
"Nih si Arka kemana sih? Di teleponin dari tadi gak di angkat-angkat. Apa Nissa gak ngebolehin Arka buat bicara sama aku ya" ucap Herman termenung sambil menatap HP nya. Sekali lagi Herman mencoba untuk menghubungi Arka, tapi tetap saja tidak di angkat-angkat
"Akh sial!" Geram Herman sambil meremas HP nya.
Herman pun melempar HP nya kasar dan mencoba untuk tidur, karena hari sudah malam.
Saat di ruangan Arka pun melihat HP nya. Seketika Arka mengernyitkan dahinya melihat begitu banyak panggilan dari Bapaknya, tapi Bapak tidak mengirimi dia pesan.
"Ngapain Bapak nelpon terus, Akh... palingan mau minta duit kalau nelponnya sebanyak ini!" ucap Arka yang kembali memasukan kembali HP nya. Arka pun kembali fokus ke layar laptopnya.
Tok...Tok...Tok...
"Silahkan masuk!" ucap Arka tanpa melihat seseorang yang masuk.
"Bang... Kita balik kapan ke indo bang?" Tanya Rayyan.
"Mungkin tiga hari lagi, Kenapa emangnya Rayyan?"
"Besok aja yuk Bang!"
"Emangnya ada apa sih, kamu minta buru-buru pulang?"
"Jadwal presentasi gue di majuin bang lusa besok Rayyan harus pulang ke indo"
"Ya sudah, kita mau naik pesawat Papah apa komersil?"
"Komersil aja kali ya bang"
"Serius mau yang Komersil, gak khawatir di goda Tante girang lagi?"
"Ia juga ya. Tapi kalau pakai pesawat Papah, takutnya mau di pakai Papah"
"Coba tanya dulu ke Papah, ia mau pulang kapan? terus kalau gak pulang cepet kita pakai pesawat Papah. Papah membutuhkan gak pesawat disini."
"Ia bang.. tar adek tanyain" sahut Rayyan
Drt...drt...drt....
"Siapa Bang itu yang telepon? kok kenapa gak diangkat bang?"
"Biasa Bapak Herman, males sekali Abang mengangkatnya. Harusnya dia itu tidur, Di sana kan sekarang malam. Selalu Aneh-aneh aja dia mah"
"Angkat aja bang, tar Rayyan yang ngomong deh, sekalian di loud speakerin ya bang"
"Ya sudah" ucap Arka yang langsung mengangkat telepon dari Herman.
[ Halo.... Ka, Kamu kemana aja Ka? kenapa telepon Bapak gak diangkat-angkat? Di sana sekarang siang bukan? kamu gak lagi tidur kan? apa Mamah kamu gak bolehin kamu buat angkat telepon dari Bapaknya sendiri? ]
__ADS_1
[ Waalaikum salam.. maaf Pak Herman, bang Arka nya lagi ke toilet. Ada perlu apa ya? dan kenapa Pak Herman nyalahin Mamah saya, urusannya apa sama Mamah saya? Mamah saya aja gak pernah tau kalau Pak Herman sering telepon bang Arka ] ucap Rayyan merasa sedikit terganggu karena Herman menyalahkan Mamahnya.
[ Ekh... Ini siapa ya? ] tanya Herman yang tidak mengenali suara Rayyan.
[ Saya Rayyan, adeknya bang Arka ] ucap Rayyan dingin.
[ Oh ... nak Rayyan, maaf nak Rayyan bukannya bapak nyalahin bapak kamu. Bapak takut aja, kalau Mamah kamu ngelarang Arka buat nemuin saya ayah kandungnya ]
[ Maaf ya Pak, Mamah saya itu bukan orang yang picik apalagi punya pikiran jahat seperti itu. Mamah saya hanya melindungi anaknya karena takut di manfaatkan oleh orang lain. Jadi tolong bedakan antara dua hal tersebut dan satu hal lagi, bang Arka sedang sibuk kerja di perusahaan Papah yang ada di Amerika, jadi belum bisa menerima telepon jika gak ada hal yang penting dibicarakan, sekarang saya akan tutup teleponnya ]
[ Tunggu dulu Nak Rayyan. Jadi Arka gak bakalan pulang lagi ke Indonesia. Terus gimana dengan usahanya yang di Tasik ] ucap Herman.
