MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
CURHAT RAYYAN KE ABANGNYA


__ADS_3

[ Halo Bu... Gimana udah bilang ke ayah? kalau aku mau kuliah di Universitas nya Rayyan ] ungkap Nita yang saat ini masih di kampus nya Rayyan yang ada di Bandung, Arka juga kuliah satu Universitas dengan Rayyan tapi berbeda jurusan, sehingga tempat mereka berbeda pula.


[ Sudah Nak, Tapi ayah kamu lagi gak ada uang katanya, sudah minta sama anaknya si Arka gak di kasih juga, tapi kok kamu kuliahnya di tempat si Rayyan, gak di tempat nya Arka? ]


[ Sama saja Mah, cuma beda Fakultas doang, pokoknya Mamah harus bujuk Papah, biar aku bisa kuliah di kampus ini, aku mau kuliah bareng Rayyan Msh, kali aja dia jodoh aku, kan Mamah yang untung sendiri kalo aku bisa nikah sama pewaris Wijaya GROUP ]


[ Ia kamu bener, si Rayyan tangkapan besar, kalo gitu kamu tanya aja rincian biaya nya berapa, kalau Papah kamu gak bisa ngasih uangnya, nanti Mamah bakalan jual sawah Bapak kamu yang lumayan gede itu, warisan dari ibu Endang ]


[ Tapi Mah, Bukannya yang tanahnya luas itu, udah jadi milik Arka ya ]


[ Masa sih, kan sertifikat nya ada di tangan Papah kamu ]


[ Ekh si Mamah ini gimana sih, orang nenek endang udah ngasih langsung sama Arka sertifikat nya, karena takut di pake Papah ]


[ Gagal dong cuma itu satu-satunya harta Papah kamu. Tanah yang lainnya udah di jual ]


[ Pokoknya Nita gak mau tau, Nita pengen kuliah di sini, tar aku kirim rincian biayanya ] ujar Nita yang langsung memutuskan sambungan telepon bersama ibunya, Nita pun bangun dari duduknya karena tadi di dorong oleh Rayyan, setelah membersihkan kotoran di celananya, Nita segera berjalan ke arah bagian administrasi untuk menanyakan syarat dan besarnya biaya yang harus di keluarkan jika ingin kuliah disini.


"Aku masuk dulu lah ke dalam, ini kan kampus gede, banyak orkay yang kuliah disini, ya kali aja kalau gak dapet Rayyan, dapet anak orkay lain juga gak apa-apa lah, toh muka gue kayanya gak jelek-jelek amat," Nita percaya diri melangkahkan kaki nya ke dalam wilayah kampus, penampilan Nita memang lumayan menarik dengan tinggi nya 160 dan berat badan yang hanya 50kg, dengan rambut lurus hitam sebahu, membuat Nita memiliki badan sedikit proporsional, walaupun Nita memiliki kulit yang sawo matang tapi membuat Nita tampak manis bila di lihat. Nita melihat Mahasiswa dan Mahasiswi yang kuliah disini, sambil tebar pesona dan tersenyum semanis mungkin, Ada yang membalas senyuman Nita, ada yang aneh melihatnya, bahkan ada yang cuek bebek tidak perduli, tapi Nita tidak perduli, dia harus membuat masa kuliahnya menjadi indah, apalagi jika sudah mendapatkan Rayyan.


"Akh kampusnya bagus banget ... OMG... Gue pokoknya harus kuliah disini, biar temen-temen gue di kampung pada panas, dan gak ngeremehin gue lagi. Apalagi kalau gue sudah dapetin Rayyan anak orang kaya no 1 di negeri ini, makin kebakaran jenggot manusia-manusia di kampung," gumam Nita berbicara sendiri, sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


"Apa gue tanya aja ya, takutnya nyasar lagi muter-muter mulu," gumam Nita sekali lagi melirik ke orang-orang di sekitarnya, seketika senyum di wajah Nita pun terbit terlihat ada 3 orang Mahasiswa yang sedang berkumpul di taman sambil membaca buku, Nita pun memutuskan menghampiri mereka.


"Selamat siang kak," ucap Nita dengan senyum yang masih terbit di wajahnya. Nita yakin Pasti Mahasiswa ini terpesona melihat kecantikan dirinya.


"Siang, kenapa ya?" Tanya salah seorang Mahasiswa.


"Buset dah ni orang judes banget," ucap Nita dalam hati.


"Maaf saya mau tanya kalau kantor Administrasi nya di mana ya?" Nita bicara selembut mungkin.


