
Herman dan Darto pun sudah tiba di cafe tempat nongkrong anak muda-mudi, tapi walaupun mereka berdua sudah tua, tetap saja tidak mengurangi ketampanan mereka berdua, apalagi Herman yang memang sudah tampan dari lahir, maka dari itu banyak anak gadis yang masih saja meliriknya dua kali.
"Lu mau cerita apa?" ucap Darto to the point saat mereka telah mendapatkan meja.
"Gue gak kuat lagi kalau harus lanjut sama Kokom to" wajah Herman begitu nelangsa seperti sudah tidak ada lagi semangat.
"Ini ujian rumah tangga lu man. Sebelum- sebelumnya kan rumah tangga lu selalu adem-adem bae kan, Nah sekarang hadapi aja si Kokom dengan kepala dingin Jika dirinya kembali berulah" ucap Darto bijak.
"Silahkan Pak, Ingin pesan apa? ini menu nya ya" ucap waiters yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
"Saya capuccino sama roti bakar 1 mba" ucap Darto sambil menyerahkan buku menu.
"Saya kopi panas sama roti bakar juga mba" ucap Herman yang menyerahkan buku menu kepada pelayan, sang pelayan pun menulis pesanan mereka berdua.
"Di tunggu sebentar ya Pak, nanti akan segera di antarkan." Ucap sang pelayan wanita yang membawa buku menu dan pergi dari hadapan mereka berdua.
"Tapi si Kokom udah keterlaluan to. Lu coba bayangin aja, tanah gue di jual sama dia buat beli barang- barang yang gak berguna. Terus sekarang mereka berdua mau ngerongrong anak gue si Arka buat ngasih sertifikat tanah yang di kasih sama almarhum ibu gue, apa gak bikin anak gue makin benci sama gue entar nya."
"Ia bener juga sih. Kata-kata lu si Kokom emang udah keterlaluan kalau soal masalah itu."
"Gue itu cuma punya anak kandung satu-satunya dan gak bakalan bisa punya anak lagi. Cuma Arka yang bakalan ngurusin gue kalau nanti pas gue tua to. Sedangkan si Nita, gak bakalan mau, dia kan cuman anak sambung gue."
"Emang lu yakin anak lu bakalan ngurusin lu, bukan lu niat manfaatin dia doang kan"
"Gak ada orang tua namanya manfaatin anak, justru anak emang harus ngurusin orang tua. gimana sih lu."
"Terserah lu aja kalau gitu. Terus apa yang udah lu lakuin sama bini dan anak sambung lu itu."
"Gue bakar semua barang-barang mereka kemaren, baju, tas dan sepatu yang di beli dari jual tanah gue. Semuanya gue bakar." Ujar Herman.
"Wah gila juga ya lu. Ngapain lu bakar mending lu jual lagi, kan bisa dapet duit."
"Males gue banyak mikir, mending gue bakar, biar mereka juga gak bakalan coba macem-macem jadinya sama gue"
"Ya udah terserah lu aja dah" ujar Darto pasrah karena malas berdebat lebih jauh dengan Herman.
Herman dan Darto pun pulang setelah selesai ngobrol dan menghabiskan makanan mereka.
"Lu mau langsung pulang apa mau melipir dulu man?" tanya Darto saat di parkiran motor.
"Mas Herman.... Mas Herman" ucap seorang wanita yang memanggil Herman.
"Lu denger ada yang manggil gue gak... To?" Tanya Herman bingung.
"Ia denger.... Merinding gue man..."
__ADS_1
"Mas Herman tunggu..." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di hadapan Herman.
"Loh Put... Kamu ngapain disini?" tanya Herman bingung... Melihat Putri yang ngos-ngosan lari menghampiri mereka.
"Mas Herman aku panggilin dari tadi. Ternyata mas Herman kumpul disini juga. Aku habis ketemuan sama temen temen alumni kampus mas disini" Ujar Putri dengan senyum di wajahnya.
"Terus kamu ngapain manggil Herman Put?" ujar Darto.
