
POV Herman
"Apa kamu bilang? mau pindah ke rumah ibuku," tanyaku kaget saat Fina mengusulkan untuk pindah ke rumah ibu.
"Ia mas, gimana? kita pindah aja ya kerumah ibu kamu, secara kan rumah ibu kamu juga luas, aku juga mau mendekati ibu mu mas, Siapa tau sekarang ibu mau menerima aku mas."
"Kamu mau ngurusin ibu juga."
"Ia tentu saja aku mau mas, Aku bakalan anggap ibu kamu sebagai ibuku sendiri."
"Ya sudah nanti aku bicarakan lagi sama ibu besok, aku mau ke kamar dulu, aku mau tidur." Ucapku langsung masuk ke kamar ku. Saat di kamar aku memikirkan apa yang Fina katakan tadi. Aku juga melihat lihat kamar sempit ini, Bahkan kamarku lebih luas dari ini. Apalagi kamar aku dan Nissa di rumah mewah itu, Seketika aku kembali dengan rasa penyesalan ku yang teramat sangat dalam.
Aku akui kalo kita pindah ke rumah ibu otomatis pengeluaran uangku akan lebih mendingan karena tidak harus membayar kontrakan yang lumayan mahal ini, bayangkan saja gajiku paling besar dapat 5 juta, dan itu pun harus di bagi-bagi, 1.5 buat kontrakan, 2 juta untuk Fina dan aku hanya sisanya, 1.5 juta doang yang aku pegang, aku benar-benar stress memikirkan semua itu.
Apalagi kalo Fina tidak mau memasak jadi aku harus mengeluarkan uang untuk makan di luar, Aku benar-benar menyesal sudah bercerai dari Nissa, apalagi setelah aku tau dari Fina, Nissa ternyata sekaya itu dan juga penghasilan nya sangatlah besar. Di tambah dengan pekerjaannya yang menjadi Direktur Keuangan sekarang. Makin besar saja gaji Nissa itu, Kalau saja aku masih menjadi suaminya aku pasti bakalan menikmati semua uang Nissa dan bisa hidup mewah, bisa bersenang-senang lagi, dan uang gajiku utuh, tak di sentuh sama sekali.
Sial sekali hidupku bisa bersama Fina. Seharusnya Nissa bisa legowo dan gak minta cerai dari aku, agar mau menerima Fina menjadi madunya, dia kan sayang sekali sama Fina. Jadi aku bisa mendapatkan harta Nissa dan juga kepuasan dari Fina, batinku.
Aku pun langsung merebahkan badanku yang lelah ke kasur dan memejamkan mata ku, saat aku akan memejamkan mata tiba-tiba ponsel Fina berbunyi tanda ada yang menghubunginya dan kulihat nama yang menghubungi nya." Mas Beni? siapa dia? pikirku lalu sambungan pun terputus karena tidak di angkat. Tak sampai satu menit chat dari pak Beni pun masuk ke HP Fina.
[ Jangan ganggu aku dulu, sementara ini ] begitu isi chat dari seseorang yang bernama pak Ben, siapa pak Ben ini dan ada hubungan apa dengan Fina? mencurigakan! tapi aku tak peduli, Fina mau ngapain aja terserah dia. Selama aku belum mendapatkan Nissa aku akan manfaatkan Fina untuk kepuasan ku dan mengurusi ibu di rumah, pikirku.
Aku pun merebahkan badanku dan memejamkan mata. Saat aku memejamkan mata ku dengar suara pintu terbuka dan ada seseorang di belakangku. Apa itu Fina? pikirku. Tapi aku tak menggubris nya karena rasa lelah di badanku dan beban pikiran ku yang semrawut.
Esoknya....
Aku terbangun seperti biasa jam 6 pagi dan saat aku bangun aku teringat dulu saat masih bersama Nissa Ku selalu bangun pas shubuh karena Nissa selalu membangunkan aku untuk sholat berjamaah bareng.
Sedangkan sekarang bersama Fina, jangan kan sholat shubuh bareng jam segini pun dia belum bangun. Dan aku terus saja membandingkan Nissa dan Fina, sekarang aku juga baru sadar kalau Fina sangat jauh segala-galanya dari Nissa.
