MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PUTRI CALON ISTRI KE 5


__ADS_3

"Lu kenapa pusing? Sakit lu to? Pilek apa magh? lu kambuh? kan tadi lu udah makan banyak Bambang" ucap Herman sedikit khawatir karena Darto terus saja memijit kepalanya seperti orang pusing.


"Atau mau gue bikinin kopi? Tapi bikin aja sendiri, Ngapain gue bikinin lu" ucap Herman.


"Man... Gini dah, lu sekolah dulu, Ijazah lu beli ya? Gak mungkin anak sekolahan apalagi sekolah tinggi kaya lu, tapi punya otak pendek kata gagang sendok" ucap Darto membuat Herman memicingkan matanya.


"Ngomong apa sih lu to? Kenapa lu jadi ngebully gue, dosa tau to, Ngebully teman sendiri" ucap Herman yang masih belum sadar akan kesalahannya.


"HE... IKAN ******! Dengerin omongan gue baik-baik, Jangan lu masukin kuping kanan keluar kuping kiri" Ucap Darto marah. Untung saja kantor dalam keadaan sepi dan pak camat sedang tidak ada di tempatnya dan sebentar lagi waktunya pulang, Jadi Darto dan Herman bebas untuk gibah dan ngobrol.


"Ya udah lu mau ngomong apaan Darto? jangan pake urat gak enak, Pake telor aja" Ucap Herman yang masih memegang pulpen. Tapi serius melihat ke arah Darto dan fokus mendengarkan Darto.


"Gini ya man, Lu itu walaupun Bapak nya si Arka, Tapi sekarang lu itu orang luar man, bukan termasuk kedalam keluarga mereka. Apalagi lu itu pernah menaruh luka yang sangat dalam kepada Nissa, bahkan sama anak lu sendiri, kan lu yang bilang sendiri, bertahun-tahun lu gak pernah liat anak lu, ngasih nafkah juga enggak. Jadi kalo sekarang lu minta yang enggak-enggak sama si Arka, gue harap lu tau diri. Jangan mengira karena si Arka udah mau ngomong sama lu. Jadinya lu ngelunjak man. Apalagi sampai maksa- maksa dia buat ke Amerika kemarin" Ucap Darto menjelaskan.


"Ya tapi kan Darto. Gue udah minta maaf dan ini juga bukan murni salah gue, salah Kokom juga Kan! kemauan gue gak lebay to, gue cuman pengen ikut, pengen jalan- jalan di negri orang. Si Nissa itu kan bisa aja ngizinin gue tinggal di rumahnya bareng berapa hari aja. Gak bakalan lama kok, kalau enggak si Arka sewain gue hotel di sana" ucap Herman yang masih belum mengerti.


"Lu mikir aja dong man. Di rumah si Nissa itu ada lakinya, ngapain si Arka bawa lu yang notabenenya orang luar dan lu dengan seenak jidat minta ini itu sama Arka, lu pikir si Agam bakalan diem aja, anaknya yang dia rawat dan dia besarin dari kecil lu manfaatin, lu porotin kaya gitu. Jadi orang tuh sadar diri juga perlu man! Jangan sampe lu ga tau diri aja! Udah lah capek gue nasehatin lu yang pasti bakalan kagak ngerti. Jangan sampe lu di jauhin anak lu lagi man! gara-gara permintaan aneh lu itu! Dan si Arka selamanya gak bakalan mau deket-deket lu lagi" Ucap Darto yang akhirnya pergi meninggalkan Herman sendirian yang masih saja marah.


"Si Darto ini apa-apaan sih. Dia yang ngerti dan paham, masa seorang ayah minta gitu doang sama anaknya salah. Si Arka itu banyak duitnya, Masa menuhin keinginan kaya gitu doang gak mampu.  Awas aja Nissa kalau gue dapet no teleponnya. Bakalan gue damprat tuh cewek seenaknya aja. Larang-larang si Arka, gue juga Bapaknya berhak atas segala sesuatu yang Arka miliki" ucap Herman yang masih kalut dan marah. Bahkan sampai saat ini Herman masih saja tidak pernah mengerti dan ingin menang sendiri.


Herman, pun segera menyelesaikan pekerjaannya karena sebentar lagi waktunya pulang. Setelah pekerjaan nya semua selesai, dia pun segera merapikan barang-barangnya dan bersiap menghampiri sang pujaan hati baru yaitu Putri. Herman sudah memantapkan hatinya untuk mendekati Putri. Herman tidak akan melepaskan Putri dan akan membuat Putri menjadi istrinya. Putri sangat cocok menjadi pendamping Herman selanjutnya. Putri cantik dan baik dan yang pasti dia mau menjadi ibu untuk anak-anaknya. Pikir Herman dengan senyum yang selalu mengembang Herman menghampiri Putri. Lalu langsung duduk di kursi di hadapan Putri.


