
Ia Herman adalah ayahnya, dan aku belum memikirkan sama sekali masalah ini, apakah harus ku beritahu atau tidak nya, lebih baik aku tanyakan keluarga dan sahabat ku untuk persoalan ini, karena aku juga tidak bisa memutuskan sendiri dan aku juga tidak mau karena kehamilan ku ini di jadikan alat untuk Herman mencoba untuk kembali padaku, apalagi dia sudah tau tentang keadaan ku dan penghasilan ku, dia pasti bakalan berusaha untuk kembali padaku lagi untuk memenuhi semua gaya hidupnya yang material itu, apalagi sekarang yang kutahu keuangannya sedang amburadul dengan gaji yang sedikit, di tambah lagi Fina yang tidak bekerja dan Tante Mayang yang tinggal bersama mereka. Pasti makin pusing si Herman memikirkan keuangannya.
"Belum Tante, Herman belum tau soal ini, dan sepertinya aku gak akan memberitahukan Herman masalah ini sekarang, biarlah dia dengan hidup barunya bersama Fina. Aku sudah gak mau hidup dengan si benalu seperti Herman, Tantem" Ucapku menjelaskan.
"Dan aku harap Tante jangan memberi tahu siapa-siapa dulu ya Tante! Tentang kehamilan ku ini."
"Ia sayang, Tante mengerti! Tante ga akan kasih tau siapa-siapa tentang kehamilan kamu Nak. Dan beruntungnya kamu sekarang sudah pisah sama Herman, kalau kamu belum bercerai, Tante yakin pasti si Herman gak bakalan mau melepaskan kamu, Tante yakin itu." Ucap Tante Dwi sambil memeluk dan menenangkan ku, di usapnya punggungku dengan lembut.
Semua saudara Papah sangat baik kepadaku dan Mamahku, karena kami semuanya sudah biasa untuk saling membantu satu sama lain, ketika ada keluarga yang mengalami kesusahan, maka dari itu ketika semua keluarga tau bahwa Fina selingkuh dengan mas Herman yang notabenenya adalah suamiku waktu itu, semua keluarga Papah dan keluarga Mamahku sangat membenci Tante Mayang dan Fina, apalagi mereka mengetahui apa yang telah kami lakukan untuk membantu keluarga Tante Mayang. Jadi keluarga ayah tidak ada yang respect atau membantu Tante Mayang sama sekali ataupun menyalahkan Mamah, saat Mamahku mengusir Tante Mayang dari rumah yang sebenarnya rumah yang di tempati Tante Mayang adalah rumah Nenek dari pihak ibuku.
"Ya sudah Dit, Arum, Nissa, Tante pulang dulu ya, nanti usahain datang ya, jangan sampai enggak datang, kalau kalian gak datang aku bakalan marah," ucap Tante Dwi dengan raut wajah di buat marah dengan campur tersenyum.
"Ia mba kita pasti datang bertiga," jawab Papah ku. Lalu Tante Dwi pun meninggalkan kan kami bertiga yang masih duduk di ruang tunggu dokter kandungan, setelah beberapa menit Tante Dwi meninggalkan kami, nama aku pun langsung di panggil oleh Suster yang menjadi Asisten Dokter kandungan, langsung saja aku dan Mamahku langsung masuk ke ruangan Dokter tersebut dengan Mamah yang menggandeng tanganku karena badan ku masih terasa sedikit lemas, sedangkan Papah ku menunggu di luar tunggu Dokter saja, beliau tidak mau masuk ke dalam.
"Siang Bu, ada yang bisa saya bantu? Ada apa keluhannya Bu? " tanya Dokter yang baru ku tahu bernama Dokter Melisa, yang terlihat dari pin namanya yang langsung saja memberondong kami dengan beberapa pertanyaan.
"Ini Dok, anak saya tadi pingsan, Pas lagi jam kerja dikantornya. Terus di bawa ke klinik terdekat pas di cek sedang hamil Dok, jadi kami ingin memastikan tentang janin yang di kandung anak saya Dok." Jelas Mamahku selengkap mungkin.
"Baiklah Bu silahkan berbaring dulu ya Bu! Saya akan periksa menggunakan USG Bu."
Aku pun langsung bangun dari dudukku dan di papah oleh Mamahku menuju ranjang periksa Dokter. Baju bagian atas ku pun di buka sedikit sehingga menampilkan perut ku yang sedikit gendut, aku pun tidak menyadari karena tak pernah memperhatikan penampilan ku sebelumnya, apalagi setelah perceraian ku bersama mas Herman, aku lupa untuk merawat diriku sendiri karena disibukan dengan pekerjaan yang tiada habisnya.
