
POV Nissa
Sudah seminggu ini keluarga kecilku di Jakarta, dan para orang tua sudah kembali ke rumahnya masing-masing, dan rumah menjadi sepi lagi, tetapi karena keceriaan dari baby Arka suasana pun semakin menghangat walaupun di rumah sebesar ini hanya ada keluarga kecilku dan beberapa asisten rumah tangga serta baby sitter.
Baby sitter yang di pilihkan mas Agam, adalah ibu-ibu yang sudah mempunyai anak, berusia sekitar 50 tahunan, mas Agam sengaja memilihkan yang agak tua, karena biasanya kalo yang masih berumur muda, suka berubah menjadi pelakor.
Saat ini aku dan Arka serta suster sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton TV, sambil menikmati waktu sore hari, ku lihat jam di dinding, sebentar lagi mas Agam pulang, pikirku.
Ting nong..... Ting .. nong...
" Ada tamu ya mba? Siapa ya sore-sore begini?" ucapku bertanya kepada bibi. kalo mas Agam yang pulang gak mungkin dia pencet bel pasti langsung masuk, Pikirku.
" Biar mba yang bukakan pintunya Bu," ucap mba suster yang langsung berdiri meninggalkan kami berdua dan langsung membukakan pintu rumahku. Aku pun melanjutkan menonton TV acara kesukaan ku, Tak berapa lama mba sus pun datang.
" Maaf Bu, di ruang tamu ada dua perempuan, yang mengaku Oma nya pak Agam dan sepupu nya pak Agam," ucap mba sus menjelaskan, Aku pun mengernyitkan dahiku.
" Oma nya mas Agam? setahuku beliau sudah meninggal mba, siapa ya ? Aku kedepan deh, Mba tolong jagain Arka dulu ya,
" pintaku ke mba suster, yang langsung menyerahkan Arka ke gendongan mba sus. Aku pun ke depan, dan ku lihat dia orang wanita berbeda usia, yang satu nya aku mengenalinya seperti sepupu jauhnya mas Agam tapi yang satunya aku belom tau karena belom bertemu sama sekali, ku perhatikan mereka sedang melihat-lihat perabotan yang ada di rumah ku.
" Silahkan duduk bu, kamu bukannya sepupu nya mas Agam ya?" ucapku saat mereka berdua menoleh ke arahku. Kedua orang yang berbeda usia itu pun duduk tapi dengan pandangan aneh menurut ku, bahkan wanita sepupu nya mas Agam hanya diam saat aku tanya tadi.
" Saya gak habis pikir, bagaimana bisa seorang Agam, pengusaha sukses yang tampan dan di inginkan oleh banyak gadis, bisa menikah dengan janda seperti kamu!" ucap ibu tua ini, aku mengernyitkan dahiku, maksudnya? hello!
" Memang ada yang salah dengan seorang janda Bu?" ucapku, malas sekali ku panggil dia Oma .
" Panggil saya Oma, gak sopan kamu panggil saya ibu, saya ini Oma nya Agam " ucap ibu itu marah.
" Apa kata-kata ibu tadi mencerminkan kesopanan, lagi pula setahu saya Oma nya mas Agam sudah meninggal 2 tahun lalu."
" Ekh.... Jaga ucapan kamu ya! Gak punya sopan santun kamu sama yang lebih tua, dia ini Oma Dina, Oma saya, kakaknya Oma mas Agam, tapi tetap jadi Oma nya mas Agam, saya bilangin kamu sama mas Agam atas ketidak sopanan kamu!" ucap wanita muda ini, aku hanya menghela nafas dan menyenderkan punggung ku di kursi .
" Ok.... Ada keperluan apa OMMMAAA datang kesini ?" ucapku sarkas.
" Kamu benar-benar tidak sopan! tidak bisa menghargai SAYA, KAMU! " ucap Oma kesal.
" Saya akan menghargai seseorang, jika orang itu menghargai saya, dari tadi saya sabar ya Bu! saya juga diam ketika kalian berdua menghina saya, tapi kalian semakin menjadi, " ucapku tak kalah sengit, enak aja aku gak akan mau kalah sama mereka berdua.
" Awas saja kamu, saya akan buat kamu cerai dari Agam gak Sudi saya punya cucu mantu seperti kamu, janda miskin! Apa bagusnya? pasti kamu cuman mau harta Agam saja..kan?"
