
Julietta terdiam heran beberapa saat, tiba tiba Julietta bertanya.
"Apakah kamu benar benar tidak suka anak kecil, hanya karena aku mau, jadi kamu terpaksa setuju."
David menatapnya dan bicara "Jangan pikir macam macam."
Julietta baru mau lanjut bcara, tapi bayi dalam perutnya tiba tiba terasa bergerak. Badan dia menjadi kaku dan langsung berteriak.
"Dia bergerak gerak, cepat dengar."
David yang tadinya terlihat tidak senang langsung menempelkan pipi dan telinganya ke perut Julietta, dan ini membuat Julietta tambah terkejut. Tapi saat dia menempelkan telinganya, suara dan gerakan dari bayinya itu lamgsung menghilang. David terdiam mencoba mendengar selama lima menit lebih, tetap tidak ada pergerakan lagi.
Suasana mulai menjadi canggung. Julietta juga mulai curiga apakah bayi di perutnya ini sudah mulai bisa berpikir dan mengerti perkataan David, jadi dia tidak bersedia berinteraksi dengannya. Mereka terdiam lumayan lama.
David duduk dengan tegak dan memindahkan kaki Julietta ke atas meja., lalu melangkah pergi meninggalkannya.
Julietta terkejut "Kamu mau ngapain."
David menjawab "Menghubungi calon keluarganya terlebih dahulu."
Julietta menghalanginya, walaupun dia peasaran keluarga yang dipilih oleh David itu sebenarnya siapa, tapi lebih baik jangan ditanyakan. Akibat langsung dari David yang tidak bisa merasakan lagi gerakan bayinya adalah, dia mengambil kardus di atas lemari dan memasukan dua lapis koran.
Memang benar, sebagai ayah kandung, David yang tidak memperhatikan detil itu tidak hanya tidak meletakkan handuk, tapi dia melipat koran dari kantor dengan asal lalu dimasukkan kedalam kardus.
"Nanti kalau bayinya bergerak lagi, aku akan langsung panggil kamu, kamu tidak perlu seperti ini."
"Boleh, tapi ini tetap perlu."
Julietta bengong, baiklah dia juga tidak bisa menasihati David lagi. Julietta menyentuh perutnya yang membesar dan bertanya.
"Kalau bayinya seorang gadis yang imut, apakah kamu tega kasih ke orang lain."
David berhenti bergerak dan berpikir sebentar lalu menjawabnya. "Kalau seorang gadis, maka perlu dilapisi satu lapis koran lagi disini."
"Kalau anak laki laki maka dua lapis koran saja sudah cukup."
Ayah dari anak orang lain sudah mulai memikirkan nama anaknya dan membelikan baju untuk anaknya, tapi David tidak masuk akal, setiap hari hanya memikirkan mau memberikan bayinya kepada orang lain. Setelah melapisi dengan koran, David meletakan kembali kardus itu kedalam lemari lagi, setelah Julietta melihat semua pergerakan David, tiba tiba dia merasa kalau kardus itu mungkin kekecilan. Mungkin saja nanti dia akan memasukan David dan bayinya ke dalam kardus dan dikirim ke tempat yang jauh.
Setelah selesai, David dengan santainya duduk di sofa dan merangkul pinggang Julietta, seperti Julietta dan bayi dalam perutnya itu terpisah, dan tidak menghalangi dia menyukai yang satu saja dan tidak menyukai yang lainnya.
Keesokan harinya di kelas. Julietta masuk ke dalam kelas, dan dengan jelas dia bisa merasakan perubahan perilaku semua peserta disitu terhadapnya. Ada orang yang kelihatan tetap ramah, ada orang yang semakin hangat, tapi juga ada orang yang terlihat sangat kesal.
Pada waktu istirahat, terdengar wanita di baris paling depan bicara agak keras dengan kesal.
"Aku seumur hidup ini paling benci dengan selingkuhan, wanita simpanan, wanita seperti ini tidak ada masa depan dan juga tidak tahu malu."
"Iya sama."
