
POV Author
" Kalian berlima lebih milih keluar dari perusahaan ini tanpa pesangon dan secara tidak hormat, atau lebih memilih masuk penjara " ucap Bu Mina dingin.
" Maksudnya kami semua di pecat, gak bisa kaya gitu dong Bu, mencapurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan, saya gak terima jika di pecat begitu saja, saya tidak merasa merugikan perusahaan Bu, apalagi tanpa pesangon, saya ini statusnya karyawan tetap, main pecat-pecat aja, mau kami adukan ke badan perlindungan kerja! "ujar Popi songong membalas tatapan dingin ibu Wina.
" Oh silahkan pihak kantor tidak akan memecat kalian, tapi kalian siap siap aja di laporkan ibu Nissa atas tuduhan pencemaran nama baik, apalagi kejadian kemaren di lakukan di depan orang banyak, dan pastinya membuat opini publik yang tidak benar, dan ketika kalian masuk penjara otomatis kalian tetap akan di pecat karena perusahaan berhak memutus karyawan yang berhubungan dengan masalah hukum, bukannya kamu tau itu sodara Popi ".
" Tapi kan kami semua gak salah, kam hanya mengungkapkan kebenaran, dan fakta si Nissa nya aja yang lebay gitu doank pake di permasalahkan kata baik dan dermawan apa apaan ".
" Capek saya ngomong sama muka tembok kaya kamu udah tau salah tapi ngeyel, terserah kamu Popi, tinggal tungguin aja surat panggilan dari kantor polisi kalo kamu tidak mau mengundurkan diri " ucap Bu Wina geram melihat tingkah Popi yang semakin menjadi, dan merasa tidak bersalah sedikitpun. Tapi berbeda dengan Lusi, Nanda , dan Sinta, muka mereka sangat pucat pasi, dan takut sekali di pecat dari perusahaan ini, apalagi ada rumor jika di pecat dari perusahaan ini secara tidak hormat maka akan di Blacklist di perusahaan manapun.
" Bu rumah Bu Nissa Bu di mana Bu, atau saya minta no teleponnya bu, saya akan minta maaf Bu, saya gak mau di pecat dan di penjara " ucap lusi segera sadar dari kesalahannya karena takut di keluarkan apalagi sampai di penjara.
" Ia Bu saya juga..... " Ucap Nanda ikut-ikutan
" Ia Bu saya juga Bu mau minta alamatnya rumahnya, walaupun saya gak ngomong apa- apa di sana kemaren cuman ikut-ikutan doang, "ucap Santi.
" Kalian ini apa-apaan sih.... Kenapa malah kaya gini, semalem aja paling depan ngehujat Nissa, sekarang malah melempem..... Pokoknya Bu Wina harus adil terhadap kami, saya tidak mau di pecat apalagi di penjara Bu, karena saya merasa tidak bersalah jika apa yang kami tuduhkan nyatanya salah, harusnya yang di hukum itu adalah Herman karena telah menyebar berita bohong dan memprovokasi kami, enak aja jadi kena getahnya kaya gini ". Ujar Mila dengan marah, dengan suara lantang, apa dia tidak sadar sedang berhadapan dengan petinggi perusahaan.
Bruuukkkkk
" Kamu siapa berani membentak saya HAH, udah tau salah malah makin gak tau diri kamu Mila.... Kamu itu udah ngehina orang nyebarin berita hoax, mempermalukan orang di khalayak ramai, kamu pikir orang gak sakit hati... kamu pikir Nissa bakalan diam aja, kalian ini emangnya siapa, bisa menghina kaya Nissa kaya gitu, kalian tidak tau siapa Nissa, keluarga Nissa salah satu pemasok bahan baku sawit di perusahaan ini, dan harta Gono gini yang kamu sebutkan tadi semua itu milik Nissa, sebelum dia menikah dengan Herman, lagian berani sekali kalian cuman Staf biasa menghina Direktur keuangan kaki tangan langsung pemilik perusahaan ini.