Jeli dingin pun di oleskan oleh asisten Dokter keperutku rasanya dingin di kulitku, lalu dokter Melisa menggunakan alat USG keperutku dan melihat ke layar monitor untuk mencari janinku.
"Ini kantung janin nya sudah terlihat, dan janinnya pun juga sudah terlihat berkembang dengan baik Bu. Alhamdulillah janinnya juga terlihat sehat ya Bu....." Ucap dokter Melisa menjelaskan keadaan janinku.
"Kira-kira usia nya berapa bulan" tanyaku.
__ADS_1
"Sekitar 8 Minggu Bu, Ibu Nissa harus benar- benar menjaga janin ibu ya, karena ini masih trimester pertama jadi benar-benar harus dijaga makanannya, vitaminnya dan harus benar-benar istirahat Full." Jelas Dokter Melisa yang langsung berpindah ke tempat duduk Dokter yang semula.
Aku pun di bantu oleh Asisten Dokter untuk menutup kembali baju ku dan di papah oleh Mamah dan Suster untuk turun dari ranjang pasien. Setelah itu aku dan Mamah pun langsung duduk kembali di kursi pasien yang telah di sediakan.
"Di jaga baik-baik ya Bu kandungannya, kalau bisa ibu lebih baik mengambil cuti seminggu ini untuk istirahat di rumah dan hanya berdiam diri di kasur saja, tidak boleh melakukan kegiatan apa pun kecuali mandi dan buang air Bu, karena ibu juga kan sebelum ini sudah pingsan jadi tolong di perhatikan kondisi badan ibu sendiri, sekali lagi makanannya tolong di jaga ya Bu...... Ini saya akan resepkan obat penguat kandungan, dan Vitamin yang harus ibu minum sampai habis, nanti di tebus saja di apotik ya Bu." Ucap dokter Melisa.
"Baik Bu dokter, saya akan ingatkan anak saya terus agar melakukan semua yang Dokter katakan tadi," ucap Mamahku, dan aku hanya bisa tersenyum kepada Dokter Melisa.
"Terima kasih banyak Dokter" ucapku masih lemah.
"Kalau begitu kami Pamit dulu ya Bu, terima kasih banyak," ucap Mamahku. Lalu kami berdua langsung meninggalkan ruangan Dokter Melisa dan membawa resep obat yang langsung Mamah berikan ke Papahku untuk di tebus di apotek rumah sakit ini.
Aku pun yang masih di papah oleh Mamah di dudukan di kursi roda, Mamah pun membawaku ke lobby rumah sakit untuk menunggu Papah yang sedang menebus obat biar tidak berjalan jauh ke parkiran mobil, karena ruangan apotik harus masuk ke dalam lagi jadi jaraknya agak jauh dari lobby dan parkiran mobil.
Beberapa menit kemudian Papah pun datang membawa obat dan Vitamin untukku dan kami pun langsung menuju tempat parkir mobil dan langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Aku pun langsung masuk kamarku, cuma bedanya sekarang kamarku ada di bawah yang sebelumnya sudah di bersihkan dan di tata seperti kamarku yang ada di atas, dan barang-barang ku juga sudah di pindahkan ke kamar bawah.
Saat aku bangun ternyata hari sudah sore, dan aku hampir saja melewatkan sholat ashar ku, walaupun badan masih terasa lemas lekas aku mengambil wudhu ke kamar mandi dan melaksanakan sholat ashar dengan khusyuk dan berdoa kepada Allah atas berkah dan rezeki yang kudapatkan sekarang, walaupun pernikahan ku hancur karena orang ke tiga tapi Allah sungguh baik dengan menghadirkan anak dalam kandungan ku yang akan menjadi penguat diriku dan memberikan kebahagiaan di dalam hidupku kelak. Aku pun mengelus perutku yang agak sedikit gemuk dan tersenyum berdoa semoga anakku bisa berkembang dengan baik dan sehat sampai di lahirkan." Mamah menunggu mu lahir sayang," ucapku dengan senyum terpatri di bibirku.
"Sayang kamu udah bangun Nak," Mamahku Ku pun masuk ke kamarku dan surprise nya di belakang Mamah ada Sera, Danu, arsyi, dan Diana datang menjengukku.
"Hay kesayangan," ucap Sera dan Arsyi kompak. Kami pun yang ada di ruangan ini langsung tertawa bersama.
"Gimana tadi udah ke dokter Nis? Alhamdulillah sehat kan Nis?" tanya Sera yang langsung duduk di sebelahku.
