
"Ada apa ini?" Ucap Budi wakil Direktur di supermarket EARTH milik Arka.
Budi mendekati keributan yang terjadi di dalam Supermarket dan kebetulan sekali dia sedang di dalam untuk memantau, karena Arka besok akan tiba di Indonesia .
Kokom mendengar suara Budi dan langsung memalingkan mukanya pun melihat Budi. Kokom langsung terdiam melihat wajah Budi yang memang lumayan tampan, tapi jika di bandingkan dengan Herman atau Agam, mungkin lebih tampan Herman dan Agam.
Hanya saja Budi memiliki badan yang tegap dan tinggi, walaupun kulitnya sawo matang tetapi mukanya terlihat jantan dan tegas. Itulah yang membuat Kokom terkesima hingga tidak mengedipkan matanya sedikitpun.
"Maaf ada masalah apa ya Bu? sehingga membuat keributan seperti ini. Jika ada hal yang tidak berkenan bisa di bicarakan baik-baik agar tidak mengganggu aktivitas customer lain" ucap Budi dengan intonasi lumayan tinggi. Semua customer pun melihat ke arah Nita dan Kokom. Nita yang memperhatikan para mata orang-orang melihatnya sinis, jadi tak bisa bicara apa- apa sedangkan Kokom sibuk terpesona dan terus memandang Pak Budi.
"Mah, Ngomong dong jangan diem aja" bisik Nita kepada Kokom, hingga membuat Kokom tersadar.
"Eh... Maaf Pak sebelumnya kita disini gak mau juga cari keributan Pak, hanya saja memang pelayan disini itu buruk sekali Pak. Bapak tau gak siapa saya dan anak saya ini" ucap kokom yang tiba-tiba merubah intonasi bicaranya menjadi sedikit tinggi.
"Baik ibu-ibu sekalian, jika ibu ingin membahas masalah ini mari ikut saya, kita bisa bicarakan masalah ini di ruang pertemuan dengan customer, agar tidak menganggu kegiatan customer lain, mari ikut saya Bu!" ucap Budi dengan tenang.
"Dan untuk kalian juga ikut saya" ucap Budi.
"Baik Pak." ucap Spv sedangkan SPG tadi hanya terdiam pasrah dengan apa yang terjadi nanti.
"Ayok Nit, kita ikutin Bapaknya, kita juga harus buat sebuah usaha" ucap Kokom menyindir yang akhirnya Nita pun mengikuti Mamahnya, Pak Budi, Spv dan SPG tersebut. Para customer pun kembali melakukan kegiatannya.
Saat sampai di sebuah ruangan yang telah di lengkapi sofa kelima orang itu pun duduk di bangku yang sudah di sediakan.
"Silahkan ibu, Di sampaikan apa permasalahannya" ucap Budi memulai pembicaraan.
"Begini ya Pak. Saya ini minta sama mba ini, dress yang seperti ini ukuran m, ekh malah di bilang gak ada, gimana sih? saya itu udah nunggu lama, berdiri pegel, kerja tuh yang cepet jangan lelet!" Ucap Nita ketus.
"Mba SPG namanya siapa mba?" tanya Budi yang langsung memalingkan pandangannya ke arah Mbak SPG.
"Nama saya Ratih pak" Ucap Ratih sambil terus menundukkan wajahnya.
"Benar begitu mbak Ratih, pekerjaan anda lelet" Ucap Budi.
"Sebenarnya bukan lelet Pak, saya mengecek ke gudang dan cek sistem juga. Dan juga tidak terlalu lama, bahkan saya agak berlari untuk menghampiri ibu sama mbak nya, agar tidak menunggu terlalu lama."
"Bohong kamu! jangan cari pembelaan kamu! kalian semua disini gak tau apa siapa saya" ucap Nita marah.
"Saya benar-benar berkata jujur Pak" ucap Ratih.
__ADS_1
"Lalu Pak Danu, Kenapa bisa menjadi kacau seperti tadi, sehingga menganggu kenyamanan customer lain." Ucap Budi yang mengacuhkan ucapan Nita.
