
POV Herman
" Mau apa kamu kesini lagi?" ujar ibu mertua dengan muka datar tapi dengan tatapan seperti ingin membunuhku. Aku menekan salivaku kasar melihat gaya tubuh mertuaku seperti ingin mengajak tawuran.
" Ekh.... Ini mah....anu... "
" Mamah.... Mamah.... Denger ya Lintah darat! Saya Bukan Mamah Kamu! capek saya kasih tau kamu, kalo ngehalu tuh jangan lama-lama, sadar diri." Bentak ibu mertua.
" Astaga mah jangan marah-marah tar cantiknya ilang," ucapku.
" Capek deh ngomong sama orang gila," ujar mantan mertua langsung masuk ke dalam dan nutup pintu.
Jeblag.......
" Astaga, pintunya di tutup, Tunggu Bu Ia ia dah maaf Bu. Saya hanya ingin tanya mengenai Nissa dan anak saya Bu," ucapku sambil menggedor-gedor pintu yang telah di tutup oleh ibu Arum. Seketika pintu pun terbuka kembali, dan menampilkan wajah mantan mertuaku lagi, semoga kali ini dia tidak jutek seperti tadi.
" Masuklah, saya akan jelaskan sama kamu, biar kamu sadar siapa kamu! dan siapa mantu ku yang baru itu , biar matamu melek," ucapnya pedas.
Astaga, dulu pas waktu jadi mantunya ia baik banget, tuh mulutnya, sekarang pedes banget kaya sambel. Kami berdua pun masuk dan datanglah mbok Jum dengan membawa air putih, aku mengernyitkan dahiku, astaga lagi aku datang kesini hanya di sediakan air putih.
" Jadi kamu mau Nanya tentang cucuku? anaknya Nissa."
" Anak saya juga.... Bu "
" Anak kamu? kamu cuman ayah biologisnya cucu saya aja, kamu gak pantes jadi ayahnya, enak sekali main ngaku-ngaku! Pernah gak selama Nissa hamil kamu nanyain kandungan Nissa, atau setidaknya ngasih perhatian ke kandungan Nissa? Enggak kan! Yang ada kamu hanya bikin mental Nissa down dengan fitnahan kamu itu, gak ingat kamu udah buat anak saya sakit hingga Mata Hatinya Terluka dan kamu sudah hancurin kehidupan anak saya, sama mulut sampah kamu itu, udah kerjaan kamu tukang zina, kawin-cere, Kawin-cere Mulu, gak malu kamu ngakuin anak ke cucu saya!" ujar mantan mertuaku membeberkan kejelekan ku.
" Ia Bu, aku tau banyak kesalahan ku sama Nissa, aku khilaf dan menyesal, tapi kan tetep aku punya hak atas anak aku Bu, aku juga ingin ketemu dan melihat muka nya Bu, Aku mohon bu izinkan aku melihat anakku." Melasku ke ibu Arum sambil menunduk memegang kakinya.
" Kamu menanyakan hak sama saya? gak salah! pernah gak kamu jalani kewajiban kamu, jangan jadi orang yang gak tau diri kelamaan Herman, kamu memang ayah kandungnya cucu saya, tapi kamu gak punya hak atas cucu saya, dan jangan jadikan cucu saya alat untuk kamu memperalat Nissa lagi, saya tau otak busuk kamu Herman, nih alamat Nissa Biar kamu bisa lihat betapa jauh nya perbedaan kamu di bandingkan dengan suami Nissa yang sekarang yang pantas menjadi ayah dari cucu saya, lihatlah rumah mereka biar kamu sadar diri, siapa diri kamu? biar gak usah terus-terusan halu untuk rujuk sama anak saya. Sekarang kamu pergi dari rumah ini, dan jangan pernah tampakkan lagi muka kamu di depan ku, karena aku udah muak!" ujar mantan mertuaku.
