
"Ayu Nak, kita pulang, gerah Mamah lama-lama disini"
"Tunggu Nis seenggak nya mampirlah kerumah ku dulu, aku ingin banyak ngobrol dengan Arka, aku ingin menebus kesalahanku dulu"
"Gimana Nak? kamu terima ajakan ayah kamu"
"Bolehlah lah Bu sebentar saja, entar Arka dituduh anak durhaka lagi Bu"
"Tuh Niss dengarkan yang Arka bilang," ucapku meyakinkan
"Ya sudah mari Nak kita kerumah Ayah mu"
"Boleh Mah?" tanya Arka ragu
"Terserah kamu sayang, tapi Ayuk dah, Mamah juga pengen liat kehidupan Ayah kamu sama istrinya seperti apa" Ucapan Nissa seperti menyindir atau menghinaku ini, mentang-mentang dia udah kaya dan aku hanya rakyat jelata, kurang ajar Nissa.
Dan ku lihat Nissa dan Arka menuju mobil Sport, yang ku tahu harga mobil itu mencapai lebih dari 10 Miliyar, aku terperangah melihat mobil itu, apalagi saat aku tau anakku lah yang membawa mobil itu.
"Kamu tunjukkan saja jalannya, biar Kami ikutin motor mu dari belakang" ucap Nissa sombong.
Aku menghampiri mobil mewah itu, ingin rasanya aku sentuh mobilnya atau kalau bisa ingin ku bawa mobil ini jalan-jalan bersama Kokom istriku. Pasti kelihatan keren dan tetangga-tetangga akan menghormati ku dan tak memandang kami sebelah mata lagi.
Ku dekatkan tanganku ke body mobil, tapi saat sedikit lagi kena, tanganku di hempaskan oleh tangannya Nissa.
"Jangan pegang-pegang mobil saya, nanti kotor, biaya membersihkannya bisa sampai 10 juta" Sarkas Nissa dengan pongahnya.
Aku mendelik melihat Nissa, ku langkahkan kakiku menuju motor kesayangan ku, awas aja kamu Nissa, akan ku cuci otaknya Arka untuk membelikan aku mobil seperti ini. Walau bagaimanapun aku adalah Papahnya yang sebenarnya, jadi Arka pasti akan menuruti kemauan ku.
__ADS_1
Aku pun melaju dengan pelan motor yang ku gunakan membelah jalanan di ikuti oleh mobil mewah Nissa, saat sudah sampai gapura kampung ku, bisa ku lihat banyak sekali warga kampung yang melihat ke arah mobil di belakangku, mereka bahkan ada yang mengikuti mobil Nissa dari belakang, warga kampung sini memang pada Nora, lihat mobil mewah saja pada heboh, kaya lihat artis aja.
Motor dan mobil Nissa berhenti di depan rumahku, saat aku akan masuk tiba-tiba Kokom dan Nita pun keluar, langsung menghampiri ku dan melihat dengan mata berbinar kebahagian melihat mobil di belakangku, dan mata mereka semakin terpesona saat melihat anakku keluar, anakku memang tampan luar biasa. Bahkan bisa membuat kaum hawa klepek-klepek, siapa dulu Ayahnya.... Herman...ucapku dalam hati.
Semua warga berbondong-bondong melihat wajah Arka, mereka kagum dengan ketampanan Arka yang seperti artis itu.
Kokom dan Nita pun sama tercengang dengan ketampanan Arka, tapi saat Nissa keluar dari mobil, Kokom dan Nita makin tercengang dengan wanita cantik yang memakai segala apa yang melekat di tubuhnya dengan barang-barang mewah, walaupun Kokom dan Nita gadis desa tapi mereka tau barang-barang yang mahal. Mata mereka berdua tidak pernah lepas dari kalung berlian yang di pakai Nissa, dan cincin dengan berlian yang sangat besar yang melingkar di jari Nissa.
"Ayok Arka, Nis, ini rumah ku, silahkan masuk...!"
"Kamu gak ngenalin ke kita man siapa dua wanita ini?" tanya Nissa
"Oh ia, hampir saya lupa, ini istri dan anak sambung saya, Kokom dan Nita, Kom ini anak kandungku Arka dan mantan istri ku Nissa" ku lihat Arka dan Nissa menjabat tangan Kokom dan Nita, tanpa malu-malu, tapi kenapa si Nissa keliatan biasa saja gak sombong kaya tadi.
"Ayok masuk" aku mengajak Arka dan Nissa masuk ke rumah ku, Kokom dan Nita pun mengikuti langkah kami dari belakang, kulihat Nissa dan Arka melihat sekeliling rumah, ya walaupun rumahku kecil tapi cukup asri lah.