KALIAN PIKIR KALIAN INI SULTAN HAAAAA, ATAU RATU ELISABETH, PUNYA DUIT BERAPA BANYAK BERANI NGEHINA ORANG BERKUASA, PIKIR PAKE OTAK KAMU MILA.... POPI.... YANG SEGEDE JAGUNG ITU JANGAN CUMAN JADI PAJANGAN DOANK. KAMU JANGAN BADAN AJA YANG DI GEDEIN.... BEDEBAH KALIAN BERDUA UDAH SALAH BUKANNYA MINTA MAAF MALAH, GAK TERIMA " ucap Bu Wina menggebrak meja sekali lagi karena sudah kehilangan kesabarannya,.
" Keluar kamu Popi.... Mila... Disini saya melihat ternyata attitude kalian sungguh minus, dan itu bisa menjadi acuan untuk memecat kalian secara tidak hormat dari perusahaan.... KELUARRRR ". Ucap Bu Wina dengan suara keras membuat mereka semua kaget, Popi dan Mila pun langsung pergi begitu saja tanpa pamit dan menutup pintu dengan kencang.
JEBRAGGGG.
" Astaghfirullah saraf kali ya mereka berdua, dan untuk kalian bertiga jika ingin ada itikad baik meminta maaf dengan Nissa silahkan, saya akan berikan alamatnya, setelah Bu Nissa menghubungi saya bahwa telah memaafkan kalian, baru kalian akan saya berikan peringatan yang pertama agar membuat kalian jera.... Kalian bertiga mengerti kan " ucap Bu Wina
" kami mengerti Bu " ucap serempak Nanda, Santi, Lusi.
__ADS_1
Sementara itu Mila dan Popi malah semakin bersungut-sungut membenci Nissa, bahkan sama sekali tidak sadar dan sudah buta, karena mereka menyukai Herman, jadi walaupun dalam hal ini Herman salah, tetap mereka tidak akan menyesal dan menyalahkan Herman, Mila dan Popi pun langsung ke ruangan mereka dan duduk di meja masing- masing, dan tak ingin perduli tentang resign dan surat penangkapan dari penjara, karena mereka berdua berpikir itu hanya gertak sambal si Nissa saja, karena kan Nissa orang lemah. Sementara wanita yang masih tersisa di ruangan Bu Wina langsung menuju ke kediaman Nissa, karena sebelumnya Bu Wina telah menghubungi Nissa, tentang ada yang ingin meminta maaf, dan karena Nissa orang yang baik hati, mereka hanya di minta untuk datang ke kediaman Nissa sekarang juga untuk meminta maaf, maka dari itu Bu Wina menjelaskan kalo Nissa hanya ingin permintaan maaf secara langsung dan menjelaskan akar permasalahan yang terjadi jika mereka tidak meminta maaf, mereka berlima akan di somasi 1 x 24 jam untuk meminta maaf secara langsung ke rumah Nissa, setelah di jelaskan Lusi, Nanda, dan Sinta langsung saja gercep meminta ijin setengah hari kerja untuk menuju ke kediaman Bu Nissa,. Biar mereka tidak di laporkan Polisi dan ataupun di pecat, lagi pula mereka tidak ingin mempunyai musuh orang yang berkuasa, mereka bertiga hanya ingin kerja dengan damai dan mendapatkan gaji setiap bulannya.
Sementara itu.... Di lain tempat nasib buruk sepertinya sedang menimpa Herman kali ini, karena dia bukan mendapatkan kemarahan dari ibu HRD. Tapi langsung dari orang paling kejam dan sadis di perusahaan ini, sang pemilik perusahaan pak Boy, yang terkenal dingin, dan tanpa ampun dalam memberikan hukuman bagi siapa saja yang menurut dia salah, siapapun itu tanpa kecuali termasuk keluarganya sendiri, karena didikan dari seorang ayah tentara, didikannya keras itu kini dia terapkan dalam membangun bisnis raksasa nya yang sekarang paling sukses di kota ini, tapi pak Boy akan berubah menjadi orang yang sangat royal dan baik hati kepada siapapun yang menurut dia pantas, pintar dan tegas seperti dirinya, dan kali ini yang menjadi mangsa nya adalah Herman.
