
POV Fina
" Mas tarik kata-kata kamu mas, jangan ceraikan aku kaya gini, jangan buang aku kaya sampah mas "
" Aku udah capek sama kelakuan kamu Fin, uang kamu yang 5 juta bakalan aku balikin, kamu bebas sekarang, tadinya aku masih ingin bertahan karena permintaan ibu yang memintaku untuk sabar sama kamu, tapi kamu emang gak bisa di kasih tau dan gak bisa di kasih hati, jadi silahkan kamu tinggalkan rumah ibu sekarang, karena pernikahan kita hanya pernikahan Siri, jadi tidak perlu repot urus surat cerai dan menuntut apapun.
" Mas kamu gak bisa giniin aku mas, hidup aku sekarang udah hancur aku, kehilangan bayi ku bahkan rahimku udah gak ada, siapa yang mau memperistri aku mas, tolong mas jangan usir aku jangan lakukan ini mas, aku mohon " ucapku mengiba dan ku hampiri mas Herman dan memegang kakinya berlutut.
" Kamu pikir hidupku pun tidak hancur, sama saja Fin, aku kehilangan Nissa, kehilangan kemewahan ku, kesenangan ku, kehilangan istri yang baik dan tulus mencintaiku dan itu semua karena kamu..... Karena kamu Fina ".
" Mas berulang kali kamu bicara seperti itu, dulu kamu juga menikmati nya mas, dulu kamu mencintaiku mas, kenapa sekarang kamu berubah, apa karena aku gak bisa hamil mas, tapi itu semuanya karena kamu, kamu udah dorong aku dan bikin aku keguguran, kalo kamu usir aku dan ceraikan aku, ku pastikan kamu akan membusuk di penjara mas, aku akan laporkan ke Polisi KDRT itu mas "
" Silahkan Fin, toh tak ada yang bisa kamu lakukan sekarang tidak ada bukti, kamu juga tidak Visum saat itu kan, dulu aku memang tergila-gila sama kamu Fin, kamu memberikan gairah yang berbeda, dan aku akan tetap bersama kamu walaupun kamu gak bisa hamil sekalipun, tapi kamu tau hal membuatku begitu jijik sama kamu selain mulut busuk mu itu, badan kamu yang busuk yang telah di jamah oleh banyak lelaki, aku jijik Fin, Se brengsek-brengsek nya aku, aku tetap ingin istri yang baik untukku bukan pelacur kaya kamu " ucap mas Herman yang langsung turun ke bawah, dan aku bisa melihat dia menangis.
" Aku gak bisa Fin, aku terpukul sama perselingkuhan kamu. Aku udah kasih kamu segalanya, tabungan aku yang aku kumpulkan aku kasih kamu, aku juga pernah minta Nissa uang buat jalan-jalan kita, dan saat kita ke grebek aku tetap milih kamu, aku bertahan sama kamu, bahkan Nissa pun tak pernah aku kasih nafkah dengan layak, Nissa selalu menutupi semua kebutuhan kami, tapi kamu yang tidak bekerja yang selalu menuntut aku untuk memenuhi semua mau kamu aku tetap bertahan sama kamu, kamu tau kenapa karena aku cinta sama kamu Fina, aku berharap kamu jadi istri terakhir aku sampai tua, dan aku masih tolerir dengan sifat kamu yang jauh berbeda dengan Nissa, bahkan pembangkang sekalipun, tapi ini.... Kamu tidur sama lelaki lain Fina, sama lelaki tua yang sudah beristri pula, kamu tau gimana sakit hatiku Fin, lebih baik kamu keluar sekarang, aku mau kerja karena udah terlambat, dan saat aku pulang kerja sore, aku minta kamu udah gak ada di rumah ini, kalo kamu masih nekat, aku akan suruh Sari buat nyeret kamu keluar dari rumah ini ". Ucap mas Herman yang langsung berdiri dan menghapus air matanya, berjalan ke arah ruang tengah dan mengambil tas kerjanya, lalu melewati pintu keluar tanpa melihatku lagi, dan disitu aku pun tersadar ternyata aku telah kehilangan laki laki yang begitu berarti dalam hidupku, yang bersedia melakukan apa saja buatku, aku pun bangun dan berlari mengejar mas Herman tapi ternyata mas Herman sudah pergi, Aku menangis sekeras-kerasnya tanpa perduli sekitar dan orang berlalu lalang melihatku.
__ADS_1
Cukup lama aku menangis di luar hingga terasa pegal badanku, dengan langkah yang lemas aku masuk ke dalam rumah, kulihat ibu sedang duduk di kursi tamu bersama Sari menatapku datar, aku bingung bagaimana menebak pikiran ibu sekarang, sungguh aku ga mau pisah , dan keluar dari rumah ini, di mana aku harus tinggal, aku juga masih mencintai mas Herman walaupun sekarang dia pelit dan miskin. Akupun menghampiri ibu yang sedang duduk dan berlutut , mencoba untuk membujuk agar ibu luluh supaya aku tidak jadi keluar dari rumah ini.
" Bu tolong Fina Bu, jangan usir Fina, aku bener-bener minta maaf, Fina menyesal Bu, ampuni Fina Bu " mohon ku pada ibu di bawah kaki nya, ku rendahkan harga diri ku sekarang, karena kalau aku keluar dari rumah ini, aku belom cukup uang dan persiapan sama sekali.
