MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
PENEMUAN HARTA KARUN


__ADS_3

POV Herman


"Hahahaha... Kamu orangnya sangat blak-blakan ya...To the point saya suka wanita seperti kamu gak munafik" apa cewek ini gila? Untung di sini gak ada orang udah sepi yang beli.


"Kamu pasti akan selalu tertawa jika hidup bersama ku mas. Dan kita akan bahagia, kita juga akan memiliki anak kita sendiri nantinya," ucap nya dengan wajah penuh keyakinan, ku akui Putri memiliki tipe wanita yang selalu aku inginkan, dia cantik, pintar dan juga seksi, terlebih lagi dia itu kocak. Tapi tidak malu-maluin, istilahnya dia itu tidak kampungan, walaupun begitu dia sedikit ****** seperti semua wanita yang menjadi selingkuhan ku dulu mereka semua yang menggodaku terlebih dahulu.


"Sayangnya aku tidak akan bisa punya anak lagi Put. Itulah kekurangan ku, yang bisa di terima oleh istriku yang sekarang" ucapku lirih, semoga saja bisa membuat Putri menyerah mengejarku.


"Kita bisa mengobati nya mas..."


Deg...


Aku bisa melihat di mata Putri ada kesungguhan kalau dia benar-benar serius ingin bersamaku.


Aku terkekeh mendengar dia mengucapkan kata itu, Kokom saja bahkan tidak pernah meminta aku untuk berobat, apa Kokom sengaja melakukan itu, ucapku dalam hati.


"Kenapa diam mas... Benar kan apa yang aku ucapkan, mas bisa berobat, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dan aku akan membantu kamu" ucapnya lagi dengan senyuman manisnya yang membuatku terpesona sedikit.


"Pasti mahal Put, aku gak cukup uang untuk berobat," ucapku lirih, aku memasukan lagi lontong sayur yang enak ini, hmmmm... rasanya jadi agak hambar, batinku.


"Tenang aja mas, kebetulan kakakku adalah dokter, kita bisa tanya kan berapa biayanya" ucapnya lagi yang membuatku berpikir ulang.


"Apa aku bisa sembuh, hmmm nyesel juga kemaren barang-barang Kokom dan Nita aku bakar harusnya aku jual saja" ucapku dalam hati.


"Entahlah gimana nanti aja" ucapku yang memasukan lagi lontong ke dalam mulutku.


"Jadi bisakah kita mencobanya mas."


"Mencoba apa?" tanyaku bingung.


"Mas Herman jadilah pacarku, Aku janji gak akan ada yang tau, jadi kita gak akan di pecat, kita bisa sembunyi-sembunyi. Aku tau mas Herman udah mulai gak betah kan sama istri mas sendiri" ucapnya. Dengan suara menggoda, ku lihat tangannya mengelus pahaku" nih anak godaannya gede juga" batinku.


"Jangan dulu ya Put, aku udah janji gak mau selingkuh sama mendiang ibu aku." ucapku, yang langsung meninggalkan Putri dan membayar lontong sayur ku. Ku abaikan teriakan Putri karena aku tak mau lagi berurusan dengan yang namanya perselingkuhan.


Aku langkahkan kaki ku ke parkiran motor untuk pulang. Tapi sebenarnya aku males banget buat pulang ke rumah, memang benar semua yang di katakan oleh Putri. Kalau hubungan ku dengan Kokom rasanya sangat hambar, seperti cintaku padanya sudah layu dan memudar, ku pertahankan rumah tangga ini semata- mata hanya untuk melengkapi hidupku hanya tidak kesepian.

__ADS_1


Saat sampai rumah, ku lihat Nita dan Kokom sedang duduk berdua mereka tidak mengetahui kedatangan ku.


Tapi apa yang mereka katakan ya. Apa aku dengarkan dulu. Aku bersembunyi di balik tembok sambil mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Mah... Jadi Mamah sekarang gak mau telepon Arka lagi buat ngambil sertifikat itu" ucap Nita.


