
POV Herman
Ku lihat anakku tertidur dengan damainya sambil memeluk guling yang bergambar tokoh Doraeman, aku mengusap rambutnya yang halus, seluruh yang di pakai anakku adalah barang-barang terbaik, bahkan kulit anakku sangatlah halus, ya tuhan... aku semakin minder karena apa yang diberikan oleh Nissa dan Agam, tak akan bisa aku berikan untuk anakku. Anakku bergerak, mungkin terganggu karena sentuhan di rambutnya oleh tanganku. Mata anakku terbuka mengerejap, sangat lucu dengan mata hitamnya seperti diriku, dan bulu mata yang lentik seperti Nissa.
"Om siapa....?" Ucap Arka memanggil ku saat ia melihatku dengan mata lucu yang menggemaskan, Ya tuhan.... Mendengar dia menyebut ku Om, rasanya sakit banget hati ini sampai ke Mata Hatiku yang paling dalam.
"Om ciapa... Kok iem aja.... Kok ada di Kamal Alka ci.... Mamah sama Papah mana?" tanya anakku dengan ngomong cadelnya.
"Ekh anak kesayangan Papah sudah bangun." Tiba-tiba Agam muncul di belakang, baru saja aku mau bilang kalau aku ini Papahnya, hampir aja Keceplosan.
"Ayok sayang kita keluar dari kamar, Mamah sama adik-adik bayi sudah nungguin Abang di luar, dan kamu Jangan berani-berani keluar batasan kamu, atau kamu akan terima akibatnya..." Ucap Agam dingin, seketika membuatku tertegun, kurasakan hawa dingin di sekitar tubuhku karena pengaruh dari Agam.
"Tenang saja, aku ingat janjiku, tapi kamu juga harus ingat, siapa aku sebenarnya," ucapku tegas.... Aku juga punya hak atas Arka.
"Tak tau diri," ucap Agam yang langsung menghilang dan membawa Arka, Marah jelas, aku mengepalkan tanganku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Karena tidak punya kuasa seperti Agam.
"Hey sayangnya Mamah sudah bangun, Lihat ada Nenek, Oma, sama Nenek Endang sayang nungguin kamu..." Ucap Nissa... menghampiri kami, tapi sepertinya hanya menghampiri Agam dan Arka. Sedangkan aku tak di lihat sama sekali, Nissa sangat cantik, bahkan setelah melahirkan dia tambah cantik, Tambah glowing dan tambah seksi, aku pun terpana melihat Nissa.
"Yank aku pengen ngomong bentar yank, kita ke kamar dulu ya..." ucap Agam.
"Ya sudah bentar, mah tolong pegang Arka dulu ya, aku mau sama mas Agam bentar.
"Ia sayang sini sama Nenek," Ucap Nenek Arumi mengambil Arka dari gendongan Agam Tapi menatap Herman dengan tatapan tajam.
Si Agam sama si Nissa mau kemana ya? Kaya rahasia gitu... Ikutin gak ya? Tapi enggak deh ngeliat matanya mantan mertua kok serem banget, Penasaran tapinya, Apa izin saja ke toilet, Batinku.
"Maaf Bu Arum, Saya mau tanya toilet nya di mana ya...?" Tanyaku kubuat sesopan mungkin, supaya mantan mertuaku gak curiga.
"Ada di belakang," ucap mertuaku ketus banget ya tuhan... Matanya aja kagak ngeliat aku pas ngomong.
"Saya izin ke toilet ya..." Ucapku tapi tak ada satu pun yang menjawab ucapanku... Biarlah yang penting aku harus cari Nissa dan Agam.
"Pah Ikutin si Herman, muka-mukanya mencurigakan" ucap Bu Arum bisik-bisik ke telinga suaminya. Dito pun hanya menganggukkan kepalanya, dan langsung pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kebelakang dulu ya, Sakit perut nih," ucap Dito dengan muka meringis sambil memegang perut.
"Wah si Dito kebanyakan tuh... Hahaha," tawa Bram mengejek Dito, tapi Dito tak menanggapi, hanya tersenyum penuh arti ke arah Bram. Dan Bram pun mengerti.
Dito melangkah mengikuti Herman dari belakang, tanpa di ketahui oleh Herman, karena Dito mengikuti Herman agak jauh tapi masih bisa melihat langkah Herman ingin kemana.