"Mas Herman mau langsung pulang kan? boleh gak aku nebeng, kan kita searah mas"
"Ya sudah yukk" ajak Herman kepada putri, Herman memakai helm nya, dan Putri tidak memakai helm, Darto dan Herman bersamaan menyalakan motor mereka masing-masing.
"Putri duduk nya Biasa aja ya... Gak usah nempel gitu" ujar Herman membuat Putri memerah mukanya malu, walaupun tidak ada yang bisa melihatnya.
"Ia mas maaf" ujar Putri melepaskan tangannya dari pinggang Herman, Putri pun tidak berpegangan ke manapun, Darto yang melihat itu hanya bisa tersenyum samar melihat Putri malu itu.
"Gue duluan ya to" ucap Herman yang melajukan motornya. Di ikuti oleh Darto yang mengikuti Herman di belakangnya dan Darto pun belum berbeda arah dengan Herman.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara Putri dan Herman, Putri yang biasanya selalu bicara terlebih dahulu, sekarang nampak canggung dan takut.
"Mas Herman lagi marah ya sama Putri" ujar Putri dengan nada sedikit manja.
"Put.... Sebaiknya kita jangan terlalu dekat dulu ya. Dan kayanya mulai besok aku gak bisa jemput dan antar kamu lagi."
"Loh kenapa memangnya mas?"
"Maksud mas? Kita kan cuma berteman"
"Ia sekarang menurut pikiran kita hanya berteman, tapi kan pandangan orang siapa yang tau put pasti berbeda pandangan. Aku minta maaf ya Put."
"Ia mas gak apa-apa," ucap Putri yang sudah menahan kekesalan yang teramat sangat. Setelah pembicaraan singkat itu, Herman dan Putri saling diam sepanjang perjalanan pulang, hingga Herman sampai di depan rumah Putri.
"Gak mau mampir dulu, sebentar mungkin mas"
"Enggak makasih Put, aku pulang dulu" ujar Herman yang langsung meninggalkan Putri sendirian.
"Mas Herman" teriak Putri tapi Herman tidak mendengarkan dan hanya melajukan motornya.
"Akh... Sialan... Belum juga dapet udah di campakan kaya gini, pasti ada yang ngomongin mas Herman ini di kantor, kurang ajar" ujar Putri yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Herman pun akhirnya sampai di rumah nya. Saat di dalam rumah terlihat rumah bersih dan bau masakan tercium ke dalam Indra penciumannya.
"Mas udah pulang?" ujar Kokom yang baru keluar dari kamarnya dan langsung mencium punggung tangan suaminya itu.
"Ia" Ujar Herman singkat, Herman langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri, Kokom yang melihat suaminya masih marah hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Mas.. kamu lama-lama tambah menyebalkan" lirih Kokom pelan. Kokom pun kembali masuk ke kamarnya sedangkan Nita sampai saat ini tidak terlihat batang hidungnya sekalipun. Kokom masuk ke dalam kamarnya menyiapkan segala kebutuhan Herman seperti pakaian santai dan menunggu suaminya itu di pinggiran kasur.
Herman yang baru dari kamar mandi melihat istrinya sedang duduk bengong dan belum menyadari kehadirannya menghampiri lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Mas... Udah mandinya? ini udah aku siapin pakaiannya gantinya" ujar Kokom sambil menyerahkan 1 set pakaian santai.
"Gak usah aku pake yang ini aja" ujar Herman yang kembali lagi ke kamar mandi untuk berganti pakaian, sekali lagi Kokom hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar mencoba untuk lebih bersabar. Kokom menaruh lagi pakaian Herman di lemari.
"Mas belum makan kan? kita makan sama- sama ya mas" ucap Kokom saat melihat Herman keluar dari kamar mandi.
"Hmmm" jawab Herman yang keluar kamar, Kokom pun mengikutinya dari belakang, Herman sudah menyendokan nasi beserta lauknya sendiri, Kokom yang melihatnya lebih memilih untuk duduk dan mengambil makannya sendiri, mereka berdua makan dalam diam.
"Anak kamu mana?" tanya Herman dengan wajah datarnya.