"Ga lah Nit.... Biar kita tenang dulu setahun ini, kalau kamu udah kerja kumpulin uangnya buat kuliah di tempat Arka, jadi kamu bisa menjebak Arka agar menikahi kamu, dan kita bisa hidup enak dengan harta yang di miliki Arka, dia kan pewaris kebun sawit yang terbesar di Kalimantan, bisa kebayangkan kan Nit, berapa duitnya, kamu mau apa aja pasti di kasih sama Arka Nit." Ucap Kokom. Ternyata mereka ingin merusak hidup anakku, tak terasa aku mengepalkan tanganku.


"Tapi aku gak suka sama dia aku suka nya sama Rayyan"


"Udahlah cinta itu bisa tumbuh seiring berjalan nya waktu, seperti Mamah dan Bapak kan, kami di jodohkan tapi kami bisa saling mencintai" ucap Kokom.


Ku akui ucapan kokom benar kali ini.


"Tapi Mah, kok Bapak gak punya anak lagi sih sama Mamah, Mamah Sama bapak pernah punya anak?"


"Bapak kamu gak bisa punya anak lagi, Bapak kamu kurang subur"


"Kan bisa di obati Mah"


"Ia... ikh Mamah kejam"


"Biarin aja... Ngapain Bapak masih ngurusin si Arka, mending ngurusin kamu yang cantik ini, harusnya Bapak kamu juga biayain kuliah kamu, ini malah gak mau dia nya. Mamah gak tau Bapak bisa berubah kaya gitu."


"Udahlah biarin aja Mah, yang penting bapak masih sayang sama kita dan gak usir kita dari sini"


Ku eratkan kepalan tanganku. Aku tidak menyangka, wanita yang ku anggap baik selama ini, ternyata menyimpan kebusukan di dalam hatinya.


"Ya tuhan....apa aku salah lagi dalam memiliki istri, aku benar-benar tidak habis pikir, aku pun keluar rumah untuk menetralkan kemarahan ku menjadi lebih baik, karena aku benar-benar sangat marah sekarang, kenapa mereka menjadi kaya gini, apa karena melihat harta Nissa mereka menjadi silau, aku juga ingin hidup enak seperti Nissa, tapi aku tidak mungkin mengorbankan hidup anakku. Aku harus bertemu dengan Herman dan Nissa sekarang juga. Tapi nanti dulu aja lebih baik aku Masuk dulu, aku ingin lihat ekspresi muka mereka saat aku muncul di depan mereka sekarang.


Akupun masuk lagi dan masih ingin mendengar ucapan mereka.


"Mah ... Kok Bapak belum pulang udah siang ini" Ucap Nita.


"Ia ya... lama amat Bapak gak nyampe- nyampe" Ucap Kokom.

__ADS_1


"Mah kalau Bapak ada yang godain gimana Mah?"


"Kalau yang godain Bapak kamu Mah banyak Nit, secara Bapak kamu masih ganteng walaupun udah gak muda lagi, tapi gak ada yang mau nerima Bapak kamu seperti ibu, kamu mau tau kenapa karena Bapak kamu itu mandul. Gak bisa ngasih anak" ucap Kokom, aku mendengar Kokom berbicara seperti itu, sungguh aku sangat sakit hati.


"Kok Mamah bisa Nerima. Bapak yang gak bisa punya anak lagi"


"Karena tanah Bu Endang banyak, mending tanah warisannya buat kita berdua dari pada buat ngobatin Bapak kamu" ucap Kokom yang membuatku semakin panas hati dan marah.


"Kenapa aku harus di obatin Bu... " Ucapku yang berpura-pura masuk dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka berdua, padahal aku sudah ingin sekali mengusir benalu ini dari rumahku, tapi untuk memenuhi janjiku ke ibu aku tidak akan selingkuh, akan aku cari cara agar bisa menceraikan Kokom tanpa aku yang selingkuh, ucapku dalam hati.


