MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PERKARA MELAMAR PEKERJAAN


__ADS_3

Kokom dan Nita pun sampai di rumah kontrakan mereka yang masih di bayarkan oleh Saiful sebagai tanggung jawabnya. Walaupun tidak bisa menikahi Kokom setidaknya Saiful masih memberikan uang untuk mereka makan sehari-hari.


Kokom menyandarkan badannya di kursi keluarga, dia menghembuskan nafasnya kasar lalu memijat keningnya yang mumet, memikirkan kehidupannya yang berubah 180° karena keteledorannya yang tidak bisa menjaga mulutnya waktu itu.


Nita yang melihat Mamahnya hanya diam saja pun menjadi gusar. Dia pun bosan melihat Mamahnya yang terus saja diam melamun. Nita pun pergi meninggalkan Mamahnya ke dalam kamarnya karena lelah.


Kokom pun termenung memikirkan tentang perhiasan nya yang tiba-tiba hilang dari persembunyiannya.


"Gak mungkin kalau aku lupa naro. Tapi kok gak ada di laci ya? Ni pasti kerjaan nya si Herman, dia pasti udah nemuin perhiasan-perhiasan ku lalu dia jual. Kalau bener? Licik sekali dia, udah mah gak bagi harta Gono-gini, sekarang perhiasan ku juga di embat. Sialan emang si Herman. Aku harus cari sertifikat itu. Rumah itu harus jadi milikku!" ucap Kokom mengepalkan tangannya erat. Kokom masuk ke kamarnya dan mengambil HP lalu menghubungi Saiful.


[ Halo mas... Kapan mau kesini? Aku butuh bantuan mu mas ] ucap Kokom saat Saiful mengangkat teleponnya.


[ Perceraian kamu udah beres? gimana kamu dapat kan harta Gono-gini nya? ]


[ Boro-boro... Makanya aku kesal. Aku gak dapat sama sekali, karena udah jual tanahnya tanpa izin dia, jadi hakim memutuskan untuk menghitung hasil jual tanah itu sebagai harta Gono-gini yang ku dapat kan ]


[ Terus kemana sekarang barang barangnya ]


[ Gak ada semuanya sudah di bakar ] ucap Kokom, dia tidak akan pernah menceritakan tentang perhiasan itu.


[ Loh kok di bakar! Sama siapa? ]


[ Ya sama si Herman, semua tas dan pakaian branded aku di bakar. Dan tabungan ku juga di ambil sama dia ]


[ Terus kamu gak bilang saat di pengadilan ke hakim ]


[ Enggak mas ] ucap Kokom menggelengkan kepalanya padahal dia tau kalau Saiful juga tidak akan melihatnya.


[ Bodoh banget sih kamu  Kokom! seharusnya kamu bilang, itu bakalan jadi senjata kamu, kalo si Herman pernah Kdrt sama kamu secara tidak langsung. Biar hakim bisa menyetujui pembagian penjualan rumah itu. Gimana sih kamu ] teriak Saiful marah.


[ Ya... Aku tadi gak kepikiran ke situ ya mas. Makanya aku butuh bantuan kamu, buat masuk ke rumahnya si Herman. Kita bongkar rumahnya dan cari sertifikat itu mas ]


[ Tar lah... Aku kerja dulu, baru mikir Nambah beban aja! ]


[ Mas tunggu dulu... Uang aku abis, bahan makanan juga abis disini ]


[ Ya udah nanti aku transfer sejuta, Jangan boros, harusnya sejuta itu cukup buat sebulan, ini baru dua Minggu udah minta lagi ]


[ Ya Allah mas, Uang sejuta cukup buat makan apa? masa aku makan tahu tiap hari ]


[ Ya udah ia, Sekalian aku titip buat jajannya Nita ]


[ Kamu punya kerjaan gak mas buat Nita, dari pada dia nganggur mulu, Kuliah juga enggak ]


[ Ya udah nanti aku cariin, kerjaan buat dia ]


[ Ia mas, biar dia ada kegiatan juga, enggak diem aja di rumah ]

__ADS_1


[ Ya udah aku tutup dulu, mau lanjut kerja, takut di tegor Bos ]


[ Ia mas, makasih ] ujar Kokom yang langsung di tutup teleponnya oleh Saiful.


