
Hari pertama gugatan pengadilan Herman dan Kokom pun di gelar, Herman izin untuk tidak datang ke kantor kecamatan hari ini. Sedangkan Kokom di temani oleh anak nya Nita. Herman pun sampai setelah Kokom sampai. Kokom menghampiri Herman dengan tergesa-gesa.
"Bapak... Pak... tunggu pak!" Ujar Kokom menahan tangan Herman tapi langsung di tepis oleh Herman.
"Kenapa lagi sih Kom? Aku malas berdebat sama kamu!" Ujar Herman ketus
"Pak tolong Pak. Hentikan semua ini, apa yang Bapak lakukan itu tidak benar Pak. Ingat kebersamaan kita, ingat Nita anak Bapak juga. Apa semua yang telah kita lalui gak ada artinya buat Bapak" ucap Kokom memelas.
"Capek ya aku ngomong sama wanita tidak tau diri seperti kamu, dan kenapa kamu mencoba membujukku untuk membatalkan gugatan, dan apa Nita anak aku, jangan gila dong Kokom, kamu sekarang sudah tinggal dengan mantan suami kamu. Ayah dari anak kamu Nita, entah apa yang kalian berdua lakukan di rumah itu, kamu pikir aku masih mau menyentuh wanita yang sudah tidur dengan lelaki lain, saat dia masih menjadi istriku. Aku bukan orang yang bisa kamu bodohi lagi seperti dulu, dan satu lagi. Jangan pernah bilang bahwa Nita adalah anakku, karena anakku adalah Arka bukan Nita, camkan itu" ujar Herman yang kesal meninggalkan kokom dengan sejuta kesedihan di dalam hatinya.
"Mah, udahlah kita terima saja apa mau nya Bapak, hati aku sakit Mah, Bapak segitunya bencinya kepadaku, bahkan dia tidak mau melihatku, dan mengakui ku sebagai anaknya Bu. Kita lepaskan saja bapak Bu. Tapi ibu harus minta harta Gono-gini ke bapak Bu. Seenggaknya rumah yang bapak tempati harus jadi milik kita." ujar Nita mempengaruhi Kokom.
"Lalu bagaimana dengan kehidupan kita nantinya Kom, Mamah gak mungkin terus- terusan tinggal sama ayah kandung kamu, dia sudah punya istri, ayah kamu juga gak mau nikahin Mamah, kalau untuk makan boleh lah ayah kamu masih tanggung jawab, tapi bagaimana untuk kebutuhan kita yang lain, mamah juga butuh perawatan butuh shopping butuh baju baru" ujar Kokom yang masih saja tidak sadar dengan keadaannya.
"Aku akan melamar kerja di tempatnya Arka besok Mah. Lowongan kerja nya besok baru di buka dan dengar-dengar Arka yang akan menyeleksinya langsung, jadi aku yakin aku pasti akan langsung masuk dan aku akan minta jabatan tinggi padanya Mah, Mamah gak usah khawatir" ujar Nita menenangkan Kokom, ibunya. Sedangkan Kokom masih saja menangis di parkiran motor, membuat semua mata tertuju padanya.
"Ya udah kita masuk ke dalam aja sekarang Mah, malu diliatin orang" ujar Nita. Mereka berdua pun pergi meninggalkan lokasi parkiran ini dan menuju ke pengadilan, saat sampai di depan ruang sidang, yang kebetulan sidang sebelumnya belom selesai tinggal beberapa menit lagi. Kokom melihat Herman sedang duduk di ruang sidang yang pintunya masih tertutup, Kokom pun duduk di sebelah yang lain bersama Nita, Herman sama sekali tidak melirik apalagi menolehkan matanya ke arah mantan istrinya itu. Gugatan perceraian antara Herman dan Kokom sama sekali tidak melibatkan pengacara. Beda halnya seperti dulu Herman bercerai dengan Nissa. Hanya Nissa yang memakai pengacara sedangkan Herman tidak, makanya tidak ada satu kali pun Nissa hadir di persidangan dan Nissa menang dengan telak, karena sebelumnya Herman sudah memberikan talak, dan bukti Nissa juga kuat atas perselingkuhan Herman.