"Bapak sudah pulang... Eh itu maksudnya bapaknya teman Nita sakit, dan sekarang dia udah sembuh jadi gak perlu di obatin Pak" ucap Kokom dengan wajah yang gugup.


Dasar wanita ular akan aku balas semua perbuatan kamu.Ucapku dalam hati.


"Nita besok kamu harus ngelamar ke kecamatan tetangga kita. Biar kamu ada penghasilan jadi gak ngerepotin bapak terus." Ujarku dingin.


"Ia Pak, besok Nita bakalan ngelamar kerja Pak."


"Baguslah" ujarku yang langsung masuk ke kamar karena ingin mandi, seluruh badanku lengket dan bau, perutku juga sudah lapar. Aku pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan badanku.


Setelah selesai mandi dan memakai pakaian santai, aku pun keluar ke arah dapur untuk makan di meja makan, saat aku buka tudung saji. Baguslah ternyata Kokom sudah masak.


"Pak sini... Ibu sendokan nasi sama lauknya" ujar Kokom yang langsung duduk di sampingku dan menyendokan nasi dan lauknya ke piring, ku biarkan saja Kokom melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri, setelah selesai aku memakan makanan ku dengan khidmat, sambil terus memikirkan langkah selanjutnya bagaimana menceraikan Kokom tanpa harus aku yang selingkuh, apa aku harus bekerja sama dengan Putri" tanyaku dalam hati.


"Bapak habis dari taman, tumben lama banget Pak, sampe siang gini" tanyanya, aku hanya sekilas melihat wajahnya malas.


"Jangan bicara di meja makan, kamu tau kan" ucapku dingin dan dia langsung diam karena kata-kata ku. Kokom hanya memandang wajahku saja. Aku pun tidak perduli, hilang sudah rasa respect ku sama dia, hilang sudah kesempatan yang ingin aku berikan sama dia. Wanita di dunia ini sama saja, ucapku dalam hati.


Selesai makan, Kokom mengambil piring kotorku dan membersihkan meja makan, menaruh nasi dan lauk sisa ke lemari agar tidak di makan kucing yang masuk ke rumah kami, aku yang malas melihatnya, langsung pergi ke kamar untuk tiduran karena malas. Sungguh aku BT, Apa aku nongkrong aja di cafe, kalau mau ngajakin si Darto, dia pasti sama bini dan anaknya. Akh... mending aku tidur sajalah, aku pun merebahkan badanku dan menutup mataku untuk tertidur.


Aku pun terbangun, ku lihat jam di atas nakas menunjukan angka 3 ternyata sudah sore, dan aku tertidur selama itu. Aku bangun dari tidur ku. Lalu berjalan ke luar kamar, rumah nampak sekali sepi seperti tak ada penghuni sama sekali. Aku kembali ke kamar untuk mandi dan membuka lemari pakaian saat ku bongkar pakaian aku melihat, kotak kayu di pojokan baju, seperti sengaja di sembunyikan.


Kotak apa ini? apa punya si Kokom ya? Aku penasaran ku ambil saja kotak itu, dan ku buka, mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar, ku lihat perhiasan emas banyak sekali dengan berbagai model ada kalung, gelang cincin dan anting, ini mas asli apa palsu ya? Ku lihat lagi di dalam nya ternyata ada suratnya berarti ini asli. Apa emas ini di beli dari uang penjualan tanahku. Sepertinya ia, mana mungkin tanahku yang satunya hanya di beli segitu, dan uangnya hanya di belikan pakaian dan tas yang jelek kaya gitu, ku ambil saja perhiasannya dan akan aku cari tabungan Kokom, setelah semua yang dia punya aku ambil, Kokom dan anaknya akan aku tendang dari rumah ini, batinku dalam hati.


"Lebih baik ini ku simpan saja tas kerja ku, besok akan aku belikan brangkas dan hanya aku yang tau password brangkas itu" ucapku dengan senyum samar.

__ADS_1


__ADS_2