__ADS_1
" Lucu sekali Oma ini, kalo saya yang janda ini gak cocok lalu siapa yang cocok bersanding dengan mas Agam?"
" Tentu saja aku lah! lihatlah aku ini, lulusan luar negri, body good masih gadis pula bukan janda, dan masih banyak nilai plusnya di bandingkan dirimu, " ucap perempuan di muda ini, aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang menjijikan, terlihat seperti penggoda.
" Kamu...? Apa gak salah...? Muka pas- Pasan kaya gitu, bedak tebel kaya mau bikin kue, pake baju juga kurang bahan, gak mampu mbak beli baju Ampe punya adeknya di pake, paha sama dada kemana-mana, mau jualan, yang kaya gini ibu bilang pantas!" ucapku lucu.
" Kamu ....! " Ucapnya yang menghampiri ku, dan sudah mengangkat tangan.
" Tiara cukup! Jangan buat masalah, biar kan saja mulut dia kita adukan ke Agam, pasti Agam akan percaya kita dan membela kamu sayang," ucap ibu tua itu lembut, yah kalo sama cucu sendiri mah emang di puji terus. Dan Tiara pun duduk tak jauh dariku, di tengah antara aku dan nenek itu.
" To the point aja ya, Kami berdua akan tinggal disini, Selama yang kami inginkan dan kita gak perlu persetujuan kamu," ucap nenek tua itu, aku kembali mengernyitkan dahiku, what apa kata nya? mereka mau tinggal di istana ku, gila emang.
" Gak salah! Ini rumah saya! Seenaknya kalian mau tinggal."
" Jangan tambah kurang ajar ya kamu dasar janda tua! udah punya anak lagi, Ini rumah mas Agam bukan punya kamu jangan ngaku-ngaku jadi orang," ucap perempuan muda itu yang baru ku tahu namanya adalah Tiara.
" Kenapa? memang benar kan, rumah ini adalah milikku, sebagai mahar yang di berikan oleh mas Agam, dan sertifikat nya juga atas nama ku," ucapku tak kalah sengit. Tiara pun kaget dengan mulut terbuka.
" Tutup tuh mulut, bau .....!" Ucapku pada Tiara, sambil mengibaskan tanganku.
" Dan dengar satu hal lagi Oma yang terhormat, aku tidak akan pernah mengijinkan manusia-manusia yang berniat merusak rumah tangga ku tinggal dalam istana ku ini! Apalagi ini,perempuan da'jul satu ini Bibit-Bibit Pelakor," ucapku marah.
" Loh ada nenek Dian, ada apa ya nek kesini? acara nikahan saya kan kemaren, bukannya nenek Dian datang malah nyamperin saya kesini, Aneh sekali!" Ucap suamiku.
" Oma, Agam, panggil aku Oma, walau bagaimanapun aku ini masih kerabat kamu, kakaknya Oma kamu, maaf ya Oma kemaren gak datang ke nikahan kamu, Oma gak nyangka aja kamu bisa nikah sama janda, udah punya anak pula, apa sih yang kamu lihat dari janda itu, padahal nih lihat Tiara, yang lebih segalanya dari istri kamu yang sekarang. "
" Oma saya udah meninggal, dan maksud nenek apa bilang begitu, nenek ingin menghina istri saya? " ucap mas Agam mulai terpancing, aku membiarkan saja melihat nenek lampir itu membuka busuk nya dia.
" Ya... Pokoknya Oma gak suka kamu nikah sama janda ini, lebih baik Tiara kemana-kemana, kamu gak katarak kan kalo ngeliat orang Agam?"
" Oma... Daripada saya bicara kasar sama Oma, lebih baik Oma pulang bawa Tiara keluar dari sini!" Ucap mas Agam kasar.
" Mas, Kamu mengusir kami? kamu berubah semenjak menikah dengan janda ini, mana hormat kamu sama orang tua? " Ucap Tiara .
"Cukup kamu menghina istri saya! Kalo kamu ingin di hormati, kamu harus menghormati orang lain dulu! sekarang mending kamu keluar!" ucap mas Agam masih menahan amarahnya, aku hanya menyaksikan drama ini.
" Agam, Oma sama Tiara akan tinggal disini, Mulai hari ini sampai waktu yang tidak di tentukan."