[ Kenapa bapak malah mempertanyakan usaha Abang Arka yang di Tasik? Bang Arka sudah menyerahkan urusannya dengan orang kepercayaannya kok Pak Herman tenang-tenang saja. Oh ia lupa bang Arka juga bakalan kuliah disini, jadi akan lama kembali ke Indonesia lagi ]
[ Kenapa gak di serahkan saja ke Bapak? untuk mengelola Supermarket besar itu, Malah di serahkan ke orang lain. Seharusnya Arka menyerahkan jabatan Arka sama saya, Bapaknya sendiri! apa Arka tidak takut uangnya di bawa kabur sama orang lain?"
[ Justru terkadang lebih jujur orang lain di bandingkan keluarga sendiri. Kalau tidak ada yang mau di bicarakan lagi saya permisi ya, Assalamualaikum ] ucap Rayyan yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Bapak lu bang! Gak ada obat emang gilanya" Ucap Rayyan yang kesal dengan ucapan Herman.
"Yah begitulah..." Ucap Arka biasa saja.
"Dia sering ngerecokin Abang ya?"
"Gak juga sih, Cuma kadang kalau gak warasnya lagi kambuh ya gitu deh suka bicara yang gak jelas dan ngelantur"
"Bisa jadi!"
"Ya sudah gue mau balik ke ruangan Papah ya bang. Kalau misalkan jadi pulang, Abang harus temenin aku pulang dulu ke indo ya?"
"Ia...Abang juga mau ngurusin surat pindahan, sama kasih amanah ke pak Budi. Kalau untuk beberapa tahun ke depan, akan ada kamu, kalau enggak Papah atau Mamah yang bakalan cek keadaan toko." Ucap Arka yang masih mengetik laporan di laptopnya.
"Ok bang, gue keluar dulu ya bang" Ucap Rayyan yang langsung keluar ruangan Arka dan beralih ke ruangan Papahnya.
Sementara itu
"Tadi itu yang jawab telepon saya si Rayyan adek tiri nya si Arka, gak sopan banget sih, didikan si Nissa emang ga bener! Anak udah gede kaya gitu aja gak bisa sopan sama yang lebih tua" Kesal Herman yang masih melihat HP nya.
"Udah bangun malem-malem. Sengaja biar teleponan sama si Arka ekh malah mendengarkan ucapan pedas. Mending aku chat aja si Arka, seenggaknya dia baca nanti" Herman pun langsung mengetikan apa yang ingin dia bicarakan dengan Arka.
{ Nak... Bapak rencananya nanti Jumat, Sabtu dan Minggu mau ke solo. Bapak Mau ngelamar calon ibu sambung kamu yang baru. Tapi Bapak perlu bantuan kamu.m, Mungkin kamu mau nyumbang Nak, 10 juta aja buat ongkos sama seserahan, sedikit lah uang segitu buat kamu Nak. Bantu bapak ya!?} send ... Herman pun segera mengirim text message tersebut ke HP Arka.
'Semoga di baca sama dia. Langsung tidur aja lah' ucap Herman dalam hati. Herman pun segera kembali merebahkan badannya dan menarik selimut nya.
Arka melihat kiriman chat dari bapaknya, langsung menghembuskan nafasnya kasar.
"Ya Allah... Maafkan hamba yang selalu mengeluh karena sikap Bapak hamba ini yang di luar nalar." Ucap Arka. Arka pun membalas chat dari Bapaknya.
__ADS_1
{ Maaf pak, Arka belum punya uang sebanyak itu. Uang Arka akan Arka gunakan untuk kuliah di MIT. Kan bapak yang mau nikah, Kenapa harus Arka yang menanggung biaya seserahannya. Bapak juga pasti punya uang kan dari gaji Bapak? } send... Arka mengetikan balasan untuk Bapaknya lalu memblokir kontak Bapaknya untuk sementara waktu saja, karena malas selalu saja di recokin terus. Arka pun kembali menjalankan pekerjaannya yang di tugaskan oleh Agam.
Keesokan harinya...
Herman pun bangun seperti biasa jam 6 pagi. Bahkan selama ini Herman jarang sekali melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu melaksanakan sholat 5 waktu.
Herman segera mengambil HP yang ada di nakas dan melihat balasan dari Arka. Saat membaca balasan tersebut. Herman begitu kesal dan langsung meremas HP nya.
"Akh... Gimana sih nih anak, Gak ada bakti-baktinya sama Bapak sendiri, masa dia kuliah dia yang bayar. Buat apa coba punya Papah dan Mamah kaya kalau dia sendiri yang harus bayar. Gimana sih nih si Arka? susah banget ngebantu Bapak sendiri!" ujar Herman misuh-misuh. Herman pun mencoba menghubungi Arka lagi, dia bahkan tidak perduli waktu saat menghubungi Arka. Tapi telepon sama sekali tidak bisa tersambung terus saja memanggil. Herman bahkan tidak sadar kalau foto profilnya Arka sudah kosong.