Pintu ruang sidang pun sudah terbuka, Nama Herman dan Kokom pun telah di panggil ke ruang sidang. Herman pun masuk terlebih dahulu di ikuti oleh Kokom dan anaknya Nita.
Sidang hari ini tentang perkara mediasi. Tapi Herman tetap pada keputusannya yang tidak ingin rujuk apalagi dengan bukti yang di perlihatkan Herman kepada hakim, yaitu rekaman saat Herman mengucapkan talak tiga. Dan rekaman percakapan antara Kokom dan Nita, yang dengan sengaja menghalangi dan memberikan hasutan serta dengan sengaja menghalangi Herman untuk berobat, dan juga bukti kecurangan Kokom atas tindakannya telah menjual tanah Herman tanpa ijin dan telah memanipulasi Harga jual dengan selisih yang sangat besar dengan semua bukti yang Herman punya.
Kokom yang mendengarkan semua penuturan Herman dan penjabaran tentang barang bukti tersebut langsung histeris.
"BOHONG PAK HAKIM! ITU SEMUA PALSU! Saya memang menjual tanah suami saya tanpa ijin beliau Pak hakim. Tapi kalau untuk penipuan pemalsuan penjualan itu bohong. Harganya sesuai dengan apa yang saya ucapkan dulu sebanyak 70 juga untuk 2 bidang tanah Pak hakim" Ujar Kokom masih kekeh dengan pendiriannya. Padahal di situ sudah tertulis jelas di kwitansinya.
"Tenang saudari Kokom, apakah pernyataan anda bisa di sertakan bukti, karena yang saya lihat disini, kwitansi ini adalah asli," ujar Pak hakim membuat Kokom terdiam.
"Saya memang tidak punya buktinya untuk saat ini. Tapi saya juga bisa menuntut suami saya, atas rumah yang dulu kami tempati Pak. Saya pikir saya juga punya hak di rumah itu, saya ingin rumah yang ditinggali oleh suami saya di jual dan di bagi dua pak hakim " ujar Kokom penuh percaya diri.. dan menatap Herman dengan senyuman seringai nya... Kokom yakin rumah itu pasti jatuh ke tangannya.
Herman yang mendengar keinginan Kokom hanya menggelengkan kepalanya saja, dia tidak menyangka, beginilah sifat seorang istri yang sudah tinggal bersama dengannya bertahun tahun, ternyata selama ini dia hanya ingin menguasai semua peninggalan ibunya.
"Pak hakim. Kalau bukti itu masih kurang kuat, saya akan mendatangkan saksinya, seorang pembeli tanah saya, bahkan sertifikat tanah saya ada padanya. Bapak bisa dilihat di sertifikat tanah tersebut yang masih atas nama saya, karena pembeli belom balik nama" Ujar Herman, yang membuat Kokom tambah panik dan pucat, Kokom menatap nyalang Herman, mata memelas yang dia tunjukan tadi saat memohon Herman telah hilang seutuhnya di gantikan dengan tatapan tajam dan amarah yang besar.
'Bagaimana dia bisa mendapatkan bukti itu semuanya. Gawat aku tidak akan mendapatkan apa-apa dari perceraian ini, bahkan aku bisa di penjara' ucap Kokom dalam hati.
__ADS_1
Tidak ada yang tau apa yang Herman lakukan setelah Kokom dan Nita pergi dari rumahnya.
Flashback on....
Saat Kokom dan Nita di usir, Herman membongkar semua lemari milik nya dan Kokom dan mencari apa saja yang bisa dia jual, setelah Herman menemukan perhiasan Kokom yang begitu banyak hingga menghasilkan pilihan juta, Herman yakin, kalo Kokom pasti menyimpan barang berharga lainnya, Herman terus saja mencari hingga membongkar alhasil dia pun menemukan kwitansi penjualan ke dua tanahnya dan untungnya disitu tertulis nama pembelinya serta no teleponnya.
"Ini bagus sekali. Tinggal aku temui pembeli ini dan meminta dia menjadi saksi untukku nanti, aku tau saat perceraian si Kokom pasti minta harta Gono-gini, tak akan aku biarkan dia mendapatkan hartaku walaupun secuil saja" Gumam Herman memegang kwitansi tersebut.
