
Dua bulan pun berlalu, Alisha menjalani kuliahnya dengan damai, tapi rasa benci kepada dosennya Mario masih ada di hatinya, setiap ada kelas pak Mario, Alisha selalu berusaha untuk mengurangi komunikasi antara dirinya dengan pak Mario, bahkan Alisha selalu melakukan hal yang membuatnya invisible di kelas nya Mario.
Pagi ini Alisha langsung pergi ke kampus tanpa sarapan di rumahnya, rumahnya yang luas hanya ada dirinya, Orang tua nya ( Nissa dan Agam), dan juga para asisten rumah tangga, sedangkan Arka dan Rayyan hanya 1 bulan sekali saja pulang ke rumah.
"Sayang... Kamu gak sarapan dulu?" tanya Nissa, saat melihat Alisha turun terburu-buru bahkan penampilan Alisha hari ini sedikit berantakan.
"Enggak mah, Alisha sudah telat. Duluan ya Mah .... Pah ... assalamualaikum," ucap Nissa mencium tangan kedua orang tuanya.
"Alisha itu kebiasaan banget, jarang sarapan," Ucap Agam.
"Emang, sama kaya kamu dulu, harusnya mas juga bicara sama Alisha biar dia bisa sarapan bareng kita, tadi kenapa diam aja."
"Lagi mager, Biarkan saja lah dulu, Tar pulang aku baru ngomongin,"
"Ya sudah kalau begitu, Makan yang banyak biar kuat cari berlian," kekeh Nissa mengejek Agam. Agam mendelik mendengar ucapan Nissa istrinya.
"Berlian kamu kan udah banyak. Ngapain nyari lagi tinggal beli," ucap Agam yang tidak mengerti maksud ucapan Nissa, Agam malah santai memakan masakan Nissa, yang selalu enak tak lekang oleh waktu.
"Kurang yank, Aku pengen yang warna hijau, yang gede juga."
"Batu kali aja kalo gitu. Entar kita ke Bandung nyamperin Arka sama Rayyan, Kita cari di kali sana."
"Ikh ayang mah, suka begitu." Rengut Nissa, Karena ucapan suaminya.
_&&&_&&&___
Alisha mengendarai mobil Jazz berwarna merah ke kampus, sebenarnya Alisha males banget kuliah hari ini, karena hari ini hanya ada 2 mata kuliah, dan yang menjadi dosennya adalah pak Mario, Dosen yang sebenarnya tidak pantas mengajar lagi menjadi Dosen, karena sampai saat ini, tak ada terlihat rasa bersalah atau empati yang di tunjukan Mario kepada Alisha, lagi pula Alisha juga sudah tidak perduli, bahkan melihat wajah Mario saja Alisha sungguh muak, karena mengingat kejadian pemerkosaan dua bulan lalu yang di lakukan Mario secara paksa, jika saja menghabisi orang itu tidak dosa dan tidak di penjara mungkin saja, Mario hanya tinggal namanya sekarang.
"Wihhh... Si Princess tumben amat datang telat, mana bajunya acak Adul, Lu habis ngapain Al? Ngebabu di rumah lu, itu si bibi pada kemana emangnya?" ucap Kiran melihat penampilan Alisha yang lain dari biasanya.
"Sebenarnya tadi gue males banget masuk kuliah hari ini, mager, jadinya pengen berangkat entar-entaran, ekh taunya gue lupa hari ini kan mau kuis matkul nya pak Mario, Jadi ya mau gak mau gue harus masuk. Tadi gue bangun kesiangan, mandi langsung cabut pake baju seadanya, sarapan aja gue belum."
"Lu mah kebiasaan suka gak sarapan, magh lu kambuh baru nyaho lu...."
"Sebenarnya dari pagi gue udah mual sih... Kayanya emang bener deh magh gue kambuh, enek banget soalnya."
"Tuh kan apa gue bilang, yuk makan dulu kita ke kantin."
"Gak akh, males kita masuk aja bentar lagi kan pak Mario masuk, tar perang dunia lagi nanti."
"Ia lu bener, Yuks akh kita cabut."
__ADS_1
Kiran dan Alisha pun langsung masuk ke dalam kelas mereka, karena sebentar lagi pak Mario sebagai dosen mereka akan segera datang.
