
[ Bukan begitu Nak. Bapak bukan nyalahin orang tua kamu. Bapak cuma mau ngingetin sebaik apapun Papah kamu sekarang, ayah kandung kamu itu bapak bukan si Agam itu, jadi kamu tetep harus nurut dan hormat sama Bapak ] ucap Herman.
[ Oh jadi begitu, Bapak ingin aku nurut sama Bapak. Bapak emang ayah kandung aku, tapi dimana Bapak selama ini Selama 22 tahun ini Bapak pun baru datang baru+ baru ini, itu pun karena tau aku akan membangun Mall di daerah Tasik. Dan sampai saat ini pun Bapak hanya ingin merongrong dan meminta uang kepadaku, pernah gak Bapak nanyain Kabar aku, sehat apa enggaknya, udahlah Pak, aku lagi di jalan lagi nyetir, jangan ganggu aku dan jangan ke Mall aku lagi. Dan ingatkan juga mantan istri Bapak itu. Kalau kalian sampai bikin rusuh di Mall aku lagi, Jangan salahkan aku, kalau aku memasukan kalian semua ke penjara ] marah Arka. Dan langsung saja Arka mematikan sambungan teleponnya.
Tut...tut....Tut...
"Arka.. Arka... Akh... Kurang asem, pake di tutup segala! punya anak satu susah banget nurutnya sama orang tua" ucap Herman.
"Tapi kayanya dia udah balik ke Indonesia deh, dia bilang tadi lagi nyetir, berarti bener! besok abis kerja aku bakalan ke Mall Arka aja, siapa tau aja ketemu. Baguslah jikalau ketemu Arka, jadi pegawai sana bakalan segan sama aku, karena aku itu saudara nya Arka, walaupun sebenarnya aku adalah ayah kandung bos mereka, seharusnya aku yang ada di posisi Agam saat ini. Bahagia dengan istri dan anakku. Hidup bergelimang harta, Gak bakalan pusing setiap bulannya masalah kebutuhan sama cicilan, naik turun mobil kaya dulu, kurang ajar emang! semua ini karena Fina sama si biang kerok Agam, kalau aja dia gak ngelamar Nissa, aku pasti masih bisa rujuk sama Nissa" geram Herman sembari ia mengepalkan tangannya kesal, dia pun kembali ke rumahnya karena hari ini Herman kembali tidak bekerja untuk merapihkan rumahnya yang masih berantakan. Karena tidak ada satu orang pun yang membantu Herman dari kemarin, bahkan Putri yang ingin membantu Herman pun di larang Herman, karena Herman pikir, dia bisa memanfaatkan Arka untuk mengambil furniture dari Mall nya. Ternyata dugaannya salah besar.
Herman yang masih pusing pun hanya membereskan kamarnya dari kemaren. Karena dia kebanyakan tidur dan diam, Herman pun duduk di sofa yang sudah rusak tersobek. Dia bisa saja membeli semua furniture dan perlengkapan baru. Karena dia mempunya uang dari hasil penjualan emas nya Kokom, tapi dasar Herman orang yang terlalu berhemat, dan maunya gratisan makanya Herman ingin meminta Arka saja.
Herman pun mengeluarkan HP nya dan mengambil gambar keadaan rumahnya yang tampak berantakan, serta mengambil gambar furniture dan TV nya yang rusak lalu mengirimkan gambar tersebut ke no nya Arka.
( Ka... Bapak minta maaf! Bapak janji gak akan menyalahkan kedua orang tua kamu lagi, Bapak hanya ingin minta tolong kamu ka. Bapak ini habis kemalingan ka, barang-barang Bapak semuanya rusak. Tidak ada yang tersisa, Bapak minta bantuan kamu ka, untuk mengganti sofa dan TV saja ka, tidak banyak kok ka ) send chat pun terkirim beserta gambar yang di ambil oleh Herman.
"Semoga aja Arka bisa luluh setelah melihat gambar yang aku kirim dan mau memberikan apa yang aku butuhkan" Ujar Herman. Ia pun langsung membersihkan rumahnya dengan malas.