Aku hanya menatapnya, sebegitu bencinya kah? mantan mertuaku ini padaku, padahal dulu dia begitu menyayangi ku seperti menyayangi Nissa anaknya sendiri. Aku pun mengambil kartu nama atas nama Agam dan disitu tertera alamat rumahnya. Karena sang pemilik rumah sudah pergi, lekas ku tinggalkan rumah besar ini dan karena aku haus, ku habiskan air putih ini, untuk meredakan emosi dalam hatiku.
Lekas aku keluar dan mengendarai sepeda motorku menuju ke rumah yang tertera di kartu alamat ini, perjalanku pun sangat lancar seakan keberuntungan sedang tersenyum kepadaku, akhirnya aku sampai juga di depan komplek perumahan yang tertera seperti dikartu alamat yang diberikan Ibu Arum.
Wow....Rumah disini gede-gede amat, ini mah bukan komplek,Cluster kali ya? gumamku melihat keadaan rumah disini, aku pun menanyakan ke pak satpam yang menjaga pintu gerbang.
" Permisi pak, Saya mau tanya kalo alamat ini rumahnya sebelah mana ya pak?" tanyaku kepada dua satpam penjaga gerbang.
" Oh rumahnya pak Agam ini mah, bapaknya lurus aja mentok rumah yang paling gede pokoknya di Custer ini, ada No rumah nya kok," ucap security itu.
Aku terbengong dengan ucapannya, melihat rumah di depan ku ini aja sudah sangat besar, apalagi katanya rumah Agam adalah rumah paling besar di komplek ini, masuk gak ya?, Akh bodo amat lah, datangin aja udah kepalang aku kesini.
Ku lihat sekeliling rumah disini dengan pagar yang menjulang tinggi, jalan disini pun sangat rata dan bagus kaya jalan tol, dan hanya mobil mewah yang dari tadi ku lihat, ternyata dari pagar depan cluster ke rumah nya Agam sangat jauh, pas sampai mentok ku lihat No di pintu pagar.
Ia bener ini rumahnya, tapi tinggi banget nih pagarnya ya. Aku pun turun dari motorku dan memencet bel yang ada di tembok sebelah pintu pagar. pintu pun terbuka keluarlah satpam penjaga rumah sepertinya.
__ADS_1
" Cari siapa pak?" tanya satpam tersebut sopan.
" Maaf pak saya cari Nissa, benar ini rumahnya Nisa dan Agam."
" Ia benar pak, tapi maaf pa, Bapak ini siapa ya?"
" Saya Herman pak, mantan suami nya Nissa, saya kesini ingin melihat anak saya pak," ucapku jujur.
" Oh ayah kandung nya den Arka, tapi non Nissa sama pak Arga sedang keluar pak, mereka sedang ke Bandung pak." Terang pa Security.
" Oh kapan pulangnya ya pak, kalau boleh tau?" Tanyaku lagi.
" Besok juga pulang pak "
" Ya udah kalo gitu pak, terima kasih banyak atas informasinya, tapi maaf sebelumnya boleh saya minta minum gak pak? saya haus banget perjalanan panas soalnya."pintaku.
" Oh ya udah masuk dulu pak," ucap bapak satpam.
Saat aku masuk dan melihat rumah di depan ku, astaga naga, Mataku terbelalak, jarak antara pintu depan ke rumah nya juga lumayan jauh lah, tapi masih bisa kulihat kemegahan rumah dengan gaya Eropa clasik dengan dua pilar yang ada di depannya, Ini sih bukan rumah, Tapi istana. Ya tuhan begitu beruntung nya Nissa, sejenak aku merasa rendah dengan keadaanku saat ini.
" Duduk dulu aja di sini pak, aku telepon orang rumah dulu ya pak,"ucap pak Security
" Ia makasih pak," ucapku yang duduk di pos satpam.
Seharusnya mereka biarkan saja aku masuk, ingin sekali aku melihat keadaan dalam rumahnya. Tak menunggu berapa lama terlihat seorang ibu-Ibu yang ku perkiraan seorang ART, datang sambil membawa air mineral dalam botol, ya tuhan air putih lagi, gumamku dalam hati.