" Selamat pagi pak, bapak memanggil saya, "ucap Herman dengan gugup, karena melihat aura bos yang sangat menyeramkan.
" Duduk kamu....."
" Ia pak"
" Saya heran kenapa manusia macam kamu bisa masuk dan lolos ke perusahaan saya, padahal, tingkat seleksi karyawan baru di perusahaan ini sangat sulit, siapa yang membawa dan memasukan kamu kesini " ucap pak Boy tegas dengan memangku tangan di dagunya.
" Itu.... Itu.... "
Brakkkkkkkk
" JAWAB ANJI*NG PUNYA MULUT KAN KAMU..... ATAU MULUT KAMU UDAH BISU KARENA INGAT SELANGKANG*N MULU " teriak pak Boy menggebrak meja dengan sebuah buku tebal hingga membuat bunyi yang sangat keras.
" Oh jadi wanita itu istri kamu, terus kenapa kamu mengaku Nissa itu istri kamu juga... Dan menyebarkan kebohongan diantara pegawai saya, apa kamu tau BAPAK HERMAN YANG TERHORMAT, AKIBAT ULAH KAMU INI, NISA MENGANCAM SAYA UNTUK MEMBERHENTIKAN PENGIRIMAN BAHAN BAKU MINYAK UNTUK PERUSAHAAN INI, DAN ITU MERUGIKAN SAYA PULUHAN MILYAR.... BISA ANDA BAYANGKAN BAPAK ARMAN YANG SOK TERSAKITI..... APAKAH ANDA MAMPU MENGGANTIKAN KERUGIAN SAYA HAAA...... JAWAB... PUNYA MULUT DI PAKE... JANGAN KAYA OTAK KAMU YANG KOSONG. " Herman menatap tak percaya ucapan bos nya kini, sepertinya dia salah memilih tindakan kemarin, dan membangunkan macam yang sedang tidur, Herman hanya bisa meneguk salivannya saja, dan sudah terpikir di depan mata, dia pasti kali ini akan di pecat.
" Ini surat pemecatan kamu..... Sekarang kamu beresin semua barang barang kamu dari kantor saya, karena saya tidak mau memperkerjakan pegawai yang minim akhlak, mulut kaya comberan, dan penjahat kelamin.... Enyah kamu dari hadapan saya, dan saya pastikan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun, camkan itu. " Ucap pak Boy tegas...
" Permisi pak " ucap Herman yang pasrah atas keputusan bos nya kali, tapi lain hal dengan hatinya... Setelah mengetahui satu hal lagi yang mencengangkan tentang pendapatan kebun sawit yang luas, Herman semakin bernafsu untuk mendapatkan Nissa dan anaknya. Herman pun sampai di lantai Divisi tempat dia bekerja dan langsung menuju ke meja kerjanya, tanpa menunggu lama, Herman langsung memasukan semua barangnya ke dua miliknya karena dia sudah di usir, dan di pecat secara tidak hormat.
" Mas Herman" ucap Popi yang menghampiri Herman, dengan menepuk punggung Herman, sontak itu membuat Herman kaget saat sedang membereskan barangnya.
" Popi kamu bikin saya kaget aja.... Lama lama saya bisa jantungan ini "
" Maaf mas Herman, tapi Popi liatin dari tadi kok mas Herman malah beres-beres ngapain sih mas."
" Aku di pecat, jadinya aku mau pergi sekarang juga, ngapain lama-lama disini, toh sisa gaji udah ditransfer pihak kantor "
" Kok bisa sih mas.... Pasti ini ulah mba Nissa, emang dasar tuh cewek sialan satu itu, lebay banget pake ngerekam dan ngelaporin aku sama anak-anak ke Polisi, males banget "
__ADS_1
" Popi lagi ngapain kamu disitu... Bukannya ini masih jam kerja yah,,, mau saya pecat kamu sekarang juga lalai dalam tugas " ucap Bu Tania HRD divisi administrasi.
