MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
JANDA VS JANDA


__ADS_3

"Gimana ka? Boleh kan Bapak ikut?" Tanya Herman lagi kepada Arka, karena Arka hanya diam saja, tapi Herman bisa merasakan kalau pandangan Arka berubah menjadi dingin. Tapi seketika raut wajah Arka berubah menjadi datar dan itu membuat Herman merasa aneh.


"Untuk apa? untuk buat rusuh, buat ribut, Maaf Pak! sepertinya ide mengajak Bapak ke rumah Mamah bukanlah hal yang baik, lagi pula seharusnya Bapak tau kan. Posisi Bapak sekarang seperti apa? Walaupun Bapak itu ayah kandung ku, Tapi Bapak tidak perlu melewati batasnya Pak! seperti biasa saja, jangan terlalu banyak berharap, karena semua masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah dan tidak ada yang berharap Bapak di tengah-tengah keluarga Mamah, jadi aku harap Bapak bisa mengerti." Ucap Arka datar.


Karena ucapan Arka membuat Herman terdiam seribu bahasa, Herman seperti di serang secara telak oleh anak kandung nya sendiri. Herman yang tadinya begitu percaya diri telah dekat dengan anaknya ternyata itu hanya sebuah angan-angan Herman belaka, Dinding pembatas itu masih ada. Herman pun mengehembuskan nafasnya kasar. Dia pun tersenyum ke arah Arka yang mulai memakan makanannya.


"Ya Bapak ngerti maksud mu Nak. Bapak hanya ingin jalan-jalan keluar negeri, Karena Bapak belum pernah ke luar negeri, hanya itu saja, gak ada niat untuk merusuh di rumah Mamah kamu." Ucap Herman. Arka yang mendengar penuturan Bapaknya itu hanya diam dan terus memakan-makanannya.


"Kalau Bapak sudah selesai, lebih baik Bapak segera pulang saja, bukan maksud Arka berbuat kurang ajar mengusir Bapak, hanya saja Arka mau pergi sekarang ke Bandung untuk packing dan menjemput Rayyan dan langsung berangkat ke Amerika" ucap Arka yang pada akhirnya menaruh sendok ke pinggiran piring, padahal makanan di piring Arka masih tersisa sedikit. Sedangkan makanan di piringnya Herman sudah habis.


"Ya udah makasih ya ka, buat traktirannya. Tapi Arka gak mau ngejauh dari Bapak kan. Dan kita bisa ngobrol dan ketemu lagi kaya gini" ujar Herman.


"Insya Allah Pak, Arka memang akan sesekali kesini untuk mengecek Supermarket, tapi tidak terlalu sering karena Arka juga harus mengerjakan skripsi Arka yang akan di mulai bulan depan" jelas Arka.


"Kamu udah mau skripsi aja, selamat ya Nak gak terasa kamu sudah sebesar ini, tapi kok cepet ya, udah mau skripsi aja" Tanya Herman heran.


"Aku ngambil kuliah cuma tiga tahun, langsung skripsi. S1 nya mau lanjut di Amerika, sekalian S2 nya di sana." Ujar Arka masih dengan muka datarnya, Tapi berbeda dengan Herman Yang tampak kaget dan bangga dengan anak satu-satunya itu.


"Hebat Nak, memangnya kamu mengambil jurusan apa?" Ucap Herman penasaran.


"Arsitek" ucap Arka singkat padat dan jelas.


"Arsitek? kenapa gak Manajemen bisnis aja, Kamu kan akan mewariskan perusahaan sawit milik Nenek kamu, Kenapa harus Arsitek?" tanya Herman bingung.

__ADS_1


"Karena jadi Arsitek adalah mimpiku. Sudahlah Pak, Bapak tidak akan tau dan mengerti, yang penting Papah dan Mamah setuju. Aku mengejar apa yang aku mau, jadi aku harap Bapak juga tidak menghalangi niatku dan mimpiku" Ucap Arka tegas.


"Bukan begitu Arka. Bapak hanya berpikir sayang aja, apa yang harusnya milik mu. Kenapa kamu malah menyerahkan ke orang lain? kamu kan gak harus kerja terus, Perusahaan sawit dan restoran Mamahmu adalah perusahaan yang besar, kamu gak usah bekerja terlalu keras, uang banyak pasti udah mengalir di rekening kamu" ujar Herman santai.


