
David menundukan pinggangnya, Julietta seketika langsung bisa melihat pemandangan yang indah, dan juga bekas stroberi dan cakaran kecil di bahunya.
Kulit David berwarna putih susu dan bekas merah itu akan semakin terlihat jelas, masih bisa terlihat seberapa intens malam menggairahkan itu. Muka Julietta seketika langsung merah.
David bertanya. "Malu apa."
Julietta terbatuk batuk. Benar juga bekas stroberi itu dia juga yang buat, bekas cakaran itu juga dia yang buat, buat apa malu. Walaupun seperti itu. Julietta tetap tidak tahan melihatnya.
"Cepat pakai baju, supaya kamu tidak flu."
David mengangguk dan setelah satu ciuman kilat, David kembali menjadi normal. Dia masuk ke kamarnya dan memakai baju.
Julieta sudah selesai membuat air jahe dan diletakan ke dalam cangkir, lalu dia membawa cangkir itu ke meja dengan tidak fokus.
Cangkir keramik itu mengalirkan hawa panas dan membuat jari Julietta seketika menjadi panas dan gemetar, hampir saja cangkir itu terjatuh semuanya ke lantai.
Julietta berteriak ah dan tanganya jadi tidak stabil dan melihat airnya mau tumpah mengenai tangannya dan pasti akan sangat panas. Respon David yang sudah ada di belakangnya itu lebih cepat dan langsung mengambil cangkir itu. Air yang masih mengeluarkan asap panas itu tumpah sedikit dan mengenai tangan David, di tengah jeritan Jukietta, David mengambil cangkir itu dan kulit tangannya sekeltika langsung memerah, tapi David tetap sangat tenang.
"Astaga kenapa kamu ambilnya pakai tangan, cepat letakkan"
Julietta langsung menarik dia ke wastafel dan mengaliri tangan David dengan air beberapa kali. Di kotak obat tidak ditemukan salep untuk luka bakar, Julietta mengingat ada toko obat di sekitar kompleks ini, saat ini seharusnya masih belum tutup.
Julietta meminta David untuk tetap mengaliri tangannya dengan air kran setidaknya sepuluh menit lagi dan dirinya mau pergi ke toko obat tapi David menghalanginya,
"Tidak perlu" ucapnya lembut.
"Sekarang kamu masih tidak berasa sakit perih tapi nanti pasti akan sangat perih." Julietta marah tapi kasihan, pandangannya selalu ke tangan David yang memerah.
"Toko obat sangat dekat, terakhir bukannya kamu pernah beli obat juga, beberapa menit saja sudah pulang lagi."
"Kalau begitu aku ikut kamu."
David mematikan kran air dan mengelap tangannya lalu kembali ke kamarnya mengambil jaket.
"Tidak perlu, hal sekecil ini tidak perlu dua orang, kamu dengarkan aku, aliri terus dengan air keran."
Julietta berpikir kalau tangan David sangat berharga, menjual lusinan Julietta juga belum tentu seberharga itu.
"Tidak boleh." David berdiri tegak dan melihat ke arah Julietta. "Aku akan temani kamu."
Kata temani yang diucapkannya dengan sedikit keras seperti sedang menitikberatkan sesuatu. Julietta sedikit terkejut dan tiba tiba mengerti, rasa ketidak tenangan David saat ini mungkin tidak bisa dibayangkan oleh Julietta.
Dipikir pikir benar juga, perasaan David itu sedikit sensitif, setiap Julietta merasa ada yang tidak beres, maka dia pasti akan yang pertama menyadarinya lalu mengingatkannya, dan sekarang merasakan kekhawatiran Julietta seharian ini, mungkin dia lebih khawatir daripada dirinya. Julietta tersenyum dan mencoba menghangatkan suasana.
"Jangan berpikir terlalu banyak, jangan khawatir, aku juga bukan tidak akan pulang lagi, baiklah kalau kamu mau ikut, ayo kita pergi bersama saja."
