
Mbok Jum yang memang sudah begitu dekat Nissa dan keluarga nya sudah tidak canggung lagi untuk berbicara dengan Nissa. Begitupun Nissa yang sudah menganggap mbok Jum seperti ibu nya sendiri.
Mbok Jum duduk di samping Nissa dan memperlihatkan Video yang di rekam tadi, Nissa yang melihat seksama Video tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Kapan kejadiannya mbok?" tanya Nissa
"Tadi Non. Habis magrib kayanya" ujar mbok Jum
"Pantas saja, dia belum pulang padahal udah malam kaya gini" Ujar Nissa mengepalkan tangannya. Nissa mencoba meredam emosinya, menghadapi bibit pelakor seperti ini, harus dengan cara yang harus pintar
"Jadi gimana Non, kalau menurut mbok sih mendingan langsung keluarin aja dari rumah ini, dari pada dia nambah nekat nantinya."
"Tunggu dulu. Santai aja mbok, aku mau balas manusia yang gak tau diri ini, dengan caraku, pokoknya mbok liatin aja. Dan awasi dia, jangan sampai dia ngasih sesuatu ke mas Agam atau masuk ke kamarku. Dia kayanya punya niat busuk buat keluarga ku Mbok" ujar Nissa dengan seringai di bibirnya.
"Ia sepertinya, pokoknya bibi ikutin rencana Non aja yang penting Non juga harus tanya sama pak Agam, biar gak jadi Miss komunikasi"
"Enggak bi, aku ingin mas Agam yang cerita ke aku, biar aku tau tanggapan dia kaya gimana, dan dia bakalan jujur gak sama aku."
"Ya sudah kalau gitu Non, bibi ke belakang dulu" ujar Mbok Jum yang berdiri untuk kembali ke kamarnya di belakang, walaupun kamar Mbok Jum adalah kamar asisten rumah tangga dan letaknya dekat dengan dapur, tapi khusus untuk mbok Jum, kamarnya sangat luas, di lengkapi dengan AC dan TV, serta ranjang yang lumayan besar, ada lemari untuk pakaian Mbok Jum, pokoknya fasilitasnya sangat lengkap.
"Mbok udah makan kan? masalahnya kita berdua udah pada makan di luar" ujar Nissa menghentikan langkah mbok Jum
"Udah kok Non, cuma tuan Agam bagaimana? masalahnya sesuai dengan perintah Non, mbok gak masak."
"Aku yang masak mbok, request tuan muda" ujar Nissa.
"Baik Non, kalau gitu mbok ke belakang dulu" ujar mbok Jum yang langsung meninggalkan Nissa sendirian di ruang depan.
Dalam keheningan dan kesendirian, Nissa menatap dinding yang berada di depannya dengan pandangan dingin dan menusuk, Nissa sedang menyusun semua rencana keji di dalam otaknya. Tidak ada yang tau, semenjak Nissa menikah dengan Agam, sifat psikopat Nissa muncul walaupun tidak sekejam Agam. Nissa menyeringai menyeramkan saat matanya masih menatap dinding tersebut.
"Aku mendapatkan mainan baru," gumam Nissa, dia bangun dari duduknya dan melangkahkan kaki ke lantai atas ke kamar dirinya dan suaminya tercinta. Dia ingin mengetahui apakah Agam akan menceritakan apa yang dia alami hari ini atau tidak, walaupun Nissa tau Agam akan selalu setia, wanita seperti Ruth bukan apa-apa, menjadi istri dari seorang Agam, lelaki tampan, kaya dan memiliki kharisma yang kuat pasti mengundang banyak ulet bulu yang bertebaran di manapun, bahkan Nissa pernah dengan terang-terangan di lantai oleh model ternama, karena menjadi istrinya Agam. Dan Nissa pernah di rendahkan, karena dia adalah seorang janda beranak satu. Dan tidak pantas menjadi istrinya Agam, tapi semua ulet ulet bulu itu mundur teratur, bahkan mereka ketakutan untuk berurusan dengan Nissa dan Agam, karena sisi jahat Nissa muncul kepermukaan.
Saat sampai kamarnya. Nissa melihat Agam yang telah tertidur, Nissa menghampiri suaminya dan duduk di pinggiran Kasur sebelah suaminya itu. Nissa mengusap lembut rambut Agam, dan menatap Agam dengan penuh cinta.
"Akan aku singkirkan ulet bulu penganggu itu, kenapa sih kamu harus setampan ini walaupun sudah tua juga, Ucap Nissa dalam hati.
"Sedang menikmati ketampanan suami mu ini ya sayang" ujar Agam yang langsung membuka matanya.
"Ia suamiku ini, memang tampan, baik dan apa lagi ya" ujar Nissa menggoda suaminya.
"Kamu lapar gak sayang? aku masakin ya, makanan kesukaan kamu" ucap Nissa menggenggam tangan suaminya.
"Sure... Aku lapar banget, Tapi sebelum kamu masak. Ada yang mau aku omongin dan ini serius." ujar Agam.