Arka pun terkekeh mendengar apa yang di ucapkan Bapaknya.


"Tenyata Bapak memang tidak berubah, Masih saja matre, apa Bapak masih saja berniat untuk memanfaatkan aku untuk mengeruk keuntungan dari ku? Tenang saja Pak, walaupun Bapak tidak pernah bertanggung jawab akan masa kecilku dan malah mengabaikan ku dulu. Aku akan tetap bertanggung jawab dan membantu memberikan sedikit nafkah untuk Bapak setiap bulannya sebagai bakti seorang anak. Tapi ekspetasi Bapak jangan terlalu tinggi, aku takut Bapak akan jatuh dan kecewa dan perlu aku tekankan, yang Bapak bilang orang lain itu adalah Adik-adikku, walaupun kita terlahir dari Ayah yang berbeda, tapi bagiku Papah Agam adalah ayah ku yang sesungguhnya, karena selalu bersamaku dan merawat ku dari semenjak aku lahir hingga sekarang titik" Ucap Arka telak. Herman yang mendengarkan ucapan Arka yang bernadakan sindiran itu menjadi sesak dalam dadanya  serasa udara menjauh dan begitu sulit untuk bernafas.


"Saya permisi dulu, Assalamualaikum" ucap Arka yang kemudian bangun dari tempat duduknya serta langsung pergi meninggalkan Bapaknya. Herman yang melihat Arka pergi meninggalkan nya pun menyimpan kekecewaan yang sangat besar di dalam hatinya, perih itulah yang dia rasakan. Karena harapan Herman sangat besar bisa dekat dengan anaknya.


"Nak kenapa kamu gak biarin Bapak mendekati kamu Nak. Sebenarnya kalau kamu berpikir. Untuk apa uang yang kamu miliki, kalau bukan untuk orang tuamu, istri dan anak mu kelak. Karena Mamah dan Papah sambungmu sudah kaya. Kenapa tidak kamu membahagiakan Bapak mu ini Nak" Ucap Herman lirih sambil menyenderkan punggungnya ke kursi. Herman pun bangkit dari duduknya, karena dirinya malu hanya duduk sendiri. Dia pun pergi meninggalkan restorant tersebut dan keluar gedung menuju parkiran. Setelah itu Herman menuju motornya dan menaiki motornya setelah itu Herman menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan Supermarket milik Arka yang besar itu dengan perasaan hati yang gundah gulana.


Di perjalanan menuju rumahnya. Herman terus saja memikirkan kejadian tadi. Hal yang di awal begitu membahagiakan untuknya, Karena Arka bisa lebih dekat dengannya. Harus hancur hanya karena Herman ingin ikut ke Amerika.


"Susah sekali anak itu untuk di dekati. Andai saja Arka gampang di kadalin, gampang di hasut, pasti dia mau nurutin apa yang aku inginkan, bahkan aku bisa keliling Eropa tanpa susah-susah ngeluarin uang banyak, toh hasil dari sawit milik keluarga Nissa pasti untungnya milyaran," gerutu Herman lagi.


"Tapi lumayan lah, kali ini dapat makan gratisan, enak lagi. Tar kapan-kapan aku ke sana lagi, Kali aja Arka mau beliin aku baju dan keperluan rumah dari Supermarket nya. kan lumayan, mengurangi pengeluaran dan uangnya bisa aku pakai buat ngedate sama si Putri  Hahahaha" Herman tertawa sangat kencang, padahal Herman saat ini sedang ada di atas motor dan berada di lampu merah. Herman sampai tidak sadar, karena kencang nya tawanya itu, di sekitaran Herman menatapnya takut, mungkin mereka pikir Herman sudah Gilak.


"Bu lihat ada orang gilak lagi ketawa dan bisa naik motor." Ucap anak kecil di sebelah motor Herman. Herman pun menghentikan tawanya dan langsung menoleh anak tersebut dengan tatapan dinginnya, Karena mendengar ucapan anak tersebut yang menurut nya tidak sopan.