"Ayok kita pulang Put. Aku pengen ngajakin kamu kencan kamu mau kan" ucap Herman yang membuat Putri langsung melihat ke arahnya. Putri pun mengehembuskan nafasnya kasar. Tidak ada senyuman sama sekali di wajahnya yang membuat Herman heran.


"Kenapa? apa ada masalah? Atau aku punya salah sama kamu?" Ucap Herman cemberut.


"Mas .... Aku gak mau deket-deket sama kamu mas, kalau mas mau rujuk sama istrinya, aku gak mau di cap sebagai Pelakor Mas. Dan di datangin sama calon istri mas lagi, malu-maluin" Ucap Putri yang membuat Herman bingung dan memicingkan matanya.


"Kamu ngomong apa sih Put? Siapa yang mau rujuk. Dan siapa calon istri aku? Kamu kan calon Istri aku Put?" Ucap Herman menyakinkan Putri.


"Ya siapa lagi kalau bukan mba Kokom mas! Dia sore-sore datang ke rumahku kemarin teriak-teriak di depan rumahku, sampai-sampai tetanggaku pada keluar semua. Dia ngomong seenak jidatnya. Ia dulu aku memang pernah punya niat jadi istri ke dua kamu dan gangguin kamu, tapi aku urungkan niatku kan, aku gak mau jadi perusak rumah tangga orang. Aku jauhin kamu dan aku juga gak tau kalau pada akhirnya kamu cerai dari istri kamu mas, Tolong mas jangan dekati aku, jika kamu hanya janji palsu. Aku gak mau dianggap jadi perusak hubungan orang lain." Ucap Putri yang kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.

__ADS_1


Herman benar-benar marah karena ceritanya Putri tentang Kokom yang melakukan hal yang memalukan pada putri. Herman pun mengepalkan tangannya.


"Nanti aku bakalan kasih tau Kokom dan kasih paham sama dia, kalau perlu kamu ikut sama aku, aku mau ngenalin kamu sebagai calon istri aku, jadi Kokom gak bakalan gangguin kamu lagi, kalau dia masih gangguin kamu, aku bakalan laporin dia ke Polisi atas tuduhan menganggu kenyamanan kamu. Dan aku mohon sama kamu, Jangan pernah menyuruh aku buat menjauh ya Put! aku benar-benar serius sama kamu!" ucap Herman dengan wajah serius sambil memegang tangan Putri. Dan Putri sebagai wanita yang sangat mencintai Herman pun luluh dengan kata kata manis Herman.


"Ya udah pokoknya aku gak mau ya mas. Kalau mantan istri kamu itu ganggu aku lagi. Kalau enggak aku bakalan tindak tegas. Tapi kamu beneran serius sama aku mas. Kok aku ragu ya, Kok bisa tiba- tiba. Lagian kan kita baru Deket lagi, kita pacaran aja enggak" ujar Putri, mukanya merah karena malu oleh rayuan gombal Herman.


"Kita udah sama-sama dewasa Put. Aku hanya ingin yang serius sekarang dan aku gak mau gagal lagi dengan kamu menjauhi aku waktu itu. Itu udah buktiin ke aku, kalau kamu memang wanita penurut dan kamu juga wanita yang sangat baik, dan aku mau kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku, kamu kan punya anak dari aku, karena kan kamu tau sendiri, umurku udah 40 tahunan lebih, aku ingin punya anak, sedangkan Kokom bertahun-tahun aku menikah sama dia, gak punya anak sama sekali, karena Kokom membohongiku, sedangkan anakku satu- satunya Arka sudah besar, dan dia ikut dengan Mamahnya" ucap Herman.


"Kalau kamu memang serius datanglah ke kampung ku nanti bersama ku mas, temuilah orang tuaku untuk melamar ku, karena sekarang orang tuaku tinggal di kampung di rumah eyang untuk mengurus sawah di kampung" ucap Putri. Tangan mereka berdua masih saja saling menggenggam erat satu sama lain.


"Orang tua kamu petani sayang?" Ucap Herman.


"Ia mas, ga apa-apa kan? mas gak bakalan malu kan, punya mertua petani, Tenang aja mas! walaupun petani. Tapi orang tuaku gak pernah terjun langsung ke sawah, orang tuaku itu punya pabrik beras besar Yang berasnya itu dari tanah orang tuaku yang di garap oleh pekerja nya, lumayan luas lah mas. Setiap bulan juga aku suka di kasih jatah oleh orang tuaku, walaupun aku udah kerja tetep aja aku di bagi" ucap Putri bahagia.


"Oh... Hebat juga orang tua kamu jadi juragan beras ya di kampung, ya udah aku gak masalah dengan pekerjaan orang tua kamu, asalkan halal kan, ya udah kapan kamu mau ngajakin aku ketemu orang tua kamu." Tanya Herman.