"Oh... Kantor Administrasi, Lurus saja Bu, Belok kiri sebelah kanan tuh baru kantor Administrasi," jelas Mahasiswa tersebut sopan.


"What ibu....? Astaghfirullah masa kece begini di bilang ibu-Ibu." Kesal Nita tapi hanya bisa diucapkan nya dalam hati.


"Kakak ini suka ngelawak, jangan panggil saya ibu atuh, saya masih muda kak, baru saja mau masuk semester 1, tapi maaf kak kalau ngerepotin, bisa atuh saya nya di anterin."


"Ohhhhhhhh.......kirain saya ibu-ibu, situ kaya Tante-tante sih, Jalan sendiri aja ya, Kita lagi sibuk soalnya."


"Ya sudah atuh makasih ya mas," sahut Nita yang menghentakkan kaki nya kesal, karena perlakuan Mahasiswa tadi, sedangkan 3 Mahasiswa itu hanya cuek bebek aja semua.

__ADS_1


"Sialan cowok-cowok tadi enak saja manggil gue Tante-tante... Gak tau apa muka gue Baby Pace mirip Nikita Willy...," Ucap Nita misuh-misuh dan langsung saja melaju ke arah kantor Administrasi.


&&&&&&&


[ Halo.. assalamu'alaikum bang.... Abang di mana? masih di kampus gak? ] tanya Rayyan yang langsung menghubungi kakaknya itu, setelah bertemu dengan dedemit berwujud manusia.


[ Wa'alaikum salam de, ia Abang masih di kampus kamu mau kesini, datang aja ke kelas abang ]


[ Ok bang, Rayyan otw ya bang, assalamu'alaikum ] Rayyan pun menutup teleponnya dan langsung melaju mobilnya dengan kencang. Saat sampai di area kampus Arka, Rayyan langsung turun dari mobilnya dan menuju ke kelas arsitek dimana Arka menuntut ilmu, walaupun Arka di wariskan perusahaan dari pihak Neneknya( Nenek Arum ), yaitu perusahaan kelapa sawit, yang memiliki lahan yang yang luas dan berhektar-hektar di Kalimantan sana, tetapi Arka tetap ingin meraih mimpinya yaitu menjadi seorang arsitek yang handal.


Saat Rayyan tiba di kelas Arka, untung saja Arka sudah tidak ada kelas, Rayyan pun masuk, Tapi langkah Rayyan terhenti, dan tiba-tiba saja Rayyan gugup karena Arka bersama dengan beberapa orang temannya, salah satunya adalah Fatma, Mahasiswa semesteran 7 yang sama dengan abangnya, wanita berhijab dengan gamis panjang dan jilbab panjang menutupi tubuhnya, hanya terlihat wajahnya yang teduh yang selalu membuat hati Rayyan tenang, Arka sedang mengerjakan tugas kelompok seperti nya.


"Hey bang... Assalamualaikum," Rayyan menyapa abangnya Arka, sambil Rayyan menyapa kepada semua temannya Arka juga, salah satunya adalah wanita yang Rayyan sukai.


"Duduk de.. bentar ya gue mau ngomong sama adek gue dulu," ucap Arka ke semua temanya, dan Rayyan pun tersenyum ke semua temannya Arka.


"Ok..." Ucap teman Arka kompak.


"Kita duduk di luar ya de," ajak Arka kepada Rayyan dan mengambil tempat duduk di taman, yang masih banyak Mahasiswa dan Mahasiswi yang sedang kelompok atau pun hanya main saja.


"Kenapa de... Kayanya gawat ya...?"


"Lu ingat gak bang, anaknya bapak Herman yang cewek, anak sambung nya maksudnya?"


"Gue gedek banget tuh anak emang setan, Tiba-tiba muncul main peluk-peluk gue dari belakang, gue dorong saja dia sampe jatoh bang"


"Wah gokil lu de! kalau Abang liat bakalan Abang tambahin tuh, Taplokin lumpur ke mukanya, Abang masih kesal sih, dulu dia hampir aja bikin rusuh di pesta ulang tahun wedding Mamah sama Papah, pake mau nampar Alisha segala."


"Nah itu dia bang, sampai sekarang Rayyan masih dendam sama itu cewek, cuman yang Rayyan bingung, kok dia bisa tau Rayyan kuliah di sini."


"Kayanya bapak yang ngasih tau, Soalnya kemarin dua bulan yang lalu Bapak ada tanya tanya aku, kamu dan Alisha kuliah di mana, karena si Nita juga mau kuliah."


