Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
66


__ADS_3

Setelah berpikir begitu. Tomy tidak lagi merasa sedih. Terdengar ketukan lembut dipintunya, ternyata sekretarisnya yang masuk. Dia memakai pakaian yang sering dipakainya, namun dengan tingkat estetika yang dimiliki Tomy, dia dengan mudah menyadari bahwa sekretaris manisnya menggunakan lipstik cerah dan riasan mata.


Sekretaris itu benar benar tertarik pada dirinya, bahkan dia merias diri untuk menarik perhatiannya. Sangat bagus sekali. Saat Tomy mau memujinya, dia mendengar sekretaris itu berkata dingin "Bos, malam ini aku tidak bisa lembur, aku ingin minta izin"


"Meminta izin, apa yang kau lakukan" Tomy terkejut.


"Kencan buta, perjodohan"


Wajah Tomy mendengarnya langsung membeku "Apa"


Tomy dan Herman masuk keruangan David tanpa berjanji sebelumnya. Yang satu ingin mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan bos, yang satu lagi ingin mencoba untuk menceritakan keluh kesahnya.


Tomy "Sepertinya aku patah hati lagi"


Herman "Bukankah kamu baru saja mengatakan bahwa kamu sedang jatuh cinta"


Tomy menghela nafasnya "Dia bilang bahwa aku terlalu naif dan membosankan"


"Ternyata dia bilang kamu naif"


David yang tidak dalam kondisi baik itu tiba tiba mengangkat kepalanya. Dia mendengar perbincangan mereka, seolah olah ada ratusan ribu anak panah yang menembus jantungnya secara bersamaan. Saat ini dia benar benar tertekan.


Setiap orang memiliki masalah dengan perasaannya masing masing. Julietta sedang duduk didalam ruangannya dengan sedikit linglung. Dia membuat sketsa berulang kali. Semakin digambar semakin aneh, sampai akhirnya tanpa sadar ada sebuah konsep gambar yang muncul dilaptopnya.


Itu adalah David yang sedang berjongkok disudut, dengan awan gelap diatas kepalanya. Wajahnya nampak tidak bahagia. Julietta semakin pusing. Dia tidak pernah berpacaran sebelumnya. Bagaimana dia bisa membujuk David.


Dalam hatinya, dia belum benar benar memahami David. Karena itu, pada saat penting ini, dia tidak mengerti kenapa David marah. Satu satunya cara yang bisa dipikirkan olehnya adalah membujuk David dengan makanan.


Semalam dia tidur terlalu larut, jadi pagi ini dia tidak menyiapkan bekal dan harus pergi kekantin untuk makan siang. Biasanya David selalu makan dikantin ruangan khusus. Dia tidak suka tempat dengan banyak orang dan dia lebih tidak suka saat orang lain memperhatikannya, meskipun dia selalu terlihat tidak perduli akan hal itu.


Julietta melihat jam setiap selang beberapa waktu, waktu menunggu terasa panjang dan menyakitkan. Akhirnya jam makan siang telah tiba. Julietta sempat ragu ragu lalu mengirim pesan ke David. Kamu pergi makan dikantin, ayo makan bersama.


Beberapa menit berlalu, namun dia belum menerima balasan dari David. Membuat Julietta merasa tidak nyaman. Apakah hubungan mereka akan berakhir karena sebuah film horor, omong kosong.


Julietta segera berdiri dan mengambil ponselnya mau mencari David. Ditengah jalan dia bertemu Herman yang sudah lama tidak kelihatan. Julietta menyapanya dengan hangat.


Herman memanggilnya sambil tersenyum lalu berbisik "Kaka ipar, apa yang terjadi diantara kamu dan bos, apakah kalian bertengkar"


"Bukan bertengkar, hanya saja, mungkin aku membuatnya marah, ada apa, apa yang dilakukannya pagi ini"


Herman bisa bertanya seperti ini pasti karena dia telah melihat beberapa kejadian. Herman menekan suaranya dan berkata 


"Sejak pagi bos tidak mengatakan sepatah katapun, dia benar benar tidak perduli terhadap orang lain, dia hanya duduk diam disebelah jendela, benar benar tidak bergerak bagaikan sebuah patung, aku belum pernah melihat bos tertekan seperti itu"


Berakhirlah, semua hal ini nampaknya semakin tidak terkendali. Julietta bertanya "Dimana dia, apa masih diruangannya"


"Ya melihatnya seperti itu, mungkin dia tidak akan makan siang"


Sangat jarang melihat David yang tidak makan siang, Herman merasa sangat aneh,


"Kaka ipar, jangan marah kepada bos, dia hanya sedirian, dia tidak pernah terburu buru dalam mengerjakan sesuatu. Terkadang dia tidak sensitif dan tidak bisa merasakan pikiran orang lain, terkadang aku juga sangat marah, namun mengingat ingat gaji disni, hehehe jadi aku memakluminya"


Julietta tersenyum. Situasi saat ini sudah jelas kalau David masih marah kepadanya.

