MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
OBSESI PUTRI


__ADS_3

Ya tuhan kenapa istriku tidak ada habis-habisnya mengganggu anakku. Dia bahkan meminta hal yang bukan hak nya." Ucap Herman dalam hati, pikiran dan hati Herman yang sudah di penuhi dengan marah dan kesal sehingga muka nya berubah menjadi merah, Herman mengepalkan tangannya kuat, tangannya menekan dadanya. Herman benar-benar ingin berteriak, kalau perlu ingin sekali Herman menampar istrinya itu.


Herman menghembuskan nafas perlahan, menahan dadanya dengan tangannya dan mencoba meredakan amarah dalam dadanya, sepertinya cara kasar tidak akan mempan untuk dilakukan, makanya Herman akan melakukan dengan cara yang halus, untuk membuat istrinya menurut dan sadar akan kesalahannya itu.


Di tenangkannya dada Herman, masih menghembuskan nafas perlahan, Herman terus menekan dadanya yang terasa sakit, kenapa setiap rumah tangganya menjadi menyedihkan seperti ini, semenjak dia berpisah dengan Nissa, Herman sudah tidak pernah merasakan lagi hidup bahagia, ada saja cobaan yang ia hadapi. Dulu saat pertama berumah tangga dengan Kokom, Herman pikir Kokom berbeda dengan wanita lain, selama ini Kokom sangat patuh dan mendengarkan setiap apa yang dia katakan, tapi pada akhirnya Kokom pun berubah menjadi wanita menyebalkan, anaknya juga sebelas dua belas dengan ibunya sungguh menyebalkan. Herman mengusap rambutnya kasar.


Kokom sudah tidak menggedor-gedor pintu kamarnya. Membuat Herman merasa tenang, karena mumet dengan permasalahan yang datang bertubi-tubi. Herman memutuskan untuk tidur, karena hati dan badannya sudah amat sangat lelah.


Keesokan harinya Herman bangun dan langsung mandi karena hari ini Herman harus berangkat kerja seperti biasanya, Herman sengaja bangun lebih pagi, dan berangkat lebih pagi, karena tidak mau bertemu dengan istrinya itu. Herman keluar kamar, dan terkejut ternyata Kokom sudah bangun bahkan sudah menyiapkan sarapan untuknya, Herman hanya tersenyum getir saat ia duduk di meja makan.


"Pak... Ibu tuangin nasinya ya. Tumben berangkat pagi-pagi Pak" ucap Kokom yang baru saja akan menyendokan nasi di piring, tapi tangan Kokom di hentikan oleh tangan Herman.


"Kenapa Pak. Mau aku bikinkan yang lain" ujar Kokom


"Tidak perlu, aku tidak ingin makan. Aku cuma pengen bilang sama kamu, dan ini peringatan ku terakhir kalinya buat kamu dan anak kamu." Ujar Herman dingin, membuat Kokom tersentak dengan kata kata Herman


"Maksud.....bapak..... apa ya Pak?" ujar Kokom gugup dan takut karena mata Herman yang bengis.


"Jangan pernah lagi kamu ganggu Arka dan tanahnya, itu sudah mutlak milik Arka. Sekali lagi kamu tidak mendengarkan ucapan saya, saya benar-benar akan menceraikan kamu Kom, saya tidak main- main dengan ucapan saya, kamu dan Nita juga akan di penjara, karena mengusik kenyamanan orang lain. dan jika itu terjadi lagi, maka saya sama sekali tidak akan perduli, apalagi sampai membebaskan kalian berdua, Camkan itu!" ujar Herman yang langsung pergi meninggalkan Kokom di meja makan.


Kokom yang mendengar ucapan dari suaminya seketika diam tak melakukan apapun, dia hanya diam seribu bahasa. Bahkan saat suaminya sudah pergi pun Kokom hanya diam saja menelaah setiap ucapan suaminya yang akan menceraikannya hanya karena tanah itu.


"Apa dia gila? Lebih memilih anak yang tidak menganggap nya Bapak, di bandingkan aku istrinya, yang selalu menemani nya. Mas Herman memang keterlaluan" Kokom terkekeh sendirian, tersenyum remeh dengan keadaan ini.