Setelah beberapa hari ke depan akhirnya Herman bisa bicara dengan seorang laki-laki yang pernah membeli tanahnya itu, mereka berdua janjian di sebuah kafe yang ada di pusat kota.
"Selamat siang Pak Gery. Perkenalkan saya Herman suaminya Kokom yang tanahnya pernah di jual ke anda." Ujar Herman langsung to the point.
"Siang pak Herman.. maafkan saya sedikit terlambat" ujar laki-laki yang di panggil Gery tersebut.
"Tidak apa-apa Pak Gery saya juga baru sampai. Silahkan di pesan dulu Pak Geri, nanti baru kita bicara masalah tanah yang di jual oleh mantan istri saya" ujar Herman.
Gery pun tersenyum mendengar ucapan Herman, karena bagi dirinya, Geri tidak salah, dia tidak perduli sertifikat itu punya siapa, apalagi yang menjual adalah istrinya dan sertifikat aslinya di pegang oleh istrinya. Minuman pesanan mereka pun sudah datang.
"Begini Pak Geri, saya tidak ada maksud lain Pak Geri, saya hanya ingin bertanya mengenai tentang kwitansi ini, tentang keasliannya Pak Geri, apakah asli Pak" Tanya Herman sambil menyerahkan kwitansi yang dia bawa dan di berikan kepada Gery.
"Ia benar Pak. Ini kwitansi yang asli. Saya juga memegang buktinya Pak, Surat perjanjiannya Ada di tangan saya dan foto jual belinya. Kebetulan saat transaksi kami melakukannya di kantor notaris Pak Herman" ucap pak Gery.
"Oh begitu bisa saya minta fotonya Pak Gery, begini Pak Gery, takutnya Pak Geri tidak mengerti atau tersinggung. Saya itu sedang dalam proses perceraian, saya sudah menjatuhkan talak kepada istri saya Kokom karena penjualan tanah ini salah satu penyebabnya Pak Gery. Dia menjual tanah saya tanpa sepengetahuan saya, dan juga dia berbohong mengenai nilai penjualannya, dia bilang sama saya, dia bilang satu bidang tanah saya hanya 30 juta. Jadi kalau 2 sertifikat semuanya adalah 60 juta sedangkan di kwitansi ini semuanya senilai 120 juga berarti dia menipu saya. Walau bagaimanapun tanah ini adalah milik saya, warisan dari ibu saya. Sedangkan dia hanya memberikan uang sebanyak 20 juta kepada saya Pak. Maka dari itu, saya akan menggunakan barang bukti ini untuk memberatkan Kokom di pengadilan nanti supaya dia tidak bisa meminta harta atau rumah saya." ujar Herman panjang lebar, Gery pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Baiklah Pak. Akan saya kirimkan ke HP Bapak foto nya, kebetulan di foto oleh HP saya dan untuk perjanjiannya akan saya kirimkan lewat JNO aja ya Pak. Ke rumah Bapak."
"Ia Pak Geri terima kasih banyak Pak. Tapi jika di pengadilan nanti bukti tidak cukup dan membutuhkan saksi, apakah Bapak bersedia."
"Baiklah nanti saya akan bantu pak Herman, Bapak tinggal bilang tanggal berapa, jam berapa? dan di pengadilan negri mana?" ujar Pak Geri membuat Herman tersenyum lega.
Mereka berdua pun menghabiskan minumannya dan berpisah saat tidak ada lagi yang akan di bahas. Herman pulang menggunakan sepeda motornya, sedangkan Geri menggunakan mobilnya.
Flashback off...
Geri pun selesai bersaksi di hadapan bapak hakim, dan itu semakin memberatkan posisi Kokom.
__ADS_1
"Tapi Pak hakim. Saya sebagai istrinya bukannya mempunyai hak atas tanah tersebut" Tanya Kokom.
"Tenang dulu Bu Kokom! Nanti akan kita bahas masalah hak dan kewajiban anda selama menjadi istri dari saudara Herman Dan jangan pernah menginterupsi jalannya sidang ini lagi!" Ujar Bapak hakim.