"Laper mending masak aja dulu" ujar Kokom ke dapur dan mencari makanan.


Ting... Chat masuk dari Saiful ke HP nya Kokom, Kokom yang tadinya ingin ke dapur tidak jadi karena mendengar notifikasi HP nya, dia pun melihat chat dari Saiful, yaitu notifikasi share m bangking dari Saiful. Kokom pun tersenyum karena Saiful udah transfer uang satu juta lima ratus ribu rupiah untuk dia dan anaknya.


"Nita...." Teriak Kokom yang masih duduk di kursi.


"Ia mah, Kenapa emangnya?"


"Uang kamu udah di transfer sama bapak kamu, ambil gih sekalian punya Mamah"


"Akh... serius berapa Bapak kasih?"


"Biasa lima ratus ribu"


"Ya udah aku ambil ATM dulu. Aku bawa motor ya Mah" Ucap Nita yang ingin membawa motor yang baru di beli oleh Saiful dua Minggu yang lalu, walaupun motor bekas, tapi masih tetap bagus barangnya.


"Ya udah hati-hati" Ujar Nita yang langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil uang di ATM terdekat.


Keesokan harinya...


Nita bangun pagi-pagi sekali dengan pakaian yang sudah rapih dengan make up yang lumayan tebal, alis hitam seperti ulet dan lipstik merah. Untung saja Nita tidak menggunakan blush on yang terlalu merah. Blush on masih masuk ke warna natural. Nita pun ke luar kamarnya dan melihat Kokom sedang mencuci bajunya di belakang menggunakan tangan karena tidak ada mesin cuci di rumah ini.


"Nah gini dong! Anak Mamah pakaiannya cantik, bangun pagi-pagi, biar rezekinya gak di patokin ayam mulu."


"Ia mah doain ya."


"Tapi Mamah belum bikin sarapan, kamu gak bilang sih kemarin"


"Gak apa-apa Mah, nanti aku beli di jalan aja, aku pergi dulu dah" ujar Nita yang langsung pergi meninggalkan Kokom yang masih duduk di jengkok.


Nita pun menggunakan motor yang di belikan Bapaknya pagi ini untuk pergi ke supermarket nya Arka yang sudah jadi dan membuka interview hari ini.


Saat Nita sudah sampai. Supermarket yang besar itu sudah rapih dan megah seperti Mall, namun agak kecil karena hanya 4 lantai. Tapi sangat megah Walaupun supermarket belum di buka, sudah banyak sekali pelamar yang datang ke supermarket ini. Kokom dengan langkah sombongnya masuk ke dalam supermarket dan menemui staf yang di datangkan langsung oleh Arka dari kantornya Agam, Papahnya Arka.


"Pagi Pak. Saya mau ketemu pemilik supermarket ini, Arka namanya" Ujar Nita dengan kata-kata sombongnya. Sehingga menyita perhatian para pelamar yang menunggu HRD yang belum datang dari kantor pusat Arka.


"Dengan siapa ya? Kalau anda mau melamar, Isi aja form lamarannya dan tunggu di panggil untuk interview" Ujar staf tersebut masih menahan emosinya karena melihat tingkah Nita yang menyebalkan.


"Kamu gak tau siapa saya? Saya ini saudaranya Arka. Kamu telepon aja sama si Arka, dia pasti kenal saya" Ujar Nita sedikit meninggikan suaranya yang membuat staf tersebut sedikit kesal. Dia pun menelpon Arka untuk menanyakan apakah benar Arka kenal dengan seseorang yang bernama Nita. Dan ternyata Arka mengenalnya tapi tidak mengakui kalo Nita adalah saudaranya. Makanya Arka turun ke bawah, karena dia tidak mau Nita menimbulkan masalah dan ribut di tempat usahanya.


"Gimana saya boleh langsung ketemu dia kan, Ke atas. Ruangannya di mana dan lantai berapa?" Tanya Nita.