" Ia pak makasih ya, Kalo begitu saya permisi dulu," ucapku yang langsung ke luar dan menaiki motor kesayangan ku ini, karena sekarang aku sangat lelah, ku putuskan untuk pulang ke kontrakan saja untuk beristirahat karena besok jadwal kerja masuk pagi.
Sesampainya di kontrakan, ku rebahkan badan di kasur yang ukurannya hanya untuk 1 orang, ku ingat lagi rumah yang ku lihat tadi, begitu megah bagai istana dan ku bandingkan dengan keadaan kontrakan ku yang sekarang, sungguh sangat jauh berbeda, seandainya aku bisa tinggal disana, hidupku begitu sempurna. Batinku.
Ternyata Nissa juga sama aja, dengan wanita di luar sana, materialistis! Pantas saja dia tidak mau kembali dan rujuk sama aku, dia tidak memikirkan anak kita, Nissa cuman mikirin dirinya sendiri. Gimana caranya ya ? ingin sekali aku menghancurkan pernikahan mereka. Pikirku melamun.
Apa aku hasut aja suami nya Nissa? buat cerein Nissa, atau aku buat Nissa ninggalin suaminya yang sekarang, tapi kayanya gak mungkin! Orang suaminya kaya banget begitu, tar aja lah aku pikirin lagi, yang penting besok aku harus balik ke rumah Nissa, sehabis kerja. Pikirku.
Kruyuk..... Kruyuk...
" Aduh lapar, Ya nasib duda merana mandiri, makan sendiri, mandi sendiri, kagak ada istri yang menemani," ucapku langsung ke luar mencari makanan ke warteg.
Keesokan hari nya, aku pun bekerja dengan semangat, tidak ada lagi, leha- leha, galau merana, dan pura-pura lemas seperti belum makan. Aku melakukan pekerjaan ku dengan cepat, agar cepat pulang juga karena aku ingin segera bertemu dengan anakku.
"Di luar hujan ya? ets..ets.. Tumben amat nih sih kutu kucing kerjanya bener, kagak ada drama-drama pengen pingsan segala," ucap SPV ku emang kurang ajar, aku di panggil kutu kucing.
" Ya elah pak, di luar bukan ujan! tapi cerah benderang dan mudah-mudahan jangan sampai ujan!
" Oh.... Masa ia di luar cerah, kalo gitu kamu kesurupan jin Tomang ya? tumben amat, kerja rajin."
__ADS_1
" Ia pak, Saya mau cepet pulang, mau ketemu sama anak saya, bentar lagi kan waktu nya pulang, biar kerjaan beres jadi saya gak usah lembur." ucapku dengan penuh semangat
" Ya udah beresin cepet gak pake lama ya."ujar SVP lagi.
" Ini aja dari tadi udah cepet," ucapku yang hanya mendapatkan anggukan dari SPV ku yang somplak itu dan dia pun pergi berlalu begitu saja.
Akhirnya kerjaan beres, saatnya pulang dan kerumah Nissa. Aku pun langsung bergegas ganti baju yang rapih dan rambut ku sisir biar gak keliatan banget miskinnya. Pikirku.
Otw....
Saat sampai depan Custer aku bertemu lagi dengan bapak security yang kemaren, dan dia pun hanya memberikan senyuman, dan aku pun langsung saja membawa motorku ke depan rumah Nissa. Ku pencet bell yang ada di tembok dan munculah bapak satpam yang kemaren memberikan aku air minum.
" Ekh si bapak datang lagi, cari bu Nissa ya?"
" Ia pak, Nissa nya udah pulang pak?"
" Udah pulang pak, kebetulan pak Agam juga ada di rumah, sebentar saya tanya ke dalam dulu ya pak."
" Ia pak," ucapku sambil menunggu bapak satpam menghubungi orang rumah.
