MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
TANDA TANYA MARIO


__ADS_3

POV Mario


Aku pun kembali ke kampus, setalah pertemuanku dengan Abang-abangnya Alisha. Aku memikirkan kata-katanya Arka yang sempat terputus itu, aku yakin, Arka berbicara masalah anak. Tapi kenapa dia tidak melanjutkan kata katanya itu? Sepertinya ada yang mereka sembunyikan, apa aku harus ke rumah Alisha lagi.


Huek.. huekkkk.. huekk..


Ya tuhan apalagi ini, kenapa mual ini datang lagi. Akupun langsung berlari ke toilet untuk memuntahkan semua isi perutku yang hanya mengeluarkan air, karena sejak pagi aku tidak memakan makanan apapun, kayanya ke rumah alisha aku harus tunda dulu. Aku harus pergi ke rumah sakit.


Badanku sangat lemas, aku melangkahkan kaki perlahan, sampai- sampai aku memegang tembok untuk membantu jalanku.


"Bapak tidak apa-apa? Pak mau saya bantu ke ruangan dosen pak?" ujar seorang mahasiswi yang ku lihat dengan raut wajah yang khawatir, mereka ada dua orang dan melihatku dengan intens.


"Gak usah... makasih ya" ujarku lemah.


"Bapak yakin bisa ke ruangan Bapak?" tanya teman yang bertanya padaku.


"Ia saya yakin, makasih" ujarku yang langsung meninggalkan mereka berdua dengan raut wajah khawatir padaku.


Aku masih berjalan perlahan-lahan, sampai aku duduk di kursi ku sendiri, untung saja ruangan Dosen sedang kosong tidak ada orang, jadinya aku tidak malu, karena keadaan ku yang lemah.


"Katanya aku harus ke rumah sakit sekarang juga" Ujarku ku paksakan badanku untuk lebih kuat lagi, aku mengambil tas kerjaku, tak lupa HP di laci kerja ku, setelah semuanya beres aku melangkah perlahan-lahan menuju parkir, tapi badan sedikit aku paksakan agar orang-orang tidak curiga. Kalau aku sedang lemas.


Setelah sampai mobil, aku pun segera masuk dan menyalakan mobilku dan langsung mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Untung saja jalanan tidak macet jadi aku cepat sampai rumah sakit yang dekat kawasan kampus.


Saat tiba di rumah sakit umum, aku pun langsung memakirkan mobilku dan keluar dari mobil, masih dengan badan lemasku. aku melangkahkan kaki ku pelan, akupun masuk ke resepsionis untuk di periksa di dokter umum.


Setelah daftar aku pun mencari ruangan Dokter Amel, salah satu Dokter umum disini, saat sudah ketemu aku pun duduk di ruang tunggu antrian dan untung nya lagi, hari ini tidak begitu antri.


"Pak Mario?" ujar perawat memanggil namaku, aku pun langsung berdiri dan menghampiri ruangan praktis Dr. Amel.


"Silahkan masuk Pak!" ujar perawat tersebut mengarahkan ruangan Dr. Amel. saat di dalam aku langsung saja duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Pak Mario, Silahkan! keluhan nya apa Pak?" ujar Dr. Amel yang langsung menanyakan keadaan ku.


"Saya juga tidak tau Dok, yang saya rasakan itu aneh. Saya sering mual dan muntah, terkadang di pagi hari atau sore hari bahkan siang hari Dok. Saya juga benci melihat nasi, Sampe-sampe saya cuma bisa makan buah, Itu pun yang asem-asem, terkadang hidung saya juga sensitif Bu. Kalo nyium bau gak enak, saya suka langsung mual Bu. Padahal saya udah minum obat magh, tapi gak efek sama sekali" ujar ku panjang lebar tentang apa yang aku rasakan sebulan ini.


"Bapak sebenarnya tidak apa-apa, apa istri bapak sedang hamil?" Ujar dokter yang membuatku terperanjat. Ucapan Dokter sama persis dengan ucapan Tika padaku, Apa benar Alisha mempertahankan bayi kami. Aku harus menyelediki semua ini.


"Akh mungkin ya Bu? Masalahnya istri saya belum kasih tau, mungkin mau kasih saya surprise Dok." Ujarku mencari alasan.


