MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
HERMAN SI SUPER KEPO


__ADS_3

"Alhamdulillah" ucap Herman setelah rasa haus nya sedikit hilang karena es teh manis yang Arka berikan. Herman pun mengambil cemilan yang dari tadi selalu dia pegang.


"Sumpah ka, Bapak gak tau tentang mereka berdua, kalau memang dia bikin rusuh, nanti pas Bapak ketemu sama Nita Bapak akan kasih tau dan bikin perhitungan sama anak itu. Ema sama anak sama aja gendeng nya" ucap Herman sambil tetap terus memakan cemilannya.


"Bapak lapar ya? sampe abis tuh cemilan!" ucap Arka yang melirik cemilan setoples abis di tangan Bapaknya.


"Ia Bapak belum makan, tadi istirahat juga gak sempet makan juga." Ucap Herman malu, Herman hanya cengengesan dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Ya udah nanti kita makan aja di bawah, Biar aku yang traktir" ucap Arka.


"Wah... kamu mau traktir Bapak tumben Nak"


"Mau apa kagak Pak?"


"Ya udah ka mau banget!" ucap Herman senang. Herman tidak menyangka, sebahagia ini bisa dekat dan ngobrol santai dengan anak semata wayangnya, Herman pun tersenyum, lalu tatapannya berpindah ke foto yang terpanjang di dinding kantor Arka.


"Apa Agam memperlakukan kamu seperti dia memperlakukan kedua anakannya" Ucap Herman yang masih memandang foto tersebut. Arka yang mendengar pertanyaan Bapaknya langsung menatap Bapaknya dan melihat apa yang di lihat Bapaknya itu.


"Papah.... Hmmm" Arka tersenyum dan Herman melihat senyuman Arka. Baru kali ini Herman melihat senyuman anaknya itu, biasanya Arka hanya menampilkan raut wajah datar saja.


"Kamu tersenyum, Bapak baru kali ini melihat wajah kamu tersenyum" Ucap Herman lirih.


"Aku selalu tersenyum di sekeliling keluarga ku, Papah tidak pernah membedakan kami sama sekali, bahkan kata Mamah, Papah selalu menjagaku dari aku bayi. Papah Yang sering menggantikan popokku, bahkan Papah sering begadang bersama Mamah saat aku menangis di tengah malam. Bahkan saat aku tau, aku bukanlah anak kandungnya. Papah menangis dan bilang tak akan ada yang berubah, aku akan tetap menjadi anak sulungnya sampai kapanpun. Aku tetap menjadi anak kebanggaannya." Ucap Arka tersenyum ketika menceritakan semua cerita itu. Membuat wajah Herman menjadi murung mendengarnya. Ada rasa Luka di dalam Mata Hati Herman. Di saat anaknya di sayang oleh lelaki lain, dia malah menyanyangi anak lelaki lain. Dunia memang sebercanda itu.


"Mungkin kalau Bapak sama Mamah kamu gak bercerai, kita juga akan menjadi keluarga yang bahagia" ucap Herman menghembuskan nafasnya kasar. Arka hanya diam, sambil mendengarkan apa yang ingin Bapak nya katakan selanjutnya.


"Mungkin kalau Bapak gak bercerai sama Nissa. Bapak yang akan ada di foto itu ka, bukan Agam" ucap Herman sambil menunjuk foto keluarga Arka. Arka hanya tersenyum simpul.


"Sudahlah Pak! Jangan berandai-andai karena masa lalu, toh itu kan keputusan Bapak untuk selingkuh dari Mamah. Jangan menyesalinya." Ucap Arka santai. Arka sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Bapaknya, baginya Herman hanya seorang ayah kandung yang sedikit pun tidak punya peran penting dalam hidupnya. Sopan Arka hanya sebatas formalitas kepada orang yang lebih tua.


"Ya.... Bapak menyesali keadaan yang sudah berlalu. Seandainya Kita tidak berpisah pasti bakalan hidup bahagia, Tapi perusahaan sawit milik kakek kamu siapa yang ngurusin?" tanya Herman yang tiba-tiba teringat dengan perusahaan sawit milik mantan mertuanya itu.


"Masih kakek yang ngurusin emangnya kenapa?" tanya Arka memicingkan matanya. Arka yang hapal tabiat Bapaknya masalah harta menjadi curiga.


'Sepertinya ada udang di balik batu, gak mungkin sifat seseorang bisa berubah dalam waktu singkat' ucap Arka dalam hatinya.


"Gak nanya aja, Kan kamu cucunya Ka. Pastinya jatuh ke tangan kamu dong" Ucap Herman tiba-tiba sambil memakan cemilannya yang tersisa sedikit, tapi Herman tidak sekalipun melihat raut wajah Arka yang berubah dingin.