" Baik pak silahkan masukan ke dalam saja motornya, dan ikut saya ke dalam, saya akan antarkan," Aku pun hanya menganggukkan kepalaku saja dan kumasukkan motor ku dalam sebelah pos ronda.
Setelah itu aku mengikuti bapak satpam untuk masuk kerumah, saat sedang berjalan, ku lihat-lihat halaman yang begitu luas, dan di hiasi berbagai macam kebun bunga, bagus sekali, sepertinya ini kegiatan Nissa, dan saat aku memasuki pelataran rumahnya, ku lihat gerasinya, ya tuhan... Itu mobil ada lima ku lihat dan ku hitung, itu mobil semuanya mahal, Bahkan ada dua mobil sport yang harganya pasti mahal, sebenarnya sekaya apa suami Nissa yang baru ini, jiwa kismin ku meronta untuk mencoba mobil tersebut.
Saat sampai ke dalam, kulihat sekeliling, aku semakin terpana dengan berbagai isi rumah ini, bahkan lampu gantungnya saja gede minta ampun, atapnya pun tinggi, ini rumah benar-benar jelmaan dari Istana, bakalan betah aku tinggal disini, pikirku.
Saat sampai di ruang keluarga kulihat ada Nissa sedang menggendong bayi yang persis sepertiku, tapi kalo di lihat dari wajah, memang dia tampan, tapi sepertinya masih tampanan diriku. Dan Nisa kenapa bisa berubah menjadi cantik banget kaya gini sih, kulit mulus dan pakaian yang bagus melekat pas di tubuhnya yang memang tinggi semampai.
" Pak Herman silahkan duduk," ucap laki- laki di sebelah Nissa, yang ku perkiraan adalah suami Nissa, dan Nisa hanya menatap ku datar, aku pun duduk di kursi yang empuk sekali.
" Mau apa kamu kesini? sepertinya gak ada lagi yang harus di bahas!" ucap Nissa ketus.
" Masih ada masalah yang harus kita bahas Nis, Tentang anak kita." Ucapku tak kalah ketus.
" Anak kita? Siapa yang kamu maksud anak kita? Arka hanya anakku, kamu hanya ayah biologis nya Arka, bukan ayahnya jadi jangan mengakui hal yang hanya akan membuatmu tampak semakin bodoh!" ucap Nissa pedas sekali, tapi aku harus menahannya demi tercapainya misiku.
" Dia anak kita Nis...? Jadi Arka namanya, nama yang sangat bagus sekali. Lihat, mukanya sangat mirip dengan ku Nis, dan kamu gak bisa sangkal akan hal itu."
" Terus kenapa kalo mukanya mirip kamu, itu gak mengubah kenyataan bahwa kamu udah bikin dia malu nanti di masa depannya, jadi lebih baik dia tidak tau ayah kandung nya masih ada atau tidak!" Ucap Nissa yang membuatku geram, dia sepertinya ingin membuatku mati di mata anakku.
" Gak bisa begitu Nis, aku sebagai ayahnya masih punya hak, aku juga ingin bertemu dengan Arka setiap hari, aku juga ingin menggendong nya seperti kamu menggendong nya, aku ingin mengurusi Arka."
" Jangan mimpi Herman! aku hamil aja dulu kamu gak pernah perduli, malah kamu fitnah aku, jadi jangan bicara masalah hak padaku sekarang, karena kamu emang ga layak!"
" Pokoknya aku gak perduli, dengan atau tanpa izinmu, aku akan kesini, kalau boleh setiap hari untuk bertemu dengan Arka "
__ADS_1
" Silahkan saja, kalo kamu bisa masuk!"
" Kamu memang benar-benar wanita serakah Nissa, kalo kamu gak bisa menuhin keinginan ku untuk mengurus Arka, aku akan tinggal di rumah ini, biar bisa ketemu Arka tiap hari dengan atau tanpa izin dari kamu." Ucapku.