"Hei jangan bicara seperti itu, urussan suami istri hanya mereka yang tahu, aku juga punya teman yang selingkuh ya selingkuh saja, zaman sekarang ini sudah sangat terbuka, sudah rahasia umum."
Ibu hamil yang duduk di sebelah Julietta bicara sambil melirik Julietta dengan ekspresi sedikit kasihan. Julietta sedang tidak fokus karena sedang sibuk memikirkan anaknya dia nanti laki laki atau perempuan, mau buat nama seperti apa agar berarti. Mengingat mau membuat nama, seluruh pikirannya adalah bebi. Julietta langsung menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.
Tidak boleh dipanggil bebi, pokoknya tidak boleh. Dia sama sekali tidak memperhatikan beberapa wanita yang sedang membicarakannya, menduganya macam macam.
__ADS_1
Untungnya walaupun beberapa wanita itu tidak baik, tapi juga cukup memiliki kesopanan, urusan pribadi seperti ini mereka tidak bsia membicarakannya di dalam kelas, ada orang yang mengalihkan topik pembicaraan dan tidak ada lagi yang membahasnya.
Setelah kelas hari ini selesai, pelatih berdiri di depan para ibu hamil dan bicara.
"Merawat anak itu bukan hanya urusan satu orang saja, di tingkat berikutnya aku berharap suami kalian semua juga bisa hadir disini, suami kalian juga harus belajar sedikit."
Setelah dia bicara ada orang yang langsung bertanya.
"Anak kita nantianya akan ada suster yang bantu rawat, aku tidak perlu repot, apalagi suami aku sangat sibuk."
Pelatih ini adalah wanita paruh baya yang sangat merawat tubuhnya, mendengar itu dia tersenyum dan menjawabnya "Satu bagian untuk menumbuhkan hubungan suami istri, di satu bagian lagi kalian semua tidak perlu berkumpul untuk bisa saling mengenal. Hanya kelas khusus pasangan selama satu jam saja, yang suaminya ada waktu dimohon bisa datang hari minggu ini, yang tidak ada waktu tidak apa jangan dipaksa."
Julietta sedikit kebingungan. Dia berpikir David sangat perlu datang ke kelas itu, tapi David juga tidak bisa muncul disini. Di malam hari pelatih mendata berapa orang yang bisa datang, berdasarkan catatannya yang dulu dulu, setidaknya ada setengah yang bisa datang.
Julietta akhirnya memutuskan sendiri, lebih baik setelah dia sudah bisa, dia baru akan mengajari sendiri David dirumahnya.
Kelas berikutnya ada dihari minggu, Julietta santai di ranjang sampai siang hari, David juga ikut santai di sebelahnya sampai siang hari, terkadang dia mengelus perut Julietta. Tidak tahu kenapa, pergerakan yang seharusnya menghangatkan ini malah membuat Julietta memikirkan David akan memberikan anaknya ke orang lain. Julietta pun gemetaran.
David "Kamu kedinginan?"
Julietta menarik dan masuk ke dalam selimutnya "Tidak juga."
David "Kami harus minum air hangat yang banyak."
Julietta "Aku ini lebih kuat dari siapapun."
Biasanya setiap akhir minggu supir tidak masuk kerja, Julietta melupakan akan hal ini, dia menghubungi dan bertanya ke supirnya apakah ada waktu atau tidak, tapi supirnya itu dengan tidak enak blan kalau anaknya sedang merayakan ulang tahun, dia bisa datang tapi mungkin akan telalt sedikit.
Julietta tidak mau mengganggu waktu bahagia satu keluarga mereka, setelah menolak secara halus, Julietta mentransfer uang yang banyak agar dia bisa membelikan kado untuk anaknya. Jaraknya juga tidak jauh jadi dia memutuskan untuk naik taksi saja kesana,
David mendengarkan percakapan mereka lalu bicara " Aku bisa antar kamu kesana."
"Aku takut kamu lari kabur,"
Julietta "Aku memang mau lari kabur nanti, tapi dengan perut sebesar ini aku bisa lari kabur kemana, mungkin baru jalan beberapa langkah langsung kelelahan."
