MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BICARA ENAM MATA


__ADS_3

POV Author


"Bisa kita bicara di tempat yang lebih private?" ucap Arka menatap wajah Mario di depan kelas.


"Terdengar bisik-bisik dari para mahasiswa dan mahasiswi, mungkin saja mereka mendengar ucapan Pak Mario tadi yang langsung menanyakan keberadaan temannya Alisha yang sudah pindah kuliah.


"Sebentar aja Pak, kami janji gak akan ngunciin Bapak lagi" Rayyan mencoba menyakinkan Mario, karena Mario hanya diam sambil menatap mereka berdua.


"Tapi di dekat-dekat sini aja ya, jangan jauh-jauh" ujar Mario yang pada akhirnya menerima tawaran Arka dan Rayyan.


Mereka bertiga pun langsung menuju parkiran mobil, dimana Arka dan Rayyan satu mobil dan Mario membawa mobilnya sendiri.


Saat sampai di cafe, ketiga orang berbeda usia itu pun langsung masuk ke cafe dan duduk di pojokan dekat jendela.


Setelah mereka bertiga duduk, meja mereka di hampiri oleh pelayan wanita. yang menatap lapar ketiga lelaki tampan itu.


"Selamat siang... Mas Silahkan ini buku menunya, mau pesan apa?" ujar Waitress tersebut dengan senyum selebar daun kelor dan bersiap mencatat pesanan dengan memegang pulpen serta secarcik kertas kecil.


"Pak Mario mau pesan apa?" tanya Arka ke Pak Mario karena hanya diam saja tanpa melihat buku menu seperti beban hidupnya terlalu banyak.


"Saya capuccino panas aja" ujar Mariom


"Ya udah capuccino panas satu, Susu hangat satu dan kamu dek?" Ujar Arka melirik ke arah adiknya."


"Es jeruk aja satu" ucap Rayyan


"Wah mas ganteng nya suka susu ya, kalau mau susu yang lain saya punya banyak mas, tapi boleh minta no kontaknya dong" ujar Waitress tersebut tersenyum nakal ke arah Arka, sedangkan Arka yang melihat tingkah Waitress tersebut malah jijik.


"Mba disini itu mau kerja apa mau jadi SPG? kancing di buka-buka begitu, pake genit segala lagi ngerayu Abang saya. Percuma dia gak bakalan nafsu sama barang murahan, seleranya ukhti yang menutup auratnya, kalau mba masih ingin bekerja disini, jangan pernah merayu customer apalagi kakak saya, mengerti" ujar Rayyan dengan mata tajamnya, Waitress wanita yang di semprot pedas dengan kata-kata Rayyan hanya bisa kesal dan mengehentakan kakinya, lalu mengambil buku menu dengan wajah merah menahan amarah.


"Permisi" Ujar wanita tersebut yang langsung pergi karena merasa harga dirinya di injak-injak dan dihina.


"Heran wanita jalan sekarang kok gampang banget ngerayu sama ngumbar auratnya kaya gitu" Ujar Rayyan marah- marah.


"Udah sabar.. jangan ngomel-ngomel terus dek" ucap Arka menegur Rayyan.


"Bukannya adik kalian Alisha juga tidak pakai hijab ya?" ujar Mario ikut nimbrung ke dalam percakapan adik kakak ini.


"Ia seenggaknya Alisha pakaiannya masih dalam tahap wajar menurut ku, bahkan dia sering memakai pakaian gede Dan agak tomboy" ujar Arka tersenyum mengingat tingkah Alisha yang kocak.


"Ia kamu benar, Alisha itu salah satu Mahasiswi ku yang pintar tapi cuek nya setengah mati, tapi dia baik sangat baik malah" ujar Mario tersenyum.

__ADS_1


"Bapak Mario ini membicarakan Alisha seperti sudah mengenal Alisha luar dalam, apa Pak Mario memang sudah menargetkan Alisha untuk...." Sarkas Rayyan.


"Maaf ini pesannya Pak dan saya juga meminta maaf atas perlakuan teman kami tadi" Ujar pelayan laki-lakiĀ  yang sempat melihat kejadian Waitress perempuan itu bersama Arka, Mario, dan Rayyan. Pelayan laki-laki ini pun meletakan pesanannya Mario, Arka, dan Rayyan di meja.


