
POV Nissa
Setelah melalui perdebatan alot dengan manusia yang tak tau malu itu, aku memutuskan untuk pulang, kini mood ku menjadi down karena lelaki aneh itu.
Ya tuhan, kenapa aku harus bertemu dengan orang semacam itu, apa gak cukup dengan Herman mengacaukan hidupku sekarang malah datang lagi yang baru, Aku menghembuskan nafas ku kasar.
"Kenapa yank? Bete banget kayanya tuh muka di tekuk aja, awas loh tar bibirnya kaya Bimoli," ejek Agam sambil menoel-Noel dagu ku gemas. Aku kesal sebenarnya, ku hempaskan tangannya yang terus saja menyentuh daguku, untung saja mas Agam lagi nyetir, kalo enggak ku smackdown nih.
"Ayank, kamu kok santai banget sih, biasanya kalau ada orang yang godain aku, kamu langsung bertindak dan posesif banget, lah ini enggak, malah diem saja," sewot ku penasaran sebenarnya ada apa ya dengan mas Agam.
"Gak lah, kalau kasus yang ini, gak bisa dengan cara biasa yank, harus pake otak," ucap Agam menunjuk ke bagian kepala sampingnya.
"Maksudnya mas? kok pake otak, emang mau ikut olimpiade! Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku ya?" ucap ku curiga, apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu.
"Tar ya, nanti sampai rumah Aku ceritain semuanya, kita lagi di jalan bahaya sayang."
"Ok. tapi beneran ya cerita, jangan bikin aku penasaran."
"Ia sayang," ucap mas Aga malah menggoyangkan rambutku, kan jadinya berantakan, aku hanya melihatnya kesal, eh si tersangkanya malah cengengesan saja.
Saat sampai rumah, Agam dengan sigap menggendong Arka di pelukannya, dia memang merupakan ayah yang siaga, dan pengertian, aku merasa beruntung menikah dengan teman masa kecilku ini, aku dan mas Agam pun masuk ke dalam rumah, mbak Sus pun datang menghampiri kami, mas Agam memberikan Arka ke gendongan mba Sus, sebelum mba Sus pergi, ku cium pipi terlebih dahulu Arka yang ku sayang. Mungkin Arka sangat lelah, sehabis bermain tadi, tidurnya pulas sekali.
Setelah kami hanya tinggal berdua, Agam memegang tanganku erat, dan menuntunku ke ruangan kerjanya, disitu kami duduk bersama, aku menatap matanya penasaran, sebenarnya apa yang terjadi? pertanyaan itu terus berputar di otakku.
"Mas.... Ceritalah, sebenarnya ada apa?" ucapku memegang erat tangannya, ya tuhan, Tangan mas Agam dingin sekali, apa karena AC nya? batinku.
"Mas... Tangan kamu dingin banget, kan kita baru makan tadi, Kamu masuk angin, apa AC nya terlalu dingin? Aku benerin dulu suhu nya ya" tanya ku.
"Enggak sayang, Aku gak apa-apa, Aku hanya terlalu banyak pikiran, aku ingin tanya sama kamu? Kapan kamu ketemu sama Riki, dan bagaimana bisa dia kenal kamu?" Tanya Agam.
"Kami bertemu saat pernikahan Sera yank, itu pun dia yang nyamperin aku, dan kamu tau apa yang bikin aku benci sama dia," ucapku kesal.
"Dia itu SKSD ( sok kenal sok dekat) banget yank, dan aku gak suka caranya yang suka maksa-maksa, ketahuan modusnya," ucapku sebal.
"Ohh begitu, kayanya dia cinta sama kamu yank, pas pertama kali ngelihat kamu di pesta nikahannya Sera."
"Terus..... Aku harus bilang wow gitu mas, karena kita kedatangan musuh baru."
"Enggak juga sih, biasa saja"
"Apa Dia ngancam kamu mas?"
"Kok kamu tau? dia ada ngancem aku,"
"Jadi beneran kamu di ancam sama dia, wow.. dia punya nyali juga yank ngancem kamu, padahal aku hanya menebak saja," ucap ku menyandarkan punggungku ke kursi."
"Jangan pernah menganggap remeh seseorang sayang, orang yang kelihatannya dia tidak bisa apa-apa, malah bisa jadi dia adalah pembunuh berdarah dingin, jangan dilihat dari casingnya tapi dari perilaku nya sama kamu bagaimana?" ujar Agam.
"Memang dia ngancam apa sama kamu mas?"
"Dia ngancem perusahan aku," ucap Agam tenang.