"Ya Allah males banget kalau tuh cewek harus sekampus sama Rayyan."


"Sudah cuekin aja, Lagian emang dia bisa masuk kampus kita. Kan ketat banget, yang punya duit banyak saja, belum bisa tentu masuk, kalau kagak pinter."


"Semoga aja ya bang beneran sumpah males banget kalo sampe ketemu sama dia setiap hari di kampus, bakalan di bully mulu tiap hari sama wanita jadi-jadian itu."


"Kayanya dia naksir kamu dah!"


" Siapa bang... ?"

__ADS_1


"Itu si Nita..."


"Idih amit-amit, Ogah kalau sama dia mah, Kalau sama ukhti sih gak apa-apa."


"Siapa ukhti," tanya Arka bingung menatap adiknya lekat.


"Gak apa-apa bang, Rayyan balik dulu, Abang pulang kapan?"


"Ye... Si ojan suka mengalihkan pembicaraan,"


"Gak apa-apa bang, Rayyan Pulang dulu assalamu'alaikum," pamit Rayyan yang langsung lari dari Arka, karena takut di interogasi macam-macam.


"Dasar bocah gemblung... sepertinya sudah mulai demen sama cewek rupanya, tapi siapa ya...?" Gumam Arka bingung memikirkan wanita yang di sukai adiknya itu.


Drt...drt...drt ..


HP Arka pun berbunyi. Arka mengambil HP nya yang ada di saku celananya, di lihatnya nama kontak siapa yang menghubunginya, seketika wajah Arka malas, tapi mau bagaimana lagi, Bapak kandungnya nya lah yang menghubungi nya.


[ Assalamualaikum]


[ Waalaikum salam ka... Ini Bapak ka, Bapak boleh minta tolong ]


[ Kenapa Pak? Kalau Bapak mau minta uang, maaf Arka gak bisa, uang Arka itu cuma cukup buat kuliah doank ]


[ Kok gitu, emangnya Mamah kamu gak pernah kasih uang ]


[ Mamah selalu kasih uang, tapi buat kebutuhan Arka, bukan buat di Hambur- hamburkan ]


[ Kak, tapi kan Bapak ini Bapak kandung kamu, seharusnya sudah jadi kewajiban kamu buat bantu Bapak ]


[ Bapak menanyakan kewajiban Bapak sama Arka, apa selama ini Bapak memberikan hak Arka, enggak kan? ]


[ Ya itu kan karena Mamah dan Papah kamu kaya ka, jadi kamu gak perlu uang lagi dari Bapak ]


[ Nah ... Itu bapak tau uang Arka dari Papah, jadi Bapak tidak berhak minta uang Arka, sudahlah Pak, kalau cuma mau ngomongin itu doank Arka sibuk Pak ]


[ Tunggu ka... Tunggu... Ok. Bapak gak minta uang sama kamu, Cuma Bapak mau minta tolong, Bisa gak Papah kamu bantuin biayain anak bapak Nita, untuk kuliah di kampus nya Rayyan ]


[ Hahahahaha .... Bapak bilang apa? Bayarin kuliah anak Bapak, Pak dia itu bukan anak Bapak, hanya anak sambung saja, Kadang aku merasa aneh sama Bapak, untuk anak sambung Bapak aja .. yang gak ada hubungan darah, Bapak bisa memberikan apapun, sedangkan untuk Arka? Yang punya hubungan darah sama Bapak, bahkan Bapak tidak perduli, menelpon Arka hanya untuk minta duit, nanyain Kabar Arka juga gak pernah. Maaf Pak Papahku yang paling aku sayangi dan sangat menyayangi ku itu bukan badan amal, jadi kalau anak kesayangan Bapak mau kuliah, cari uang sendiri sana, kalau enggak lewat jalur beasiswa itu pun kalau otak dia mampu, lagian Bapak ini gak malu, anak kesayangan bapak itu pernah hampir mau nampar Princess kami, apa Bapak masih punya muka untuk minta tolong? Definisi manusia tidak tau malu, Maaf kalau Arka kasar sama Bapak, assalamu'alaikum] telepon pun di matikan oleh Arka.


Herman merasa tersentil dengan apa yang Arka ucapkan, Herman merasa malu, Herman malah memanjakan anak sambung nya dan melupakan anak kandung nya sendiri, sedetik kemudian jatuh lah air mata Herman.

__ADS_1


_____&&&______


__ADS_2