
Terkadang aku bingung dengan wanita. Kokom juga sering sekali belanja baju dan tas yang tidak ada gunanya, Begitu juga dengan Nita, dia selalu merongrongku meminta no WA nya Arka, tapi selalu aku tolak, karena aku tidak mau membuat Arka marah, puncaknya ialah Mereka memaksa ku untuk mengunjungi rumahnya Nissa dengan dalil melihat Arka. Aku sih setuju saja, karena aku juga kangen dengan anakku. Kita bertiga pun berangkat ke rumah Agam yang di Jakarta, dengan perjalanan dari rumahku ke Jakarta berkisar 8 jam. Menggunakan mobil yang aku sewa, sampai lah kami bertiga di rumah Nissa dan Agam.
"Wah ini rumah mereka Pak?" terlihat wajah Kokom yang mengagumi rumah besar Nissa.
"Hay Pak apa Kabar? boleh saya masuk" tanyaku kepada satpam penjaga rumah, apa dia lupa dengan wajahku.
"Maaf bapak siapa ya?" tanya pak satpam serius menatap ku.
"Saya ayah kandungnya Arka" ucapku, terlihat wajah bingung dari Bapak Satpam itu.
"Bentar dah ya Pak saya laporan dulu" Pak Satpam itu lalu menelpon orang rumah seperti biasa.
"Kenapa pak....? kita gak di bolehin masuk?"
"Bentar Nit... Lagi di tanyain ke dalam."
"Silahkan Pak! Kata bu Nissa silahkan masuk"
"Hayu kita masuk pak... Nita udah gak sabar ketemu sama arka... "
"Kenapa kamu nanyain Arka.. ?"
"Gak apa-apa Pak... Hehehe" aku tidak mempedulikan jika Nita menyukai Arka, karena aku yakin selera Arka bukan Nita wanita yang centil dan jelalatan seperti ini.
Mobil pun masuk ke area taman, rumah ini semakin besar dan mewah dari terakhir kali aku kesini, coba saja Nissa dulu mengijinkan aku tinggal disini bersama Arka, hidupku benar-benar seperti di surga. Kemewahan dan harta banyak akan aku dapatkan.
"Mah, Lihat mobilnya wih... gila mobil sport semua," Aku melihat Nita melihat koleksi mobil di rumah ini, tapi kenapa mobil disini banyak banget disini. Apa sedang ada pesta disini.
Aku pun masuk ke ruangan yang sangat wah, bahkan rumah ini lebih mewah dengan perabotan perabotan yang mahal.
"Pak liat Pak...! Bisakah kita tinggal disini Pak? Bilang sama Bu Nissa Pak, kita juga kan keluarga Arka Pak... Masa kita gak boleh tinggal disini," aku melotot ke arah Kokom karena ucapannya itu.
"Kamu itu mau dikirim ke rumah sakit jiwa hah?"
"Maksudnya Pak?"
"Kamu tau kan dulu Aku pernah minta tinggal disini, aku di masukan ke RSJ setahun, dan sekarang kamu ngusulin kaya gitu lagi cari mati kamu, dan kamu Nita! Jangan pegang- pegang nanti pecah, Bapak gak mampu buat gantinya."
"Ya elah Pak... Pegang doang"
"Tuh lihat disini ada pesta ternyata! ayok kita temui sang punya rumah," kita bertiga maju ke arah Nissa dan keluarganya, seketika aku merasa suasana disini berubah menjadi dingin. Dan keadaan menjadi canggung. Semua mata melihat kami bertiga serasa sedang di hakimi, ya tuhan keadaan ku dan keluarga istriku sangat timpang, seperti batu kali dan batu berlian, bedanya jauh.
"Hay Nis... Maaf kalau kita ganggu dan gak ngasih kabar dulu, Saya cuma Ingin ketemu dengan Arka." ucapku gugup.
"Pak Arga apa Kabar?"
__ADS_1
"Baik... Sudah tobat rupanya kamu."
"Ia Pak" tanganku gemetaran melihat tatapan dingin Pak Arga.
"Bu Nissa.. ini suaminya ya, ganteng sekali ya Bu... Boleh saya kenalan Pak, saya Kokom istri dari mas Herman," ya tuhan apalagi ini si Kokom ngajak salaman, tapi tangan dia hanya menggantung tanpa di balas oleh Agam, apa dia gak sadar muka si Agam sudah kaya mau bunuh orang.
"Saya harap kalian datang kesini gak buat rusuh, kalau kalian melakukan itu, kamu tau kan akibatnya?!!!"
"Baik pak Agam! kita cuma sebentar kok saya hanya ingin ketemu Arka."
"Hay Arka.. apa Kabar?" ucap Nita. Arka diam tidak menjawab pertanyaan Nita.
"Siapa dia bang?" tanya seorang wanita yang mirip Nissa... Apa dia putri Nissa? Cantiknya perpaduan Nissa dan Agam.
"Saya adik nya bang Arka. kamu yang siapa?" ucap Nita sombong di depan semua orang benar-benar nyari mati.
"Mulut kamu tolong di jaga," ucapku pelan di telinga Nita.
"Saya membiarkan kalian masuk ke rumah saya, karena melihat Herman, tapi jika kelakuan kalian hanya ingin merusak pesta yang saya buat lebih baik kalian keluar dari rumah saya sekarang juga," kata-kata Nissa walaupun pelan tapi benar-benar membuat Kokom dan Nita kicep, memang mereka itu akhir-akhir ini selalu mencari masalah.