"Enggak... Bukan di wariskan ke aku. Semuanya harta Mamah di wariskan ke Alisha. Sedangkan aset-aset dan perusahaan Papah di wariskan ke Rayyan." Jelas Arka yang merubah raut wajahnya lagi menjadi biasa. Arka hanya ingin tau niat awal Bapak nya itu.

__ADS_1


"Loh kok begitu... kamu kan anak pertama, seharusnya kamu yang berhak atas perkebunan dan restaurant ibu kamu yang menjamur di mana-mana itu ka. Kamu jangan mau lah adik-adik kamu itu yang menguasai seluruh harta ibu kamu. Lagian kan Agam juga kaya. Hartanya banyak, masa cuma di kasih ke Rayyan doang, harusnya Alisha juga di kasih Harta Agam aja. Biar harta Mamah kamu utuh jadi milik kamu."


Arka terkekeh karena ucapan Bapaknya.


"Kenapa kamu tertawa ka? yang di ucapkan Bapak benar kan. Kamu yang berhak atas itu semua. Bukan adik-adik kamu." Ucap Herman lagi dengan nada yang sedikit tinggi, Herman sedikit kesal atas ucapan anaknya itu. Sungguh kedua anak nya Agam serakah.


'Atau kah ini tujuan Agam menikahi Nissa, hanya ingin menguasai harta nisa saja melalui anak-anaknya' Ucap Herman dalam hati. Herman menyimpulkan sendiri menurut pemikirannya. Padahal itu sama sekali bukan urusannya.


"Aku bingung, Kenapa Bapak yang jadi repot. Kaya kebakaran jenggot segala lagi. Itu semua kan bukan urusan Bapak, lagian Alisha dan Rayyan juga cucu nenek dan kakek aku. Mereka juga punya hak yang sama. Kenapa Bapak yang malah ngatur aku harus kaya gimana? Bapak walaupun ayah kandung ku, tapi Bapak gak berhak ikut campur tentang kehidupan ku dan keputusan ku" ujar Arka telak. Membuat Herman menjadi pucat.


"Bukan itu maksudnya Bapak ka. Bapak gak berniat ikut campur kehidupan kamu. Hanya saja bapak mengingatkan, tapi ya sudahlah kalau kamu saja tidak keberatan ya terserah kamu, itukan pilihan kamu" ucap Herman.


'Kurang asem, punya anak satu tapi polos, Harusnya dia bisa ambil semua harta Mamahnya. Jadi aku pun bisa merasakan harta itu' gerutu Herman dalam hati. Herman mengepalkan tangannya kesal. Arka yang melihat Bapaknya yang misuh-misuh dan kesal. Bersikap biasa saja bahkan terkesan masa bodoh dan tidak mau pusing. Arka sudah paham ternyata ayahnya itu memang tidak berubah dan masih sama gila harta.


"Ngomong-ngomong orang tua kamu gimana kabarnya sehat kan?" tanya Herman mengubah topik.


"Alhamdulillah mereka berdua sehat. Mamah sama Papah sedang ada di LA. bahkan Mamah sudah lama tinggal di Amerika sana." Ucap Arka santai. Tiba- tiba raut wajah Herman berubah merah dan kesal kembali. Sungguh Arka menikmati raut wajah Bapaknya yang sedang kesal itu.


"Ngapain mereka ke Amerika? liburan ya? Enak ya jadi orang tua kamu, Bapak aja gak pernah jalan-jalan ke luar negeri." Ucap Herman dengan wajah memelasnya. Memancing Arka supaya mengajaknya ke luar Negri.


"Yah begitulah, Mamah sama Papah memang sering banget ke luar negri. Kita sekeluarga bahkan udah pernah keliling Eropa dulu"


"Ya tentu saja, Mamah sama Papah kalo ke luar negri pasti mengajak ketiga anaknya. Bahkan aku juga sering tinggal di LA, di tempat Mamah tinggal sekarang" ucap Arka sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.


"Pasti menyenangkan jalan-jalan. Bayar pesawat nya pun pasti mahal" ucap Herman sambil berdecih.


"Enggak mahal kok, Gratis... Kan Papah punya pesawat jet pribadi" Ujar Arka sambil meminum-minumannya yang sudah tidak dingin, Herman melotot mendengar ucapan Arka.


'Kurang ajar, ternyata hidup mereka enak banget. Beda jauh dengan hidupku' Geram Herman dalam hatinya.


Arka tersenyum sangat tipis, melihat Bapaknya mengepalkan tangannya lagi.


"Kamu gak mau gitu ngajakin Bapak keliling Eropa Ka" Tanya Herman.


"Wah... Maaf Pak. Uang Arka gak sebanyak itu, Tabungan Arka juga udah habis buat ngebangun usaha ini," Ucap Arka


'Nah ketahuan kan. Pasti iri kan, Masa gak iri' Ucap Arka dalam hati.