"Oh... Ia terimakasih, tolong di beri pelajaran aja lagi pegawainya ya mas" ujar Rayyan.


"Baik Pak" ujar pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan ke tiga laki-laki tampan ini.


"Enggak... Enggak sama sekali. Saya tidak punya niat merusak Alisha, saya bersumpah demi mendiang ibu saya. Alisha bahkan membantu saya mengabulkan keinginan terakhir ibu saya, saat ibu saya sakit dan meminta saya mengenalkan calon istri yang pada saat itu, saya sama sekali gak punya pacar, datanglah Alisha membantu saya dengan kerelaan hatinya tanpa di paksa" Jelas Mario panjang lebar melanjutkan pembicaraan awal mereka yang sempat terpotong oleh Waitress. Mario ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi sebenarnya sejak dulu. Hanya saja dia tidak pernah punya kesempatan untuk bertemu dengan kakaknya Alisha dan keluarganya.


Rayyan dan Arka mencerna ucapan Mario. Tapi mereka masih bingung, kenapa bisa Mario malah memperkaos adiknya.


"Pasti kalian bertanya-tanya kenapa saya sampai merusak adik kalian? ini semua karena ketidaksengajaan. Saya mabuk karena meninggal nya ibu saya. Dan begok nya saya malah menghubungi adik kalian saat saya mabuk dan bartender malah bilang ke Alisha untuk menjemput saya. Akhirnya Alisha pun mengantarkan saya ke Apartemen dan terjadilah hal itu" Ujar Mario menerangkan seperti menahan nafasnya.


"Saya juga melewati hari yang berat, apalagi saat saya tau Alisha hamil tapi malah membunuh anak saya. Sungguh saya sangat marah sama adik kalian itu, padahal saya udah janji mau nikahin dia. Tapi dia mengambil keputusan sendiri, untuk membunuh anak kami."


"Tapi sebenarnya dia itu......" Ucap Rayan yang terpotong oleh Arka. Arka memegang tangan Rayyan dan menatap Rayyan tajam, Rayyan pun mengerti tatapan Arka dan Rayyan pun menutup mulutnya.


"Kedatangan kita kesini, hanya ingin tau kejadian yang sebenarnya sambil melihat keadaan anda Pak Mario, apakah anda merasa bersalah atau tidak. Apakah anda hancur atau baik baik saja.. tapi sepertinya anda baik baik saja.. anda bahkan masih bisa santai dan enjoy saat bekerja " ucap Arka menyindir Mario..


"Lalu saya harus bagaimana? apa saya harus menangis tiap malam atau malah teriak seperti orang gila atau joget dangdut di kampus, kan gak mungkin. Selama beberapa bulan ini, saya terus saja mencari kalian di rumah kalian tapi kata pembantu kalian pindah bahkan Alisha pindah keluar negeri bersama orang tua kalian, terus saya harus mencari Alisha ke luar negri begitu. Untuk apa saya berjuang untuk Alisha, di saat Alisha saja tidak mau di perjuangkan dia malah membunuh anak saya...hiks..hiks.." kesal Mario.


"Jadi saya jalani saja hidup saya sebaik-baiknya dari pada memikirkan wanita yang saya cintai tapi tega membunuh anak saya dan pergi meninggalkan saya sendiri" ucap Mario mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini dia simpan sendiri, Mario benar-benar mengeluarkan kekesalan nya selama ini kepada Kakak dari wanita yang di cintai nya itu.


"Aduhh... Pak Mario.. maaf saya gak sengaja, tangan saya reflek pengen ngambil minum malah ke senggol lengannya. maafkan saya Pak" ujar Rayyan. Arka yang melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Gak apa-apa. Saya bersihkan saja di kamar mandi." ujar Mario yang melihat bajunya basah, bahkan hampir sebagian bajunya terkena es jeruk, pasti lengket sekali.


"Pak Mario tunggu." Ucap Arka.


"Kenapa ka?"