"Mungkin juga ya pak Mario kejadian yang di alami Pak Mario sangat wajar terjadi. Ini namanya sindrom kehamilan simpati, Pak Mario, jadi Pak Mario bisa merasakan apa yang ibu hamil rasakan Pak Mario di harapkan agar Pak Mario lebih bisa memperhatikan istri bapak saat sedang masa kehamilan" jelas Dr. Amel membuatku tambah tercengang lagi, karena apa yang dia katakan sama dengan apa yang Tika katakan.


"Apa ada obat yang bisa mengurangi rasa mual nya Dok? atau muntah-muntahnya. jujur saja, badan saya lemes banget Dok dan itu menjadi masalah di pekerjaan saya Dok."


"Baik Pak Mario akan saya resepkan obat pengurang mual dan muntah Pak Mario" ujar dr Amel yang sedang mengetikan sesuatu di komputernya.


"Ini resepnya pak sudah saya kirimkan ke bagian apotik dan Bapak silahkan tebus di apotik obatnya Pak dan untuk pembayaran nya di unit administrasi Pak" ujar Dr. Amel menjelaskan.


"Baik Dok terima kasih" ucapku, Dr. Amel pun hanya memberikan senyuman untukku, setelah itu aku keluar ke bagian administrasi dan apotek.

__ADS_1


Setelah sampai di administrasi, aku membayar tagihan obatku dan pergi ke apoteker yang di sebelah unit administrasi.


Setelah berobat aku pun langsung pulang, karena sebenarnya tidak ada jadwal kuliah lagi hari ini, aku ingin mengistirahatkan badanku yang lelah.


Aku pun mengendarai mobilku dengan santai sampai di apartemen ku. Saat masuk apartemen, kejadian saat aku


melukai Alisha selalu terbayang di sini. Membuatku frustasi. ku rebahkan badanku di kursi menenangkan jiwa dan pikiran ku. Sebenarnya bukan hanya Alisha yang terluka mentalnya, aku pun sama, apalagi saat Alisha mengatakan sudah menggugurkan kandungannya, luka itu kembali menganga di hatiku, setelah kehilangan ibu, memperkaos Alisha wanita yang aku cintai, dia malah menghilangkan anakku.


"Hehehehe Alisha, kenapa kamu pergi bahkan kamu membawa anak kita pergi dari hidupku Al" Gumamku tertawa, air mata terus saja mengalir tanpa henti, karena kelamaan menangis aku pun tertidur di kursi tempat aku merebut semuanya dari Alisha.


_____________________&____________________


POV Arka


"Bagus kita dapetin bajunya. Untung dia gak nanya ribet-ribet ya Dek" Ujarku bahagia.


"Tapi aku masih Gedeg bang sama dia ngeselin serasa dia yang jadi korban, padahal dia itu tersangka, lagian ngapain sih Papah gak laporin dia aja ke Polisi," ujar Rayyan, yang bisa aku mengerti.


"Abang juga gak tau Dek, Cuma Mamah pernah bilang ini semua demi Alisha"


"Kita hanya bisa berharap untuk kebaikan Alisha aja Dek" ujarku.


"Ya udah mending kita pulang ke rumah aja bang, ada papah juga nungguin baju ini"


"Yuk.. tugas kita sudah selesai"


"Ia bang.. kalau bukan karena ngidamnya adek tercinta, aku mah ogah ketemu dia dan baik-baikin dia apalagi harus berkata lemah lembut tutur kata kaya gitu, ikh huekkkk" ujar Rayyan. Aku hanya menggelengkan kepalaku karena kelakuan Rayyan.


Aku dan Rayyan pun meninggalkan cafe ini, setelah kami melakukan pembayaran di kasir, kami berdua pun keluar dan langsung menuju mobil. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang menuju rumah Papah, saat sampai rumah, pak satpam langsung membuka pintu dan mobilku pun masuk tanpa hambatan.


Aku dan Rayyan pun turun dari mobil dan masuk ke rumah.


"Rumah jadi sepi ya bang.. setelah Mamah dan Alisha pindah ke Amrik" ujar Rayyan yang langsung duduk di kursi ruang tamu.


"Yah mau bagaimana lagi, tapi setelah Alisha melahirkan, rumah ini akan ramai kembali"


"Bang terus gimana dengan nasib ponakan kita. Bagaimana kalau dia perempuan, bagaimana nasabnya bang" tanya Rayyan kepadaku, sebenarnya aku pun kurang begitu paham akan hal itu.