"Kamu mau ngomong apa? Serius banget kayanya"
"Kalau bisa pembantu kamu yang baru ganti aja" Ujar Agam langsung to the point.
"Kenapa emangnya kerjanya bagus kok!" ujar Nissa pura-pura tidak tau dengan wajah polosnya.
"Kamu gak tau aja. Muka-muka kaya dia, muka siluman ular sayang, masa tadi dia godain aku, pake acara buatin kopi. Tapi bajunya kurang bahan kaya gitu, boro-boro aku nafsu, yang ada aku jijik Mah." Ujar Agam kesal. Nissa tersenyum menggelengkan kepalanya melihat suaminya menggerutu, yah itulah Agam akan menjadi anak kecil. Kalau bersama dengan Nissa sang pawangnya.
__ADS_1
"Aku udah tau dari bibi, barusan dia laporan ke aku"
"Kamu udah tau! baguslah jadi gak perlu nunggu lama, kamu harus ganti dia!"
"Tidak segampang itu sayang, biarin aku main-main dulu sama Ruth, pasti bakalan seru!"
"Ya udah terserah kamu aja, besok aku mau pulang ke Indonesia, kamu gak bisa ikut pulang sama aku sayang, aku bener- bener butuh kamu"
"Hmm... bagaimana sama anak kita Alisha mas?"
"Baiklah, jaga putri kecil kita, Alisha lebih membutuhkan kamu, nanti dua Minggu lagi aku balik ke sini ya"
"Jam berapa besok kamu berangkat?"
"Siangan Mah, aku mau ngasih tugas ke Alisha dulu"
"Jangan buat Alisha capek-capek, kasian dia lagi hamil cucu kita, tar kecapean."
"Tenang aja. Ada Ruben yang jadi asisten dia dan ada Anita, yang bakalan bantuin Alisha, aku udah kasih mereka tugas"
"Baguslah!"
"Kamu juga bisa bantuin Alisha di kantor mah, ngawasin staf aku juga. Takutnya ada yang gangguin Alisha nanti"
"Ia sayang, aku bakalan temenin Alisha nanti di kantor. Ya sudah aku masak dulu siapin kamu makan, habis itu aku mau mandi."
"Mandi bareng aja.... " Ujar Agam memandang Nissa dengan senyuman mesum nya.
Keesokan harinya Agam, Alisha dan Nissa sedang sarapan di meja makan, Ruth pun datang, karena sudah waktunya dia bekerja, hati Ruth was-was, takutnya Agam menceritakan perilakunya kemaren ke pada Bos nya Nissa. Tapi saat Ruth masuk dan melihat Nissa dan Agam baik- baik saja, hati Ruth menjadi tenang.
"Kamu udah datang Ruth, sudah sarapan?" ujar Nissa menyapa Ruth, berpura-pura, tidak mengetahui apa yang Ruth lakukan ke suaminya kemarin, akting Nissa sangat natural, seharusnya Nissa menjadi aktris, karena bisa membohongi orang dengan aktingnya itu.
"Sudah Bu.. di rumah" ujar Ruth yang sedikit melirik ke arah Agam.dan tanpa Ruth ketahui Nissa sedang memperhatikan arah mata Ruth.
"Kamu kenapa...? Kaya liatin suami saya? ada yang mau di omongin sama suami saya?" ujar Nissa yang membuat Ruth langsung kaget dan menatap Nissa. Ruth pun langsung pucat pasi.
"Tidak ada Bu. Maaf saya lihat pak Agam belum ada kopinya, bagaimana kala saya yang buatkan Bu" ujar Ruth gugup
"Oh... Gak usah, suami saya gak akan suka kopi, kalau bukan buatan saya, Ruth. Takarannya gak enak katanya. Lagian ini masih pagi, mas Agam gak pernah minum kopi pagi-pagi" ujar Nissa telak, membuat Ruth kembali salah tingkah.
"Kalau begitu... Saya permisi ke dalam ambil peralatan bersih-bersih ya Bu.
"Oh ia Ruth... Kalau boleh saya minta tolong itu di belakang rumput sudah pada tinggi, kamu tolong pangkas sekalian ya" Ujar Nissa.
"Rumput Bu...?" Ruth terbengong dengan apa yang Nissa katakan.
"Ia ... Gak apa-apa kan, lagi pula, rumah kayanya masih bersih. Tolong kamu rapihkan aja ya! Makasih loh" ujar Nissa menahan ketawanya, karena melihat wajah Ruth yang semakin pucat.
"B...baik Bu" ucap Ruth lemas. Sungguh Ruth begitu malas, jika harus memotong rumput, panas panasan di luar, walaupun perumahan Nissa adalah perumahan elit. Tapi Nissa membuat kebun bunga dan rumput, karena belakang rumah Nissa yang luas. Ruth pun melangkahkan kakinya ke belakang, untuk mulai mengambil vacum cleaner untuk membersihkan ruangan depan.