"Mau kemana tuh anak...? Arah toilet kan bukan ke situ, cari masalah emang nih si kadal buntung, gak tobat-tobat," ucap Dito pelan, sambil terus mengikuti Herman, dan saat Herman ke atas, naik ke lantai dua, Dito pun mempercepat langkahnya dan melihat Herman sedang berdiri di depan pintu kamar Nissa dan Agam.
"Dari mana dia tau kamar Nissa dan Agam?" Tanya Dito dalam hati, Dito pun langsung menghampiri Herman dan menepuk pundak Herman dari belakang.
"Ngapain kamu di depan pintu kamar Nissa man?" Ya Allah aku kaget, kenapa bisa ada mantan mertua di belakangku, gimana ini? Batinku.
__ADS_1
"Aku... aku... aku lagi cari toilet pak.. tapi nyasar kayanya... Hehehehe.. rumahnya gede banget...," Ucapku mencari alasan semoga saja bapak mertua percaya.
"Ngeles aja kamu kaya bajaj! Saya tanya ngapain kamu di depan kamarnya Nissa?" Waduh ni bapak-bapak pake ngotot segala lagi, mau jawab apa ini.
"Beneran bapak mertua... Ekh... Salah maksudnya.. beneran Pak... Saya nyasar... Suer deh..."
"Jadi gak mau ngaku kamu, mending kamu pergi sekarang dari rumah ini! Jangan bikin masalah, kamu tau kan gimana Agam? kalau kamu bikin masalah disini!"
Glekkk... Aku tertegun.... Sulit rasanya menelan air ludahku sendiri, Bodyguard nya Nissa banyak amat ya.
"Ia pak saya akan pulang, saya janji gak akan buat masalah permisi," langsung saja aku kabur dari amukan pak Dito. Masih kebayang rasa sakit di pipi, karena dulu pernah di tonjok sama mantan mertua.
"Dasar bocah gemblung," umpat Dito.
________
"Kenapa mas....? Ada masalah," terlihat Jelas raut kecemasan dalam wajah Nissa, karena tiba-tiba Agam memintanya untuk bicara.
"Jangan lagi menerima Herman untuk masuk ke dalam rumah ini, Orang itu masih licik," ucap Agam dingin, tapi tetap saja tatapannya selalu lembut ke istrinya.
"Aku juga sebenarnya gak mau ngasih izin mas, tapi aku gak enak sama Bu Endang saja," Lirih Nissa menghembuskan nafasnya pelan, lelah dengan semua dramanya Herman, yang tidak pernah kapok mengganggu kehidupan nya.
"Kita akan pergi dari Indonesia Nis, Dan akan tinggal di Amerika, bagaimana menurut kamu," tanya Agam serius memandang wajah cantik istrinya. Nissa tersenyum malu-malu, wajahnya memerah di tatap seperti itu oleh suaminya, sampai ia tidak mendengarkan apa yang di tanyakan oleh suaminya itu.
"Kamu kenapa....? Ikh sudah tua juga masih aja kaya bocah, aku nanya serius sayang!"
"Ekh.... Mas emang nanya apa tadi...?" Ucap Nissa mengedipkan matanya berulang kali yang membuat Agam gemas.
"Sayang... Gimana kalau kita pindah ke Amerika sayang...?" Ujar Agam pelan.
"Amerika untuk apa....? Karena ada Herman....?"
"Dia sepertinya berusaha untuk mengambil Arka dari kita. Dan mas gak mau hal itu terjadi," ucap Agam khawatir. Agam sudah sangat menyayangi Arka Karena Agam dari kecil sudah mengasuh dan merawat Arka, bahkan saat Arka masih ada dalam kandungan, Agam sampai berbohong kepada Nissa kalau dia sudah pernah menikah dan punya anak 10 tahun, padahal itu hanya alasan Agam saja agar Nissa mau diantarkan kerumah sakit untuk cek kandungan.
