MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
DEBAT SENGIT


__ADS_3

Setelah debat Kokom yang tak ada ujungnya. Herman meninggalkan kokom dan menaiki motornya dan langsung mengegaskan motornya tanpa mendengarkan teriakan Kokom.


"Lama-lama pusing kepalaku, denger ocehan radio butut gak berhenti-henti," Dumel Herman di atas motornya yang masih berjalan. Herman mengendarai motornya dengan pelan menuju rumahnya untuk beristirahat. Sedangkan Kokom dan Nita masih ada di pengadilan, Kokom yang masih marah karena sikap Herman yang tidak mau membatalkan gugatannya, ataupun rujuk menjadi tambah marah, karena perlakuan Herman yang kurang mengenakkan.


"Kita harus ke rumah Bapak sekarang Nit" Ucap Kokom yang pergi dari parkiran.


"Ia Mah, aku pesan taksi online dulu, biar cepet sampe" ujar Nita. Dia pun mengambil HP di tasnya lalu mulai memesan taksi online. Dan tak lama taksi online pun datang, mereka berdua pun naik ke taksi online tersebut untuk ke rumah Herman.


Saat sampai di rumah Herman, Kokom dan Nita pun turun dari taksi tersebut dan langsung ke rumah Herman, mengendor- gedor pintu dengan lumayan kencang, lalu munculah dengan raut wajah yang dingin seperti tidak menerima kedatangan mereka berdua.


"Cepatlah masuk kamar! dan cari barangmu itu, lalu keluar dari rumah ini " ujar Herman dingin.


"Kamu tidak menawarkan kami berdua minum dulu Pak" ujar kokom yang memandang Herman dengan mata memelas, sepertinya kokom memiliki kepribadian ganda, atau muka dua, sangat pandai menyembunyikan wajah aslinya.


"Cepatlah, jangan bertele-tele, tidak ada minum untuk kalian berdua!" ujar Herman malas mendengarkan ocehan kokom yang tidak berguna itu, dengan lemas kokom dan Nita pun pergi ke kamar yang dulu pernah menjadi kamar Kokom dan Herman. Herman menjaga mereka dari luar dengan berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kalau di rumah orang itu setidaknya tahu diri, buat gak acak-acak barang" ujar Herman pedas, Kokom yang mendengarkan hanya sedang mencari lebih jauh lagi laci yang hanya dirinya sendiri yang tahu, karena dirinya yang membuatnya.


"Gimana Mah? kok lama nyarinya?" tanya Nita.


"Bentar ini Mamah lagi nyari" ujar Kokom ketus.


"Kalian ini lama banget nyari barang, ada gak sih itu barang, atau kalian cuman ingin merencanakan sesuatu, seperti mengambil sertifikat rumah ku, kalau itu tujuan kalian, kubur saja rencana kalian itu, karena sertifikat rumah ini, sudah saya simpan di bank." ujar Herman santai, Nita dan kokom sedikit kaget, karena tujuan mereka sudah terbaca oleh Herman, tapi Kokom berusaha untuk tenang tidak menampilkan wajah gugup.


"Aku sama sekali tidak berminat untuk mengambil rumah ini, yang aku inginkan kembali ke rumah ini dan mengembalikan keluargaku seperti dulu!" ujar Kokom tanpa melihat Herman. Sedangkan Herman hanya diam saja, tidak ingin meladeni ucapan Kokom yang menurutnya tidak tulus itu, Herman sudah tidak bisa percaya lagi dengan mantan istrinya itu.


"Cepatlah! kalian berdua ini lama sekali, ada tidak sih itu barang" ucap Herman sedikit marah.


Kokom pun berdiri dan menghampiri Herman...


"Katakan padaku, kamu telah mengambil kotak perhiasan ku kan Pak" ujar kokom dengan nada marah.


"Setelah kalian mengubrak-ngabrik lemariku, sekarang kamu nuduh aku sembarangan, punya otak gak sih kamu!" marah Herman, sambil meletakan kedua tangannya di pinggangnya.