Tanpa memperdulikan Fina yang masih ngorok di kasur dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya, aku pun hanya melihatnya sekilas dan menghembuskan nafasku agak lama. Ya tuhan....apa jadinya nanti pernikahan ku, kalau istriku sendiri seperti ini, Batinku. Segera saja aku keluar kamar dan membawa handuk serta baju ganti untuk memulai hariku dengan bekerja. Monoton sekali hidupku semenjak berpisah dengan Nissa bahkan Fina yang dulu selalu membuat aku bergairah, sekarang rasa itu sudah makin hambar.
Aku melewati dapur dan ku melihat ada Mamah Mayang yang sedang sibuk membuat sarapan seperti biasanya.
__ADS_1
"Man, makan dulu sebelum berangkat kerja ya! Mamah udah siapin nasi goreng buat kamu sama Fina," ucap Mamah Mayang yang masih meracik nasi dan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng tersebut.
"Ia mamah juga ikutan makan disini kan?"
"Ia nanti Mamah makan, tapi Mamah mau berbenah dulu rumah Sepertinya berantakan banget, Mamah gak suka berantakan soalnya."
"Apa Fina gak pernah bantuin Mamah bebersih rumah Mah?"
"Fina.....!? Anak itu aja ngerti kerjaan rumah man, dia mah sapu aja gak pernah megang."
"Terus gimana kalau di rumah ibu?"
"Ya nanti kan ada Mamah, Makanya di rumah ibu kamu dia harus belajar jadi menantu yang baik pokoknya."
"Ia terserah Mamah aja, yang penting Fina gak bikin ibuku pusing nanti Mah, Aku mandi dulu." Ucapku yang langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang asem ini.
Setelah selesai bersiap-siap untuk bekerja aku pun langsung menuju meja makan yang terletak di dapur, seperti biasanya aku hanya makan sendirian saat sarapan karena sampai jam 7 pun Fina belum bangun dan Mamah Mayang sedang membersihkan ruangan tamu dan halaman. Kasian sekali mertuaku itu membersihkan rumah ini sendirian tanpa di bantu oleh Fina. Sepertinya keputusan ku untuk pindah harus segera di laksanakan biar Fina bisa di didik keras oleh ibuku yang sedikit keras dan diktator.
Saat sudah sampai di kantor jam setengah delapan, pagi aku pun langsung naik ke lantai 3 dimana ruanganku berada bersama staf yang lainnya. Aku pun bersiap-siap menyalakan komputer dan melakukan pekerjaan ku seperti biasanya. Tak terasa waktu sudah sampai di jam makan siang, aku ingin bertemu dengan Nissa hari ini dan aku akan menunggu dia di lobby, karena setelah di perhatikan Nissa selalu keluar bersama teman-temannya dan makan di kantin atau di restoran. Setelah menunggu sekitar 10 menit lebih karena ruangan Nissa ada dilantai atas. Tanpa sengaja aku melihat teman-teman Nissa sedang menggotong seorang wanita. Apa itu Nissa? Aku pun langsung menyusul mereka tapi langkahku kalah cepat dengan mobil yang mereka gunakan.
Sampai jam istirahat selesai pun aku masih menunggu di luar Lobby, Setelah makan- makanan yang di kantin dengan buru-buru. Tapi aku tak melihat Nissa dan teman- temannya masuk kembali ke kantor. Dengan langkah lesu aku pun naik ke atas ke tempat kerjaku kembali. Saat jam kerja sudah selesai aku pun turun, dan saat aku sudah di bawah kebetulan sekali aku melihat temannya Nissa yang tadi menggotong seorang wanita, langsung saja aku menyusul dengan langkah cepat untuk menghampiri nya.
"Mbak tunggu mba...." Ucapku saat sudah sampai di depan wanita yang tadi yang aku tidak tahu siapa namanya. Dan aku bisa melihat arah matanya yang nampak kaget saat melihatku.
"Maaf mba saya sering melihat mba dengan mantan istri saya, mba kenal Nissa kan mba?" ucapku lagi sekaligus bertanya langsung.
"Ia saya temannya kenapa emangnya?" ucapnya dengan nada yang ketus.
"Ia maaf mba, saya mau tanya tadi yang mba gotong itu Nissa mba? Kalau boleh tau kenapa ya mba? Terus Nissa nya di mana?"
"Urusannya sama situ apa? Kan situ cuma mantan suaminya, gak usah deh ngurusin Nissa lagi, Ganggu Nissa lagi!" cecar wanita ini semakin tambah ketus, membuat aku semakin kesal, sabar Herman.. sabar....
"Maaf mba saya kan bertanya baik-baik mba, Saya hanya khawatir keadaan Nissa mba, Apa benar tadi yang di gotong itu Nissa mba?" ucapku dengan nada sepelan mungkin menahan rasa ingin marah dalam hati pada wanita jelek ini.
