MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
BAB 25 SALAH PILIH LAWAN


__ADS_3

POV Fina


Muka gila ni ibunya mas Herman, Saraf kali ya, aku ini menantunya bukan pembantu apalagi di suruh membersihkan rumah yang lumayan besar ini, Jelas aja aku tidak mau! disini kan udah ada pembantu. Oke Bu, lu jual gue beli. batinku yang masih menatap ibu nya mas Herman marah-marah.


"Udahlah Fin kamu nurut aja sih apa kata ibu ku, kan kamu yang bilang sendiri kalau kita pindah ke rumah ibu, kamu bakalan nurut dan ngurusin ibuku juga" ucap mas Herman .


"Kalian ini masih pada mau debat apa turun ke bawah. Ibu tunggu kamu berdua 10 menit kalau kalian berdua gak turun juga keluar dari rumah ibu sekarang Herman, ibu gak pernah main-main sama ucapan ibu ya" ucap ibu mas Herman yang langsung keluar dari kamarku.


"Apa-apaan sih mas ibu kamu itu, Kita baru pindah loh ini baru enakan tidur udah di suruh suruh kaya gitu, Kamu bilangin dong ibu kamu mas, Aku ini menantunya bukan pembantunya, Gimana sih kamu mas belain aku aja ga bisa" ucapku kesal.


"Udahlah kamu cuci muka sikat gigi langsung turun, Turutin aja apa kata ibu, Ini rumah ibuku, bukan rumahku jadi kamu ga usah banyak ngoceh, pusing aku dengerin nya." Ucap mas Herman yang langsung bangun dan keluar dari kamar ini juga.


"Ikhhh... nyebelin banget si, Akhhh.... Ucapku kesal, aku pun langsung ke kamar mandi yang ada di kamarnya mas Herman dengan buru-buru aku langsung saja cuci muka tanpa sabun dan sikat gigi, Setelah sikat gigi karena waktu 10 menit sangat terbatasnya aku pun langsung lari dari kamar dengan terpogoh-pogoh lari turun ke bawah.


Setelah sampai bawah ku lihat ada ibu dan Mamah ku yang sedang menyiapkan sarapan, mas Herman yang sedang minum kopi dan pembantu yang lainnya yang sedang membersihkan rumah.


"Udah turun kamu Fin, Nih ambil alat kebersihan, Kamu sapu dan pel tuh lantai atas, Kamar kamu dan ruangan kerja sama balkon sekalian, Itu hukuman buat kamu karena bangun kesiangan dan tidak melayani suami dengan baik. Besok kamu harus bangun lebih pagi jam 5 untuk membuatkan sarapan untuk kita semua disini, Ngerti kamu Fin!" ucap ibu mas Herman sambil menyerahkan alat kebersihan seperti sapu dan pel-an.


"Tapi Bu disini kan ada pembantu jadi buat apa aku yang mengerjakan pekerjaan rumah, percuma dong ibu gaji mereka, ibu itu punya pembantu loh Bu di rumah ini."


"Kamu mikir...! Emangnya disini kamu nyonya Fin? jadi bisa seenak hati kamu nyelonjorin kaki.


"Maaf ya bu Mayang, kalau bicara ku kasar sama anak ibu yang tidak tau diri ini, dan kamu Fina, ibu kamu dan suami kamu udah meminta ibu disini untuk melakukan apapun sama kamu dan mereka gak ada yang bakalan protes atas apa yang ibu lakuin sekarang, dan mereka gak peduli seberapa menderita kamu nanti karena ibu, Yang penting sifat kamu yang seenaknya sendiri harus di ubah, Sekarang gak pake lama cepet kerjain, Kalo enggak kamu gak bisa sarapan nanti." Ucap ibu mertuaku panjang lebar dan aku hanya bisa mengedipkan mataku berapa kali saking kagetnya.


Aku pun berpaling melihat Mamahku yang hanya diam saja apalagi mas Herman yang sedikit pun tidak terganggu dengan ucapan ibunya, Segera saja aku mengambil sapu dan pel-an untuk membersihkan lantai atas.


"Susi kemari" ucap ibu mertuaku.


"Ia Bu ada yang bisa saya bantu?!" ucap Susi menundukkan kepalanya.


"Setelah kerjaan kamu selesai kamu tolong ke atas liatin kerjaannya si Fina Kalau gak bener kamu paksa dia supaya kerja bener.


"Baik Bu, Siap!" ucap Susi.


.............

__ADS_1


"Sial banget sih, tuh nenek tua emang ya...Kesel banget sumpah. Untung aja lantai dua ga begitu gede, Kenapa harus gue juga yang kerja. Di kontrakan aja gue gak pernah kerja, semua Mamah yang ngerjain, disini malah gue yang di jadiin babu" ucapku kesal sambil terus menyapu kamar ku dan area lantai 2.


