
"Terus kenapa kamu sampe mood-mood kaya gitu?" ujar Kokom.
"Gimana Nita gak kesal, Kemaren itu Rayyan juga ada, Nita peluk Rayyan malah di dorong sampe jatoh ke tanah. Sakit banget bokong Nita Mah, Eh malah si Arka ngehina Nita, yang harusnya dia ngaca. Dia bilang kalau Nita itu cuma orang luar yang gak berhak sedikitpun atas tanah itu. Padahal kan yang lebih berhak mah Bapak sebagai anaknya nenek endang, dan Nita berhak karena Nita ini anak sambungnya, Bener kan Mah?"
"Ia kamu bener Nit. Kita harus kasih tau Bapak kamu, pengaruhin Bapak kamu, kita juga berhak atas pendapatan Supermarket itu setiap bulannya minimal 40 persen lah buat kebutuhan kita. Secara kan anaknya mas Herman, dan sebagai anak wajib untuk membantu biaya ayahnya."
"Bener banget itu mah, Ya kalau bisa sih nanti aku kerja disitu aja, minimal jadi Manager lah, biar gaji gede tapi kerja tinggal ongkang-ongkang kaki doank. tinggal nyuruh doang ya gak Mah?" ujar Nita menghayal.
"Ia... ya udah kita tunggu Bapak kamu pulang dari tempat kerjaannya, baru kita kasih tau Bapak kamu. Semoga aja Bapak setuju ya Nit" ujar Kokom dengan senyuman terus mengembang di wajahnya.
"Ia Mah, bayangin kalau tiap bulan kita juga dapet setengah dari penghasilan itu Mah, kita bisa beli mobil. Perhiasan, tas- tas branded, pokoknya kita akan jadi kaya Mah" ujar Nita yang masih terus menghayal hal yang bahkan belum tentu terjadi.
"Ia kamu benar Nit .. mamah bakalan ke salon tiap hari biar cantik... Mamah yakin. kalau Mamah di poles sedikit aja . Pak Agam bakalan ngelirik Mamah Nit. Secara kan Mamah cantiknya sama kaya si Nissa itu, dia glowing karena banyak uang dan setelah Mamah banyak uang, Mamah bakalan perawatan untuk merayu mas Agam, agar mau menikah dengan Mamah."
"Mamah khayalan nya ketinggian, pake mau ngegaet pak Agam, gak mungkin kali Mah" ujar Nita mencebikan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini bukannya ngedukung Mamah, malah jatuhin mental Mamah"
"Yah Nita Mah. Liat realita aja Mah hahahaha"
"Dasar anak durhaka kamu!" ujar Kokom kesal dengan kata-kata Nita anaknya yang sebenarnya adalah kenyataan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_&&\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Herman sudah mulai kelaparan karena tidak sarapan sama sekali, saat jam kerjanya Herman keluar dari kantor, karena kebetulan sekali kerjaan dia tidak banyak hari ini. Herman keluar untuk menghampiri tukang mie ayam yang selalu mangkal di depan kantor kecamatan.
Putri yang melihat Herman keluar, kepo dengan apa yang di lakukan orang yang di cintai nya itu. Putri pun mengikuti Herman yang masuk ke dalam warung tenda mie ayam di depan kantor. Setelah tau kemana sang pujaan hati pergi, Putri melangkah lesu ke arah mejanya.
"Mas Herman tumben banget jam segini udah makan, apa dia belum sarapan ya tadi pagi, kasian banget sih kamu mas. Coba aja kamu mau jadi suami aku mas, aku bakalan layani kamu dan penuhi semua kebutuhan kamu mas dengan cinta dan kasih sayangku" lirih Putri sambil menyangga dagu dengan telapak tangannya.
"Ngapain lu Putri. Ngomong sendirian, tar kesambet lu" ujar Mia yang mejanya di belakang Putri, Mia memang begitu keki terhadap Putri, apalagi saat Putri terang terangan ingin menggoda Herman, Mia bukan menyukai Herman, tapi Mia paling benci dengan yang namanya pelakor. Karena suaminya di ambil pelakor dan rumah tangga nya harus kandas, tapi sekarang Mia sudah menikah lagi dan bahagia bersama suami baru nya itu.
