MATA HATI TERLUKA

MATA HATI TERLUKA
AYAH DAN ANAK MULAI AKRAB


__ADS_3

Setelah mengantar Putri ke rumahnya, Herman tidak langsung pulang melainkan Herman berniat mengunjungi Arka di supermarket nya.


Herman tau dan ingat hari ini Supermarket Arka sudah beroperasi dan pasti sangatlah ramai, karena di dekat sini tidak ada Mall, hanya ada supermarket biasa, Itu pun tak sebesar punya Arka.


Arka sangat hebat dalam mencari peluang. Herman sangat bangga dengan Arka. Di saat anak lain seusianya masih ingin bersenang-senang berbeda dengan Arka yang malah memanfaatkan warisan sebagai ladang bisnis.


"Ternyata didikan Nissa, tidak kaleng- kaleng. Buktinya anakku bisa sukses walaupun masih kuliah. Aku sangat bangga kepadanya." Ujar Herman yang masih mengendarai sepeda motornya.


Herman sampai di depan Supermarket EARTH milik Arka. Seketika mata Herman takjub melihat besarnya Supermarket itu. Dia pun langsung masuk dan memakirkan motornya di tempat parkir motor yang telah di sediakan.


Pengunjung sangat ramai saat pembukaan, apalagi saat opening tersedia berbagai diskon yang di tawarkan. Herman pun masuk ke dalam lobby Supermarket itu, dan sekali lagi matanya Herman terkesima dengan berbagai macam restaurant yang menjadi tenang di lantai bawah yang di penuhi dengan pengunjung.


"Wah... Rame banget Supermarket nya. Bapak semakin bangga sama kamu nak." Gumam Arka pelan,  Herman pun langsung menghampiri security untuk bertemu dengan anaknya Arka.


"Permisi Pak, kalau saya ingin bertemu dengan Arka bisa tidak ya Pak?" Tanya Herman sopan.


Security itu melihat Herman sebentar, menelisik dari penampilannya yang lumayan seperti bukan orang jahat, tapi lebih kepada pegawai PNS, karena Herman masih memakai baju dinasnya.


"Bapak ini siapanya Pak Arka ya?" tanya Security tersebut tersenyum ramah.


"Saya pamannya yang tinggal di daerah kecamatan sini Pak, coba di tanya dulu sama Arka nya. Pasti dia kenal dengan Pak Herman," Ucap Herman.


"Kalau begitu, mari Pak ikut saya ke bagian resepsionis kantor ini Pak" ujar Security tersebut mengantarkan Herman menuju kantor di gedung sebelah. Herman mengikuti Security tersebut sambil melihat sekeliling.


"Bu Sinta. Ini ada tamu dari pak Herman, katanya mau bertemu dengan Pak Arka. Pamannya Pak Arka yang tinggal di kecamatan sini." Ujar Security tersebut menjelaskan siapa Herman.


"Sebentar ya Pak Badrun. Saya tanya dulu ke Pak Arka langsung." Ujar Sinta di kantor ini Arka memang tidak mempunyai sekertaris, hanya wakil kepala saja, karena Arka tidak akan selalu standby di Supermarket ini Sedangkan wakil kepala bekerja di supermarket ini setiap hari.


[ Halo... Selamat siang Pak Arka, Maaf saya mengganggu Bapak, karena di bawah ada tamu yang ingin menemui Bapak ] ucap sinta saat telepon kantor di angkat oleh Arka.


[ Tamu... Siapa Sin?]


[ Seorang Bapak-bapak. Namanya bapak Herman, katanya beliau adalah paman Pak Arka yang tinggal di kecamatan sini, apa benar Pak?]


[ Oh... Antar naik keruangan aku aja Sin ]


[ Baik Pak.. terima kasih ] sambungan telepon pun di putus oleh Arka. Sinta menaruh teleponnya dan menatap ke arah Pak Badrun.

__ADS_1


"Pak Badrun, kata Pak Arka di antar aja Pak Herman nya langsung ke ruangan Pak Arka di atas" ujar Sinta.