"Bisa ajarkan anaknya sopan santun kan? Tolong dong kasih tau anaknya, jangan asal main ngomong orang lain gilak" Ujar Herman ketus kepada kedua orang tua sang anak tersebut.


"Lah memangnya situ benar gilak ya? Gak sadar apa lagi mimpi? disini lampu merah banyak kendaraan lain, situ dengan PD nya ketawa kenceng-kenceng, orang-orang juga pasti nganggap situ orang gilak! Jadi jangan salahkan anak saya juga, situ nya aja yang kurang waras! Herman pun seketika marah mendengar ocehan ibu dari anak yang menghinanya tadi. Herman ingin membalas mulut ibu yang mengendong anaknya itu, namun terhenti karena suara klakson yang terus saja di pencet dan menimbulkan bunyi yang kencang.

__ADS_1


"Woy maju, sudah lampu ijo, Kalau mau berantem minggir dulu aja." Ucap pengendara lain yang sudah saling membunyikan klakson.


Karena takut akan di demo oleh para pengendara motor, Herman Segera memutar pedal gas di tangannya dan menjalankan motornya dengan sedikit kencang, dengan masih kekesalan di hatinya.


Beberapa menit pun berlalu Herman sudah sampai di rumahnya. Dia pun langsung memarkirkan motornya di garasi. Garasi yang sengaja dia buat di samping rumahnya, walaupun agak sempit tapi tak apalah pikir Herman, padahal Herman mobil saja tidak punya.


Setelah menaruh motor di garasi dan mengunci garasi tersebut lekas Herman ke dalam rumah dengan membuka kunci rumahnya yang selalu di bawa dia kemana-mana, setelah itu Herman pun masuk ke dalam rumah dan seketika suasana keheningan yang menemani Herman setiap harinya, tapi dia begitu menyukainya.


\_\_\_\_\_\_&\_\_\_\_\_


"Ada perlu apa ya? Kalian datang ke rumah saya? Lalu membuat rusuh di depan rumah saya?" Ujar Putri menaikan intonasi suaranya. Putri berbicara dengan sangat tegas, dan itu membuat Nita dan Kokom menelan salivannya susah. Tapi Kokom menghilangkan rasa takut itu. Sedangkan Nita mundur ke belakang ibunya. Karena merasa ibunya lebih berani dari pada dirinya.


"E-ekh kamu dasar Pelakor! Gak punya muka apa malu? kamu duluan yang pasti menggoda suami saya ia kan ngaku aja, dasar oknum PNS gadungan" ujar Kokom yang akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya walaupun masih terlihat gugup.


"Memangnya siapa suami anda? dan asal anda tahu, saya itu wanita terhormat ya! Bukan level saya tuh merebut suami orang. Karena kenapa? aku yakin anda tau barang- barang mahal dan brended. Itu semua saya yang beli, Saya tidak pernah minta sama suami siapapun, ngerti anda!? Saya bisa saja melaporkan kalian ke Polisi karena anda membuat saya tidak nyaman di sini" ucap Putri tegas, Putri tidak akan gentar, karena dia merasa dia tidak bersalah dan sedang tidak melakukan kesalahan apa yang di sebutkan Putri memang sempat ingin mendekati Herman saat masih menjadi suami Kokom. Tapi niat itu di urungkan setelah Putri mendapatkan pencerahan. Ucapan putri yang membawa-bawa nama Polisi membuat nyali Kokom yang tadinya menggebu-gebu ciut seketika. Begitupun dengan Nita yang makin mengeratkan pegangannya kepada ibunya.


"Mah... Udah Ayuk! Malu, itu kita di liatin banyak orang, aku juga takut!" bisik Nita di belakang telinga Kokom. Kokom yang mendengar ucapan Nita, seketika melihat sekelilingnya.


'Ternyata udah banyak orang, ini kesempatan untuk mempermalukan cewek ini' ucap Kokom dalam hatinya sambil tersenyum sinis.


"Zaman sekarang mana ada maling ngaku?! Penjara penuh kalo pada ngaku. Saya punya bukti bahwa barusan tadi kamu boncengan sama suami saya."


\_\_\_\_\_\_\_\_&\_\_\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2