"Mbak itu kepo banget sih sama hidup saya, kenapa mbak?"
"Kamu kalau mau sama si Herman, tunggu dia cerai dulu, jangan jadi pelakor, mencuri milik orang lain, ngga bakalan berkah buat hidup kamu, seenggaknya jadilah janda terhormat jangan jadi janda yang menjandakan wanita lain" ujar Mia telak langsung kena di hati Putri. Putri yang di katakan seperti itu langsung mendelik Nia tajam, dengan tatapan laser nya.
__ADS_1
"Ia mba aku ngerti, tapi kalo mas Herman gak cerai-cerai sama istrinya gimana?"
"Ya kamu tinggal cari yang lain, laki-laki single kan masih banyak? Bisa kan? jangan jadi duri di rumah tangga orang lain, walaupun misalkan pada akhirnya kamu berhasil menikah dengan Herman, tapi dengan cara mencurinya pernikahan kalian pasti kena masalah mulu setiap hari dan pasti ada aja karma yang mendatangi kalian berdua" ujar Mia yang sebenarnya perduli dengan temannya itu, supaya tidak terjerumus ke dalam jurang kenistaan.
"Akan aku pikirkan mba, akan aku coba buat ngelupain mas Herman pelan-pelan, makasih sarannya mba" ujar Putri lirih. Sedikit nya Putri merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hatinya saat mengucapkan kata-kata itu, karena cinta nya kepada Herman begitu besar dan tulus, entah apa yang di liat Putri pada sosok Herman, bahkan usia di antara mereka sangat berbeda jauh.
"Aku harap kamu mendapatkan jodoh yang terbaik buat kamu Put, bukannya aku sok menggurui kamu, karena aku sudah berpengalaman masalah pelakor ini, aku juga korban pelakor, tapi pada akhirnya pernikahan mantan suamiku dengan pelakor itu tidak bahagia sama sekali. Malah sering cekcok, sampai akhirnya pelakor di bacok oleh mantan suamiku. Untung aja gak sampai meninggal" ujar Mia menceritakan hal yang sebenarnya tentang kondisi rumah tangga mantan suaminya itu yang sekarang berakhir di jeruji besi.
"Terus bagaimana Kabar mereka mba?" tanya Putri penasaran.
"Ya begitu lah, Mantan suami ku itu di penjara dan pelakor itu harus rela kehilangan lengannya satu karena di amputasi" ujar Mia membuat Putri bergidik ngeri.
"Mba gak lagi ngarang kan?" tanya putri menyipitkan matanya.
"Gak, aku cerita jujur... aku gak mau aja, kamu ngalamin nasib yang sama dengan pelakor itu, percayalah selalu ada karma di setiap perbuatan buruk Put" ujar Mia menasehati Putri. Putri pun menundukkan kepalanya.
"Sepertinya aku harus benar-benar melupakan mas Herman" ucap Putri dalam hati.
"Kamu pasti bisa menemukan orang yang kamu cintai dan mencintai mu dengan tulus, percaya deh sama aku Put" Ujar Mia.
"Ia mbak, aku gak akan ganggu mas Herman lagi dan akan mencoba membuka hati untuk pria single yang lain." ucap Putri tersenyum ke arah temannya Mia dan Mia pun membalas dengan senyuman pula. semenjak itu Putri dan Mia pun berteman.
"Gimana ini ya...? Cara lepas dari manusia licik seperti Kokom." Ujar Herman setelah duduk di kursinya. Herman terus saja mengetuk ngetuk mejanya menggunakan jarinya, pikirannya melayang-layang jauh, tetapi tetap saja buntu.
Darto yang melihat wajah sahabat nya itu kusut kaya keset di kamar mandinya hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Karena sudah tau jawaban dari permasalahan temannya itu.
"Pasti ini gak jauh-jauh dari istrinya si Kokom" gumam Darto yang memperhatikan gerak-gerik sahabat nya itu. Darto menghampiri sahabat nya itu lalu menepuk pundaknya dari belakang membuat Herman kaget.