Angin dingin berhembus dan hujan gerimis masih turun malam itu, Julietta mengenakan jaket, tapi dia melihat salah satu tangan David yang sudah sangat merah. Dia mendekatinya dan berkata.
"Aku bantu kamu pakaikan."
Julietta memegang jaketnya dan menarik retsletingnya ke atas, tapi tidak sengaja tersangkut di tengah tengah dan tidak bisa ditarik ke atas lagi. Julietta menariknya paksa sekuat tenaga, retsleting langsung naik dengan cepat, David sedang menundukan kepala memandanginya, retsleting yang naik keatas dan kebetulan langsung mengenai dagunya.
Julietta "Maaf."
__ADS_1
Retsleting kembali diturunkan ke bagian dadanya, taoi dagu David meninggalkan bekas merah. David hari ini sangat tragis. Julietta tidak bisa menahan tawanya saat melihatnya. Kali ini bukan tertawa kaku seperti tadi, tapi tertawa yang benar benar bahagia.
"Kamu sepertinya direktur yang paling menyedihkan."
Yang tadinya suasana sedikit aneh, karena ini semuanya kembali menjadi santai. Kelembaban udara karena bekas hujan dinmalam hari membuat cuaca sangat dingin, saat jalan pulang gerimis kecil pun turun lagi perlahan.
Luka ditangan David tidak serius, walaupun tidak pakai salep juga akan sembuh dalam beberapa hari. Beberapa karyawan di toko obat sangat iri dan bilan dua orang ini benar benar saling mencintai, Julietta awalnya hatinya sangat panik tapi mendengar mereka bicara seperti itu, ekspresinya menjadi malu malu.
Julietta memasukkan salep itu kedalam kantong jaketnya dan pulang bersama David. Jalanan basah dan kalau tidak sengaja akan menginjak genangan air. Julietta jalan dengan hati nati, dia menjijitkan ujung kakinya dan memegang lengan baju David dengan erat.
"Yang tidak enak dari hujan adalah mudah tersenyum."
David menjawab ya dengan pelan.
"Kamu beberapa hari ini lebih baik jangan sering sering menggunakan tangan kamu, walaupun lukanya tidak serius tapi tetap harus diobati diirawat dengan baik."
"Ya."
"Masih sakit tidak."
"Kalau aku bilang sakit, kamu akan peluk aku tidak." Tanyanya serius.
Percakapan mereka berdua terputus, Julietta diam beberapa detik lalu tertawa. "Kamu sebesar dan setinggi ini masih berani bermanja ya."
Sambil bicara, Julietta tiba tiba memutar badannya dan meneluk David sambil mengelus badannya. David seperti kucing manis yang penurut dan membiarkan Julietta mengelus elus rambutnya sampai berantakan.
"Masih sakit tidak."
"Kalau aku bilang sakit, kamu akan cium aku tidak."
Mereka berdu berjalan ke arah rumahnya dengan pelan, ada David di sebelahnya yang selalu menggandeng tangannya. Julietta menjadi tenang, dia berpikir walaupun ada berapa banyak masalah, pasti David akan menyelesaikannya. David memang terlihat tidak bisa diandalkan tapi sebenarnya sangat sangat bisa diandalkan.
Mereka berdua melangkah naik tangga, David jalan di depan sambil memasukkan satu tangannya dalam kantong dan satu tangannya lagi memanggil Julietta dengan jari telunjuknya.
Julietta mengikutinya dari belakang dan tiba tiba mengingat sesuatu lalu bertanya. " Kamu tahu tidak mitos dari Yunani kuno, Orpheus."
"Tahu, bakat musiknya sangat hebat."
"Masih ingat tentang cerita cinta istrinya tidak, dia mau membawa istrinya yang sudah digigit ular berbisa dari dunia bawah, setelah mendapatkan izin dia menggandeng tangannya dan berjalan ke dunia manusia, tapi dia diberitahu tidak boleh melihat ke belakang sebelum melihat matahari di dunia manusia, kalau tidak istrinya selamanya akan tetap berada di dalam dunia bawah."
David bertanya "Sekarang sempat menceritakan cerita yang menakutkan seperti ini."