__ADS_1


"Buktinya kotak perhiasanku tidak ada, kotak itu sangat besar dan tempat persembunyiannya juga besar dan tidak bolong, gak mungkin jatuh, kalau bukan kamu yang ambil" ujar kokom berteriak tak kalah sengit.


"Beraninya kamu teriak di depan saya! pake otak bodoh!, saya aja gak tahu kamu naro sesuatu di lemari itu, dan mempunyai laci rahasia, dan sekarang kamu nyalahin saya?" Kemarahan Herman yang tidak terima di teriaki oleh mantan istrinya yang sangat menyebalkan ini.


"Lalu kotak itu kemana? gak mungkin kotak itu pindah sendiri!" ucap kokom.


"Ya mana saya tau? kamu yang punya kotak kenapa nanya saya? kalau memang kotak itu gak ada mending kalian berdua keluar dari rumah saya, cepat!"ujar Herman.


"Gak bisa! Sebelum saya menemukan kotak perhiasan yang menjadi hak saya. Saya akan tetap di rumah ini, dan akan mencarinya..." Ujar Kokom tak kalah sengit. Kokom kembali mencari ke lemari tersebut. Nita yang benar-benar lelah. Hanya duduk di ranjang tempat tidur, sedangkan Herman yang sudah kesal dengan kelakuan Kokom karena sekarang Kokom sedang mengeluarkan semua pakaian Herman dari dalam lemari.


"Kamu udah semakin kurang ajar ya! Udah gue bilang jangan berantakin barang-barang gue. Ini malah di keluarin semua. Berhenti wanita gilak!" Bentak Herman menahan tangan Kokom yang terus saja mengeluarkan baju Herman ke lantai hingga berantakan. Kokom malah mendorong Herman dengan sekuat tenaga hingga Herman sedikit oleng. Herman semakin kesal dengan kelakuan Kokom hingga dia maju mendekati Kokom dan menampar langsung pipinya dari pinggir. Hingga membuat Kokom terhuyung.


Nita yang melihat ibunya di pukul. Kaget dan tidak terima, akhirnya Nita berlari menghampiri ibunya, sedikit berlari.


"Mamah gak apa-apa?" Ujar Nita.


"Sakit Nit...!" Ucap Kokom mengelus terus pipinya yang nampak merah itu.


"Bapak... keterlaluan kenapa harus memukul Mamah! Kdrt ini namanya, Nita bisa saja lapor bapak ke Polisi dan menjebloskan bapak ke penjara!" Ujar Nita menatap Herman nyalang. Tapi Herman tidak takut. Malah memandang mereka berdua dengan tatapan jijik.


"Ayok Mah sebaiknya kita pulang Saja! Percuma juga ibu masih mengharapkan Bapak. Dia sudah membuang kita dan menganggap kita sampah!" Ujar Nita memandang Herman dengan mata tajamnya.


"Jangan menatap saya seperti itu Nita. Seharusnya kamu sadar diri dan ibu kamu juga sadar diri. Mana mungkin saya masih mau bersama ibu kamu yang sudah melakukan hubungan suami istri dengan laki-laki lain di luaran sana!" ujar Herman memandang Kokom rendah dan itu membuat Nita tidak percaya. Nita membelalakan matanya.


'Bagaimana Bapaknya bisa tau kalau ibunya sudah tidur dengan ayah kandungnya' Tanya Nita dalam hatinya.


"Kenapa...? Aku bisa tau! kalau ibu kamu tidur sama ayah kamu, di kontrakan yang kalian tinggali sekarang. Seharusnya kamu malu! Punya ibu yang dengan mudahnya tidur dengan suami orang lain. Walaupun itu adalah ayah kandungmu sendiri!" Ucap Herman pedas!


"Jangan hina Mamah saya bapak! Mamah saya bukan wanita murahan. Lagi pula Papah saya akan menikahi Mamah sebentar lagi, dan ini juga karena Bapak yang mengusir kami dari rumah ini!" Teriak Nita tidak terima, padahal kenyataannya semua yang di katakan Herman adalah benar adanya.


"Apa kamu yakin...? Kalau saya sih gak yakin. Tapi saya juga tidak perduli, Jadi dari pada kalian membuat kamar saya lebih hancur seperti kapal pecah lebih baik kalian pergi dari sini! sebelum saya panggilkan Pak RT dan warga desa untuk mengusir kalian dari sini!" Ancam Herman.


