
"APA PAPUA? Anda siapa? Anda menculik saya ..ya...?" Teriak Herman dengan nafas tersengal dan urat di leher yang terlihat.
"HAHAHAHA... kamu lupa wajah saya Herman? Wah jadi terhina saya, padahal saya ini populer seperti artis loh," Ejek Bram pede dan senyum selalu mengembang di wajahnya Bram melipat tangan di dadanya, Bahagia melihat Herman duduk di lantai dan dia di bangku... Seperti sedang menghukum seorang tersangka dan Bram adalah rajanya.
Herman mengingat-ngingat wajah bapak yang ada di depannya ini.... Dengan terus memperhatikan dengan jeli, seketika Herman tertegun.
Glekkkk....
" Pak... Bramm... Anda pak Bram kan papahnya si Agam-Agam itu," ucap Herman kesal, menatap-natap ke arah Bram.
"Ekh.. mulut Luh, Si Agam-Agam? Ngomong yang bener, gue gibeng juga tuh mulut pake sendal!"
"Apa maksud bapak menculik saya? sampai niat banget nyampe ke Papua..."
"Lah emang kenapa? Orang kaya lu, yang punya otak busuk dan selalu dengki sama orang emang mesti di kasih pelajaran. Kayanya rumah sakit jiwa, gak mempan buat nyadarin otak lu yang gesrek, jadi mungkin dengan tinggal di Papua, di suku terpencil tanpa internet, HP dan listrik bisa buat lu jera," Ketus Bram memandang bengis Herman..
"Mampus gue..." Ucap Herman dalam hati.
"Pak, Tolong balikin lagi saya ke Jakarta pak.. saya janji gak akan ganggu Nissa dan Agam lagi pak, Tapi tetap Arka adalah anak saya, Jadi saya punya hak atas Arka pak," Ucap Herman mengiba, tapi kata kata Herman yang terakhir sangat membagongkan.
"Saya tanya sama kamu, Hak atas apa kamu bilang tentang Arka? Nissa hamil kamu malah di gerebek sama cewek lain, Nengokin juga enggak apalagi kasih nafkah, Pas Nissa lahir ada gak kamu tanggung jawab? yang ada kamu malah manfaatin buat nebeng hidup sama anak dan mantu saya, Makanya di jeblosinlah kamu ke RSJ karena kaya orang gila," Ujar pak Bram.
"Nah itu bapak tau saya di masukan ke RSJ, Jadi gimana saya mau tanggung jawab ke anak saya? ketemu aja ga boleh, padahal saya anak kandung nya..." Ucap Herman ngotot tak mau kalah.
"Herman ....Herman... Emang nya kamu di RSJ berapa taun, kamu sadarnya berapa berapa? 3 tahun? Kamu malah kerja disana, emang kita gak tau kamu juga sering pulang kan kerumah ibu kamu. Tapi kamu pernah gak nengokin Arka, pas kamu pulang ke rumah ibu kamu. Enggak kan, kenapa sekarang tiba-tiba nanyain" sewot Bram dengan menunjuk nunjuk Herman.
Glekkk.... Herman terkejut melihat wajah menakutkan Bram yang sedang membentaknya, tubuh Herman gemetar hebat, Herman hanya bisa menutup mulutnya, Karena ketakutan membalas ucapan Bram.
"Supri" panggil Bram kepada anak buahnya yang berada di dapur.
"Ia bos ...." Ucap Supri berlalu menghampiri Bram.
"Kamu urus kecoa ini, jangan sampai dia sampai kabur, suruh dia apa aja, Jadiin dia babu juga boleh, atau ngurusin kebun kamu, kasih dia makan juga, jangan sampai mati!" Ujar Bram menjelaskan panjang lebar.
"Siap bos!" ucap Supri sambil menganggukkan kepalanya.
"Pak Bram, Saya mohon pak jangan tinggalkan saya disini, Pak! nanti ibu saya mencari saya Pak, ibu saya udah tua. Saya juga belum nikah Pak, saya mohon pak" ringik Herman, sambil mengiba dengan menutup dua tangannya memohon Bram untuk membawanya serta pulang ke Indonesia.