"Eh." Dipikir pikir benar juga.
Entah kenapa dia tiba tiba mengingat cerita tentang Orpheus dan hampir saja lupa dengan mimpi buruknya. Setelah diperingatkan oleh David, jika dihubungkan menjadi David dan dia saat ini, memang sangat menakutkan.
Julietta bicara "Maaf aku bicara sembarangan."
David menggenggam jari Julietta dengan erat. "Jadi jangan menghilang sembarangan."
Tidak perduli Julietta pergi kemana, tempat itu harus bisa ditemukan olehnya.
"Aku."
__ADS_1
Plak. Satu koridor menjadi sangat gelap, Julietta terkejut dan badannya gemetar. Selanjutnya dia sadar kalau listrik di rumah tua ini pasti bermasalah lagi. David tiba tiba mengeratkan genggaman tangannya yang menggandeng tangan Julietta, Julietta langsung menenangkan David.
"Jangan takut, aku tadi hanya bicara sembarangan, aku sekarang masih ada disini."
Bicara apa, terjadi apa, pikiran Julietta tadi sedikit tegang sedikit panik dan hampir saja mengeluarkan kata kasar, untung saja ditelan lagi olehnya. Apakah harus mati lampunya seperti ini. Jangankan David, dia juga sangat terkejut dan takut.
"Duh kagetnya terakhir kali mati baru berapa waktu yang lalu, kenapa sekarang bermasalah lagi."
David bertanya "Kamu tidak apa apa."
"Tidak apa, aku cari ponsel aku dulu."
David tidak bawa HP keluar tadi, untung saja Julietta bawa, dia mencari cari dikantongnya tapi tidak sengaja salep yang tadi dibelinya terjatuh ke lantai, Julietta langsung melepaskan genggaman tangan David lalu mengulurkan tangan dan mengambilnya dilantai. Disaat itu. Tiba tiba lampu menyala, koridor kembali terang dan tidak lagi gelap.
Dibelakangnya sudah tidak ada suara lagi, wajah David berubah tegang dan langsung melihat ke belakangnya, tapi badan dia seketika langsung menjadi kaku. Koridor sangat sepi dan bersih, obat salep itu masih menggelinding di tangga dan terakhir berbaring di lantai sendirian. Hanya saja Julietta menghilang.
##
Julietta yang tetap dengan posisinya yang sedang mengambil salep di lantai lalu tiba tiba dia sangat bingung. Tiba tiba ada cahaya yang sangat terang, kalau itu adalah lampu listrik yang kembali menyala di koridor bisa dijelaskan, tapi sekarng kenapa ada matahari yang sangat terik di atas kepalanya. Dia langsung membuka matanya besar besar dan menegakkan badannya.
Disekelilingnya ada banyak sekali pejalan kaki yang berlalu lalang, sesekali ada orang yang menatap Julietta dengan pandangan aneh. Sekarang adalah siang bolong di musim panas dimana matahari sangat terik dan udaranya seperti membakar setiap sel di dalam tubuh, hanya dalam waktu yang sebentar, seluruh badannya juga ikut terasa menjadi terbakar.
Julietta mengenakan baju training panjang tertutup rapat, terlihat sangat berbeda dengan orang orang yang mengenakan celana pendek, kaus oblong, dan memperlihatkan kakinya di sekitarnya.
Julietta kepanasan sampai berkeringat, lalu dia jalan ke bawah pohon besar untuk menyejukkan tubuhnya. Disebelahnya ada banyak orang yang berdiri juga di depan stasiun bis, ada beberapa remaja yang berseragam sekolah melihat Julietta dan tidak bisa mengalihkan pandangannya karena terpana, muka mereka semua memerah dan mulai bicara berbisik sambil menunjuk Julietta.
Julietta yang sekarang masih sedikit kebingungan. Papan kaca iklan memantulkan badannya, wajahnya masih sama dengan Jukietta yang sangat cantik, bajunya juga masih sama ketika berpisah dengan David di tangga, kenapa hanya dalam seketika dia bisa pindah sampai ke dunia asalnya. David sekarang ada dimana.