"Mana kamar mas Herman gede banget sama kaya kamarku dulu di rumah mba Nissa. Aku cukup beruntung sih kamar ini seribu kali lebih baik dari pada yang di kontrakan, " Ucapku sambil keliling kamar mas Herman, karena aku belum sempat melihat lihat kamar ini, dan aku pun di buat berdecak kagum di kamar ini, ada walk-in closet yang lumayan besar dan ada rak-rak untuk sepatu, pakaian dan tas walaupun hanya rak nya saja tanpa ada isinya mungkin ini bekas mba Nissa dulu, karena setahu aku 6 bulan setelah pernikahan mas Herman dan mba Nissa tinggal di rumah ini.


"Enak sekali jadi mba Nissa, Orang tua kaya, cantik, pintar, kerjaannya bagus, Suaminya ganteng. Lah aku! tapi sekarang suaminya udah aku dapetin, Selangkah demi selangkah apa yang mba Nissa punya, akan jadi milikku hahahahha..." ucapku tertawa bahagia. Sedikit demi sedikit aku pun membersihkan kamar ini dengan rapih, dan aku tata kembali sesuai dengan keinginan ku. Saat aku sedang membereskan kamarku dan mas Herman tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok-Tok-Tok


"Mba Fina apa sudah selesai beres-beresnya? Mba Fina di tunggu di bawah untuk sarapan" ucap seseorang yang berada di balik pintu. Aku pun segera membuka pintu kamarku dan ku lihat ada suster yang biasa merawat ibu.


"Susi! Apa kamu bilang tadi mba? Yang sopan ya Sus panggil saya nyonya!" ucapku sambil menunjuk diriku bangga.


"Nyonya? Helo mba Fina kan istri siri bukan istri sah nya pak Herman, jadi belum sah menjadi nyonya di rumah ini, Lagi pula saya bekerja untuk ibu, Bukan dengan mba Fina! Sekali lagi saya ucapkan sudah di tunggu di bawah untuk sarapan bersama, Jadi saya tidak mau bertanggung jawab kalau tiba-tiba ibu naik ke atas dan menyeret anda dengan paksa, Lagi pula lama sekali membereskan kamar sendiri, Rapih juga tidak." Ucap Susi mencemooh.


"Kurang ajar kamu saya ini istri mas Herman artinya saya ini bos kamu juga, Saya adukan ke mas Herman nanti biar kamu di pecat ".


"Silahkan saja, Saya tidak takut, toh yang memberi saya gaji adalah ibu Endang bukan Pak Herman, Dan yang saya tau ini juga adalah rumah ibu Endang bukan rumah Pak Herman, jadi anda disini hanya menumpang saja ya kan? dan satu hal lagi, Saya rasa anda salah memilih kalau melawan saya mba" ucap Susi tersenyum sinis lalu dia pergi ke bawah sendiri. Aku kesal sekali dengan ucapan Susi, Awas kamu sebentar lagi kamu bakalan keluar dari tempat ini Susi, batinku. Segera saja aku turun untuk ikut sarapan bersama.


Saat sudah di bawah, aku pun sudah melihat Mamah, ibu dan mas Herman makan bersama, aku pun langsung duduk di sebelah mas Herman untuk mengambil sarapanku sendiri, dan kami pun sarapan dengan Khidmat tanpa ada orang yang mengeluarkan suara.


"Eh Ia Bu, Itu aku baru membersihkan kamarku dan mas Herman Bu."


"Lelet banget kerjaan kamu, Bu Mayang apa selama ini Fina pernah mengurusi urusan rumah tangga Bu?" ucap ibu mertuaku bertanya ke Mamah, dan aku pun melotot ke arah Mamah supaya Mamah jangan memberitahukan yang sebenarnya kalau selama ini yang mengurus urusan rumah tangga adalah Mamah.


"Enggak Bu Endang, yang mengurus rumah dan masak di rumah itu saya, Fina hanya tau tinggal makan dan bahkan kerjaannya sehari- hari hanya tiduran dan bermalas-malasan saja" ucap Mamahku, aku pun kaget atas jawaban Mamah, Maksud Mamah apa mau menjatuhkan aku di depan mertuaku. Batinku.


"Ohhhh.. gak nyangka saya Fina, ibu kandung kamu sendiri saja, kamu jadikan pembantu kamu."


"Bukan begitu bu, hanya saja karena Mamah tinggal bersama kami jadi Mamah sedikit membantu pekerjaan ku, ia kan Mah?" Tanyaku ke mamah sambil ku melototi Mamah supaya menuruti perkataan ku.