"Maaf pak Budi, saya di panggil Ratih karena mba nya ingin bertemu dengan Manager, tapi karena saya ada di sekitar tempat kejadian dan saya yang sedang bertugas, Jadi saya mencoba ngehandle, tapi si mbak nya malah semakin marah, bahkan meminta hal yang mustahil, beliau tidak ingin tau tentang stock barang kita yang kosong, yang beliau ingin kan dressnya harus sudah ada sekarang, sedangkan kami sudah menjelaskannya. Bahkan di pabrik pun untuk ukuran tersebut kosong. Kami pun sudah memberikan solusi, untuk meninggalkan nomor telepon jika barangnya atau stok sudah masuk dan bisa kembali ke toko untuk membeli dress yang ukurannya sesuai, tapi si Mbak nya tidak terima. malah menuduh saya modus pak." ujar Danu panjang lebar.
"Jadi maaf sekali untuk mbak nya, maaf dengan mbak siapa" tanya Budi masih dengan nada lembutnya.
"Kamu beneran gak kenal siapa saya? Saya ini Nita, dan ini ibu Kokom Mamah saya. Kita ini saudara yang punya Mall ini, si Arka kan pemilik Mall Earth ini." ujar Nita.
"Oh... Kamu yang kemaren ngelamar kesini jadi manager dan malah keterima jadi kasir" ucap Pak Budi.
"Maaf Bu Nita, Pak Arka kemarin sudah memberitahukan kepada saya, kalau kalian itu bukan saudaranya Pak Arka. mba Nita dan ibunya, hanyalah mantan ibu sambung dan dan adik tiri, bahkan tidak ada darah yang mengalir diantara kalian. Jadi sebelum Pak Arka Pergi ke Amerika, saya di amanatkan untuk menjaga Mall ini dari pengacau seperti anda." ucap Budi dingin.
"Oh jadi mereka berdua ini hanya mengaku-ngaku saudara Pak Arka, Pak Budi?" ucap Danu menatap remeh Nita.
"Jangan kurang ajar ya kalian, walaupun Arka bukan anak saya, tapi kami ini masih saudaranya." ucap Kokom marah dan tidak terima.
"Maaf Bu kokom, bukankah anda dengan pamannya Pak Arka sudah bercerai, jadi menurut saya, anda tidak punya lagi ikatan kekeluargaan dengan Bapak Arka! dan saya juga di amanatkan oleh beliau untuk mengusir atau bahkan melaporkan anda berdua ke Polisi jika anda berdua merusuh di Mall kami" ancam Budi. Nita dan Kokom pun terkesiap dengan ancaman Budi yang menyeramkan itu.
'kurang ajar si Arka! Pake ngancem Polisi segala, terus dia bisa jalan-jalan ke Amerika lagi, kenapa gue gak di ajak sih.' gumam Nita dalam hati.
"Jadi silahkan anda berdua berbelanja di luar dengan tenang dan tanpa ada emosi. Kalau anda berdua berulah lagi. Kami tidak akan segan-segan mengusir anda berdua dari sini" ancam Budi.
"Ya udah, Kita akan keluar untuk berbelanja lagi, jadi Bapak Budi tidak usah menyuruh kami keluar. Tapi kalian harus percaya saya ini masih istrinya mas Herman dan otomatis Arka itu adalah keponakan saya, permisi!" ucap Kokom yang langsung menarik tangan Nita dan keluar dari ruangan tersebut.
"Pak Budi apa benar mereka berdua adalah saudara dari bos Arka?" tanya Danu yang masih tidak percaya.
"Bukan, sekarang kalian berdua kembali lagi bekerja." Ucap Budi.
Danu dan Ratih pun menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut. Budi pun mengambil HP dari sakunya lalu mengetikan laporannya yang terjadi hari ini kepada Arka.
Di Amerika.
Arka sedang tertidur pulang di kamarnya, karena besok pagi dia akan pulang ke Indonesia bersama dengan Rayyan. Dan masalah Herman yang terus saja merongrong Arka pun sudah di beritahukan kepada Nissa, awalnya Nissa sangat marah, karena Arka sama sekali tidak cerita, Tapi Arka telah memberi pengertian kepada Mamahnya kalau dia masih bisa menghandle kelakuan Bapaknya itu, apalagi dia akan kuliah di luar negri, jadi pastinya Herman akan susah untuk menghubungi Arka.