"Yah pake pesawat pribadi punya Papah kamu. Pinjem dulu masa gak di bolehin"

__ADS_1


"Pak... jalan-jalan itu butuh duit banyak. Bukan cuman free pesawat nya aja, Bapak juga butuh makan dan tempat tinggal. Duit dari mana Arka bayar semua itu. Lagian juga Papah gak bakalan ngizinin. Pesawat pribadi Papah kan di pake Papah buat kerja di luar negri dan luar kota, Kalau lagi bepergian. Papah kan orang sibuk."


"Ya udah... Bapak lapar, katanya kamu mau traktir makan" kesal Herman akhirnya memilih mengganti topik lagi. Herman menahan kedongkolan dan rasa iri yang besar terhadap kehidupan glamor keluarga baru Nissa.


"Ya udah ayok! Kalau traktir sekali-kali mah Arka mampu traktir Bapak, maklum lah Arka kan masih kuliah, kita turun langsung aja" ucap Arka yang langsung bangun dari duduknya dan keluar dari ruangannya di ikuti oleh Herman


Mereka berdua pun memasuki lift dan sama-sama terdiam. Herman yang masih dongkol dengan cerita Arka tadi. sedangkan Arka yang tidak perduli dengan kedengkian Bapaknya.


Mereka berdua pun sampai di lobby kantor. Melihat Arka dan Herman keluar dari lift Sinta pun tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya. Mengapa Arka? dan hanya di balas senyum kecil oleh Arka , perawakan Arka yang tinggi dengan visual tampan, hidung yang mancung, rahang yang tegas dan mata yang menghanyutkan membuat para wanita Diam dan terhipnotis saat Arka melewati Mereka. Di manapun itu, begitupun dengan Herman, walaupun Herman sudah memasuki usia 40 tahunan, tapi dengan badan yang masih tegap dan dengan wajah yang masih memiliki visual yang keren. Menjadikan dia seperti ajushi Korea. Andai Herman kaya raya, pasti Herman punya banyak sugar baby Mengingat sifat Herman yang suka dengan wanita cantik.


Sinta memperhatikan wajah Herman dan Arka tampak bingung.


'Kok wajah pak Arka sama Bapak tadi kaya mirip ya. Mereka berdua kaya Bapak sama anak, tapi gak mungkin akh. Pak Arka kan anaknya Pak Agam. Mungkin mirip doang kali ya' Batin Sinta. Sinta pun memilih untuk tidak memikirkan hal itu. Diapun kembali mengerjakan pekerjaannya.


Arka dan Herman pun memasuki gedung Supermarket dan menghampiri restauran yang menjadi tenant di Supermarket nya Arka.


"Bapak mau makan apa?" tanya Arka yang melihat Herman melihat-lihat restoran yang berjejer.


"Bapak mau makan daging yang di bakar itu, kayanya enak" ucap Herman yang menunjuk ke arah restoran Korea grill. Arka pun langsung melangkahkan kakinya ke arah restoran tersebut di ikuti oleh Herman. Mereka berdua pun masuk ke dalam restoran tersebut.


_____&&&____


Sedangkan di lain tempat....


Kokom yang melihat mantan suaminya pulang bersama wanita cantik dan masih terlihat muda itu, tidak terima dan masih saja terus mengingat kejadian tadi siang.


Kokom berjalan bulak-balik di ruang tengahnya padahal pekerjaannya saja belum di kerjakan. Kokom hanya membersihkan rumah sedangkan Nita. Jangan di tanya lagi, dia hanya diam, nonton TV, makan dan tiduran di kamar, Setelah itu rebahan di kursi depan tanpa berniat membantu Mamahnya yang sedang pusing.


Nita yang melihat Mamahnya kembali seperti setrikaan memijit kepalanya pusing.


"Mah... stop bulak-balik terus, pusing kepalaku liat kelakuan Mamah kaya anak ABG yang mergokin pacarnya selingkuh aja" ujar Nita sebal.


"Diam kamu... Mamah tuh kesal.. kenapa Bapak kamu dengan mudahnya dapetin pengganti Mamah. Jangan-jangan selama ini mereka berdua udah dekat. Sebelum Mamah sama Bapak cerai" Ucap Kokom.


"Ya udah biar Mamah lega dan puas kita labrak aja cewek itu. Kita bilangin sama dia jangan ganggu laki orang" ujar Nita memberikan solusi.


"Tapi kalau dia udah tau Mamah sama Bapak kamu udah cerai gimana?"


"Ya udah bilang aja Mamah sama Bapak mau rujuk, gampang kan. Ayok lah labrak aja, dari pada aku pusing lagi. Mamah kaya cacing kremi kaya gitu" ujar Nita.

__ADS_1


"Ya udah ayok! kamu anterin Mamah labrak si gatal itu," Ucap Kokom semangat 17 Agustus.


__ADS_2