"Lu tuh kebiasaan ya. suka banget bikin orang jantungan" ujar Herman mengelus dadanya.
"Lagian lu, tiap hari kayanya tuh muka kusut banget! sekali-kali setrika tuh muka, biar licin tuh muka biar gak kaya gitu mulu! Gedeg gue liatnya!" ujar Darto duduk di kursi depan meja Herman.
"Tar dah gue ceritain besokhari ini habis kerja gue sibuk" ujar Herman yang kembali memegang pulpen dan memeriksa berkas pekerjaan nya.
"Sok sibuk Lu. Tapi gue sih berharap semoga lu baik-baik aja sama keluarga lu ya."
__ADS_1
"Enggak. Gue dalam keadaan baik-baik aja sekarang." ucap Herman mengusap kasar muka nya lagi.
"Apapun itu, semoga lu bisa menyelesaikan semua masalah lu nantinya" ujar Darto memberikan semangat kepada sahabatnya itu.
"Thanks ya.. bro.. selalu dengerin curhatan gue" ujar Herman tulus.
"Sama-sama bestie" ujar Darto meledek Herman.
"Jijik....sumpah to. Gue masih normal to" ucap Herman misuh-misuh.
"Lu kira gue belok, enak aja, hahahaha" ujar Darto malah tertawa.
Pekerjaan Herman sudah selesai dan ini waktunya pulang, Herman membereskan mejanya dan dengan langkah seribu Herman mengambil tas kerja dan keluar dari kantornya menuju parkiran motor di luar, mesin motor di nyalakan dan seperti pembalap rosi, Herman mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, tujuan Herman saat ini adalah toko perhiasan, toko yang sesuai dengan surat pembelian yang tertulis di nota.
Herman pun sudah menemukan toko perhiasan tersebut, tokonya cukup ramai pembeli dan terkesan begitu mewah.
"Pasti barang barang disini harganya mahal" batin Herman. Herman langsung masuk ke toko tersebut dan mencari penjaga toko yang siap melayani Herman, seorang gadis cantik dengan hijab panjangnya menghampiri Herman yang sedang bingung melihat-lihat sekitar.
"Bapak cari perhiasan seperti apa Pak?" tanya gadis penjaga toko.
"Maaf mba saya bukan nyari perhiasan, tapi mau jual semua perhiasan ini," ujar Herman yang mengeluarkan kotak perhiasan yang lumayan besar.
"Bisa saya lihat sebentar Pak" ujar gadis tersebut, gadis itu pun melihat-lihat perhiasan nya dan menghitung total perhiasan tersebut dan seluruh perhiasan tersebut mempunyai nota asli dari toko ini.
"Bapak bisa masuk lewat pintu sebelah sana, kita akan membicarakan jual beli perhiasan ini di dalam ya Pak, karena nominalnya yang besar" ujar gadis tersebut.
Herman pun masuk mengikuti arahan dari wanita penjaga toko itu, dan setelah di dalam Herman sudah di tunggu oleh gadis tersebut ke sebuah ruangan yang ternyata di dalam ruangan tersebut sudah ada Manager tokonya yang menunggu kedatangan Herman.
Herman pun di persilahkan masuk dan duduk di sebuah kursi panjang, Manager dan wanita penjaga toko itu duduk di depan Herman.
"Bapak ingin menjual semuanya?" tanya Manager toko itu.
"Ia saya ingin menjual semuanya Pak" ucap Herman yakin.
"Semua perhiasan ini, jumlahnya ada 11 dengan ukuran yang bermacam-macam tapi setelah saya totalkan semua perhiasan ini memiliki berat 121 gram Pak. karena harga mas jual sekarang berkisar 650.000 jadi total semua perhiasan ini 78.650.000, tapi itu belum termasuk potongan tiap gram nya pak, berkisar 15.000 per gram nya, jadi total keseluruhan itu adalah 1.815.000 jadi nanti uang yang akan bapak dapatkan itu.. 76.835.000 Pak" ucap sang Manager.
__ADS_1
"Ia Pak.. saya jual aja, transfer ya Pak"
Ujar Herman yang bahagia mendapatkan kembali uangnya dari hasil penjualan tanah milik nya.