MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PENGAKUAN MARIO KE AYAHNYA


__ADS_3

Mario mengirimkan data pribadi Alisha yang dia ketahui dan informasi terakhir di mana Alisha berada, ke email Bobi dan tak menunggu lama Bobi pun membuka email, lalu membacanya sejenak dan membelalakan matanya. Bobi mengambil HP nya untuk menghubungi saudaranya itu.


[ Halo bro... ] Ujar Bobi.


[ Ia kenapa, lu udah terima email dari gue kan ] ujar Mario yang langsung mengangkat telepon dari Bobi.


[ Hahahah si Bambang, Emang pinter kalau nyari istri gak tanggung-tanggung Bagus ini baru gue suka. Alisha emang cocok banget sama lu, sama-sama dari kalangan sultan, spek bidadari kaya gini emang gak boleh lu lepasin, gue dukung seribu persen, pokoknya ] ujar Bobi terkekeh.


[ Maksudnya. Lu ngomong yang jelas, Berarti udah baca Email gue kan ]


[ Ia, gue udah baca dan gue bakalan bantuin lu, tapi ngomong-ngomong, Pak Agam udah tau siapa lu emangnya? Kan bokap lu itu teman baiknya Pak Agam ]


[ Masa sih, Bokap gue gak pernah ngomong ]


[ Penting gitu cerita sama lu ]


[ Ia juga ya, gue kan gak tau klien Bokap gue siapa aja. Dan gue juga sebelumnya terlalu gak perduli akan hal itu ]


[ Makanya lu bantuin Bokap lu di perusahaan jangan ngajar mulu, kasian paman Adi, Mario! Beliau udah tua, mana Tante Lina juga udah berpulang, ikh... aneh gue sama lu, anak sendiri gak kasian sama bokapnya, anak durhaka dasar ]


[ Jadi kapan gue bisa terima Kabar baik dari lu ] ujar Mario mengalihkan pembicaraan.


[ Paling lama seminggu lah ]


[ Gak bisa cepet dikit ]


[ Gak bisa ojan... lu mikir nyari alamat rumah Pak Agam di Amrik itu gampang, susah bro kaya nyari jodoh gue, yang gak nemu-nemu ]


[ Malah curhat lu ]


[ Ya udah lu tunggu aja Kabar baik dari gue ]


[ Ia makasih ya ] ujar Mario yang langsung menutup teleponnya, Mario meneruskan di mejanya memikirkan ucapan sahabat kocaknya itu.


"Apa aku harus nemuin Papah, nanyain tentang Pak Agam, kali aja Papah tau" ucap Mario dalam hati.


Mario bergegas pergi ke kantor Papahnya, setelah kelasnya hari ini berakhir. Mario pergi menggunakan mobilnya dengan kecepatan lumayan cepat, saat sampai di lobby Mario menyerahkan kunci mobilnya ke Security untuk di parkirkan. Setelah itu, dia pun masuk ke dalam kantor Papahnya. Semua pegawai Aditama corporation tau tentang sang pewaris perusahaan besar itu, perusahaan yang tak kalah besar nya dengan perusahaan Wijaya grup hanya berbeda di bagian apa yang di hasilkan saja." Kalau Wijaya Group bergerak di semua sektor, perhotelan, minyak, resort dan properti, Sedangkan Aditama Group bergerak di bidang arsitektur dan properti. Kedua perusahaan besar itu pun saling bekerja sama, bahkan para pemimpin nya pun bersahabat, hanya saja mereka berdua tidak tau perihal anak mereka masing-masing.


Mario yang mempunyai akses langsung masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan dan setelah sampai di lantai paling tinggi lantai yang hanya berisikan tentang ruang rapat, ruang sekertaris dan ruangan Papahnya, sedangkan ruangan Mario sendiri, meskipun jarang di tempati oleh Mario berada di bawah lantai Papahnya.

__ADS_1


"Amara... Papah ada di ruangannya kan?" ujar Mario menanyakan ke Sekertaris Papahnya.


"Ada pak... Di dalam" ujar Sekertaris Pak Adi, Papahnya Mario yang semakin terpesona dengan Mario, karena dari dulu Amara sudah menaruh hati terhadap anak bos nya ini.