"Sial! Pakai acara gak aktif lagi. Gimana ini ya? mana waktu tinggal besok aja hari Kamis, Apa aku pakai tabungan aku aja ya? Uang hasil penjualan perhiasannya si Kokom, cuma itu satu-satu nya uang yang aku punya sekarang." Gumam Herman.
"Mending mandi dulu aja lah, sama bikin sarapan biar gak mumet" Herman pun langsung bangun dari kasur empuknya dan keluar dari kamar.
__&__
Kokom yang terbangun jam 6 pagi langsung terperanjat dan terburu-buru untuk ke kamar mandi. Mandi cepat hanya lima menit membuat wajah Kokom masih lapuk dan tidak bercahaya, karena muka kokom tidak memakai sabun. Kokom mandi Koboy, Hanya mandi air dan tidak memakai sabun sama sekali. Setelah mandi lalu Kokom membangunkan Nita yang sedang tertidur pulas.
"Nit, Bangun Nit" Kokom terus saja menggoyangkan tangan dan badan Nita agar ia terbangun.
"Kenapa Mah? ini kan masih pagi!" Ujar Nita sambil mengucek matanya.
"Ayo bangun! terus mandi sana, kita ke rumah bapak Herman. Mamah mau ngajak survey sekarang, sekalian bawa peralatan niti" Ujar Kokom yang membuat Nita langsung terbangun dari tidurnya.
"Serius Mah, mau di kerjain sekarang"
"Ia mangkanya ayok! kamu mandi, habis itu kita langsung pergi. Sarapannya di jalan aja nanti sambil merhatiin kegiatan Bapak kamu. Biasanya nya si Bapak berangkat jam 7 pagi, ini udah jam 6 lewat lima belas menit. Ingat kamu Mamah kasih waktu buat mandi cuma 5 menit." Ujar Kokom membuat Nita membelalakan matanya.
"Lima menit Mah? Yang bener aja, sikat gigi doank itu mah, bukan mandi!" terserah, cepetan tar kita ketahuan sama bapak kamu lagi mantau rumahnya! Mau kan kamu punya duit banyak?" Ujar Kokom.
"Ya udah deh, demi uang banyak. Kucel dulu penampilan gue pagi ini." Ujar Nita yang langsung bangun dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Nita benar-benar melakukan kegiatan bersih bersih nya hanya lima menit. Karena Kokom menunggunya di luar kamar mandi. Dengan wajah yang masih di tekuk, Nita keluar kamar mandi dan menuju kamarnya untuk mengganti baju. setelah mengganti baju, Nita dan Kokom pun keluar rumah dengan menggunakan sepeda motor Nita menuju rumahnya Herman. Saat sampai di rumahnya Herman, Nita dan Kokom pun mencari tempat yang bisa memantau rumah Herman tanpa di kenali dan sangat tersembunyi.
"Masa kita sembunyi disini sih Mah? Di belakang tempat sampah mana bau banget" ujar Nita yang mencubit idungnya karena bau sampah.
"Udah bentaran aja kok. Nah itu dia Bapak kamu udah berangkat" ujar Kokom menunjuk Herman yang sedang mengambil motor dari garasi sebelah rumahnya.
"Ia Mah. Cepetan kek Bapak pergi, biar kita bisa masuk ke dalam, tapi motor Nita gimana ya Mah?"
"Taro di belakang rumah Bapak aja. Ayok! Buruan bapak udah pergi. Mumpung gak ada orang lewat juga" ucap Kokom. Nita pun menyalakan mesin motor dan membonceng Kokom menuju rumah Herman yang memang tidak ada pagarnya, motor Nita pun melaju ke belakang rumah Herman. Memang pagi- pagi seperti ini area perumahan sepi. Karena kebanyakan masih mengurusi urusan rumah.
Motor pun di taruh di belakang toren air. agar tidak terlihat. Kokom dan Nita pun menghampiri jendela yang terlihat rapat.
Nita pun mencongkel jendela tersebut menggunakan obeng bermata pipih. Dan krek dapat di buka. Benar saja jendela itu tidak terkunci. Nita pun membuka jendela dan mencoba naik untuk masuk ke dalam rumah. Di ikuti dengan Kokom yang masuk ke dalam rumah, setelah itu Kokom pun menutup jendela itu lagi.
"Nit, Selamat datang di rumah!" ucap Kokom sambil melihat ke arah rumah yang sudah lama dia tinggali tapi terpaksa dia tinggalkan.
__ADS_1