"Pak Arka mau turun ke bawah jadi anda tunggu saja" ujar staf tersebut menjadi tidak ramah.

__ADS_1


"Oh jadi dia mau turun, ok lah..." ujar Nita yang langsung mencari tempat duduk tapi tidak ada karena semuanya penuh. Maka Nita pun hanya berdiri saja.


Tak lama Arka pun turun dengan wajah yang dingin karena menahan amarah... Tapi saat dia di bawah, di mana para pelamar berkumpul dan kebanyakan wanita pada melirik ke arah Arka dan pandangan mata mereka seolah terkunci.. karena melihat wajah Arka yang sangat tampan.


"Lu ikut gue sekarang" ucap Arka tajam. Membuat Nita begidik ngeri, Arka pun pergi mendahului Nita sedangkan Nita mengikuti Arka di belakangnya, sampai Arka memasuki sebuah ruangan di lantai tersebut dan mereka berdua pun duduk secara berhadapan.


"Tujuan lu apa? Mau rusuh di tempat gua" Tanya Arka to the points.


"Enggak gue cuma mau ngelamar kerja di tempat lu aja. Bisa kan lu masukin gue kerja, secara kan gue adalah anak kesayangan bapak Herman" ujar Nita berusaha untuk membuat Arka marah dan kesal.


"Kalau lu mau kerja? Ikutin rule nya kaya yang lain interview di tes. Baru kerja, gak bisa asal lu ngajak ribut orang di tempat gue"


"Lah ngapain? Kalau gue sendiri kenal sama pemiliknya, Ngapain harus kaya orang lain"


"Lah lu emangnya siapa? Gue gak kenal siapa lu, saudara bukan keluarga juga bukan, Jadi kenapa lu harus di istimewa kan"


"Gue itu anak kesayangan bokap lu, Kalau lu gak lupa."


"Emang lu pikir gue perduli..."


"Tapi kan seenggaknya, lu bisa bantuin buat masukin gue kerja disini, minimal lu bisa ngasih manager buat gue."


"Ngimpi jadi manager lu, punya skill aja enggak lu, mau jadi manager. Bisa bangkrut usaha gue, kalau lu jadi managernya."


"Lah kenapa gak bis!? Kan kamu yang punya usaha, seenggaknya lu bisa ngasih kerjaan ke gue yang bagusan, bukan jadi jongos disini."


"Ngimpi sana di kebon, mending lu ngelamar yang bener sesuai aturan saja. Kalau di terima, lu ikutin dah, lu kerja jadi apa? Dan jangan ngerusuh disini! Kalau lu nekat ngerusuh. Lu bakalan di seret keluar sama Bodyguard gue"


"Gak bisa kaya gitu dong"


"Sekali lagi lu protes dan bikin rusuh, gue seret lu dari sini" ucap Arka yang memotong ucapan Nita dengan nada sedikit tunggi.


Sehingga membuat Nita semakin takut...


"Pak Burhan..." panggil Arka kepada salah satu security nya.


Pak burhan pun datang menghampiri bos nya itu.


"Siap Pak ada yang bisa saya bantu Pak?" ujar pak Burhan kepada bos nya Arka.


"Kamu awasi gadis ini, dia mau ngelamar disini. Tapi kalau ni cewek ngerusuh atau bikin ribut. Seret aja dia keluar, Mengerti kan Pak!" ujar Arka kepada security yang di balas anggukan oleh pak Burhan...


Arka pun pergi meninggalkan Nita. Dan Nita pun keluar dengan perasaan yang teramat dongkol dengan Arka.


Nita pun kembali ke tempat orang-orang pada menunggu tadi. Dan HRD nya pun sudah datang. Satu persatu para pelamar di panggil ke ruangan HRD dan langsung melaksanakan tes psikotes. Begitupun dengan Nita yang ikut melakukan tes psikotes tersebut. Setelah itu bagi pelamar di minta untuk kembali ke tempat mereka kumpul pertama kali.


Dan akhirnya hasilnya nya pun keluar. pelamar yang di panggil adalah pelamar yang lolos, termasuk Nita ternyata salah satunya yang di panggil dan lolos.

__ADS_1


__ADS_2