"Ok... Sin!" Ujar pak Badrun dan menoleh ke arah Pak Herman." Mari Pak ikuti saya," ucapnya yang langsung pergi menuju ke arah lift dan di ikuti oleh Herman.


"Makasih mba Sinta" ucap Herman sambil berjalan mengikuti Pak Badrun di belakang dan Sinta hanya tersenyum ramah ke arah Herman.


Pak Badrun dan Herman pun naik ke lift dan sampai di lantai 2. Lantai dua berisi ruangan Arka sebagai pemilik dan kepala. Selain ruangan Arka di lantai dua pun terdapat ruangan wakil kepala yang ruangannya bersebalahan dengan ruangan Arka. Sedangkan untuk lantai 1 di isi dengan ruangan staf Supermarket yang mempunya tugas masing-masing.


Pak Badrun pun mengantarkan Herman hingga depan pintu ruangannya Arka." Ini ruangannya Pak Arka ya Pak? Sebentar saya ketik dulu" Ucap pak Badrun yang hanya tersenyum.


Tok ...tok...tok...


"Selamat siang Pak Arka, saya Badrun yang mengantarkan Pak Herman." Ucap Badrun.


"Masuk aja Pak" ucap Arka dari dalam ruangan.


"Mari Pak" ucap Badrun sambil membuka pintu ruangannya Arka.


"Terima kasih Pak." Ucap Herman yang langsung masuk, pintu pun di tutup kembali oleh Badrun. Setelah itu Badrun pun turun dan kembali ke tempatnya bekerja.


"Sebentar ya Pak. Duduk aja dulu di kursi tamu, nanti saya ke sana, tunggu sebentar" ucap Arka yang langsung fokus kembali dengan tumpukan kertas yang tak ada habisnya itu.


"Santai aja Nak. Maaf kalau Bapak sudah datang mengganggu" ucap Herman yang langsung duduk.


Herman masih melihat sekeliling ruangan kantor ini dengan seksama, tapi seketika matanya terfokus oleh sebuah pigura foto yang sangat besar yang di isi oleh Arka anaknya, Nissa dan Agam juga anak- mereka berdua, seketika Herman tersenyum getir melihat foto kebersamaan keluarga yang harmonis itu dan langsung menghembuskan nafasnya pelan, mencoba menahan segala kecemburuan dan kemarahan yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


'Aku harus sabar' Ucap Herman dalam hatinya. Tapi masih tetap saja melihat foto tersebut.


' Mungkin seharusnya aku yang ada di situ bukan Agam' ucap Herman dalam hati. Tangannya mengepal erat, merasakan kemarahan... Herman masih belum sadar akan kesalahannya yang telah tega meninggalkan Nissa dan berselingkuh dengan saudaranya Nissa. Tapi tiba tiba kemarahan itu hilang saat melihat Arka duduk di sofa yang berada di sebelahnya.


"Tumben Bapak kesini? Ada perlu apa ya Pak? apa mau minta uang kepadaku?" ucap Arka telak. Herman terperangah oleh ucapan anaknya seketika saja hatinya sakit. Herman begitu jauh dengan anaknya, tanpa Herman sadari. Herman lah yang selama ini membuat dinding pembatas yang sangat besar antara dirinya dan anak kandungnya sendiri.


"Jangan berpikiran buruk terus tentang ayahmu Nak. Bagaimanapun akulah ayah kandung mu" Ucap Herman sedikit merendahkan suaranya, Herman tau dialah yang mempunyai kesalahan disini.


"Ya..ya .ya .. terserah Bapak saja, karena bagiku Ayah ku hanya Papah Agam seorang yang merawat ku dan mengurus ku sedari kecil." Ucap Arka sarkas yang langsung membungkam mulut Herman, seketika Herman langsung diam dan tak tau harus berkata apa, karena semua yang di katakan anaknya adalah sebuah kebenaran.


"Jadi tujuan Bapak datang kesini untuk apa? Gak mungkin kan Bapak sengaja datang kesini cuma mau ketemu sama aku doang, Oh... Aku tau.. pasti Bapak kesini di minta sama anak manja Bapak itu supaya menerima dia kerja disini jadi Manager. Maaf pak gak bisa kalau masalah pekerjaan Arka gak bisa karena disini tidak ada nepotisme" ujar Arka panjang lebar yang membuat Herman mengernyitkan dahinya bingung.

