
Apakah kamu baik baik saja, apakah sakit, tidak terluka hingga dalam kan, apakah lengan masih bisa digunakan" Julietta bertanya dengan nada khawatir.
Jika lengan David bermasalah maka akan mempengaruhi seumur hidupnya, bagaimana ia bisa mengganti ini semua. Luka David terlihat mengerikan , sebenarnya lukanya sangat dangkal, akan sembuh dalam beberapa hari, saat ini tidak sakit sama sekali. Tetapi ia melihat Julietta yang menghampirinya dengan berlari kecil, wajahnya penuh dengan kekhawatiran dan panik, ekspresi yang tenang sekejap berubah menjadi alis mata mengerut.
David "Aduh sakit"
Julietta "Cepat duduk istirahat, mau minum air, aku ambilkan untukmu"
David "Baik"
Tomy yang disampingnya melamun melihatnya dan berkata "bos tidak tahu malu"
David meminum air hangat, julietta sibuk sana sini untuk merawatnya, lalu menyuruhnya untuk tidur diranjang. Tomy melihatnya dengan cemberut, sampai ada tatapan tajam dari bosnya yang menakutkan, ia langsung berkeringat dan berpura pura tidak melihat apapun. Disaat ini ada perawat yang datang, memberitahu bahwa Sisca sudah sadar.
David langsung berdiri tetapi ditarik oleh Julietta, ia seperti sedang membujuk anak kecil.
Julietta "Kamu duduk disini, jangan bergerak, kami sebentar lagi akan kembali"
Tomy "iya" "kaka ipar kamu disini saja temani bos makan, yang disebelah sana bukan hal besar, aku pergi lihat sebentar saja "
Julietta "tapi"
Tomy "tidak apa apa, serahkan padaku"
Julietta mengantarkan Tomy kekamar lain melalui tatapannya. Menghadapi pertanyaan polisi, Sisca mengerutkan bibirnya, tidak berkutik dan melihat langit langit. Hingga Tomy masuk keruangan itu, kesadarannya baru kembali, ia mengamati Tomy dengan rasa tidak percaya.
Sisca "aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan"
Terhadap Sisca, Tomy tidak seramah seperti biasanya pada Julietta. Tatapannya dingin, melihatnya sekilas, membuat hati Sisca juga merasa dingin.
Tomy "Aku tidak peduli apapun alasanmu, keraguan apapun, kamu harus tahu bahwa kamu telah sengaja ribut di Aquarius dan hampir membuatnya terluka"
Sisca "David adalah bos misterius, iya kan" Sisca sama sekali tidak memperdulikan perkataanya, ia terus bergumam dengan wajahnya yang pucat dan berkata lagi "aku mau ketemu David, aku mau bertemu dia"
Begitu ia bergerak bangun, selang transfer darah memuncratkan darah, perawat yang disebelahnya bergegas menahan badannya agar ia tenang.
"Julietta adalah pembohong, dia tidak ada bedanya denganku, hanya saja ia pandai berpura pura, kalian jangan tertipu olehnya"
"Dia awalnya memang mau bercerai, dia pasti tahu David sangat kaya, makanya ia tidak mau bercerai"
Polisi tanpa eksprersi berkata pada Tomy yang disampingnya "carikan dokter untuk menenangnkannya, aku mencurigai dia mengidap penyakit psikis, mungkin saja ia lebih cocok dirawat dirumah sakit jiwa, setelah sembuh baru keluar"
"Baik, besok akan kuhubungi dokter"
Dikamar yang lain, Julietta sedang mengupas jeruk. David duduk dengan tenang diatasa ranjang pasien, menunggu Julietta mengupaskan jeruk disuapkan kemulutnya, ia diam diam mengamati Julietta yang sedang fokus mengupas jeruk, tatapannya tidak bergerak, Julietta yang ditatap itu merasa risi, ia kesal dan memelototinya.
"Apa yang kamu lihat"
David "aku takut kamu memakan jeruknya"
David "serat putihnya juga dibersihkan"
Julietta "aku bujuk kamu agar menjadi lebih baik, terima kasih"
Karena David terluka dan ini disebabkan oleh Julietta, dia tidak berani melakukan hal yang keterlaluan pada David, jika berdasasrkan kebiasaannya, Julietta pasti akan memukulnya dengan kekuatan meteor hingga ia mati ditempat dan tidak membiarkannya membuat masalah lagi dengannya.