Di sisi lain Arka sedang berusaha untuk mengatur emosi dan kemarahan nya karena Bapak kandung yang tidak tau malu itu.
"Astaghfirullah ya Allah maafkan hamba yang dosa ini, hamba masih belum bisa terima semua ini ya Allah maafkan hamba" Arka berdo'a dan dia pun menghembuskan nafasnya perlahan beberapa kali untuk mengatur emosinya yang mulai stabil.
Teng....
Arka mendengar suara chat masuk dari HP nya, dia pun membuka HP nya dan melihat ternyata Bapaknya yang mengirim pesan. Arka mengehembuskan nafasnya kasar. Dia pun malas membalas pesan Bapaknya itu. Karena emosi dan hatinya sudah tenang, diapun kembali melanjutkan perjalannya ke arah Mall Earth.
Setelah sampai di Supermarket EARTH. Para karyawan Arka langsung menunduk hormat kepadanya. Arka pun menghampiri resepsionis dan menyerahkan dua paper bag yang berisi oleh-oleh dari Amerika sana, sang resepsionis pun bingung dan menerima paper bag tersebut.
"Bagiin ke karyawan di lantai ini ya. Masing-masing 1" ucap Arka yang langsung pergi meninggalkan resepsionis nya tersebut dengan tatapan bingung.
"Anjay si Bos ganteng dari Amerika bawa oleh-oleh kaos keren," ujar resepsionis tersebut.
__ADS_1
Arka pun melangkahkan kakinya ke lift dan langsung naik ke lantai di mana ruangannya berada, dia pun keluar dari lift dan melangkahkan kakinya ke ruangan Pak Budi.
Arka pun mengetuk pintu Pak Budi dan ada suara dari dalam yang menyuruh nya masuk.
"Siang Pak Budi. Sibuk nih kayanya?" ujar Arka yang melihat Pak Budi sedang melihat begitu banyak berkas yang ada di depannya.
"Pak Arka... Gimana acaranya di Amerika lancar Pak?" Ucap Budi yang datang menghampiri Arka.
"Mari Pak Arka kita ngobrol di kursi" ucap Budi, Arka pun mengikuti Budi duduk di sofa yang di khususkan untuk tamu.
"Alhamdulillah lancar Pak Budi, jangan panggil saya Bapak lah Pak, sayanya gak enak" ujar Arka terkekeh.
"Panggil apa dong?"
"Arka aja Pak, biar lebih akrab" ujar Arka.
"Oh ia Pak Budi, sekalian aku datang kesini mau pamit untuk sementara."
"Maksudnya gimana ka?" ujar Budi bingung.
"Jadi kamu mau menetap di Amerika? lalu disini gimana?"
"Saya menyerahkan kepemimpinan ini sama Bapak ya Pak. Karena saya yakin Bapak orangnya amanah dan jujur, ya mungkin nanti Mamah atau kalau enggak Papah akan ke sini sebulan sekali untuk datang berkunjung."
"Saya sebenarnya juga bingung bagaimana menanggapinya, tapi ini adalah impian kamu ka. Dan terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan kepada Bapak, insya Allah Bapak akan menjaga amanah ini sama kamu. Dan makasih banyak udah nempatin disini, Nak Arka jadi LDR an lagi sama keluarga" ujar Budi. Serak seperti ingin menangis.
"Ia Pak. Menjadi Arsitek adalah mimpi saya dan setelah saya mempelajari semuanya di Amerika dan di perusahaan Papah yang ada di Amerika berhubungan dengan Arsitek, saya menjadi bersemangat untuk menjalankan semuanya."
"Bapak hanya mendoakan yang terbaik untuk mu Nak Arka, kamu anak muda yang hebat dan cerdas. Pastinya Pak Agam dan Bu Nissa sangat bangga padamu"
"Ia pak Budi terima kasih. Dan satu hal lagi Pak Budi. Pak Budi bisa perhatikan orang- orang yang akan saya tunjukan" ujar Arka yang mengeluarkan HP nya dan membuka galeri foto.