" Gak bisa nenek, rumah istriku ini bukan hotel, silahkan tinggal di tempat lain!" ucap mas Agam masih mode sabar.
__ADS_1
" Mbokkk.... Tolong panggil satpam di luar, lalu mbok bantu antarkan ibu dan cucunya ini keluar dari rumah, saya dan istri saya mau istirahat," ucap mas Agam lalu memegang tanganku untuk mengikutinya. Kami pun meninggalkan nenek dan cucunya tersebut berdua, tak perduli apakah mereka akan tersinggung atau tidak.
" Agam tunggu, Kamu kurang ajar sekali sama Oma kamu ini.... AGAAAMMM! " teriak nenek lampir yang masih bisa ku dengar, suaranya kenceng juga kaya toa mesjid.
" Yank itu gak apa-apa nenek kamu di gituin? tar dia nangis loh di jalan," Ucapku pura-pura kasian.
" Biarin aja dah, Males biar lepas dari keluarga toxic kaya gitu, mereka itu racun di keluargaku dari dulu, selalu berusaha untuk ngerecokin masalah harta yang bukan milik mereka, kamu harus hati-hati yank sama yang namanya Tiara itu, wanita licik dan akan melakukan apa pun demi tujuannya," ucap mas Agam yang ku dengarkan baik-baik. Kami pun masuk ke dalam dan melihat Arka malah sedang ketawa-ketawa main sama mba sus nya.
" Ia juga sih, susah juga ya, Kalo punya suami tampan dan mapan, Banyak ulet bulu ngedeketin," ucapku menggoda suamiku yang tampan ini.
" Hehehehe, satu hal pasti, aku cintanya sama kamu dan bakalan jagain kamu dan anak kita Arka," ucap mas Agam so sweet, aku pun meleleh di buatnya.
_____&&&
" Kurang ajar memang si Agam itu, makin berani dia ngelawan Oma," ucap Oma Dina yang sudah di luar pintu rumah Agam karena di tarik paksa oleh security rumah beserta Tiara dan kopernya.
" Ia Oma, Rencana kita gimana dong? padahal aku udah menghayal tinggal di rumah besar itu Oma, Pokoknya aku harus dapetin Agam Oma, " Ucap Tiara merengek seperti anak kecil dan masih saja tidak sadar bahwa mereka berkeluarga.
Drt...drt....drt...
" Bentar Oma ada telepon dari mamah." Ucap Tiara mengangkat HP yang berbunyi di saku celananya.
[ Halo mah... Kenapa ?]
[ Gawat Tiara, Kamu harus pulang sekarang! Papah di pecat sama Agam, papah ketahuan korupsi, Dan mau di laporkan ke penjara semua aset kita akan di sita Tiara, Hiks... Hiks... Mamah gak mau jadi miskin Tiara, mamah gak mau keluar dari rumah ini ]
" MAMAH BERISIK, Lagian papah Kok bisa ketahuan sih mah, gimana sih papah? Bodoh banget, mana aku gagal dapetin Agam, Akhhh, kurang ajar semua ini gara-gara si janda itu ]
[ Sembarang kamu bilang papah kamu sendiri bodoh, kamu malah tambah begok, Dapetin Agam aja gak mampu! ]
[Ok. aku akan pulang sekarang sama Oma, tunggu di rumah, jangan bunuh diri! ] ucap Tiara yang langsung menutup teleponnya secara sepihak.
" Ayo Oma kita cabut dulu dari sini," ucap Tiara.
" Kenapa emangnya Tiara? Ada apa sama papah kamu?"
" Papah di pecat Oma, karena ketahuan korupsi, dan semua aset kami akan di sita, buat bayar kerugian Agam di perusahaan, Oma, aku gak mau jadi orang miskin, " Ucap Tiara.
" Gimana sih tuh si Agam, seharusnya maafin aja sih, toh kan keluarga sendiri, om nya sendiri, tar Oma telepon si Bram sama Lisa di Bandung, sekalian akan Oma aduin kelakuan menantu mereka yang janda itu," ucap Oma Dian yakin.
__ADS_1
" Ya udah Oma kita pulang dulu ke rumah, mamah nangis-nangis soalnya, " ucap Tiara yang langsung masuk kedalam mobilnya, security pun membukakan gerbang pintu, agar mobil Tiara bisa keluar dari rumah ini.