Julietta mengupas jeruk dengan kasar, memberikannya ke David.
David dengan wajah sedih "satu tangan tidak bisa mengupas jeruk"
Julietta tidak tahan, ia terlihat kesal, David mengerutkan keningnya, bersuara serak lemah "bahu sakit, sepertinya terluka hingga ketulang"
Julietta dengan sabar mengupas jeruk itu, meletakkannya ditangannya.. David kali ini barulah dapat makan jeruk itu dengan tenang dan puas.
"Saat itu kenapa kamu memelukku dan tidak ingin melepaskanku, apakah kamu tidak sadar" kata Julietta pelan.
Julietta baru teringat kejadian itu, ekspresi David saat itu memang tidak benar. Dia seperti ikan yang terlepas dari air, memegang erat pinggangnya, hampir membuatnya marah. Julietta hampir saja mengira David menyukainya, jika tidak, mengapa ia memeluknya begitu erat.
David terdiam sejenak "aku sadar"
Julietta "apakah kamu salah tingkah karenaku"
__ADS_1
David mengangguk sambil berkata pelan "iya"
Julietta "aku tahu kamu tidak akan emmm"
Julietta terdiam sejenak, tidak menyangka jawaban David itu, dalam pikiran Julietta didunia David tidak ada kata cinta, dia menganggap David tetap akan mempunyai keturunan meskipun tanpa sex. Oleh karena itu, ia pertama kali langsung menghilangkan kemungkinan bahwa David mencintainya.
Julietta "kenapa kamu serius sekali, jangan membuatku mengira kamu menyukaiku"
David memegang jeruk ditangannya, jeruk yang lembut menyentuh kulitnya yang lembap, dia baru saja mau mengatakan isi hatinya. Sedetik kemudian Julietta mengerutkan kening sambil berkata "kalau begitu gawat"
Tatapannya terhentak, David belum sempat bertanya mengapa, tiba tiba Tomy mendorong pintu dan masuk kedalam lalu berkata.
"Wanita itu sepertinya sudah gila, ia masih menyuruh Erick untuk datang, jika memang Erick ada hubungannya dengan masalah ini, aku pasti tidak akan memakluminya"
"Tidak ada hubungannya dengan orang lain, ia hanya ingin mencariku untuk meluapkan emosi"
"Bagaimanapun, ia harus menerima akibatnya, sesuka hati melukai orang lain, mana bisa begitu"
"Tetapi"
Tomy penuh dengan keheranan melihat kearah David "Bos ini kesalahan pengucapanku, atau menurutmu bagaimana"
David yang dari tadi terdiam akhirnya sadar, ekspresinya sangat tenang, nada bicaranya pelan "sudah terekspos"
Baru mengatakannya, Erick datang. Ia masuk keruangan Sisca dan melihat dia yang sedang memberontak dikasur, seperti tidak rela, rambutnya berantakan, matanya memerah, sedikit mengerikan. Erick terdiam sejenak lalu berkata "sudah selesai"
"Kak Erick, kamu akhirnya datang menemuiku"
Ekspresi Sisca sangat menyedihkan "kamu dengarkan aku, kalian semua ditipu oleh Julietta, wanita itu, dia sama sekali tidak seperti yang kalian bayangkan, semuanya hanya tipuannya, dia.."
Erick "jangan bicara lagi"
Tatapan mata Erick serius, tidak ada lagi kehangatan seperti biasanya, dia berjalan kedepan ranjang Sisca "kalau kamu mengacau lagi, aku akan memberitahu semuanya pada paman, tante kalau aku tidak bisa mengaturmu lagi"
"Jangan kak"
Orang tua merreka sangat mengharapkan pernikahannya, beberapa hari yang lalu, mereka berdua dengan senangnya membahas lokasi pernikahan, Sisca tidak ingin membiarkan mereka tahu bahwa dirinya dan Erick sudah putus, dan lebih tidak menginginkan orang lain menertawainya.
"Sisca" Erick kelihatan sangat marah "apakah paman dan tante mengajarimu untuk menghancurkan nama baik orang lain seperti itu"
Sisca kesal dan berkata lagi "aku tidak bohong, julietta itu telah berbohong, begitu ia mendapatkan orang yang lebih berhasil, ia pasti akan melompat ke orang itu"
Erick melihatnya dengan tatapan kecewa dan dingin.