"Anak sialan itu, perlu di kasih pelajaran rupanya. Udah kaya, masih saja serakah, sialan." Ujar Kokom kesal.


Nita keluar dari kamarnya, dengan muka bantal dan iler di sudut bibirnya. Nita menguap tanpa di tutupi oleh tangannya.


Kokom yang melihat kelakuan anak perempuan nya itu hanya menggelengkan kepala, pasrah tidak tau lagi harus memberi tahu yang seperti apa lagi pada anak perempuannya ini.


"Nit, Kamu itu cewek, benerin dikit kek otak kamu, pagi-pagi udah koslet kaya gitu, Jorok banget."


"Hoooaammm ... Hmm.. lapar Bu, nah ada makanan, tumben amat ibu bikin makanan pagi-pagi. Bapak mana? gak ikut makan" ujar Nita saat matanya melek dan langsung melihat makanan yang enak di meja makan.


Nita menyendokan nasi serta lauk ke piring dan saat akan memasukan makanannya ke dalam mulut Kokom memegang tangan Nita dan menjauhkan dari mulutnya.

__ADS_1


"Cuci muka dulu sana, sikat gigi, Joroknya kamu itu gak ketulungan ya, liat iler sama jigonk kamu." Ujar Kokom kesal dan jiji melihat kelakuan anaknya.


"Akh ibu sama aja, habis makan kan bisa, jadi mulut Nita langsung bersih, kalau sikat gigi sekarang, mulut Nita kotor lagi sama nasi, jadi mending makan sekarang aja" ujar Nita yang akan memasukan makanannya ke mulut sekali lagi, tapi langsung di tepis lagi oleh Kokom.


"Taro gak, itu nasi ke piring! Jorok kamu sikat gigi dulu baru makan" bentak Kokom.


Nita pun ngambek dan menaruh nasi yang ada di tangannya, karena kesal Nita bangun dari duduk, lalu pergi ke kamar mandi sambil menghentakan kakinya dan berbicara tidak jelas.


Saat sudah selesai membersihkan wajah dan giginya, Nita kembali ke meja makan, Nita mengernyitkan dahinya bingung, karena ibunya hanya makan sendirian tanpa ada bapak, bapak kemana ya? Batin Nita, Nita menghampiri ibunya dan melihat ke kamar orang tuanya. Dengan pandangan bingung.


"Kamu kenapa tengok kamar ibu? bapak kamu gak ada, dia udah berangkat tanpa makan sarapan yang ibu buat." Ucap Kokom datar.


"Kok gitu, semalam ibu sama Bapak berantem lagi ya" ucap Nita yang melanjutkan acara makannya.


"Ia makanya ibu tidur di kamar kamu."


"Kenapa kalian akhir-akhir ini berantem mulu bu, apa gak capek ya Bu? Apa Bapak selingkuh ya Bu?"


"Mana mungkin Bapak kamu selingkuh, mana ada yang mau sama Bapak kamu yang mandul itu, cuma ibu yang setia sama Bapak kamu, dan kalau Bapak kamu sadar diri dan tau pengorbanan ibu, seharusnya dia dukung ibu buat ambil hak dia, tanah yang di pegang oleh si Arka itu, ini malah enggak dan malah mengancam segala mau nyerein ibu" ujar Kokom misuh-misuh.


Nita yang mendengar penuturan ibunya, hanya bengong saja, belum bisa meresapi apa yang ibunya katakan.


"Ia...Gila kan emang si Herman itu"


"Terus gimana Bu? gak mungkin kan ibu mau di cerein bapak" ucap Nita sambil terus mengunyah makanannya.


"Ya enggak lah, kita berhenti dulu gangguin si Arka. Kamu cari kerja aja biar bisa kuliah, kita baik-baikin Bapak kamu dulu. Sampe kamu bisa kuliah di kampusnya Arka, terus kamu harus dapetin Arka, apapun caranya kamu harus bisa nikah sama Arka, biar si Nissa yang sombong itu gila, anaknya bisa nikah sama kamu."


"Lah kenapa harus Arka, aku maunya sama Rayyan Mah, secara dia lebih kaya di bandingkan Arka. Rayyan tuh penerusnya Wijaya GRUOP, Arka siapa? cuma anak sambungnya pak Agam doang" ujar Nita.