" Ia Bu maaf saya bakal kembali ke meja saya " ucap Popi yang langsung berlari ke mejanya, dengan jurus seribu bayangan, karena saking cepatnya, tapi Popi tidak sadar sedang menggunakan menggunakan high heels jadinya dia kesungkur, jatuh dengan lutut duluan yang mencium lantai untungnya saja bibirnya selamat kalo tidak pecah tuh gigi.
" Aw.... " Ringis Popi yang kesandung tapi dia langsung bangun mengabaikan sakit di kakinya karena semua orang melihat ke arahnya.
" Popi tunggu..... " Ucap Bu Tania mencegah Popi yang akan langsung pergi lagi.
Siut..... Popi langsung memutar tubuhnya 90 derajat.
" ia Bu " ucap Popi dengan memasang wajah yang sok di imut-imut .
" Kamu sama Mila sekarang keruangan saya, gak pake lama saya tunggu sekarang juga, dan jangan kebanyakan tanya " ucap Bu Tania menegaskan padahal Baru saja Popi akan bertanya dan langsung kicep. Popi pun memanggil Mila untuk datang keruangan HRD sekarang juga, saat mereka tiba di ruangan ibu Tania, langsung di persilakan duduk oleh yang punya ruangan, Bu Tania langsung tanpa basa basi menyerahkan 2 lembar surat yang berisikan surat somasi untuk Popi dan Mila, seketika, membuat ke empat mata itu terbelalak kaget.
" Ini beneran Bu, Nissa ternyata gak main- main, tapi saya gak perduli Bu orang saya gak merasa salah " ucap Mila tetep kekeh pada pendiriannya.
" Saya juga Bu, saya gak peduli dengan somasi ini, palingan ini gertak sambel doang.
" Terserah kalian saya hanya menyampaikan, soal nanti nasib kalian gimana, itu tanggung jawab kalian, kalo sudah tidak ada urusan lagi silahkan lanjutkan pekerjaan kalian "
" Baik Bu kami berdua permisi " . Mereka berdua pun kembali ke meja kerja mereka masing-masing..... Tanpa ada raut khawatir atas apa yang akan terjadi kepada nasib mereka berdua, nanti.
_______________
POV Herman.
Di pecat lagi..... Di pecat lagi karena kasus yang sama , menyebalkan sebenernya, tapi mau apa dikata nasi sudah menjadi bubur ga bakalan bisa berubah lagi menjadi nasi apalagi berubah balik jadi beras, mustahil. Rasa penyesalan ku semakin menjadi, apalagi setelah kemarin aku melihat mantan istri ku semakin cantik dan bersinar dengan dan kehamilannya itu semakin memancarkan keindahannya, satu kata untuk Nissa, dia seperti bidadari, bidadari yang hanya tercipta untukku, semangat ku semakin berkobar apalagi setelah tau kalo perusahaan sawit ayahnya Nissa bekerja sama dengan perusahaan ini, perusahaan terbesar di kota ini, pasti pendapatan tiap bulannya sangatlah besar, bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan Nissa kembali, "batinku. Saat sedang merapihkan barang yang kumasukkan ke kardus , tiba-tiba HP berbunyi tanda ada chat masuk dan kulihat chat itu dari Popi.
[ Mas Herman jadikan nanti, ini aku kirimin rumahku ya mas, mas Herman harus datang, kita kan lagi sama-sama galau, jadi kita menghibur masing-masing mas ]
[ Ok ]
hanya balasan itu yang aku gunakan. Untuk mempersingkat waktu. Saat selesai packing langsung saja aku meninggalkan meja kerjaku ini, yang selama beberapa bulan ini selalu menemani saat senang maupun susah, karena hari masih pagi jadinya aku pulang saja ke rumah ibu, walaupun ini masih pagi, aku gak peduli kalo ibu mau nanya-nanya apa.,
__ADS_1