"Mah .. Alisha ke belakang dulu ya mah," wanita itu pun pergi karena jengah dengan kelakuan Keluarga ku mungkin, ya tuhan untung gak ada mertuanya Nissa. Kalau enggak bakalan di deportasi lagi ini ke Papua.
"Maaf Nis... Saya akan pulang sekarang juga... Arka maafkan Papah ya."
"Ia," Arka hanya mengucapkan kata ia, padat dan jelas, dan itu membuatku kecewa.
"Ka.. anterin gih..."
"Gak usah Tante saya sendirian aja, saya malu..."
"Ya udah toiletnya di belakang, kamu lurus aja"
"Ia Tante makasih" ku lihat Nita pergi ke belakang sendirian.
"Maaf Bu Nissa.. atas kelancangan saya, " ucap Kokom untung dia minta maaf
"Saya harap ini terakhir kalinya kalian datang ke rumah saya..." aku terperangah dengan keputusan Nissa.
"Terus bagaimana kalau saya ingin bertemu dengan Arka Nis"
"Kan gak harus disini..."
"Nis.... Kita pulang dulu ya Nis... sudah sore juga,"
"Ia makasih ya Ser sudah pada kesini, sorry loh ya ada sedikit accident" ucap Nissa sambil cipika-cipiki dengan para wanita itu.
__ADS_1
"Gak apa-apa.. kita semua pulang ya.."
"Duluan ya mba..."
"Ia Nad makasih ya... Arsy makasih juga udah datang"
"Sama-sama.. saran gue jangan kasih celah deh Nis buat manusia benalu, tar mereka minta tinggal disini deh, dengan dalih anak,"
Jlebb kenapa kata-kata wanita itu pas banget sama yang tadi kita ucapkan, apa dia dengar. aku melihat wajah Kokom dan Nita sama kaget nya dengan ku.
"Berani lu sama gue... Awas lu ya!"
Terdengar suara ribut dari belakang Nissa, Agam, Arka dan satu laki-laki mengikuti arah suara tersebut...aku pun mengikuti langkah Nissa dan keluarga.. mataku melotot terbelalak, ku lihat di sana Nita ingin menampar anaknya Nissa tapi keburu di tangkis oleh anaknya Nissa yang perempuan.
Plakkkkkk.. ya tuhan anaknya Nissa yang perempuan menampar Nita dengan sekuat tenaga sampai Nita terjatuh.
"Nita.... !" Kokom berlari menghampiri Nita.
"Mamah... Hiks... Dia menamparku Mah," Nita menangis karena sudut bibirnya yang berdarah.
"Kamu.... Telah menyakiti anak saya..saya laporkan kamu ..."
"Silahkan kalau ibu mau laporkan saya ke Polisi, tinggal saya laporkan balik.. kalau anak ibu ini sudah mencuri di rumah saya, kalau masih tidak percaya... Sini," wanita tersebut merebut tas Nita ... Dan mengambil benda yang adalah sebuah perhiasan kalung berlian...ya tuhan.. apa yang Nita lakukan.
"Lihat dia mengambil kalung di kamar saya. Kalau di kamar saya ada CCTV jadi sekarang Ayuk kita ke kantor Polisi."
"Nita apa-apaan kamu... hah memalukan...!"
"Nita apa yang kamu lakukan!"
"Bu... Maafin aku Bu... Aku khilaf Bu...."
"Herman... Sudah saya bilang kan!, kalau keluarga kamu membuat masalah di rumah saya kamu bakalan tau akibatnya...apalagi tangan anak kamu hampir menampar tangan anak saya...!"
Plakkkkkk...
"Berani kamu mau menampar adikku Hah," aku terperangah melihat Arka dengan bengisnya menampar Nita sekali lagi. Sehingga wajah nya menjadi merah dua- duanya dan darah menetes di 2 sudut bibir Nita.
"Tolong jangan siksa anak saya lagi, Kalian jangan mentang mentang orang kaya bisa berlaku seenaknya."
"Mbok Sus! usir mereka dari sini seret 2 wanita itu,"
"Tunggu ..." ucap Nissa yang menghampiri Kokom dan langsung mencengkram dagu Kokom.
"Dengarkan saya... Sedikit saja anakmu yang pencuri itu melukain anak saya, bukan hanya wajahnya yang di tampar oleh kedua anak saya, tapi saya pastikan akan merusak wajah anda dan anak anda, sekaligus mematahkan tangannya, karena apa...? Orang benalu seperti kalian tidak pantas untuk di kasihani, sekali lagi kamu dan anak kamu menganggu keluargaku, akan aku buat kalian di deportasi dari negara ini dan sengsara di Aprika ngerti kalian!" ucap Nissa yang langsung melepas cengkraman di dagu Kokom.
__ADS_1
"Ia... Ia.. mba... Saya paham mba!" aku pun segera membawa Kokom pergi keluar dari rumah ini, sedangkan Nita yang masih menangis di seret oleh pembantunya Nissa, aku tidak perduli dengan keadaan Nita sekarang, yang ingin kulakukan adalah pergi dari kandang singa ini, dan menyiksa dua wanita tidak tau diri ini.
Semenjak kejadian itu. Kelakuan Kokom dan nita semakin tidak terkendali, bahkan mereka berdua berani menjual 2 tanahku yang tidak seberapa itu. Aku jadi semakin kesal dengan ulah mereka berdua. Aku ingin sekali menceraikan Kokom sejak itu. Tapi aku masih berpikir, jika aku cerai maka aku akan kembali menjadi duda untuk kesekian kali nya.