"Maksudnya, memang nya dia itu siapa? anak konglomerat bisa ngancem-ngancem perusahan kamu," tanya Nissa.
"Sialnya memang ia yank, Riki itu anak konglomerat perusahaan Suryadiningrat."
"Suryadiningrat? kayanya aku pernah denger deh, Tunggu dulu mas, Ituuuu.....kan perusahaan besar mas, Bahkan lebih besar dari pada perusahaan kamu, apa itu akan membahayakan mas?"
"Sangat yank, Makanya mas dari tadi tidak ingin mementik api terlalu dalam, dan kamu tau, apa yang dia ucapkan?"
"Apa....?" Ucap Nissa biasa aja, karena dia malas sekali berurusan dengan orang berkuasa seperti dia.
"Dia menyuruh aku untuk menceraikan kamu, setelah kamu melahirkan, dan meminta kamu untuk bersama dia, tanpa anak- anak kita, jika tidak...., ya seperti yang aku bilang tadi, dia mengancam akan membuat hancur perusahaan aku yank."
__ADS_1
"Wow..... Psikopat! Hmm.. Hebat banget aku ya mas, berurusan terus sama orang gila Hahahaha....," ucap Nissa sarkas.
"Mudah-mudahan kamu gak ikut jadi gila aja yank," Ucap Agam melihat tingkah Nissa.
"Terus gimana mas? Kamu gak bakalan nyerahin aku ke kandang singa kan yank"
"Enggak lah, kamu sama Arka dan calon anak kita lebih berarti dari apa pun, jadi mas akan berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankan kalian, dan memastikan kalian akan baik-baik saja," ucap mas Agam, langsung memelukku, memberikan aku ketenangan.
"Yank.... Terus rencana kamu gimana" tanyaku.
"Entahlah... Yang terpenting aku akan memberikan extra pengaman untuk kamu dan Arka, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, dan bawahan ku sedang menyelidiki sepak terjang Riki, pokoknya kamu gak usah khawatir, jangan stres, ingat sama kandungan kamu ya."
"Ia yank, sepertinya badai besar akan menyapa kita yank, kita harus tetap kuat dan kokoh."
"Pasti selalu ada jalan yank, dari setiap masalah itu,"
"Ikh puitis banget sih kamu, cocok jadi penyair nih,"
"Gak akh, aku gak mau jadi penyair, kerjaannya entar gombalin kamu mulu, yang membuat kamu tambah manis, aku nya yang kelimpungan nantinya,"
"Emangnya kenapa? kamu takut aku diabetes?"
"Bukan.... Nanti banyak Riki-Riki-Riki yang lain yang akan datangin kamu, baru saja urusan Herman kelar, eh sekarang datang lagi yang baru, ini lebih ganas lagi."
"Berarti kecantikan aku tiada Tara dong mas"
"Ia dong, seorang istri Agam itu harus cantik, baik itu cantik rupanya dan cantik hatinya."
"Tuh kan kamu puitis lagi."
Drt...drt..drt...
"Sebentar yank, ada telepon."
[ Haloooo pak Agam gawat! ]
[ Ada apa bas, to the points jangan panik! ]
[ Pak Riki berencana menemui seluruh pemegang saham kita pak! ]
[ Sepertinya dia sudah melakukan rencananya untuk menghancurkan perusahaan ku ]
[ Ia pak, Riki sudah bergerak, jadi bagaimana rencana bapak selanjutnya? ]
[ Biarkan saja, justru saya senang jika Riki melakukan itu, menyabotase para pemegang saham, jadi saya bisa tahu, mana yang setia dan mana yang akan berkhianat ]
[ Tapi pak, kalau semua berkhianat, kita akan kekurangan cash kantor pak? ]
[ Tenang saja, aku juga punya bajingan di belakangku, memangnya hanya perusahaan Riki yang paling besar di negara ini! ]
[ Saya mengerti pak, kalo begitu, nanti saya akan laporkan kembali jika ada Kabar terbaru pak ]
[ Tunggu dulu... apakah kamu sudah tau kapan pertemuan mereka? ]
[ Itu dia pak, saya belum mendapatkan Kabar ]
[ Usahakan kamu tau, kapan dan di mana pertemuan mereka nanti di adakan, jadi saya bisa menyusupkan mata-mata ]
[ Baik pak, akan saya laksanakan ] ucap Abas, dan Agam pun langsung menutup teleponnya.
"Mas... Kamu yakin akan membiarkan pertemuan itu terjadi, nanti kalau mereka kebanyakan membelot sama kamu gimana?"