Kokom kaget saat Herman menanyakan anaknya" eh... Nita belum pulang Pak, dia lagi cari kerja" ujar Kokom gugup terbit senyuman di bibirnya" ternyata mas Herman masih perduli" batin Kokom.
"Kalau dia belum dapat pekerjaan, coba ngelamar ke kecamatan sebelah kecamatan kita, cari Pak Sukimin. Bilang infonya dari Darto kecamatan sini, nih alamatnya." ujar Herman yang menyerahkan note kecil kepada Kokom, setelah itu Herman pun pergi dan kembali ke kamarnya.
Kokom senang bukan main, Herman sudah tidak marah-marah malah memberikan lowongan pekerjaan untuk anaknya itu. Walaupun nada bicaranya masih dingin, tapi Kokom tidak perduli asalkan Arman sudah mau bicara padanya.
-------
Di Amerika sana keluarga Nissa dan Agam masih menjaga putri mereka satu-satunya, Alisha benar-benar mengalami kesulitan saat mengandung buah hatinya itu, bahkan Alisha sangat ingin kembali ke Indonesia hanya untuk mencari makanan Indonesia yaitu karedok, untung saja Nissa bisa membuatnya dan bisa mendapatkan bahan-bahannya disini.
Alisha sama sekali tidak bisa memakan nasi, hidungnya sensitif jika mencium bau nasi, maka Alisha akan memuntahkan makanan yang di makannya. Alisha hanya berdiam diri di rumah, jarang jalan-jalan keluar apalagi ke supermarket, keseharian Alisha hanya menatap pemandangan dari jendela dan mengusap perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit, Alisha hamil anak kembar, dan itu merupakan keajaiban yang Alisha sangat sukuri. Dia akan menjadi seorang ibu. Baginya tidak perduli, jika dia akan menjadi seorang single parents, Alisha tidak membutuhkan Mario di sisinya, ada kedua orang tuanya dan Abang-abangnya yang selalu menemani nya kini. Sampai kapanpun, bahkan jika nanti Arka dan Rayyan menikah, mereka berdua berjanji akan selalu menjaga Alisha.
Hari ini Agam kembali ke Indonesia setelah satu bulan lamanya di luar negri, sedangkan Arka dan Rayyan hanya satu Minggu di Amerika, karena urusan kampus yang tidak bisa di tinggalkan terlalu lama. Alisha hanya di temani oleh mamahnya, Nissa dan mbok Jum pengasuh Nissa sejak kecil, sedangkan pembantunya yang lain di tinggalkan di Indonesia untuk menjaga rumahnya.
"Non Alisha ada yang di butuhin gak? Atau mau makan sesuatu?" tanya mbok Jum saat sedang menemani Alisha di taman depan rumahnya.
"Ga mbokk, terima kasih. Temenin aku disini aja ya, Jangan kemana mana mbok"
"Ia non... Tapi non gak laper gitu"
"Enggak mbok.... Boleh gak aku curhat mbok, sebenarnya aku pengen ngasih tau Mamah, cuma aku malu"
"Kenapa malu atuh non sama Mamahnya non sendiri malu"
"Malu mbokkk. Aku itu akhir-akhir ini selalu ngimpiin Bapaknya anak-anak yang ada dalam kandungan ku mbok"
"Itu mah neng lagi kangen non. Lagian non kenapa gak nikah aja sama tuh Dosen, ganteng loh non"
"Ikh si mbok... Aku tuh ngeliat mukanya rasanya pengen ngambil belati terus ku rusak itu muka gantengnya mbok"
"Jangan terlalu membenci seseorang sampai sedalam itu Non, nanti Non bakalan jatuh cinta sedalam itu juga nantinya. Jaga hati Non hanya untuk mencintai Allah terlebih dahulu dan mencinta Allah dengan seluruh hati Non, baru nanti Non bisa mencintainya hambanya Allah" ujar mbok Jum bijaksana.
__ADS_1
"Ia mbok aku paham! Hanya saja mungkin aku kangen sama Dosen itu kali mbok" ujar Alisha sedih, tapi tanpa di ketahui Alisha, Nissa mendengarkan semua yang di katakan Alisha ternyata Nissa mendengarkan semua curhat Alisha ke mbok Jum.