Arka terbangun dari tidur nya di malam hari. Karena mendengar suara HP nya yang berbunyi. Dia pun melihat sebentar dan membuka chat yang di kirimkan oleh Pak Budi. Sejenak Arka membaca chat tersebut. Setelah selesai, wajah Arka yang tadinya biasa aja mulai marah dan memerah. Arka pun mengepalkan tangannya.
"Kurang ajar, keluarga benalu! Makin di diemin makin menjadi, kayanya mesti gue beresin sendiri secara halus ini mah." Ucap Arka. Lalu Arka pun mencari sebuah kontak dalam HP nya dan mencoba untuk memanggil seseorang, telepon pun tersambung.
[ Halo.... Gue butuh bantuan lu ] ucap Arka saat sambungan tersebut terangkat.
__ADS_1
[ Siap Bos...! Apa yang mesti gue lakuin? ]
[ Buat sesuatu kepada seseorang. Nanti gue kasih tau orangnya, tapi gue gak tau sekarang dia tinggal di mana? nanti gue tanya Bapak, Pokoknya lu harus bikin mereka kapok gangguin gue dan bikin rusuh di tempat usaha gue, terserah lu ngapain aja, yang penting jangan merkaos apa menghabisi nyawanya ] ucap Arka!
[ Beres Bos! ]
Telepon pun di matikan Arka secara sepihak. Arka pun tersenyum menyeringai dan itu membuat wajahnya tampak mengerikan.
Arka melanjutkan tidur gantengnya, supaya besok bangun terlihat fresh kembali.
Keesokan harinya. Arka sudah bersiap untuk pulang bersama Rayyan. Nissa dan Agam pun mempersiapkan keperluan Arka dan Rayyan selama di perjalanan, ya walaupun hanya makanan dan cemilan. Tapi itu sangat berguna di saat tenggang dalam pesawat, karena bisa Berjam-jam di dalam pesawat, untung pesawat sendiri, tersedia tempat tidur, kamar mandi serta dapur serasa di rumah.
"Mamah sudah tau apa yang Bapak kamu lakukan Bang. Kenapa kamu gak bilang sama Mamah" ucap Nissa, saat mereka sedang makan bersama.
"Emangnya ada apa Ka?" Tanya Agam.
"Biasa sayang si kecoa, biang kerok ngerusuh Arka lagi. Masa dia minta duit 10 juta sama Arka buat ngelamar calon istrinya." Ucap Nissa geram. Agam mendengar ucapan istrinya mengerutkan dahinya.
"Calon istri? bukannya si Herman itu udah nikah"
"Si bapak nikah lagi Pah. Sama yang kemarin baru cere. Belum juga sebulan udah mau nikah lagi. Arka tuh malu kadang punya Bapak tapi tukang kawin"
"Papah kamu itu, aku ka, jadi kamu gak usah malu!" Ucap Agam, membuat Arka tersenyum dan mengangguk.
"Papah memang the best." Ucap Arka.
"Papah paling keren!" ucap Rayyan sambil memberikan jempolnya.
"Mana tuh bandot tua, nyalahin aku lagi mas. Masa katanya aku yang ngelarang Arka buat angkat telepon dia" ucap Nissa misuh-misuh.
"Wah minta di gebukin kan Pah" ucap Rayyan. Agam pun menganggukan kepalanya lagi.
"Kenapa kamu diem aja Ka? gak cerita ke kita? Malah Mamah taunya dari adek kamu" tanya Nissa.
"Ya... Aku mikirnya masalah Bapak masih bisa aku atasi sih Mah. Cuman emang Bapak agak kelewatan, aku juga udah bilang gak bisa bantu dia, lagian juga aku mikir, aku juga gak ketemu Bapak dalam jangka waktu yang lama nanti, terus no Bapak bakalan aku blokir deh" Ucap Arka santai
"Kamu butuh bantuan Papah buat beresin Bapak kamu," Ucap Agam.
"Gak usah Pah biarin aja dia sibuk sendiri, gak usah di ladenin, tar kita nambah pusing. Bapak di kasih hati ngelunjak jadi diemin aja!" ucap Arka yang kembali memakan makanannya.
__ADS_1
\_\_\_\_&\_\_\_\_