"Diluar sudah ada banyak sosial media yang ingin mendapatkan berita, sebaiknya kamu jangan sembarangan bicara, jika Tomy melaporkanmu, aku tidak akan berdiri dipihakmu"
"Kamu mau berdiri dipihak Julietta, demi apa, siapa temanmu yang sudah bersamamu sejak kecil"
"Adik perempuanku Sisca sudah tiada" Selesai bicara ia memutar badan dan keluar ruangan.
Ketika Erick keluar ruangan, ia mengangkat kepala dan tidak sengaja bertabrakan dengan pria yang bersandar dekat pintu, ia mengenakan jaket hitam, wajahnya tanpa ekspresi. Tatapan kedua matanya melihat sekilas ke Erick, dengan tenang.
Agak aneh, hingga membuat Erick teringat dengan whisper yang berada dalam layar laptop, saat itu apakah ia juga menggunakan tatapan meremehkan. Sungguh membuat orang merasa marah tetapi tidak bisa berbuat apapun.
"Ada apa dengan bahumu, tidak terluka parahkan" luka dipergelangan tangan Erick beberapa bulan lalu saat ini masih merasakan simpati.
David menyimpan tatapannya, bahkan membawa sedikit keseriusan tapi ia berkata dengan santai "tidak sebanding"
"Baguslah kalau begitu, oh ya dimana Julietta"
David memalingkan wajahnya, malas untuk menjawab. Tatapan matanya seakan menuliskan kata kata, apa urusannya denganmu.
Tomy telah pergi mengurus hal hal yang berhubungan dengan Sisca, dan juga sosial media yang ingin mewancarainya, tentu saja tidak sempat untuk mengurus David. Tentu saja David sedikitpun tidak butuh bantuannya. Ia baru saja beli minuman dan tatapannya jatuh. David demi melindungi Julietta, ia mengatakan sesuatu pada Erick.
"Aku tidak akan mengijinkan siapapun melukainya"
Tatapan Erick serius "pikiranmu sama denganku"
"Apakah kamu masih ingat dengan perkataanku, jangan menghabiskan waktu sia sia"
Erick mengerutkan kening "aku..em"
__ADS_1
"Aduh, Erick kenapa kamu datang kemari" dari jauh terdengar suara Julietta sambil melangkah mendekati mereka "ah apakah karena masalah kami"
Jika dipikirkan iya juga, Sisca berada disini tidak banyak orang yang dikenalnya, selain mencari Erick, takutnya tidak ada cara lain lagi. Erick menyadari perkataannya yang tadi dikatakan Julietta, "aku bukan datang untuk membelanya"
"Tidak apa apa, semuanya bergantung dengan bukti"
Julietta menggelengkan kepala, tidak ingin membahas Sisca.
"Apakah kamu baik baik saja, apakah terluka" Erick bertanya dengan penuh perhatian.
Julietta menjawab sambil tersenyum "tidak ada, aku.."
David tiba tiba mengisyaratkannya dengan suara batuk dan kebetulan memutuskan pembicaraan mereka. Tatapan Julietta langsung beralih ke David.
"Apakah lenganmu masih sakit, lalu kenapa kamu langsung keluar begitu saja tanpa minta ijin denganku"
David yang tadinya tidak perduli pun mulai melohat Erick, aura yang tajam sekejap hilang, dengan lemah menekan luka dibahunya sambil berkata "aku tidak dapat mencarimu, agak khawatir"
Julietta sungguh ingin menatapnya dengan kesal, siapa yang menyuruhnya untuk membelikan yakuklt. Terapi begitu David berpura pura lemah, kasihan, gayanya yang tidak tertolongkan itu membuat Julietta tidak bisa berkata apa apa.
Julietta menghela nafas " bukankah aku tadi sudah bilang akan segera kembali, ayo"
David dan Julietta kembali keruang pasien, meninggalkan Erick yang terkejut dan merasa abeh. Ia tidak menyangka bahwa David juga memiliki cara licik seperti ini, tidak tahu sebenarnya bagaimana suasana hati mereka. Sejujurnya dia sangat merasa cemburu.
Dokter memberitahu Julietta hal yang harus diperhatikan, yang paling penting adalah jangan terkena air, jangan melakukan olahraga berat, sebaiknya dengan tenang merawat luka.