__ADS_1


"Maksudnya apa Nak? Siapa anak manja yang minta kerjaan sama kamu jadi Manager?"


"Ya siapa lagi kalo bukan Nita" Ucap Arka yang sedang sebal dengan Bapak nya ini.


"Bentar dah, Si Nita ngelamar ke sini? Bapak belum tau lah ka, Beneran" ucap Herman jujur menyangkal.


"Bapak mau minum apa?" Tanya Arka.


"Es teh manis aja Ka" Ucap Herman yang di tanya minum, Herman Tidak akan menolaknya apalagi dia saat ini sangat haus.


"Sebentar kayanya aku ada minuman kemasan di kulkas." Ujar Arka yang masuk ke pantry yang ada di dalam kantornya. Sesaat kemudian Arka pun membawa segelas teh yang sudah di isi oleh beberapa es batu dan toples cemilan, lalu di taruh di meja.


"Makan sama minum dulu Pak" ujar Arka sopan.


"Ia makasih ka" ucap Herman yang langsung meminum es teh manis tersebut. Sangat segar terasa di tenggorokan Herman yang kering.


"Bapak beneran gak tau, dan gak ikut campur masalah Nita yang ngelamar disini. Karena bapak udah sebulanan pisah rumah sama Kokom dan Nita. Bahkan seminggu yang lalu Bapak sudah ketok palu cerai dari Kokom" ucap Herman sambil mengambil cemilan yang ada di toples lalu memakannya.


"Jadi Bapak cerai lagi. Rekor banget sih Pak, Nikah-cerai sampe 4 kali, malu- maluin Arka Pak" sarkas Arka yang membuat Herman menatap Arka sebal.


"Untuk apa masih bertahan sama cewek yang mau hartanya kita doang ka. Kokom selama ini yang membuat Bapak jauh sama kamu dan dengan sengaja gak mau punya anak dari Bapak, dan yang lebih menyakitkan lagi, dia main jual tanah Bapak yang di kasih Nenek. Semuanya dia jual tanpa seizin bapak. Gimana bapak gak kesel coba," curhat Herman yang masih saja terus memakan cemilannya hingga tinggal setengah toples.


"Terus Bapak mau nikah lagi gitu? Yang ke lima jadinya" Ucap Arka santai, tak pernah sekalipun dalam hidupnya Arka bisa bicara santai dan lama seperti ini dengan Bapak kandungnya.


"Tar lah dulu. Bapak lagi nikmatin kesendirian dulu, Tapi kalau ada cewek cantik, baik, pengertian, gak matre, pinter masak dan mau jadi istri Bapak. Ya Bapak gak nolak. Bapak juga pengen punya anak Lagi, kamu kan udah gede, Apa kamu gak mau punya adek" ucap Herman. Arka yang mendengar perkataan Bapaknya matanya terbelalak melihat langsung ke arah Bapaknya.


"Bapak beneran absurd banget jadi cowok. Minta istri sempurna tapi kelakuan bapak kaya bajingan, lagian aku udah punya adik 2 malah" ucap Arka. Menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini, ngatain Bapaknya sendiri bajingan. Berarti kamu anak bajingan dong ka, ya kan beda kali ka, ini nanti adik kandung kamu."


"Gak ada bedanya, gak ada yang namanya kandung atau pun tidak, toh kami lahir dari rahim yang sama." Ucap Arka santai." Bapak mau minum lagi?" Tawar Arka yang melihat minuman bapaknya habis tak bersisa.


"Boleh Ka, Bapak haus." Ujar Herman tanpa rasa malu.


"Haus ... Apa doyan?!" ujar Arka yang mengambil gelas kosong Bapaknya dan kembali ke pantry, sesaat kemudian Arka pun membawa segelas es teh manis dan langsung memberikan ke tangan Bapaknya.


"Makasih ya ka" Ucap Herman yang meminum es teh manisnya itu hingga habis setengah gelas. Arka yang melihat Bapaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.

__ADS_1


__ADS_2