap memelas kepada Nissa.
"Maaf Ruth aku tidak bisa" sahut Nissa. Ruth menangis karena di pecat oleh Nissa. Sumber uangnya kini telah hilang.
Nissa menghampiri Ruth yang masih terduduk di ranjangnya.
"Aku tidak bisa membiarkan seorang bibit pelakor yang ingin menggoda suamiku untuk bekerja di rumah ku, Rubah kecil!" Bisik Nissa di telinga Ruth dan Ruth semakin pucat pasi. Terbelalak dengan ucapan Nissa barusan.
"Ayok mbok Jum Kita pulang! Maaf ya Zidan, saya tidak bisa memperkerjakan Ruth! karena dia mencoba untuk menggoda suami saya" ujar Nissa Membuat Zidane membelalakan matanya.
"Ayok kita pergi mbok" ujar Nissa yang pergi meninggalkan kamar Ruth, tapi Nissa dan mbok Jum berhenti di ruang tamu.
"Apa yang di bilang bu Nissa itu benar Ruth?" Tanya Zidan sedikit teriak.
"Kenapa memangnya? kamu juga tukang selingkuh, kenapa aku tidak bisa menggoda Pak Agam, dia tampan dan yang lebih baik dari kamu dia kaya raya.
PLAKKK....
"DASAR CEWEK MURAHAN! dengar ya Ruth, aku memang sering main wanita, tapi aku tidak pernah menusuk seseorang yang sudah membantuku, apalagi bu Nissa itu begitu baik memberikan kamu pekerjaan Bodoh kamu!" Geram Zidan.
"Ayok mbok kita pulang?" Ujar Nissa, mbok Jum pun menganggukan kepalanya dan mengikuti di belakang Nissa yang sudah berjalan duluan.
Nissa pun pergi dengan mbok Jum meninggalkan rumah Ruth.
"Kamu nampar aku mas! kelewatan kamu" ujar Ruth yang langsung berdiri tapi kakinya begitu lemas, tapi Ruth tetap memaksakan diri untuk ke kamar mandi.
"Mau kemana kamu?" teriak Zidan.
"Bukan urusan mu!" ujar Ruth dingin, dia pun langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.
Gedebug....
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_&\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1