"Selamat bersenang-senang ya... Kamu memang pantas tinggal disini," ucap Bram yang semakin menjauh melangkahkan kakinya... Keluar dari rumah Supri menuju mobil.
"Berisik kamu! Ayok ikut saya!" Ucap Supri yang langsung menarik tangan Herman untuk di bawa ke kamar kosong yang ada di gudang.
"Lepasin gue brengsek, Heh denger gak.......!" Teriak Herman marah saat di geret oleh Supri.
Plakkkkkk... BUGHHH....
"Heh bacot lu ya, Jangan banyak tingkah lu disini ya, Lu itu cuma pembokat gue disini lu budak gue, Kalau lu masih mau hidup di dunia ini, Lu ikutin saja kata-kata gue, ngerti!" ancam Supri setelah menampar dan memukul perut Herman dengan keras, Herman langsung jatuh tersungkur dan memegang perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Mau gue tonjok lagi lu?"
"Ampun bang.... Ampun...gue bakalan nurut sama Abang, Ampun bang..." Ucap Herman yang masih memegangi perutnya, dengan wajah ketakutan pucat pasi.
"Sialan keluarga Agam, tapi gue gak punya kuasa apa-apa untuk balas mereka, Brengsek" ucap Herman dalam hati.
"Bu... Hiks.. hiks...tolong Herman Bu, Herman pengen pulang."
_____
Bram pun mengeluarkan HP nya dan mencari No kontak asistennya yang lain yaitu Joni, untuk mengurus Bu Endang.
[ Jon lu telepon pihak rumah sakit, langsung ke atasannya si Herman, bilang si Herman bukan di culik, dan jangan memperpanjang masalah ini lagi kalau tidak ingin punya masalah dengan Bramantya Wijaya ] ucap Bram di teleponnya.
[ Baik pak! Akan segera saya laksanakan ]
[ Bagus, Kamu urus hari ini, dan beritahukan mereka juga, Suruh telepon ibunya Herman, Bilang ke ibunya Herman, kalau si Herman itu di pindahin ke Kalimantan dan akan pulang tahun depan ]
[ Siap Pak! ]
Tut...Tut...Tut... Telepon pun di matikan oleh Bram secara sepihak.
"Kamu terima hukuman kamu man! Kamu memang pantas mendapatkan nya, Siapa suruh macam-macam dengan keluarga Wijaya..." ucap Bram di mobil yang akan menuju bandara.
________
Jika mengingat ucapan Dito waktu itu setelah menjelaskan alasannya, Bu Endang hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, dia malu dengan mantan besannya dan mertua Nissa sekarang, dia tidak habis pikir, bagaimana Herman masih saja mengacau, dan menjadi biang rusuh, apakah dia tidak kapok? kemaren saja sudah di masukin ke RSJ, sekarang Herman akan mengalami apa lagi? Karena sudah mengusik keluarga yang berkuasa itu. Bu Endang pun kembali ke saung yang dia buat di sebelah kebun di belakang rumahnya.
"Bu ... Ada telepon untuk ibu, Katanya dari rumah sakit," ucap Mina, suster Bu Endang yang baru.
"Rumah sakit?"
[ Halooo... Dengan siapa ya ]
[ Maaf dengan ibu Endang? ]
[ Ia benar ini dari mana? ]
[ Saya dari rumah sakit Bu... Teman Herman bekerja ]
[ Kenapa ya pak? Apa Herman bikin ulah ]
[ Tidak Bu... Kami hanya ingin menyampaikan kalau saudara Herman dikirim oleh pihak rumah sakit ke daerah Kalimantan per hari ini ]
[ Kenapa mendadak sekali ya? ]
[ Ia Bu... Kebetulan supir kami yang ada di Kalimantan per hari ini mengundurkan diri, jadinya dengan terpaksa Herman yang dikirim kesana Bu, maaf tidak menelpon ibu sebelumnya ]
__ADS_1
[ Gak apa-apa, Saya mengerti. Terima kasih ]
[ Baik Bu terima kasih atas pengertiannya, kami undur diri ya ]
[ Ia terima kasih ]
Telepon pun di putus oleh pihak rumah sakit.