"Bu Nissa, itu tas sama berliannya gede banget, asli ya?" aku cengo mendengar pertanyaan Kokom yang malu-maluin. Jadi Kokom masih saja memandang perhiasan dan tas Nissa.
"Ia nih asli hadiah dari suamiku"
"Oh.....enak ya suaminya kaya, jadi bisa membeli apapun, yang di inginkan, saya boleh gak minta tasnya Bu Nissa, pasti Bu Nissa banyak stoknya di rumah Bu Nissa" ucap Kokom yang membuat ku melotot
"What ....? apa yang dia bilang? mata Nissa memandang dingin wajah Kokom, tapi sang tersangkanya malah senyum-senyum saja melihat tas Nissa.
Bisa ku lihat perubahan wajah Nissa yang tadinya dingin sedingin kutub Utara berubah menjadi panas sepanas Matahari, terbit senyuman smirknya membuatku merinding.
"Aku punya stok tas ku ini, 3 malah, tapi gimana ya mba tas ini limited edition, di kasih lagi sama suami tercinta hadiah ulang tahun, gak etis aja kalau di kasih orang, apa lagi sama yang belum kita kenal"
__ADS_1
aku merasa tersinggung dengan ucapan Nissa, tapi ku akui emang kenyataan nya begitu.
"Si mba kan orang kaya, bel tas kaya gini mah receh buat si mba, palingan juga, 50 jutaan ya mba" wah si Kokom sepertinya ngakak berantem.
"Sudah Kom, kamu gak usah aneh-aneh, maaf ya Nis, istri saya emang agak Norak"
"Kok gitu sih mas, bener kan? masa ngasih satu tas aja gak ngasih" cemberut lah itu muka si Kokom.
"Maaf ya mba bukannya saya gak mau kasih, kan tadi saya sudah bilang tas ini limited edition, merk hertes, harganya saja setengah milyar, masa saya kasih cuma-cuma sih, ini kan tas kesayangan saya, lagi pula mba itu hanya orang asing yang menjadi ibu sambung anak saya, jadi saya gak harus nurutin mau nya mba kan?"
"Mah pulang yuk, aku gak nyaman" ucap Arka, bisa ku lihat ada rasa kecewa di matanya Arka, Kokom memang cari mati.
"Maafkan ibu kamu ya Nak, biasa dari kampung memang selalu norak" Ucapku mencairkan suasana agar tidak kaku, Kokom sepertinya sedikit tersinggung saat dia mau bicara lagi, ku cubit saja pinggannya Kokom.
"Ibu ku cuma satu hanya Mamah Nissa, Ayuk mAh Arka sudah gerah"
"Bang Arka, boleh minta no WA nya bang, kali aja bisa main bareng pake mobilnya bang Arka yang di depan" ucap Nita dengan gaya genit, ya tuhan kenapa mereka jadi manusia gak tau diri kaya gini.
"Kayaknya kita datang di waktu yang tidak tepat, terima kasih atas jamuannya" Nissa dan Arka pun pergi dari rumah ini, ya tuhan aku bahkan lupa memberikan mereka minum.
Nissa dan Arka pun keluar dan langsung menaiki mobil super mewahnya, tanpa melihat kami lagi.
"Kalian ini memalukan, gak bisa apa mulut kalian itu ngomong nya yg baik. Hancur sudah wibawa saya di depan anak dan mantan istriku" aku kesal sangat, kutinggalkan mereka berdua di luar yang masih terbengong dengan bentakanku.
"Pak ... Bapak tunggu... Maafkan ibu, ia ibu salah, tapi ibu gak bisa bohongin mata ibu, ibu pingin sekali tas itu Pak!"
"Kalau ngomong tuh nyadar diri, keuangan kita bisa gak? mampu gak? jangan minta hal yang di luar nalar! Nissa itu orang kaya, di tambah Suaminya kaya juga, jadi mudah bagi dia buat beli apapun yang dia mau, susah kalau punya istri otak udang" baru kali ini aku membentak Kokom dan mengatakan kata-kata yang pedas padanya, biarkan saja karena mereka benar-benar membuat ku malu.
__ADS_1
Semenjak saat itu Kokom mulai berubah, dia mulai merapikan dirinya, membeli skincare yang ku tahu itu Mercuri yang bisa membuat kulit kusamnya menjadi putih dan benar saja baru seminggu mukanya putih mulus, tapi kulitnya sangat tipis berbanding terbalik dengan tangan dan lehernya yang mempunyai kulit coklat.