"Alhamdulillah anakku sehat Ser Dan kalian tau sekarang kandungan ku udah 8 Minggu, gak nyangka padahal sebelumnya gue gak ngerasain apa-apa."
__ADS_1
"Ia ya gue liatin lu gak pusing atau apalah gitu" ucap Arsyi heran.
"Berarti pas kita di Labuan Bajo lu udah hamil. Untung banget lu gak capek-capek ya Nis," ucap Sera.
"Nih Nis kita bawain buah-buahan seger biasanya ibu hamil pengennya yang seger- seger." Ucap Danu yang langsung meletakkan parcel buah ke nakas di sebelah kasurku.
"Oh ia Diana gimana tugas kantor? kayanya aku beberapa hari ini gak bisa masuk, tar aku hubungi pak Boy dah, dan guys maaf ya gue harus ngambil keputusan ini, gue mau resign dari kerjaan gue sekarang."
Mereka ber empat semuanya menatapku dengan kaget tapi Sera menghela napasnya tanda mengerti dan menggagukan kepala dan langsung memelukku.
"Its Ok. Honey itu keputusan yang paling bagus Nis, sekarang lu fokus saja sama kandungan lu,... Tapi lu harus ingat! kita semua akan selalu ada buat lu, Jadi kalo lu butuh apa-apa langsung hubungi kita dan gue juga gak mau lu hilang kontak sama kita semua," ucap Sera setelah memelukku dan menguatkan ku.
"Ia Bu, tenang aja masalah kerjaan aman, tadi juga saya sudah hubungi pak Boy Bu, dan pak Boy tidak mempermasalahkan nya."
"Ia Nis, ya walaupun pasti kantor bakalan sepi, tapi gue dukung juga keputusan lu. Ini saatnya lu bahagia karena kan lu sebentar lagi jadi ibu, Jadi lu harus jaga bener-bener kandungan lu itu dan jaga kesehatan lu ya. Kita-kita pasti bakalan sering kesini kok buat jengukin bumil kita yang cantik ini." Ucap Arsyi.
"Tapi Nis si semprul Herman mau lu kasih tau gak? Tadi dia nyamperin gue pas gue baru sampe Lobby dan dia tau lu pingsan, tapi gue cuekin malah gue tinggalin dia di Lobby. Sepet banget gue liat muka dia yang sok khawatir sama lu gitu," ucap Sera.
"Please ya jangan ada yang ngasih tau dia dulu. Si kadut kan suka bilang gue mandul dan gue mau bikin surprise pas di acara nikahan anak Tante gue sama si Fina kalau gue hamil..... Dan dia gak bakalan ngatain gue lagi atau ngehina gue lagi... "
"Ya sudah kalau itu jadi keputusan lu buat ngerjain si Fina atau balas dendam sama dia, lu harus tetep kasih tau gue ya Nis, karena gue seneng banget buat ngerjain Fina habis- habisan entar gue bantuin," ucap Sera semangat.
"Ia lu kasih tau gue juga Nis, Rasanya pengen gue jait tuh mulutnya si Fina, Pelakor yang gak tau diri," ucap Arsyi. Aku pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum melihat kelakuan absurd sahabat-sahabat ku itu. Mereka yang begitu baik dan setia kawan serta selalu ada menguatkan ku..... Allah sungguh baik memberikan berkah yang luar biasa ini. Kami pun mengobrol ngaler ngidul di kamarku, untung saja di kamarku itu ada sofa dan meja, jadi tidak ada yang berdiri di kamarku.
Setelah azan magrib berkumandang kami semua termasuk Mamah yang masih ikut nimbrung untuk ngobrol bersama temanku mengajak kami semua untuk sholat magrib berjamaah, dan kebetulan di rumahku ini ada tempat khusus yang di sediakan untuk sholat berjamaah.
Setelah sholat berjamaah selesai kami semua pun langsung menuju meja makan untuk makan malam bersama. Tepat saat sedang makan makan tiba-tiba pak Joko datang ke dalam rumah dan mengabarkan bahwa di gerbang depan ada pak Herman yang ingin bertemu dengan ku, Seketika itu juga kami semua pun terdiam..
__ADS_1
"Herman ngapain sih dia kesini? Suruh pulang aja Joko! bilangin Nissa nya udah tidur dan jangan berani datang lagi kerumah ini." Ucap Papahku marah dan kesal. Dan pak Joko pun langsung keluar dan memberitahukan pesan dari Papahku ke mas Herman.
Mau apa lagi mas Herman kesini? Sepertinya firasatku benar kalau mas Herman bakalan mengusik hidup ku lagi setelah tau penghasilan ku dan beberapa aset yang ku punya.