" Bu jangan diam saja tolonglah, aku janji akan mengerjakan semua perintah ibu dan berubah menjadi istri yang baik Bu "
" Kamu tau kan arti kata talak yang keluar dari suami kamu, itu menandakan kalian sudah bukan suami istri lagi, dan sudah tidak bisa bersama lagi, kecuali melakukan akad ulang, tapi ibu tidak akan memberikan restu kalo Herman sampai menikahi kamu lagi.... Kamu tau kenapa...? Ibu tidak mau mempunyai menantu yang minim akhlak kaya kamu, pergilah Fina dari rumah ini, kesempatan yang ibu berikan sudah tidak ada lagi dan Bu Endang juga sudah menyetujuinya, dia tidak mau tau urusan kamu lagi " ucap Bu ibu tegas. Akupun terbelalak dan tak tau harus melakukan apa, apa aku harus keluar dari rumah ini sekarang, ini seperti mimpi buruk, semua yang aku rencanakan hancur, keinginan ku hancur, andai saja aku tak datang ke pernikahan itu. Dengan lemas aku pun berdiri karena sudah tidak ada tenaga untuk melawan, apalagi Sari sudah membawa pentungan yang entah dia dapatkan dari mana, kaki ku pun melangkah memasuki kamar yang selama ini ku tempati, dan ku keluarkan koper lalu kumasukkan semua pakaian dan barang- barang ku yang tidak berguna, bahkan aku tidak punya perhiasan dan tas branded sedikit pun, padahal dulu sejak bersama mas Herman, dia selalu memberikan perhiasan yang mahal dan tas mahal, dan semua nya hilang tak tersisa satupun, akupun kembali menangis mengingat kebersamaan ku bersama mas Herman, dulu.
Tok..... tok......tok......
" Ngapain liat-liat cepet sana keluar itu pintunya" ku lirik Sari dengan mataku menandakan aku sangat membenci dia, tapi aku urungkan, akupun keluar dari rumah ini, meninggalkan semua kenangan tentang mas Herman.
" Kemana ya ini, aku gak punya tujuan sama sekali, nyari kontrakan gak tau mau kemana, selama ini kan hidupku tinggal terima beres " kaki ku pun terus melangkah sampai di jalan besar .
" Hmmmm sepertinya aku ke rumah Tante aku dulu Yang tercinta ia bener banget " ucapku, dengan semangat 45 akupun segera menyetop taksi dan langsung memberikan alamat kepada bapak taksi tersebut. Akupun senang dengan pikiran pintar ku ini, tak membutuhkan waktu lama taksi pun akhirnya sampai di depan rumah Tante Arum.
__ADS_1
Aku akan terus tinggal di rumah ini, Pikirku.
Ku langkahkan kakiku menuju gerbang, tapi aku di stop oleh pak Dadang, apa- apaan ini kenapa gak di bolehin masuk.
" Pak saya mau masuk, biasanya saya tinggal masuk masuk aja gak pake di tahan kaya gini"
" Maaf Bu Fina udah di blacklist oleh ibu jadi gak bisa masuk ke rumah ini ".
" Maksudnya apa di blacklist, kamu pikir aku bodoh , aku ini ponakan nya yang punya rumah, buka gak pintunya sekarang, rese banget sih " ucapku teriak teriak di depan pagar, tapi nih si kampr* t malah nelpon ke dalam bukannya cepetan di bukain pintu, mana udah panas banget ini, haus juga, pikirku. Tak lama aku melihat ada Tante Arum keluar dengan mba Nissa, kulihat perut mba Nissa sudah terlihat besar, dan itu semakin membuatku marah, karena dia bisa hamil sedangkan aku tidak akan pernah bisa, dan dendam ku semakin membara saja tapi aku harus tahan sampai aku bisa tinggal di rumah ini dan membuat mba Nissa kehilangan bayinya, pintu gerbang pun di buka, pada saat aku akan masuk ke dalam tiba-tiba Tante Arum keluar dan menutupnya lagi.
" Mau apa kamu kemari, pagi-pagi ngerusuh di depan rumah orang aja hahhh " ucap Tante Arum dengan ucapan pedasnya, aku harus sabar.... Batinku.
" Tante tolong aku Tan..... Cuman Tante keluarga aku satu-satunya di kota ini, bahkan ibuku sendiri membuang ku, aku di usir oleh suamiku, bahkan aku di ceraikan Tante, aku gak tau harus kemana lagi, tolonglah Tante biarin aku tinggal disini " ucapku mengiba sambil meneteskan air mata yang ku buat-buat.
" Masih punya muka kamu meminta tolong sama saya, setelah menghina anak saya habis-habisan hah, dasar otak udang, kenapa di buang kamu sama si Herman, karena udah gak bisa punya anak ya sama dia, apa yang kamu gunakan ke anak saya berbalik sendiri kan ke kamu, udah sana pergi, saya tidak mau menampung manusia seperti kamu, minim akhlak dan penghancur rumah tangga orang lain " ucap Tante Arum. Aku kaget mendengar kata kata Tante Arum, bagaimana bisa dia mengetahui rahasia ku yang ingin ku tutupi rapat-rapat, kalo mereka berdua tau , semakin hina dan jatuh harga diriku, apalagi di depan mba Nissa.
__ADS_1
" Joko..... Dadang usir dia, kalo dia datang lagi langsung usir saja..... Jangan di biarkan masuk... Apalagi memanggil saya.... Tuan... Atau Nissa mengerti" ucap Tante Arum yang langsung masuk ke dalam. Tanpa melihatku lagi. Dan aku benar-benar terusir untuk kedua kalinya, lantas kemana lagi aku harus pergi, ini benar-benar seperti NERAKA yang menyiksa ku, tak ada lagi yang peduli padaku. Aku pun berjalan membawa dua koper di kanan dan kiri tanganku untuk mencari kontrakan.