"Secepatnya kita ajukan cuti saja, karena kita gak mungkin bulak-balik. Kampung aku jauh, di solo soalnya"


"Udah selesai!" Ujar Herman. Putri pun menganggukan kepalanya dan tersenyum, Herman pun menggenggam tangan Putri lalu mereka keluar bersama.


\_\_\_\_&&&\_\_\_\_\_


Sedangkan di tempatnya Kokom, Nita dan Kokom masih melakukan kegiatan seperti biasa. Dan kali ini bapaknya Nita datang melihat Nita, lalu memberikan uang untuk Kokom dan Nita. Mereka semua sedang berkumpul bersama di ruang tengah.


"Gimana Kom? Jadi kamu ngambil sertifikat rumahnya si Herman, mumpung aku ada disini, gimana kalau kita ngambil sekarang aja" tanya Saiful mantan suaminya Kokom.


"Memangnya kamu di rumah berapa hari mas?" tanya Kokom. Nita hanya diam saat kedua orang tuanya bicara.


"Besok aku udah kembali ke rumahku, kalau lama-lama tar istri aku curiga."


"Kamu emang gak mau nikahin aku mas, Siri juga gak apa-apa mas, aku gak mau buat kebanyakan dosa sama kamu, dengan kelakuan kita selama aku tinggal disini" ucap kokom.

__ADS_1


"Nanti lah... Aku cari waktu biar Nita lama-lama disini. Dan urusin segala keperluan pernikahan kita, Akad doang kan!"


"Ia cukup akad aja, Terus gimana pekerjaan untuk anak kita Nita, ada kan mas" tanya kokom


"Besok datang ke alamat ini. Disini Bapak kerja. Ada lowongan kerja jadi staf admin, kamu bisa langsung masuk, Bapak udah bilang sama HRD nya. Kamu kerja yang bener jangan buat malu Bapak" ucap Saiful.


"Yes... Makasih Papah. Aku akhirnya kerja dan bakalan aku buktiin sama si Arka. kalau aku tuh mampu. Jadi tar pas aku datang ke Supermarket nya, aku mau ngerusuh" ucap Nita senang.


"Jadi kapan kita bisa ngejalanin semuanya. Kamu ambil Sertifikat rumah itu dan jual rumahnya, lalu kita kabur, kita bisa bahagia bersama" Ucap Saiful


"Lalu bagaimana dengan istri dan anak kamu mas?" tanya Kokom.


"Aku bakalan tinggalkan mereka, untuk apa? toh ada kamu dan Nita anak kita" ucap Saiful tanpa rasa bersalah.


"Mas sudahlah jangan kamu lakukan lagi kesalahan kamu padaku dan Nita dulu untuk kedua kalinya mas, aku sudah cukup bahagia menjadi istri siri kamu, tanpa istri kamu ketahui itu gak apa-apa, tapi Jangan kamu ulangi lagi kesalahan kamu yang dulu. Meninggalkan istri dan anak kamu, apalagi anak kamu masih kecil mas."


"Ia kamu benar Kom. Anakku masih kecil dan masih lucu-lucunya, maaf kalau aku udah nyakitin kalian berdua tapi aku bakalan menebus semua kesalahan ku sama kalian berdua" ucap Saiful.


"Ya sudah Mamah sama Papah. Aku mau keluar sebentar ketemu sama teman aku ya? Dah" Ucap Nita.


"Papah juga mau pulang aja, nanti Papah kesini lagi? Nikahin Mamah kamu," ucap Saiful.


"Ya sudah hati-hati ya mas." Ucap Kokom. Udin dan Nita pun pergi bersama dari rumah Kokom. Dan kini Kokom hanya tinggal sendiri di rumahnya.


Siang pun berlalu terganti dengan sore, Herman yang sudah makan dan jalan-jalan dengan Putri di Mall pun memutuskan untuk datang ke rumah Kokom. Herman mengetahui rumah Kokom karena Herman pernah meminta seseorang untuk mengawasi Kokom saat sidang perceraian kemarin.


Herman dan Putri pun sampai di rumah kontrakan Kokom yang sederhana namun asri itu. Halaman rumah Kokom pun di penuhi dengan tanaman bunga mawar sengaja Kokom tanam dan rawat bahkan ketika kokom malas dengan keadaan dalam rumahnya. Tapi tak sekalipun Kokom melupakan untuk menyirami tanamannya.


Herman pun menggandeng Putri ke arah pintu rumah dan mengetuk pintu rumah kokom.


Tok...tok..tok...

__ADS_1


Tiga kali ketukan Herman di pintu membuat Herman mendengar teriakan dari dalam rumah. Dan tak berapa lama pintu pun di buka dan Kokom pun keluar dengan mata terbelalak kaget. Melihat Herman dan putri. Mata Kokom semakin tajam dengan muka merah menahan amarah, saat melihat Herman memegang tangan Putri dengan begitu eratnya.


__ADS_2