"Tenang aja sayang, total pemegang saham ada 5 orang dan masing masing memiliki saham 10 %, jadi saham ku masih kukuh bertahan, walaupun aku pasti akan mengalami masalah keuangan nantinya, tapi itu tak akan menghancurkan perusahaan ku begitu saja."
__ADS_1
"Mas tenang saja, Jangan panik, aku pasti dapat membantu mu mas, jika perusahaan kamu mengalami masalah keuangan yang serius."
"Jangan cintaku, Hartamu adalah hartamu, dan itu nanti akan kamu wariskan ke Arka dan anak kita kelak, aku masih bisa handle kok yank."
"Aku hanya cemas mas, aku gak mau kamu kenapa-kenapa, kalo sampai Riki macam-macam sama kamu, Riki tidak akan aku maafkan!"
"Gak semudah itu beb, mengalahkan seorang Agam!" ucap Agam jumawa dengan menepuk dadanya.
"Ia dah, Popi sama Tina aja kamu kirim ke benua Afrika, ngeri juga yah."
"Lah! kamu kok tau?"
"Aku bakalan selalu tau, apa yang kamu lakukan mas, cuma ancaman Riki saja yang tadi kamu ceritakan yang aku gak tau."
"Makanya kalau bisa jangan bertemu dia, Riki itu lebih dari sekedar gila, dia bisa nekat yank!"
"Ia mas, aku akan hati-hati, Mungkin untuk sementara ini, aku gak akan keluar dengan Arka."
"Gak apa-apa kamu keluar, takutnya sewaktu-waktu kamu merasakan kebosanan, aku akan menambahkan Bodyguard handal dan pinter berantem buat jagain kamu dan Arka."
"Ya sayang, aku percaya sama kamu, ya sudah kita keluar, takutnya Arka sudah bangun."
"Yuk," ucap Agam yang memeluk istrinya dari samping.
_&&&&&&&
POV Author
"Akhhhh sial, kurang ajar kamu Nissa......! Beraninya kamu terang-terangan menolak aku, aku berjanji saat kamu sudah jadi milikku, ku pastikan kamu akan tunduk padaku, lihat saja Nissa. Sialan si Nissa itu rabun apa ya? Padahal kalau mau di bandingkan aku sama si Agam tua itu! Ya mending aku kemana-kemana!" geram Riki, yang telah kembali ke kantor usai menerima penolakan yang Melukai Mata Hatinya.
"Harus pakai cara kasar seperti nya, buat menaklukan kamu Nissa. Semakin kamu menolakku, semakin cepat aku menghancurkan suami mu," ucap Riki dengan seringainya.
Tok...tok...tok...
"Ya masuk," ucap Riki "
"Bos.... Semuanya sudah saya atur dan 5 para pemegang saham milik pak Agam sudah mengkonfirmasi akan datang Bos," ucap Johan.
"Bagus...... Atur pertemuan privat di Hotel, dan jangan satu orang pun yang bisa mengetahui pembicaraan kita, paham!"
"Siap Bos, semuanya saya paham."
"Bagus kerjamu Johan, nanti ingatkan saya untuk memberikan kamu bonus!"
"Itu harus pak...itu yang paling membuat ku semangat dalam bekerja."
"Ya sudah lanjutkan pekerjaan mu," ucap Riki, setelah Johan keluar. Riki menelpon orang suruhannya untuk membuntuti Nissa kemanapun Nissa pergi, bahkan saat di rumah Nissa sekalipun.
[ Haloooo, gimana Ben....? Ada perkembangan, apakah Nissa balik keluar, apa masih di dalam rumahnya? ]
[ Bu Nissa masih diam di dalam rumahnya pak, dan sepertinya penjagaan mulai di perketat pak ]
[ Hmmm kayanya tuh bapak tua, nantangin saya, mungkin Nissa di suruh diam di rumah, jadi gak bisa bertemu dengan ku ]
[ Sepertinya tidak pak, hanya menambah Bodyguard saja, tapi mungkin untuk sekarang mereka tidak akan keluar rumah ]
[ Kamu terus pantau mereka, dan jika Nissa keluar, ikuti dia, terus kamu kabarin ke aku, biar aku bisa ketemu dengan Nissa ]
[ Siap pak laksanakan ] ucap anak buah Riki, dan Riki pun menutup teleponnya kembali.
"Aku rindu sekali Nis, Apa aku datangi rumahnya saja ya? Persetan, kalau ada Agam di rumah itu," ucap Riki yang langsung mengambil kunci mobil dan menuju parkiran mobilnya.
_____
__ADS_1