"Dimana perhiasan ku Pak? Kembalikan!" teriak Kokom, putus asa karena perhiasan itulah satu satunya harta Kokom sekarang.

__ADS_1


"Kamu nanya, kamu nanya? Yang punya barang siapa. Ngapain kamu nanyain ke saya. Tau ada barang itu di lemari saya juga enggak!"


"Aku gak percaya. Pasti kamu udah sembunyiin perhiasan-perhiasan saya. Itu hak saya Pak sebagai istri kamu, karena sudah melayani kamu selama ini." Teriak kokom.


"Terserah kamu...! Saya gak peduli lagi! Lebih baik kalian berdua KELUAR" teriak Herman hingga membuat keduanya kaget.


"Keluar...! Kalau tidak saya bisa berbuat nekat!" Ujar Herman lagi. Membuat Nita segera menarik ibunya keluar karena takut akan wajah Herman yang sangat menyeramkan itu.


"Nit... Lepaskan Mamah Nit... Mamah belum nemuin perhiasan mamah Nit!" Ujar Kokom yang tangannya masih di tarik oleh Nita untuk keluar dari kamar dan rumah Herman. Herman yang mengikuti mereka dari belakang langsung menutup pintu dan menguncinya setelah Nita dan Kokom keluar dari rumahnya.


"Akhirnya para benalu itu pergi! jadi Adem kan rumah, gak ada hawa-hawa panas lagi di rumah ini," gumam Herman yang tersenyum senang dan masuk ke kamarnya.


"Kokom emang gak tau diri, malah di acak-acak. Jadinya harus di rapihin lagi kan ... " Ujar Herman membereskan pakaian dia yang berantakan, di lipatnya satu persatu. Dan di masukan lagi ke dalam lemari.


"Nit... Berhenti...!" Teriak Kokom kepada anaknya, karena terus saja menariknya.


"Mah... Udah cukup untuk hari ini... Kita bisa mencarinya lain hari. Dan aku yakin perhiasan Mamah masih di dalam, aku udah gak bisa denger ucapan Bapak yang ngehina Mamah sampe kaya gitu. Aku sakit hati Mah!" Ujar Nita yang membuat Kokom menghembuskan nafasnya kasar.


"Terus rencana kamu gimana? Kita gak bisa kehilangan perhiasan-perhiasan Mamah Nit. Banyak banget masalahnya," Ujar Kokom cemas. Hingga menggigit kuku nya.


"Emangnya banyak banget berapa juta? palingan 10 juta doang kan" ujar Nita melipatkan tangannya di dada.


"Enak aja... Itu perhiasan mamah kalau di jual masih laku hingga 80 juta Nit, Sembarangan kamu!" ujar Kokom membuat mata Nita melotot sempurna.


"What... Mah! kenapa gak di simpan di bank aja sih. Begok banget Mamah ikh, Kesel aku" geram Nita mengucapkan kata kasar ke ibunya.


"Mulut mu ni, kurang ajar! Mamah gak mikir bakalan pisah Bapak kamu tadinya, jadinya Mamah tenang-tenang aja," ucap Kokom lemes.


"Terus sekarang gimana...? Kalo gak bisa dapatin perhiasan mamah ... Kita harus curi sertifikat ini... Nita yakin bapak bohong tadi masalah sertifikat itu mah... Gak mungkin di taro di bank.. bapak kan orang nya irit..." Ujar Nita..


"Tar aja deh.. pipi mamah sakit... Kita pulang dulu aja mendingan... Kamu pesen taksi online aka..." Ujar Kokom


"Gak kita naik angkot aja... Mahal naik taksi online.. " ujar Nita yang akhirnya meninggalkan ibunya sendirian.

__ADS_1


"Terus kita jalan kaki gitu.... Nit... Ogah Mamah ga mau jalan kaki ke jalan besar.. tar kaki mamah lecet... " Ujar Kokom yang tetap mengejar anaknya menggunakan sepatu yang mempunya hak yang lumayan tinggi.


__ADS_2