Akhirnya Julietta tetap naik ke mobil Buggati Noire hitamnya David. Harga dua mobil mereka ini paling mahal sedunia, kalau dilihat orang lain, tidak tahu mereka akan berpikir seperti apa nanti.
Sesampainya di pintu utama, Julietta meminta David berhenti, lalu dirinya turun dari mobil dan langsung minta David supaya cepat cepat pergi. David menatapnya agak lama dan malah menjadi curiga apakah Julietta benar benar memiliki pria lain diluar sana, kalau tidak ada berarti hubungan mereka sudah mulai berkurang. David melepaskan sabuk pengamannya dan ikut turun dari mobil,
Julietta "Kamu mau ngapain."
David "Lihat lihat saja boleh."
Saat sedang bicara, kebetulan ada sepasang suami istri yang lewat dengan ekspresi dingin, dari jauh terlihat seperti pasangan yang mau bercerai. Julietta langsung mau masuk lagi kedalam mobil, tapi bajunya sudah ditarik oleh David, pergerakan mereka berdua ini menarik perhatian dari peserta yang mulai datang juga.
Salah satunya adalah wanita yang menyindir Julietta kemarin. Dia pertama melihat David dan langsung terpana, seketika dia melamun beberapa detik, muka suaminya di sebelahnya semakin pucat, seperti singkong yang sudah diletakkan beberapa hari dijemur dan membuat Julietta tidak nyaman melihatnya.
Kalau David setiap hari melihatnya dengan ekspresi seperti itu, Julietta pasti akan memperlihatkan apa itu emosi yang meledak dari ibu hamil.
"Kalian." Pandangan wanita itu akhirnya beralih dari David, tapi dia melihat Julietta yang mencoba untuk menghindarinya.
Julietta menyapanya dengan canggung dan tersenyum.
"Astaga, dia ini suami kamu." "Dia itu artis atau model."
__ADS_1
Ekspresi dia terlihat tidak percaya.
"Semuanya bukan." Julietta batuk dan mendorong dorong David supaya melangkah.
"Kamu cepat pergi sana, setelah selesai aku akan telepon kamu nanti."
"Mau pergi kemana, bukannya hari ini kelas pasangan untuk belajar bersama."
Melihat Julietta yang mau pergi, wanita itu menjadi berpikir macam macam. Suaminya ini berhubungan dengan seorang mahasiswi muda yang sangat cantik disaat dia sedang hamil ini, dia hanya bisa marah tapi tidak berani bicara apa apa menegurnya, dan amarah di perutnya ini tidak bisa dilampiaskan, kebetulan ada Julietta yang didepannya ini.
Melihat David yang di sebelahnya itu muda dan ganteng dengan mobil sangat mewah itu terlihat tidak marah sama sekali terhadap perilaku Julietta dan Julietta masih terlihat tidak mau bertemu dengan orang lain, pasti Julietta bukan selingkuhannya, mana ada selingkuhan yang berperilaku seperti itu.
Tapi melihat mereka berdua tetap bersebelahan tanpa ada rasa benci, prianya juga merangkul pinggangnya dan dengan gayanya yang sangat dekat itu pasti tidak mungkin ada hubungan aneh yang lain. Jadi. Kemungkinannya Julietta sendiri yang memiliki pria lain entah diluar sana.
Pandangan ibu hamil itu yang menatap Julietta seperti sudah mendapatkan rahasia yang tidak bisa dikatakan dan membuat Julietta kebingungan. Tapi David yang berdiri di sebelahnya bertanya.
"Pelajaran pasangan suami istri apa, kenapa kamu tidak bilang sama aku."
Julietta kali ini benar benar tidak bisa menjelaskan apa apa. Dia terdiam beberapa saat lalu menjawabnya.
"Bukan hal yang sangat penting, kamu datang atau tidak juga tidak pengaruh apa apa."