"Makasih" ujar Mario yang langsung masuk ke ruangan Papahnya.


"Assalamualaikum Pah. ujar Mario yang langsung masuk keruangan Papahnya dan melihat Papahnya yang masih berjibaku dengan laptop dan berkas yang tidak ada habisnya.


"Mario, tumben kamu kesini kenapa?" ucap pak Adi Papahnya Mario.


"Lagi gabut Pah. Gak banyak kerjaan juga Pah, ada yang mau Mario tanyakan ke Papah sih sebenarnya," ujar Mario yang langsung duduk di depan Papahnya.


"Pindah duduk aja disana" ujar Papahnya Mario, Pak Adi pun bangun dan melangkahkan kakinya ke arah kursi tamu di samping kursi kerjanya, di ikuti oleh Mario.


"Kamu mau nanya apa?" Tanya Pak Adi.


"Papah kenal dengan Pak Agam?" tanya Mario.


"Kenal banget, dia sahabat Papah, adik tingkat Papah sebenarnya. Walaupun kita beda jauh umurnya. tapi kita temenan, tumben kamu nanyain, ada masalah" tanya pak Adi menyelidik.


"Ia Pah... Sebenarnya Alisha itu anak pak Agam Pah."


"Alisha wanita yang kamu kenalkan sebagai calon istri kamu"


"Wah.... Terus bagaimana kabarnya? Alisha udah gak pernah main lagi, apa kamu cuman bohong masalah calon istri itu" selidik pak Adi.


"Sebenarnya.... " Ucap Mario menggantungkan kata katanya.


Pak Adi menghembuskan nafasnya kasar


 


"Papah sebenarnya sudah punya firasat, kalo kamu sama Alisha cuman settingan, walaupun Papah inginnya itu kenyataan, tapi terserah kamu sebenarnya,"


"Maafin aku Pak. Aku cuma berusaha untuk buat ibu sembuh, aku pikir dengan aku mendatangkan wanita sebagai calon istriku ibu bakalan sembuh, dan tidak kepikiran lagi, sampai sampai buat kondisi ibu drop... Tapi... Tetap aja ibu pergi ninggalin kita. Hanya saja aku udah buat kesalahan besar sama Alisha Pah" lirih Mario murung dan langsung menundukkan kepalanya.


"Kenapa ...? Apa kamu melakukan sesuatu yang buruk dengan Alisha" ujar Adi menatap anaknya dingin.


"Ia Pah, Tapi.....Sebenarnya aku gak tau awalnya, kalau Alisha itu anaknya Pak Agam, karena identitas nya sangat di rahasiakan." Ujar Mario panik, melihat kemarahan di wajah ayahnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Nak? semoga bukan sesuatu hal buruk, kalau enggak mau di taro di mana muka Papah ini, Papah malu sama Agam" ujar Adi pusing dengan kelakuan anaknya.


"Maafin aku Pah. aku gak bisa katakan sekarang, aku sedang berusaha untuk membuat Alisha menjadi milikku dan aku mohon bantuan Papah, untuk menyakinkan Pak Agam, kalau aku layak menjadi suaminya Pah" Ujar Mario menyakinkan Papahnya dengan muka memelas.


"Katakan sama Papah, apa yang kamu lakukan Mario, baru Papah bisa membantu kamu bicara dengan Agam" ucap Adi kesal dengan anaknya.


"Aku.... Sebenarnya aku ...." ujar Mario gugup.


"Katakan Mario, sebelum Papah, nanya sama Agam dan membunuh kamu dengan tangan Papah sendiri, apa kamu telah melakukan sesuatu yang sangat buruk kepada Alisha"


"Maafin Mario Pah, Mario udah menodai Alisha pah" Ujar Mario menundukkan kepalanya.


Bugh.... Bugh...


Dua kali Pak Adi memukul pipi Mario hingga Mario terjungkal dan berdarah di sudut pipinya. Sangat menyakitkan, tapi Mario tak bisa melakukan apa-apa. Dia mengakui dia salah.


"Anak brengsek kamu Mario! Apa yang kamu lakukan hah" teriak Pak Adi sambil memegang dadanya yang terasa nyeri, Mario yang melihat itu langsung bangun dari duduknya, takut sesuatu yang buruk terjadi dengan Papahnya, orang tua satu-satunya.