"Abang juga kurang begitu paham Dek. Tapi setahu Abang, karena mereka lahir di luar pernikahan nasab mereka ada di ibunya, bukan pada ayahnya, tapi nanti biarlah Mamah dan Papah yang mengurus Alisha dan ponakan-ponakan kita, pasti orang tua kita tau mana yang terbaik buat cucu nya" ujarku.


"Semoga ya bang, tapi....ini Papah kemana ya? belum pulang"


"Sebentar lagi kali dek"


"Kita makan yuk bang aku lapar, tadi di kafe kan kita sama sekali gak makan"


"Ya sudah kita makan dulu" ujarku


Aku dan Rayyan pergi ke dapur dan ku lihat ada mbok Sus yang sedang bebersih di dapur.

__ADS_1


"Assalamualaikum mbok Sus" ujar kami berdua kompak.


"Ekhhh ada Aden-aden yang ganteng nya Masya Allah, mau pada makan ya? Kebetulan bibi udah masak, cuma belum di siapin" ujar bibi yang senang melihat kedatangan aku dan Rayyan.


"Ia nih bi.. kangen masakan bibi, di Bandung kita makan seadanya bi. Pesen online mulu" ucapku yang langsung duduk di meja makan.


"Ia bi.. liat nih Rayyan jadi kurus karena gak ada yang perhatiin." ujar Rayyan membuat ekspresi manja, yang menyebalkan menurut ku.


"Ye.. si Bambang minta perhatian kode amat, lulus dulu kuliah yang bener, baru nyari pasangan."


"Terus Abang kapan nyari pasangan?"


"Belum minat nikah Dek, tar aja masalah nikah mah, Pusing"


"Ya sudah. Kalian berdua sekolah aja dulu biar dapet nilai yang bagus. Kerja yang bener, cewek mah kalau kita banyak duit juga datang sendiri, gak usah di cari den. " Ujar mbok Sus sambil menyiapkan makanan di atas meja makan.


"Nah cewek kaya gitu yang bahaya mbok. Tar di saat kita kere, dia malah ninggalin nyari yang baru, ikh ngeri... Pasti cewek kaya gitu tuh, hobinya shopping ngabisin duit, sering ke salon, neraka dunia lah itu mah" ujar Rayyan yang membuatku terkekeh.


"Kamu bener Dek, cewek kaya gitu nerakanya dunia." Ujarku sambil menyendokan nasi ke piring ku.


"Waduh... Kalian ini makan gak nungguin Papah dulu? Bentaran kek" ujar Agam yang tiba-tiba datang ke meja makan bergabung dengan anak-anaknya.


"Papah lama, kita berdua udah kelaparan" ucapku yang terus menyendokan nasi dan lauk ke mulutku.


"Kamu ni ka, kaya gak makan seminggu aja" ujar Papah menggelengkan kepalanya aneh mungkin melihatku makan selahap ini.


"Ia pak.. udah seminggu Arka gak makan- makanan enak."


"Akh...itu mah Abang Arka aja yang doyan makan Pah. Dia itu makan enak mulu mesen online" ujar Rayyan yang juga menyendokan nasi dan lauk ke mulutnya.


"Kalian tinggal disini aja ya sama Papah, disini Papah kesepian semenjak Mamah sama Alisha ke Amerika sana" ujar Papah sedih.


"Jauh lah, aku males bangun pagi" ujar Rayyan yang memang sangat susah untuk bangun pagi.


"Aku juga Pah, males kalau harus berangkat mepet, hehehe" ujarku yang membuat Papah semakin cemberut. Papah pun menyendokan nasinya ke piring dengan kesal.


"Tugas kalian gimana beres?" Tanya papahku.


"Beres Pah bajunya ada di mobil dan Videonya nanti aku kirim langsung ke HP mamah.


"Bagus, jadi Papah mau berangkat ke bandara sekarang juga, udah kangen Mamah pake banget."


"Inget umur Pah udah tua!" Ujar Rayyan.


"Dasar kamu!" ucap Papah yang menjewer telinganya Rayyan.


"Aduh ampun Pah, Sakit" rengek Rayyan


Hahahaha....

__ADS_1


Aku hanya bisa tertawa karena melihat ekspresi wajah Rayyan yang kesakitan.


__ADS_2