"Kamu pasti bukan dikirim oleh rumah sakit, Tapi kamu sedang di hukum oleh keluarga Agam." Gumam Bu Endang lirih.
"Ibu kenapa? Kok mukanya jadi sedih kaya gitu.... " Tanya Mina bingung melihat perubahan di wajah Bu Endang.
"Entahlah saya hanya merasa Herman akan lama sekali pulang ke rumah, saya gak akan melihat dia dalam waktu yang lama...." Bu Endang menghembuskan nafasnya lagi dengan kasar.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Herman Bu...?"
"Herman di pindahkan ke Kalimantan."
"Walah, jauh banget sampai Kalimantan. Mau ngapain dia Bu, nyari anaconda di sana," ejek Mina...
"Entahlah Min, Aku heran, kok aku bisa ngelahirin anak seperti Herman ya min. Padahal dia itu aku didik dengan baik, biar gak seperti bapaknya. Tapi apa kelakuannya sama persis kaya bapaknya, tukang selingkuh gak bertanggung jawab, Keras kepala, Aku pusing Min Hiks..hiks.." Ujar Bu Endang bercerita sambil menangis dan memukul dadanya sesak.
"Sabar Bu.... Sifat seseorang itu gak bisa di rubah, kalau bukan dia sendiri yang merubahnya. Selingkuh itu penyakit bu, gak akan pernah sembuh. Sekali dia sudah selingkuh orang tersebut gak akan pernah puas dengan satu wanita saja." Ujar Mina menenangkan Bu Endang yang masih menangis teringat kelakuan Herman yang kejam terhadap istri-istrinya dulu, Bahkan sekarang dia tidak pernah berubah dan belajar dari kesalahannya.
"Aku yakin Herman itu, bukan di kirim ke Kalimantan. Tapi ini semua ada campur tangan keluarga Nissa, Karena ulah Herman kemarin Min. Sebenarnya aku kasihan tapi ini karena ulah Herman sendiri, aku harus gimana Min?"
"Tapi keluarga Nissa gak mungkin kan sampai membunuh Herman," tanya Mina khawatir, takut Bu Endang drop jika kehilangan anaknya.
"Enggak.. keluarga Nissa tidak sampai membunuh orang, mungkin Herman hanya di kasih pelajaran supaya membuat dia jera dan tidak mengganggu lagi keluarga Nissa lagi," Lirih Bu Endang setelah berhenti menangis.
"Ibu harus yakin, dan gak boleh sedih lagi, percayalah pak Herman pasti baik- baik saja. Apalagi mereka semua orang baik. Pasti hanya ingin membuat pak Herman sadar saja Bu..." Ujar Mina .
"Ia kamu benar Min, aku tau keluarga Nissa seperti apa? Walaupun mereka keluarga yang berkuasa tapi mereka semua baik," ucap Bu Endang tenang.
"Makanya ibu jangan nangis lagi ya, anggap aja pak Herman itu sedang jalan- jalan, atau sedang wajib militer," canda Mina menghibur Bu Endang yang sudah tenang.
"Aku benar-benar malu Min, sama kelakuan si Herman, benar-benar malu. Kalau boleh mecat anak, ku pecat si Herman si bergajul itu."
"Ia sabar Bu... Ini ujian!"
"Kamu mah, serius dikit Napa Min!"
"Kalau serius mulu, pusing Bu... Mending becanda biar gak stres.... Hidup itu harus di buat enjoy, ada kalanya kita serius, ada kalanya kita harus enjoy, sesuaikan keadaan saja Bu..." Mina menasehati Bu Endang dengan tenang.
"Kamu itu tumben bijak, lagi gak sakit perut kan? atau panas gitu?" ucap Bu Endang sambil menempelkan tangannya di dahi Mina.
"Alhamdulillah Mina sehat Bu hehehehe " mereka berdua pun tertawa bersama.
__ADS_1
_________&