"Dan untuk Pak Geri terima kasih atas kesaksian anda" ucap hakim.
"Baik Pak" ujar Geri. Geri pun berdiri dan melihat Herman serta tersenyum, Herman pun balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda terima kasih, setelah itu Geri ke luar ruangan sidang.
"Jadi begini saudara Kokom. Disini anda bisa di bilang sudah mengambil hak anda sebagai istri, atau istilahnya anda sudah mengambil bagian harta Gono-gini yang harus anda ambil. Tapi disini anda telah melakukan penipuan kepada suami anda. Jadi anda sudah tidak berhak menuntut tentang harta Gono-gini yang anda maksudkan karena anda sudah mengambilnya." Ujar Pak hakim dan itu membuat Herman bernafas lega, karena rumahnya terselamatkan, Herman tidak habis pikir. Kokom masih menargetkan rumahnya untuk harta Gono-gini.
"Setelah semua bukti dan saksi yang sudah di lampirkan saudara Kokom terbukti telah menjual tanah milik pak Herman secara ilegal, karena tanpa persetujuan dari suaminya selaku pemilik asli, walaupun dia adalah istrinya pada saat itu dan juga saudara Kokom telah melakukan penipuan terhadap suaminya dengan memberikan hal yang salah mengenai harga penjualan dan membuat Pak Herman menderita kerugian secara materil. Dengan ini pengadilan memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai dari saudara Herman untuk saudara Kokom dan juga penolakan penuntutan harta Gono-gini yang di tuntut oleh saudari Kokom terhadap saudara Herman, dan saudari Kokom tidak berhak atas apapun harta yang di miliki oleh sodara Herman sekarang ini. Dan sekarang untuk kalian berdua bukan lah sebagai pasangan suami istri lagi" Ujar Pak hakim langsung mengetok palu sebanyak tiga kali.
Dan persidangan pun selesai dengan kemenangan telak Herman. Senyum mengembang di bibir Herman dan raut wajah menyedihkan sangat tercetak di muka Nita dan Kokom.
Herman pun keluar setelah para hakim keluar ruangan. Dengan perasaan lega Herman pun tersenyum sungguh ini adalah keadaan yang begitu baik untuknya, terlepas dari istri yang matre dan sembuhnya kesuburan Herman. Sehingga Herman masih bisa punya anak untuk menemani dirinya.
"Mas Herman tunggu!" Teriak Kokom dari arah belakang.
"Mau apa lagi. Masih untung kamu tidak aku laporkan ke Polisi" ketus Herman.
"Kamu boleh bahagia sekarang mas Herman. Tapi aku ingin ke rumah ada barang ku yang ketinggalan"
"Barang apa lagi yang kamu tinggalkan , sudah tidak ada!" ucap Herman.
"Aku yakin mas Herman, perhiasan ku tertinggal di rumah, di kamar kita. Jadi aku mohon aku ingin mengambilnya"
"Oh..... jadi uang hasil penjualan tanahku kamu belikan perhiasan. Benar-benar lancang kamu Kokom!"
"Kenapa memangnya? Itu adalah milikku hak ku."
"Silahkan saja! Kamu ambil, tapi dengan satu syarat harus denganku kamu masuk ke rumah itu. Karena aku tidak ingin kamu mengambil barang punya ku di rumah. Sudah tidak ada hak kamu atas apapun di rumah ku" Ujar Herman sarkas.
Kokom terbelalak dengan ucapan Herman padanya sampai hati dia menganggap dirinya sebagai pencuri setelah semua hal yang pernah dia lakukan untuknya.
"Jadi apa enggak? saya tunggu di rumah sekarang, kalau gak di ambil hari ini jangan harap kamu akan bisa mengambilnya di lain hari, karena saya tidak mau bertemu dengan muka mu lagi, saya sudah muak!" ucap Herman yang langsung meninggalkan kokom dengan hati yang sangat pilu. Nita yang melihat pertengkaran antara Mamah dan Bapaknya tidak bisa membantu apa-apa dan hanya diam saja.
__ADS_1