Saat Mario sudah datang, di mulai lah sesi belajar, Alisha sangat keki dengan manusia di depannya ini, kenapa hidup nya aman dan tentram saja. Sebenarnya Alisha sangat keki dan bosan mendengar Mario berceramah panjang lebar di depan, tak satu pun perkataan Mario bisa di dengar oleh Alisha, bahkan rasa mual yang tadi pagi Alisha rasakan kembali datang, bahkan semakin bertambah, sungguh Alisha sekarang ingin ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di perutnya.
"Pak saya izin ke toilet ya pak," ucap Alisha yang langsung berdiri, tanpa mendengar perkataan yang keluar dari Mario.
"Alisha mencoba mengeluarkan semua Yang ada di perutnya, tapi karena dari tadi pagi Alisha tidak makan dan belum memakan apapun, makanya hanya air putih saja yang di keluarkan oleh Alisha, Sangat menyiksa sekali sehingga Alisha menjadi lemas. Alisha pun kembali ke kelas. Ketika tidak ada lagi yang mau di muntahkan olehnya.
Saat di kelas, saat mau masuk, tepat di depan semua orang yang ada di kelas, Alisha kembali merasakan mual, Alisha menahan muntahan nya oleh tangannya sendiri, dan berlari ke arah toilet kembali. Mario yang melihat Alisha mual dan muntah tampak mengernyitkan dahinya.. kenapa si Alisha? apa dia sakit? batin Mario.
"Kalian jangan lupa, kumpulkan hasil kuis hari ini di meja saya, waktunya tinggal 5 menit dan paling lambat 10 menit sudah ada di meja saya. Mengerti kan semuanya, saya mau kembali ke ruang Dosen sekarang." Ucap Mario yang langsung menghampiri mejanya dan membawa buku serta tas kerjanya, Mario pun langsung menuju ke arah toilet terdekat, saat sudah sampai di depan pintu toilet wanita, Mario mendengar, suara orang mual dan muntah dari kamar mandi, tak berapa lama Alisha pun keluar dari toilet. Alisha kaget seketika melihat Mario yang sudah berdiri di depan toilet, perempuan, tapi karena alisha tidak mau berurusan dengan Mario, di cuekin saja Mario dan di lewati begitu saja.
"Lepaskan tangan saya Pak," ucap Alisha, saat ia tau tangannya sedang di sentuh oleh tangan dingin Mario
"Kamu sakit... Al...?"
"Bukan urusan bapak, saya minta dengan baik tolong lepaskan tangan saya!"
"Kamu mual dan muntah-muntah, Kamu masih angin apa kamu sedang ha ... mil anakku Al?"
Deg...
Seketika wajah Alisha membelalak arena ucapan dari dosennya tersebut.
"Tunggu Al... Kamu jangan seenaknya gitu, kalau kamu mengandung anakku, tentu saja aku akan dan harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab... Hehehe... Dengar ya pak melihat bapak saja membuatku muak, jadi jangan menyusahkan diri bertanggung jawab pada saya, karena saya tidak sudi menikah dengan pemerkosa seperti Bapak," sarkas Alisha dan langsung pergi dari hadapan Mario.
Mario hanya diam mendengar perkataan Alisha yang sangat menyakitkan, sebenarnya dia bukan pemerkosa, bahkan Mario juga baru pertama kali melakukannya dengan Alisha, Mario hanya mengembuskan nafasnya kasar, dan bingung langkah apa yang harus dia ambil.
"Jika Alisha benar-benar hamil anakku, aku harus melakukan sesuatu supaya anak itu, tidak melakukan hal ceroboh, walau bagaimanapun yang ada di dalam kandungan nya adalah anakku, dan aku tidak mau kehilangan anakku...," ucap Mario dalam hati.
Alisha menangis sepanjang perjalanan pulangnya, dia mencengkram kuat setir mobil, hingga saat dia tiba di rumah, Alisha menghapus dulu air matanya, dan mengendap-endap masuk kerumah.
"Ekh non sudah pulang ...?" Tanya bibi Susi melihat kehadiran Nona mudanya yang sudah tiba di rumah jam segini. Tumben sekali, batin bibi Sus.
"Ia bi... Aku masuk dulu ya ke kamar. Mamah mana bi?"
"Nyonya sedang keluar Non."
"Ya udah .. aku naik dulu ya bi."
__ADS_1
"Baik Non!"
Alisha langsung naik ke kamarnya dan menaruh tas nya sembarang, Alisha lalu mengeluarkan laptopnya dan membuka gugel, Alisha mencari tanda-tanda kehamilan di sana, dan banyak sekali pilihannya, lalu Alisha meng-klik salah satu artikel tentang tanda-tanda kehamilan di sana.