"Di mobil saya kebetulan ada kemeja, pakai saja yang itu, baju bapak kotor sekali jadi, mending bapak ganti aja, nanti kemeja Bapak kasih saya, biar saya yang nyuci, saya gak enak Pak" ujar Arka.


"Gak usah ka, Gak apa-apa, saya cuci aja di kamar mandi" ujar Mario yang akan pergi ke kamar mandi.


"Tunggu dulu Pak. Masa bapak mau ngajar pake baju kotor, Dek...! Kamu ambilin kemejanya di mobil ya dek!" ujar Arka, Rayyan pun langsung menganggukkan kepalanya dengan langkah seribu, Rayyan langsung ngacir keluar. Mario yang tidak enak pun jadi terdiam kembali duduk di tempatnya dan menunggu kemeja yang diambilkan oleh Rayyan.


"Sebentar ya Pak Mario, Maaf banget nih. Tapi apa yang pak Mario katakan tadi beneran, kenapa bapak bisa cinta sama adik saya? Saya gak mau Bapak cuman ingin balas dendam atau mempermainkan adik saya Pak!"


"Sudahlah Arka... Toh Alisha nya juga sudah memutuskan untuk pergi jadi bagaimana tentang perasaan saya itu tidaklah penting."

__ADS_1


"Lah gak bisa kaya gitu dong Pak! kalau Bapak memang cinta adik saya, ya harus di perjuangkan apalagi ada an....." ucap Arka menggantungkan ucapannya.


"Maksudnya.... Arka katakan. Kepada saya dengan jujur" Ucap Mario dengan tensi agak tinggi.


"Ada apa ini... Bang? Pak Mario?" ujar Rayyan yang melihat seperti adanya keributan.


"Ga apa apa dek, Mana kemejanya?" ujar Arka.


"Ini Pak Mario. Nanti kemeja bapak kasih saya aja, biar bisa saya laundry, saya benar-benar merasa tidak enak sama Bapak" ujar Rayyan yang langsung menyerahkan kemeja itu ke tangan Mario.


"Terima kasih" ujar Mario yang langsung menerima kemeja itu dan pergi ke toilet untuk mengganti pakaiannya.


"Abang... Percaya apa yang di katakan lelaki tadi?" ujar Rayyan saat Mario pergi.


"Entahlah Abang juga bingung, takutnya dia hanya alibi, supaya tidak terlalu di salahkan" ucap Arka memprediksi.


"Padahal gak usah lah bikin statement kata kaya gitu, toh Papah juga gak laporin dia ke polisi Bang"


"Ia kamu benar dek. Kata-kata dia seperti tong kosong nyaring bunyinya, artinya omong kosong belaka" ujar Arka.


"Yang penting ngidamnya si bontot bisa ke lakonan lah."


"Ia Bang, Syukurlah kasian si bontot"


"Mana Abang tadi sempet hampir keceplosan, kalau Alisha mempertahankan anaknya. Untung aja nih mulut keburu ke rem" ujar Arka yang menghempaskan nafasnya kasar.


"Bahaya itu bang, jangan sampe keceplosan. Tapi kapan kita bakalan anterin ini semua."


"Kita kasih aja Papah, biar Papah yang ke Amerika, sekalian kangen-kangenan sama Mamah."


"Udah pada tau masih aja romantis, Rayyan pengen punya keluarga kaya gitu"


"Oh ia.. baru inget Abang, tadi si ukhti Fatma bilang gini, kamu kalau mau ngelamar dia, bilang sendiri aja, tapi dia bilang dia bakalan nolak."


"Lah kok gitu...? Suruh ngelamar tapi di tolak"


"Katanya si Fatma belum siap nikah habis lulus mau kerja dan gapai mimpinya dulu"


"Dia bilang gitu sama Abang"


"Ia makanya kamu bilang sendiri, kalau Abang yang bilang nanti dikira kamu gak setuju dek.

__ADS_1


"Ini Ray kemejanya... Makasih ya" ujar Mario yang memberikan kemeja kotornya.


"Ia Pak sama-sama, saya juga minta maaf ya Pak" ujar Rayyan yang tersenyum ke Arka.


__ADS_2