Ibu hamil yang berdiri di seberangnya tertawa "Pelatih bilang, bisa memperdalam hubungan baik suami istri, dan juga memperbesar sosialisasi."
David tidak tertarik dengan sosialisi, tapi dia sangat tertarik untuk memperdalam hubungan suami istri.
David bicara. "Aku mau ikut sekarang."
Julietta "Kalau tidak kamu di bawah tunggu aku saja."
Mata David yang hitam itu menatap tajam ke Julietta membuat dia mengerti itu adalah hal yang tidak mungkin. Julietta menghela nafasnya dan berkata "baiklah."
Semua peserta hari ini datangnya lebih awal dan sudah ada orang yang membanding bandingkan dirinya. Jelas jelas hanya pelajaran suami istri yang santai, tapi ada pasangan yang mengenakan baju yang sangat mewah, ada juga yang mengenakan jas, menata rambutnya.
Hanya Julietta dan David yang mengenakan kaos dan celana jeans panjang, yang satu sangat cuek, yang satu ragu ragu dan hanya mau mengajak David di tempat yang tidak begitu terlihat. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, pandangan dari peserta lain dan pasangannya tertuju kepada mereka dan seketika tidak ada suara. Kalau penampilan Julietta yang sedang hamil saja cukup menarik perhatian, tapi David yang sekarang ada di sebelahnya adalah alat pembunuh yang hebat, membuat semua wanita langsung melamun menatapnya dan lupa dengan etika sosial. Jika dibandingkan, membuat para suami mereka jadi tidak senang.
David sedikit mengerutkan alisnya. "Pesertanya banyak sekali."
Dia tidak suka dengan tempat yang penuh dengan banyak orang yang tidak dikenalnya lalu dia bertanya ke Julietta.
"Kenapa tidak hanya dengan gurunya saja langsung privat."
"Boros sekali, sesekali bertemu dengan orang lain juga tidak apa." Sambil bicara itu mata Julietta bersinar menatapnya.
"Kalau begitu kamu sekarang pulang saja, masih sempat kok."
David menghalangi Julietta di belakang badannya dan menghalangi berbagai pandangan orang lain. "Tidak mau."
Ketika orang lain sedang saling membanding bandingkan dirinya, tapi mereka berdua sama sekali tidak mau bicara, ditambah lagi dengan satu pasangan suami istri yang membicarakan mereka, sekarang mereka semua menduga kalau David adalah selingkuhannya Julietta.
Julietta masih tidak mengetahui dugaan dan pikiran aneh aneh dari mereka ini, tapi ada beberapa ibu hamil yang tidak membawa suaminya mendekati Julietta dan bertanya padanya. "Masih ada stok lain tidak, apakah sangat mahal. "
Julietta kebingungan dan terdiam beberapa saat "Maksudnya stok apa."
Kenapa dia merasa mulai tidak mengerti dengan pembicaraan mereka itu apa sebenarnya. Menghadapinperilaku tidak sopan dari pria selingkuhan yang dibawanya ini, ada orang yang tidak bicara, ada orang yang tidak mengerti dan tidak bisa bicara dan tanpa sadar mereka berdua mulai dihindari oleh mereka semua, tapi itu malah membuat Jukietta nyaman dengan dijauhi mereka semua. David terkadang memainkan rambut Julietta, mengelus perutnya dan sama sekali tidak perduli dengan pandangan orang lain, sesekali ada orang yang memggodanya, dia juga hanya meliriknya sekilas dan pura pura tidak bisa mendengar dan tidak bisa bicara. Mereka berdua benar benar sudah dilupakan di sudut ruangan dan terpisahkan dengan peserta lainnya.
__ADS_1
Julietta berpikir, mungkin sebaiknya setelah kelas hari ini selesai, dia sudah bisa ganti kelas lain. Tepat di saat ini, Julietta mendengar satu kata penting yang tidak asing.
Dia fokus mencoba mendengar pembicaraan beberapa wanita itu, dan mereka dengan iri bilang kalau ada satu peserta wanita yang suaminya adalah petinggi dari Aquarius, sebentar lagi akan datang masuk.