Sebenarnya hanya luka goresan kecil, dokter awalnya tidak perlu memberikan saran apapun, hanya saja David sudah menyogoknya. Dokterpun dalam hati me doakan hubungan suami istri itu lancar, dan dengan serius emngatakan hal yang harus diperhatikan yang tidak perlu. Julietta mencatatnya satu persatu.
Mereka berdua pulang, David langsung duduk disofa berkata "aku ingin makan lambchop"
"Kamu luka begini, bagaimana bisa makan itu"
"Kalau begitu ikan.."
"Ikan juga tidak boleh makan, jika lukanya bernanah bagaimana"
Julietta takut lukanua terlalu lama sembuh akan mengakibatkan David tidak bisa bekerja seperti biasa, hal ini tidak akan bagus.
"Bebarapa hari ini kamu makan bubur saja, makan makanan yang bening, tunggunluk sudah membaik baru boleh makan besar"
David baru sadar bahwa ia sedang menggali lubang besar untuk dirinya sendiri, iapun menggunakan cara untuk menyelamatkan diri sendiri. "Sepertinya lukaku sudah membaik"
Julietta melototinya "kamu tidak sayang nyawa demi makanan, luka pembukuh dan tulang membutuhkan waktu selama 100hari, setelah satu minggu harus pergi cek ulang"
David tiba tiba merasa Tuhan tidak hanya menutup jendela, tetapi juga menutup pintu dengan kuat. Sedikit cahayapun tidak dibiarkan masuk. David lumpuh disofa, kali ini seqpertinya ia akan lumpuh sungguhuan. Apakah sekarang masih sempat menyesal.
##
Sisca beberapa hari ini merasa tersiksa cukup parah. Dia baru saja menetapkan diri dikota yang asing, menemukan satu pekerjaan baru, hanya karena kekacauan yang dibuat Aquarius, bos pekerjaan lamanya dijadikan rumor, pekerjaan Sisca tidak ada lagi, dia sudah tidak bisa mengandalkan Erick lagi.
Dia jarang menabung, kareana ia tidak pernah pikir akan terjadi krisis, dia yang baru keluar dari kantor polisi tiba tiba baru sadar, jika dirinya tidak mencari cara untuk menyelamatkan diri sendiri, takutnya ia hanya tersisa cara untuk pulang. Disaat ini Sisca hanya teringat sesesorang. Dalam keputusasaan ia mencari kartu nama itu dan meneleponnya.
Telepon diangkat, terdengar suara Charkie "kenapa hubungi aku lagi, bukankah sudah kabur dengan orang lain"
Sisca berdiri disudut kamar. Apartemen untuk ditinggali satu orang ini hanya 40an meter persegi, elektronik sudah tua, mau apa tidak ada apa apa. Dia sekarang menjalani kehidupan miskin seperti kehidupan sebelumnya, dia bagaimana mungkin mengijinkan diri sendiri melalui kehidupan yang mengecewakan ini, tidak, tidak akan boleh.
Sisca memegang HPnya, ketenaran, kekayaan dipikirannya seperti gelembung udara, hilang dalam sekejap. Ia hanya ingin melalui kehidupan yang sedikit lebih baik, apakah ini salah, mengapa mereka selalu menganggap dirinya sangat kejam. Sisca tidak rela.
Sisca tidak rela.
Dia mengelap air matanya, dalam hatinya kecewa berat. Erick dan dirinya sudah tidak ada kemungkinan lagi, David akan lebih tidak mungkin, orang sepertinya bagaimana mungkin mencintai orang lain. Dia sekarang hanya punya satu cara, pergi ke Charlie. Meskipun dia bukanlah pilihan yang tepat, tetapi akan lebih baik daripada Erick. Dia punya uang yang merupakan kelebihannya.
Suaranya bergetar "aku ingin bersamamu"
Charlie mengerang, dengan nada bicara meremehkan "kamu kira aku tukang pungut, jangan bercanda, aku tidak pernah mungut barang bekas"
Sisca yang disebut sebagai barang bekas pun meremas HPnya, seluruh badannya bergetar dia menahan amarahnya dengan sabar berkata.
"Juka aku punya bukti soal Aquarius"
Charlie berkata dingin "kamu kira aku kali ini akan percaya padamu"
__ADS_1
Sisca menarik nafas dalam dalam "sebaiknya kita bertemu"