Disitu tertulis tanda tanda kehamilan ada beberapa hal yaitu;
"Mual-mual, terlambat menstruasi, emosi naik turun,... Haduh kapan ya terakhir aku menstruasi, aku ingat kayanya dari dua bulan yang lalu aku belum dapat jatah menstruasi ku, sudah biasa itu mah, aku suka ga teratur, mual-mual, aku pasti cuma terlambat makan saja. Aku gak hamil pasti, mending ke apotek dulu beli alat tespek," gumam Alisha yang langsung mematikan HP nya dan kembali turun untuk pergi ke apotik.
"Siang mba, Saya mau beli beberapa tespek dengan merk yang berbeda," tanya Alisha ke penjaga apotek, dan penjaga apotek tersebut langsung mengambilkan 5 buah tespek yang mereka jual.
"Kami ada lima merek mau ambil berapa,"
"Tiga aja mba."
"Semuanya jadi 100ribu,"
"Ini uangnya makasih mba," ucap Alisha yang menyerahkan uang tersebut lalu pergi membawa 3 buah tespek dan di sembunyikan tespek tersebut di kantung celananya yang besar. Alisha pun menjalankan mobilnya kembali menuju rumahnya.
Saat sampai rumah, Alisha menghembuskan napas lega, ternyata Mamahnya masih ada di luar, jadi dia harus segera ke kamar mandi untuk menggunakan tespek tersebut.
"Gimana cara pakai nya ya," Gumam Alisha yang melihat tespek tersebut di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
"Oh begini, mudah ternyata, berarti aku harus pipis dulu...," Gumam Alisha yang melakukan caranya sesuai petunjuk Yang ada di kemasan.
Saat tespeknya di letakan di air pipis nya Alisha, hati alisha ketar-ketir menunggu hasilnya... Keluarlah, gadis satu dan itu membuat senyum di bibir Alisha terbit seketika, tapi saat cairannya kembali naik dan memunculkan garis dua... Senyum di bibir Alisha pun hilang, dan jatuh lah air mata Alisha.
"Ya Allah, bagaimana ini kenapa harus harus dua, apa yang harus aku lakukan, apa aku hamil? gak mungkin, hiks.. hiks.." Alisha menutup mulutnya tidak menyangka ternyata tespek itu bergaris dua, karena kurang yakin, Alisha menggunakan semua tespek yang dia beli, dan semua hasil nya sama.
__________
Rayyan telah selesai menyelesaikan kelasnya hari ini, selain kuliah manajemen bisnis, Rayyan juga mengambil jurusan kedokteran, karena sebenarnya keinginan Rayyan yang utama adalah sebagai seorang dokter, tapi karena Rayyan di persiapkan menjadi pewaris Wijaya, Rayyan harus menguasai manajemen bisnis, untungnya Rayyan memiliki IQ di atas rata-rata bahkan sangat jenius, jadi walaupun dia mengambil jurusan yang berbeda, otak Rayyan mampu untuk mengikuti semuanya.
Saat Rayyan akan masuk ke mobilnya tiba-tiba pundak Rayyan di tepuk dari arah belakang dan ada wanita yang tiba-tiba memeluknya, karena tidak terima di peluk dengan wanita asing, alhasil Rayyan mendorong kuat tubuh wanita tersebut.
Bukkk...
"Aw sakit.... Kenapa kamu dorong aku sih" ucap wanita tersebut mengasuh kesakitan di bagian pantatnya karena dorongan Rayyan yang terlalu kuat.
"Kamu siapa...? Seenaknya main peluk- peluk orang saja," kesal Rayan dengan wajah dinginnya, membuat wanita tersebut sedikit takut.
"Aku... Aku adiknya bang Arka anaknya papah Herman, kamu ga ingat kita kan saudara," ucap wanita tersebut.
__ADS_1
"Enak saja kamu mengaku adiknya bang Arka! Kamu itu cuman anak sambung Pak Herman, dan bukan adiknya bang Arka gak usah ngaku-ngaku kamu, memalukan sekali, gak punya sopan santun main peluk orang sembarang," ucap Rayyan pedas dan langsung naik mobil meninggalkan wanita tersebut yang masih duduk di bawah, wanita itu hanya terbengong kaget melihat kelakuan Rayyan, dan kesal dengan perlakuan Rayyan yang kasar terhadap dirinya.
"Awas aja kamu Rayyan! kamu pasti takluk dan bakalan bucin sangat sama aku," ucap wanita tersebut dengan seringai tipis di bibirnya.