"Emang dia bisa mas...? dia kesini juga karena Bu Endang, kalo Herman macam- macam. Maka selamanya dia tidak akan pernah bertemu dengan Arka mas. Pegang ucapan ku, jadi kita gak perlu ke Amerika hanya untuk menghindari dia. Kalo Herman macam-macam itu akan menjadi urusan ku mas...!" Wajah Nissa menggelap dan hilanglah wajah ceria yang dia tampilkan tadi, Nissa masih tidak mengerti kenapa manusia seperti Herman tidak ada rasa takut-takutnya, padahal dia sudah pernah di jebloskan rumah sakit jiwa.
"Kamu kenapa jangan berpikir terlalu keras." Ucap Agam langsung memeluk hangat Nissa.
"Afrika masih kosong gak mas...? Kirim saja si Herman itu ke tempatnya si Popi, Biar sekalian reunian," celetuk Nissa yang tiba-tiba terpikir tentang benua Afrika atau negara Mesir tempat Popi di deportasi.
"Bagaimana dengan Bu Endang, Apa kamu akan tega...?" Ucap Agam. Melepaskan pelukannya dan melihat ke dalam mata Nissa.
"Jangan sampai ibu Endang tau kalau anaknya di deportasi ke Afrika....."
"Menurut ku jangan, Bu Endang akan merasa sedih. Kita tunjukan saja sama Herman. Kalau dia tidak pantas menjadi ayahnya Arka, dan aku akan selalu menjaga kalian dari bahaya apapun itu."
__ADS_1
"Ia yank, aku percaya kok sama kamu."
___&&&__&&
"Bu.... Ayok kita pulang Bu," ucap Herman tiba-tiba setelah berjalan cepat dan nafas yang ngos-ngosan dan tadi hampir saja jatuh di tangga.
"Pulang sekarang man... Ya sudah ibu mau pamit ke Nissa dulu..." Ucap Bu Endang yang sedang memangku Arka.
"Gak usah Bu...! Nissa sudah tau kok tadi aku ketemu dengan dia," ujar Herman berbohong.
"Ya sudah, Arka sayang, ganteng, gemoy, Nenek pulang dulu ya, entar Nenek main lagi," ucap Bu Endang sambil mencium pipi Arka sayang.
"Ikkhhh Nenek geyi aku Nekkk...," Ucap Arka menjauhkan wajah Bu Endang dengan tangannya.
"Ia ... Sayang maaf ya.. Nenek pulang dulu ya assalamu'alaikum, saya pulang dulu ya Bu Arum... Bu Lisa..." Pamit Bu Endang.
"Ia Bu Endang hati-hati ya..." Ucap Lisa dan Arum kompak.
Bu Endang pun mengikuti Herman yang jalan duluan karena takut Dito turun dan melihat dia masih ada di rumah ini, setelah Herman dan Bu Endang keluar, Dito pun muncul dan kembali bergabung dengan istri dan besannya.
"Buat ulah lagi dia .... ?" Ucap Bram yang langsung to the point.
"Ia... Ke toilet kok melipir ke kamarnya Nissa di atas...." Ucap Dito kesal karena mantan menantunya yang gesrek itu.
"Tuh kan bener Pah .... Si Herman pasti cuma tobat tomat doang," ungkap Arum kesal.
"Kalian lagi ngomongin siapa sih...? Kepo," tanya Lisa yang bingung dan tak mengerti apa-apa."
"Itu loh Lis, si Herman, mulai ngerusuh lagi, masa tadi dia izin ke toilet taunya ngikutin Agam sama Nissa, untung gak ketemu."
"Kayanya tuh orang harus di kasih pelajaran deh sedikit," ucap Bram ikut kesal juga dengan tingkah laku Herman.
"Manusia jadi-jadian kaya gitu gak bakalan jera, buktinya di masukin RSJ saja, balik lagi gilanya." Ucap Dito kesal.
"Ok... Kalo RSJ saja kurang cukup bikin dia kapok, kita masukan dia ke negara atau pulau lain," ucap Bram dengan mimik yang menakutkan.
"Mau di kirim ke mana?"
"Papua... Jadi OB disana, dan aku sendiri yang akan membawanya ke Papua," ucap Bram.
"Aku ikut Pah, Tangan Mamah gatal sudah lama gak mukul orang," Ucap Lisa.
"Bolehlah, yang lama sekalian di Papua," ucap Bram.
"Beres pokoknya, biar anak buah ku yang lakukan semua rencana kita," ucap Bram membuat Lisa, Arum, dan Dito tersenyum senang.
__ADS_1