__ADS_1
"Ia Nissa pingsan dan tadi di gotong sama saya dan teman yang lainnya, sudah kan. Pertanyaan kamu sudah saya jawab permisi," ucap wanita itu dan langsung saja pergi dari hadapanku. Seketika aku mengepalkan tanganku. Awas aja kalau aku udah balikan sama Nissa gak bakalan aku biarin Nissa berteman dengan mu lagi mbak! Udah jelek sombong pula, batinku.
Aku pun langsung menuju parkiran motor di belakang gedung di mana motorku terpakir dengan aman. Seketika aku rindu dengan mobil yang di belikan Nissa dulu. Bagaimana Kabar mobil kesayangan ku itu? Motor pun ku lajukan ke rumah ibuku yang menempuh waktu lumayan cepat karena jarak ya yang memang dekat dari kantor ku ini.
Saat tiba di depan rumah ibu. Aku pun langsung membuka pagar dan memasukan kembali motor ku kedalam garasi, setelah itu aku langsung masuk kerumah ibu. Tumben sekali rumah ibu sangat sepi pada kemana orang rumah.
"Bu...... Dimana?" Kemana ya ibu apa di kebun belakang? Aku pun menuju ke kebun belakang melewati pintu belakang juga, dan benar saja ibu sedang berkebun di kebun belakang.
"Ibuku ini memang rajin sekali, sampe sore kaya gini pun masih saja nanem" ucapku sambil menghampiri ibu.
"Kamu tumben kesini man ada apa?" tanya ibuku to the poin sekali.
"Ia ada yang ingin Herman bicarakan Bu,"
"Ya sudah kamu tunggu di gazebo gih, ibu mau cuci tangan dulu," ucap ibuku yang langsung melepaskan sarung tangan karet dan celemek seperti orang sedang masak saja, padahal sedang menanam cabe.
Aku pun langsung menuju gazebo yang ada di kebun ibu ini. Disini sangat nyaman. pikirku.
"Ada apa man? ada masalah? Kamu butuh uang apa gimana nih?" kata ibu saat sudah sampai di gazebo dan langsung duduk di depanku di ikuti dengan bi Minah Yang membawakan makanan dan minuman untuk kami berdua. Aku pun segera meminum minuman itu karena sangat haus sekali.
"Bu aku ingin pindah ke rumah ini boleh Bu? Tapi Fina dan Mamah Mayang juga ikut. Apa ibu membolehkan Bu, Untuk menekan pengeluaran sih sebenarnya." Ucapku langsung dan harap-harap cemas.
"Kalian bertiga mau tinggal disini?"
"Ia Bu, Aku sama Fina, walau bagaimanapun sekarang kan Fina adalah istriku Bu dan Bu Mayang sudah gak punya rumah semenjak di usir sama Mamah Arum."
"Kalau kamu aja sendiri sih gak apa apa man, tapi buat Fina sama ibunya, Gimana ya man."
"Aku mohon Bu! Pemasukan ku sekarang sedikit sekali Bu sangat berbeda waktu sama Nissa Bu. Gajiku gede dan Nissa juga bekerja, terus rumah udah ada gak pake kontrak, jadi aku gak begitu pusing mikirin keuangan bu."
"Lah salah kamu sendiri man ibu pilihin istri yang spek bidadari, mandiri bagus bebet bobot dan bibitnya kamu malah nyari sampah dan mungut sampah yang tidak berharga. "
"Ia Bu aku juga nyesel sama kehidupan ku yang sulit sekarang ini. Tapi apa mau di kata nasi sudah menjadi bubur Bu, gak bisa di makan lagi. Dan pengeluaran ku jadi membengkak Bu apalagi pemasukan dikit sekali ditambah Fina gak kerja juga, Boleh ya Bu."
__ADS_1
"Ya sudah ibu faham kok, Tinggalah di rumah ini man Kamu itu juga anak ibu walaupun kamu udah bikin kesalahan. Tapi ibu gak bisa mengabaikan kamu jika kamu dalam kesusahan.... Tapi jika Fina dan Mamahnya harus tinggal disini mereka berdua harus ikut aturan ibu kalau enggak mereka silahkan angkat kaki dari rumah ini. Kamu paham kan man."
" Ia Bu Herman paham.... Makasih ya Bu.... Besok Herman dan keluarga aman pindah ke rumah ini Bu.