Satu bis berjalan ke arah stasiun bis lalu berhenti, pemandangan yang tidak asing ini membuat ingatan Julietta perlahan kembali. Pikirannya kosong sesaat dan melihat bis itu berjalan pergi sambil tercengang. Bis itu adalah bis yang sering dia naiki ketika mau ke mal untuk belanja dan nonton film. Tapi itu bukannya ingatan dia di kehidupan sebelumnya. Jadi. Dia sudah kembali pulang ke dunia sebelumnya.
Julietta tidak percaya, kalau dia kembali ke dunia aslinya, apakah tubuh dia masih ada, atau juga sudah digunakan oelh orang lain. Dia berjalan ke gedung tempat tinggalnya selama bertahun tahun dengan agak sempoyongan. Muka dia pucat dan langkahnya tidak stabil, orang yang melewatinya semuanya merasa melihat wanita yang cantik tapi kebingungan ini dengan pandangan yang heran, ada orang yang baik menanyakan apakah Julietta perlu bantuan, tapi semuanya ditolak oleh Julietta.
Disaat ini pikiran dia sangat berantakan, dia hanya mau tahu semuanya ini sebenarnya kenapa, apa yang terjadi. Apakah mimpi, atau terjadi perubahan yang tidak bisa di kontrol. Tidak perduli kemungkinan yang mana, semuanya membuat pikiran dan hatinya menjadi tertekan,
Dia berjalan ke apartemen tempat tinggalnya dulu, perlu kata sandi di lantai satu untuk bisa masuk. Dia memasukkan tanggal lahirnya dengan sangat yakin, tapi tertulis kata sandi salah, dia mencobanya lagi dan lagi tapi tetap salah. Suara sinyal notifikasi alarm itu seperti sedang menertawakan Julietta.
Dia berdiri ditempatnya dan melihat gedung apartemen yang asing tapi tidak asing di depannya. Saat masuk ke dunia lainnya, dia sangat rindu dengan apartemennya sendiri ini, sekarang berdiri disni, terasa seperti orang dari luar kota datang ke kota yang asing dan tidak ada orang yang dikenalnya. Apakah ini masih bisa disebut tempat tinggalnya.
Mengingat David ditinggal sendirian didunia sana, saat dia melihat Julietta yang tiba tiba menghilang di koridor tangga, pasti sangat ketakutan dan putus asa, jantung Julietta pun menjadi sakit sampai sulit bernafas.
Dia menarik kerah bajunya dan berjongkok di lantai agar dirinya bisa mengambil nafas dalam dalam. Saluran nafasnya menyempit sampai membuat dia sulit bernafas, kepala dia menjadi pusing dan terasa seperti kepalanya dipukul dengan keras.
Saat dia tersadar kembali, dia kembali terpukul oleh rasa sakit yang tiba tiba dan hanya ingin terjatuh di lantai. Air matanya mengalir dari pipinya ke lantai lalu menghilang.
"Apakah kamu tidak apa apa."
Dibelakangnya ada satu suara pria muda yang lembut, sangat mirip dengan suara Erick. Julietta langsung mengangkat kepalanya, tapi dia hanya melihat wajah pria muda yang asing. Pria ini terlihat berusia 20an, saat tersenyum juga ada lesung pipi. Saat dia menatap Julietta, dia pertama kali terkejut melihat wanita cantik dengan air mata yang memenuhi pipinya, lalu dia langsung mengeluarkan tisu dari kantongnya dan diberikan ke Julietta.
"Jangan menangis ada masalah apa."
Julietta mengambil tisunya dan mengelap air matanya, lalu diam sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak tidak apa, terima kasih."
"Kamu benar benar tidak perlu bantuan, maaf, aku hanya melihat kamu sangat sedih sekali." Pria itu berbicara sambil bersender ke tembok,
__ADS_1
meletakkan kedua tangannya di lututnya dan melihat Julietta yang berjongkok di lantai menundukan kepala, tidak tahu harus bagaimana agar dia tidak lagi sedih.