__ADS_1
"Ini Pak... Tiga orang ini, mungkin Pak Budi pernah melihat mereka datang kesini. Dan mengaku sebagai saudara saya. Jangan perdulikan ya Pak. Dan jangan berikan apa yang mereka mau jika mereka mau gratisan, sesuai peraturan disini saja, dan jika mereka bertiga berbuat onar di sini lagi, langsung saja laporkan ke Polisi biar mereka jera" ujar Arka. Budi pun melihat ke tiga orang yang ada di Video tersebut.
"Ia dua wanita ini, Nak Arka yang Bapak ceritakan kemaren yang membuat keributan di sini, sehingga menganggu aktivitas pengunjung yang lainnya"
"Lain kali, langsung saja seret mereka dan laporkan saja mereka ke Polisi" ujar Arka kesal.
"Baik Nak Arka saya akan memberitahukan kepada semua staf yang ada di gedung ini, bahkan kepada semua tenant"
"Baik Pak, saya kirim gambarnya ke Bapak ya"
"Ia Nak Arka nanti saya akan print yang banyak agar para pegawai disini bisa melihat wajah mereka semua di Mading masing-masing" ujar Pak Budi, lalu Arka pun mengirimkan gambar Herman, kokom, dan Nita ke chat nya pak Budi.
"Ya sudah Pak, Saya mau jalan lagi ke Bandung, kalau ada apa-apa, Bapak telepon Papah saya aja ya, mungkin sementara ini no saya akan saya non aktifkan karena saya akan serius belajar, agar cepat lulus nantinya" ujar Arka.
"Ia ... Selamat sekali lagi Nak, sukses dan sehat selalu" ujar Pak Budi. Arka dan Pak Budi pun berjabatan tangan, setelah itu Arka pun keluar dari ruangan Pak Budi. Setelah itu Pak Budi menghampiri meja kerjanya lalu menelpon semua divisi manager untuk naik ke atas.
Setelah semua divisi Manager berkumpul di ruangannya Pak Budi. Beliau pun bangun dari kursinya dan mulai mengutak-atik HP-nya. Pak Budi mengirimkan gambar di group.
"Saya telah mengirimkan sebuah foto di group, tugas kalian print foto tersebut lalu taruh di Mading kita yang banyak, Serta bagikan ke setiap tenant yang ada di Mall ini, dan jika dari ketiga orang yang ada di gambar ini berkunjung dan berbelanja ke sini, perhatikan saja dari jauh. Tapi ketika ketiga orang ini membuat keributan seperti kemaren, langsung saja seret ke ruang Security dan laporkan ke Polisi biar mereka jera, kalian semua paham!" ujar Budi tegas.
"Paham Pak!" kompak semua divisi Manager.
"Ya sudah kalian semua bisa kembali bekerja!" ujar Budi. Para staf divisi Manager pun keluar dari ruangannya Budi. Dan berbarengan menuju ke bagian Supermarket, Karena kantor gedungnya berada di samping Mall, Budi pun melanjutkan lagi pekerjaannya.
Sementara itu...
Herman yang sedang membersihkan rumahnya pun tidak tenang, karena bulak- balik Herman mengecek HP nya tetap saja, tidak ada balasan dari Arka, chat Herman hanya di baca tanpa ada tanda- tanda Arka ingin membalas chat Herman tersebut.
Herman pun menjadi kesal sendiri, akhirnya dengan sangat terpaksa Herman mencoba menghubungi Arka, tapi hasilnya nihil. Arka sama sekali tidak bisa di hubungi, tulisannya selalu memanggil.
"Ini kenapa sih? si Arka balik lagi susah di hubungi! Giliran orang tua minta tolong susah banget. Pasti ini karena pengaruh Nissa dan Agam saat Arka di luar negri. kurang asem memang mereka berdua ingin menguasai Arka sendirian saja." ujar Herman.
__ADS_1
Herman pun sekali lagi menelpon Arka tapi hasilnya masih sama, sampai saat Herman melihat kalau profil chat Arka menghilang tidak seperti kemarin.
'Apa si Arka ngeblokir gue?' Tanya Herman dalam hatinya.