"Ia karena Mamah tinggal sama kamu dan Herman, sebagai gantinya Mamah harus jadi pembantu gratisan di kontrakan kalian!" ucap Mamahku, dan aku pun semakin kesal atas ulah Mamah yang seakan semakin memojokkan ku, ku lihat mas Herman tidak membelaku sama sekali dia malah asik saja menatap ponselnya dan tertawa sendiri.


"Ya udah Bu, Mamah, Fin. Aku berangkat dulu udah mau telat" ucap mas Herman mencium tangan Mamah dan ibu dan melewati ku begitu saja ke luar.


Aku semakin kesal karena tingkah mas Herman yang seakan lari dari masalah ini, tak terasa ku kepalkan tanganku, di bawah meja.

__ADS_1


"Bu Mayang sesuai pembicara kita kemaren, Bu Mayang tidak masalah kan, jika saya mendidik anak ibu dengan keras sesuai peraturan saya" ucap ibu.


Maksudnya apa? batinku.


"Ia Bu besan, lakukan saja apa yang menurut Bu besan terbaik untuk Fina, saya tidak akan protes dan mengganggu, kalau begitu Bu besan terima kasih atas makannya, saya permisi untuk membereskan kamar saya Bu" ucap Mamahku.


"Ya silahkan Bu, Sekalian saja istirahat"


"Ia Bu besan terima kasih ya"


"Dan kamu Fina tetap duduk disitu jangan kemana-mana? saya mau bicara sama kamu." ucap ibu tegas.


"Tapi mah aku mau ke kamar Mamah dulu sebentar."


"Sudah ku bilang duduk! kamu ngerti bahasa manusia kan?"


"Ia Mah ngeri lah ga usah ngatain aku juga."


"Jadi gini, Mulai besok kamu sama Herman bangun! sholat, setelah sholat tugas kamu bersihkan lantai atas ngerti kamu, tapi sebelum bersihkan lantai atas kamu urus suami kamu sendiri, siapin pakaiannya di kamar kalian dan siapin kopi untuk nya, kamu paham kan cara melayani suami dengan baik, jangan cuma bisanya di ranjang doang"


"Bu maksudnya apa Bu? saya mengerti kalau hal itu Bu" ucapku dengan nada yang mulai tinggi karena kesal.


"Oh ya kamu mengerti tapi tidak kamu jalani, sekarang itu kamu udah jadi istri Herman. Dan kamu itu tinggal di rumah saya jadi ikutin semua yang saya perintahkan, urusin Herman suami kamu yang bener jangan sampai saya nikahkan Herman dengan wanita pilihan saya yang bisa mengurus Herman dengan baik, paham kamu.


"Ia Bu Fina faham, Tapi kan Bu disini ada pembantu , kenapa Fina malah di suruh beres- beres sih Bu, biar aja pembantu yang beresin semuanya.


"Hmmm Kamu itu bukan ratu di rumah ini Fina, hanya sebagai menantu saya Jadi kamu juga harus ikut membersihkan rumah ini, jangan belaga nyonya kamu, ini adalah rumah saya, yang akan saya serahkan ke adiknya Herman saat Juwita sudah lulus kuliah nanti, jadi kamu jangan mimpi jadi nyonya di rumah ini, paham kamu! satu lagi baju kamu dan Herman kamu yang mencucinya di mesin cuci ada di belakang jangan nyuruh bibi, ataupun susi yang nyuci, apalagi nyuruh ibu kamu."


"Ia bu aku ngerti, terus tugas pembantu apa di rumah ini? kalau aku masih harus ngerjain juga, gak adil dong bu, walau bagaimanapun aku itu menantu Ibu istrinya mas Herman, jadi mau ibu terima aku atau enggak, aku tetap udah nikah sama mas Herman" ucapku sedikit meninggikan suara ku karena saking kesalnya atas perlakuan ibu yang diktator ini.


Gebrak...


Aku kaget ibu langsung menggebrak meja menggunakan wadah nasi, untung meja makan terbuat dari kayu jati coba saja terbuat dari kaca, bisa ancur.


"Kamu itu selain gak punya tata Krama, bebal juga orangnya, pantas saja, ibu kandung sendiri kamu jadikan babu, dasar anak durhaka, gak usah banyak tanya kamu Fin! cukup ikutin peraturan saya atau saya akan bertindak yang membuat kamu menyesal, Mengerti kamu!" ucap Ibu sambil berdiri dan langsung pergi ke arah belakang.

__ADS_1


Akh sial sekali punya mertua ternyata bar-bar , perasaan mau hidup enak kok susah banget sih, apalagi dapat modelan mertuanya kaya gitu, aku pun langsung ke atas untuk menyelesaikan pekerjaan ku, daripada nanti ibu marah marah lagi, tapi sebelum naik aku mau menuju kamar Mamah dulu, kenapa mamah ku berubah sekarang, batinku.


__ADS_2