"Ini rencana kamu Mah. Buat ngerjain dia" ujar Agam. Nissa hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Alisha yang masih belum mengerti hanya diam melihat kelakuan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kayanya aku ketinggalan sesuatu ya?" ujar Alisha menyelidik kedua orang tuanya.
"Nanti Mamah jelasin, kamu cepetan makan nya ya" Ucap Nissa.
Mereka bertiga pun selesai memakan sarapan mereka. Alisha dan Agam, langsung pamit kepada Nissa. Agam mencium kening Nissa. Dan Ruth yang kebetulan sedang membersihkan sofa melihat adegan mesra itu dari balik kaca, mengepalkan tangannya erat, Ruth kesal dengan kemesraan mereka berdua.
Agam dan Alisha pun menaiki mobil dan mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang dan menghilang di belokan gang.
Setelah mobil Agam tidak terlihat, Nissa pun masuk ke rumahnya untuk membersihkan sisa sarapan. Nissa yang melihat Ruth sedang membersihkan sofa hanya tersenyum smirk, tanpa menyapa Ruth, dan Ruth juga pura-pura tidak melihat Nissa.
Nissa melihat mbok Jum sedang membersihkan sisa sarapan dan mencuci piring dan menghampiri mbok Jum.
"Mbok aku mau ke kantor mas Agam, ya mbok" ujar Nissa.
"Ia Non. Ada yang mau di buatin buat bekel Bu" ujar mbok Jum.
"Gak ada mbok. Aku mau siap-siap aja" Ujar Nissa, lalu Nissa melihat ke arah depan takutnya Ruth sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Tapi Nissa melihat Ruth masih kerja. Di ruangan depan.
"Mbok... Tolong awasi Ruth ya, dan buat dia memotong semua rumput di belakang, aku bakalan pulang sore hari mbok" bisik Nissa ke telinga mbok Jum.
"Baik Non.. beres pokoknya masalah ngerjain dia! mbok Jum juaranya."
"Ia... Kalau urusan ku sudah selesai kemungkinan siang juga aku udah pulang bi. Makasih ya bi aku ke kamar dulu" Ujar Nissa yang langsung pergi ke kamar nya di lantai bawah.
Setelah bersiap-siap. Nissa pun memakai pakaian terbaiknya dengan memakai pakaian mahal dan membawa tas hermos. Keluaran terbaru, semua orang pun tau tas mahal itu. Harganya bisa mencapai milyaran, tubuh Nissa sangat profesional walaupun sudah melahirkan dan akan menjadi seorang Nenek. Tapi itu tidak mengurangi kecantikan Nissa, apalagi penampilan Nissa kali ini, dengan hijab dan dress yang senada, membuat penampilan nya elegan walaupun menutupi semua auratnya.
Nissa pun turun ke lantai bawah dan melihat Ruth yang juga memandang nya dengan tatapan yang biasa.
"Ruth! Rumput di belakang udah kamu kerjain?" ujar Nissa.
"Belum Bu" Ujar Ruth dengan suara di buat-buat halus, padahal Ruth sedang iri setengah mati, Ruth pun melihat perhiasan yang di pakai Nissa, jam tangan cincin bertahtakan berlian dan gelang yang bertaburan berlian. Serta tas mahal yang di bawa Nissa membuat Ruth semakin iri dan marah melihat penampilan Nissa kali ini. Nissa tersenyum melihat arah mata Ruth yang melihat penampilan dan perhiasan yang ia kenakan.
"Kenapa Ruth ada yang salah dengan penampilan saya?" ujar Nissa menahan tertawa dalam hati.
"Oh tidak Bu. Saya melihat penampilan ibu yang sangat luar biasa, mau pergi Bu" tanya Ruth menyembunyikan kekesalan dalam hatinya.
"Ia saya dan suaminya saya mau kencan hari ini, kita mau ke Mall dan nonton" ujar Nissa memancing ekspresi Ruth dan benar saja muka Ruth langsung memerah menahan marah.
"Kamu kenapa Ruth sakit, kok mukanya merah gitu?" ujar Nissa dengan ekspresi khawatir.
"Gak apa-apa Bu. Perut saya memang sedang kurang enak sejak pagi ini bu"
"Kalau gitu kerjanya pelan-pelan aja ya Saya mau pergi dulu!" ujar Nissa yang langsung pergi meninggalkan Ruth dengan segudang emosi.
"Kurang ajar tuh bos gila, pake segala pamer barang mewah" Gumam Ruth kesal. Mbok Jum yang melihat Ruth mengumpat majikannya menjadi ikutan marah dan menghampiri Ruth.
"Siapa yang gila Ruth." tanya Mbok Jum melihat Ruth yang langsung kaget karena suara mbok Jum.
"Gak ada mbok. Saya cuman becanda ini, ya udah mbok saya ke belakang ya, mau motong rumput di kebun belakang" ujar Ruth yang panik takut perkataannya tadi di dengar oleh mbok Jum.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_&&&\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1