"Ibu ingin balas dendam sama Nissa, ngerti gak sih kamu, kalau Arka takluk sama kamu, bikin dia benci sama ibunya. Ibu mana yang bisa hidup Kalau di benci sama anaknya. Gak ada kan? kalau kamu udah bisa nguasain si Arka, terserah kalau mau deketin Rayyan juga."


"Ide ibu sungguh gila, tapi aku suka. Jadi kita harus baik-baikin Bapak dulu sekarang, terus aku mau cari kerja sekarang buat kumpulin uang kuliah ku tahun depan."


"Ia pokoknya rencana kita harus berhasil." Ucap Kokom dengan seringai tipis di bibirnya. Nita pun melakukan hal yang sama.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Herman sangat lelah dengan pekerjaannya hari ini, ingin rasanya dia healing ke suatu tempat, melepaskan penat yang menumpuk di pundaknya. Tapi Herman bingung harus kemana? gak ada tempat tujuan yang bisa dia datangi. Herman lalu menghampiri meja Darto sahabat sejati nya itu.


"To...Habis pulang nongkrong yuk! dimana ke...mumet ndasku nih To"


"Gayak lu engkong-engkong pake nongkrong, tapi ngapain lu ngajakin gue. sono ajakin si Putri dia pasti mau" ujar Darto.


"Gue gak mau khilaf Darto, sudahlah lu gak usah ngajakin gue di neraka jahanam, gue mau tobat, ga mau selingkuh- selingkuh lagi."


"Widih.... Baik pak ustad, ayok lah kita nongkrong. Tar gue izin dulu sama bini gue."


"Lah lu kan kepala rumah tangga, ngapain pake izin segala"


"Ngasih Kabar aja. Biar dia gak nungguin gue, lu gak kasih tau si Kokom"


"Enggak, males gue... Lagi berantem gue sama dia"


"Lah si Bambang! Katanya udah tobat tapi masih berantem sama bini."


"Udah tar gue ceritain, ayok lah bentar lagi waktunya pulang! gue tungguin di depan yakk!" ujar Herman yang kembali ke mejanya dan membereskan pekerjaan nya. Setelah selesai dengan pekerjaannya Herman membawa tas kerjanya dan menghampiri Putri.


"Put, Maaf ya saya gak bisa ngajakin pulang bareng, mau ada perlu sama Darto" ujar Herman.


"Oh.... gitu ya mas, kalau boleh tau mau kemana mas?"


"Urusan cowok Putri, maaf ya," ujar Herman yang langsung meninggalkan Putri, Putri hanya bisa bengong melihat kepergian Herman begitu saja.


"Ikh mas Herman malah milih jalan sama mas Darto, gimana sih" ujar Putri misuh- misuh.


"Jangan jadi bibit pelakor Put... Inget si Herman udah punya istri..." Ujar Bu Mia yang mejanya di belakang Putri. Semua orang sudah tau tentang perilaku Putri yang selalu tebar pesona, dan mepet- mepet sama Herman, untung saja Herman tidak menanggapi jika masih di wilayah kantor, dan Herman pun jarang memberikan tumpangan ke Putri.


"Apaan sih Mia ini, jangan ikut campur urusan saya mba" ujar Putri marah.


"Nih anak di kasih tau, heh Putri.... Kamu itu anak baru disini dan orang-orang di kecamatan lagi liatin perilaku kamu, kalau attitude kamu gak bener, bisa-bisa di pecat kamu, baru nyaho entar " Ujar Mia yang pulang meninggalkan Putri sendiri dengan mulut sedikit terbuka, karena terperangah ucapan Mia tadi.

__ADS_1


"Kurang ajar... Aku harus dapetin mas Herman apapun caranya. Dia harus jadi milikku" ucap Putri pelan.


Putri menyukai Herman saat pertama kali Putri melihatnya di kantor kecamatan ini, pesona dan tubuh tegapnya Herman begitu menghipnotis Putri, diam-diam Putri selalu melirik Herman, bahkan meminta bantuan dari pak Darto untuk membantunya, rasa suka Putri sama Herman sudah menjadi obsesi yang menyeramkan.


__ADS_2