"Pah... Maafin Mario, Papah gak apa-apa?" Tanya Mario yang ingin mendekati Papahnya. Mario yang khawatir karena melihat wajah Papahnya yang pucat ingin segera membawa Papahnya ke rumah sakit, tapi sebelum tangan Mario menyentuh Papahnya, tangan Papahnya langsung mendorong tubuh Mario kembali hingga, menjauh.


"Kamu harus tanggung jawab Mario! Papah akan codet kamu dari daftar ahli waris Papah, kalau kamu tidak berhasil menemukan Alisha dan menjadikannya mantu Papah, ingat itu Mario" Ujar Adi yang semakin marah.


"Ia pah Mario janji tapi Mario mohon, Papah harus tenang, nanti Papah sakit" ujar Mario yang melihat papahnya terus memegangi dadanya, Papahnya lalu duduk di kursi dan menghembuskan nafas dengan perlahan, menetralkan rasa sakit di dadanya.


Mario yang melihat Papahnya hanya terdiam pun, memilih untuk keluar dari ruangan Papahnya, dengan perasaan yang sedih luar biasa, karena orang tua satu-satunya yang Mario miliki jadi kesakitan seperti itu.


"Amara.. tolong kamu panggilkan Zidan supaya bawa Papah ke rumah sakit" ucap Mario kepada Sekertaris Papahnya itu.


"Memangnya ada apa dengan Pak Bos.. ya Pak"


"Gak apa-apa, kamu panggil saja Zidan, aku mau pulang dulu"


"Kenapa gak Pak Mario saja yang membawa Pak Adi ke rumah sakit"


"Aku banyak urusan, kamu tolong jangan banyak nanya ya! Lakuin aja apa yang aku suruh " ujar Mario kesal dengan Amara ini.


"Baik pak.. maafkan saya tapi Bapak kenapa mukanya lebam begitu, mau saya obati Pak." ujar Amara khawatir dengan Mario.


"Gak perlu," ketus Mario dia pun pergi meninggalkan Amara, yang banyak tanya dan cerewet itu. Dengan langkah yang lunglai dan lesu. Mario berjalan di Lobby perusahaan dengan muka lebam, sehingga membuat para pegawai langsung memperhatikan putra dari pemimpin perusahaan ini, apalagi pegawai wanita. Bahkan ada yang berani untuk menyapa Mario, namun Mario sama sekali tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari pada pegawai ayahnya itu, Mario tidak perduli jika dia dibilang sombong atau apalah, karena Mario tidak ingin melampiaskan kekesalannya kepada semua orang yang mengganggunya sekarang.

__ADS_1


Mario menaiki mobilnya dengan kecepatan sedang tak tentu arah, bahkan dia tidak tau jalanan mana yang dia lewati, dia mengemudikan mobilnya hanya lurus lurus saja. Mario sama sekali tidak melihat jalan sekitar, sampai satu hal yang membuat mata Mario mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depannya. Mario melihat gapura selamat datang cluster perumahan Alisha yang selalu dia kunjungi untuk mencari Alisha, tapi selalu saja gagal, karena sang penghuni rumah tersebut tidak pernah ada di tempatnya, atau lebih tepatnya, Mario tidak pernah bertemu dengan Agam, yang selalu pulang ke Indonesia. Mario masuk ke dalam cluster tersebut untuk mengunjungi rumah Alisha. Berharap Alisha ada di rumahnya sekarang, tapi harapannya sekali lagi harus sia sia. Saat Mario sampai di depan gerbang rumah Alisha, rumah itu masih terlihat sepi, Mario sangsi Alisha sudah kembali. Dan ternyata dugaan Mario benar. Alisha tidak ada di rumahnya atau dia tidak akan pernah pulang lagi ke rumahnya.  Mario kembali mengemudikan mobilnya, karena tidak mau satpam rumah Alisha melihatnya dan membuat kekacauan disini.


Mario pun kembali melanjutkan perjalannya ke arah Apartemen karena rasa sakit akibat lebam dan tubuh yang lelah, Mario harus benar-benar istirahat kali ini.


__ADS_2