__ADS_1


"Baiklah, tidak apa apa, biar aku yang mengurus David, kamu tidak perlu khawatir"


"Baik, baik, kalau begitu aku tenang, maaf merepotkanmu kaka ipar"


Setelah meninggalkan Herman, pertama tama Julietta bergegas ke kantin khusus dan meminta koki untuk membungkus dua set makanan untuknya.


Makananya masih panas, perut Julietta berbunyi, mengingatkannya untuk makan tepat waktu. Julietta mengelus perutnya, lalu berjalan cepat. Sesampainya didepan ruangan David, dia mengetuk pelan, tapi tidak mendengar suara David sama sekali.


Julietta membuka pintunya, diruangan yang luas itu, hanya ada David yang duduk dikursi sendirian. Dia termenung melihat komputer yang ada dimejanya, seolah-olah setan merasukinya lagi. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Julietta ingin tertawa, namun merasa bahwa pemandangan sunyi itu terasa cukup aneh, sehingga membuatnya menahan tawanya.


Julietta meletakan kotak makanan dimeja David dan berkata "Sudah waktunya makan, kamu akan kelaparan jika tidak makan"


David masih tenggelam dalam awan kabutnya yang gelap itu, dia tidak mampu lepas darinya. Julietta benar benar tidak bisa melihatnya begini terus. 


"Coba kamu sadar, jika hatimu merasa tidak nyaman, lebih baik tidak usah kekantor hari ini, oke"


Setelah mendapatkan teguran dari Julietta, David akhirnya mengangkat kepalanya dan perlahan menatapnya. Kedua orang itu saling bertukar pandang. David bertanya dengan sedih,


"Apakah ini makanan perpisahan"


Pikiran apa yang ada di otaknya. Julietta dibuat bingung oleh kelakuan David. Tadinya dia pikir kalau David ketakutan, jadi dia mengabaikannya. Sekarang sepertinya bukan itu masalahnya.


Julietta bertanya sambil tersenyum "Mengapa harus berpisah"


Kata naif itu bergema dalam benaknya, namun David tidak bisa mengatakannya.


 Julietta berdiri dihadapannya itu tersenyum. Sedikitpun tidak ada ekspresi tidak senang ataupun tidak sabar, dia bicara lagi "Apakah kamu tidak enak badan, jangan berpikir terlalu banyak, katakan saja jika ada masalah"


David bertanya dengan dingin "Apakah kamu membenciku"


Sangat bagus, tidak membenciku, berarti menyukaiku. David menatap Julietta dalam diam. Ketika Julietta menggaruk rambutnya kebingungan, David berdiri dan berjalan kehadapan Julietta. Apa yang ingin dilakukannya. David tiba tiba mengulurkan tangannya kearah Julietta. Sekujur tubuhnya tiba tiba memancarkan rasa minta dikasihani. Dia berkata dengan sedih "Peluk aku"


Julietta merasa seperti dikejutkan oleh aliran listrik yang membuat hatinya melembut tak terkendali. David masih terus mempertahankan posturnya yang meminta pelukan itu. Dia menunggu pelukan menenangkan dari Julietta. Ekspresinya sangat patuh dan membuat Julietta yang menatapnya menjadi kasihan. Julietta masih tersenyum. Sikapnya melunak.


Merasa lucu dan tidak berdaya membuka kedua tangannya memeluk David. Tubuhnya yang lembut itu menempel ditubuh David. Lengannya yang ramping itu memeluk punggungnya sambil mengusap usap menenangkannya. David memeluk pinggangnya dengan erat. Dia mengubur wajahnya ke bahu Julietta. Nafasnya penuh dengan aroma tubuh Julietta yang wangi.


Tubuh Julietta seperti tidak memiliki tulang. Seluruh tubuhnya sangat lembut dan terasa nyaman saat memeluknya. David tiba tiba mengerti mengapa ada orang yang suka berpelukan seperti bantal. Julietta dipeluk sampai hampir kehabisan nafas. Dadanya ditekan ke badan David, tanpa jeda sehingga membuatnya agak kesulitan bernafas. Julietta mengingatkannya.


"Sudahlah, lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas."


David memprotes dengan tetap diam. Pada akhirnya, Julietta masih saja berada dalam pelukan David. Jika bukan karena Marc yang mengirimkan pesan dan bertanya dia lagi dimana, kemungkinan Julietta akan dipeluk terus oleh David.


Perhatian dari pelukan dan ciuman itu tidak sama. Ketika dua orang sedang berpelukan, mereka seakan akan saling menunjukan dirinya tanpa ada lagi halangan kepada pasangannya. Pelukan itu menunjukan kehangatan dari perasaan mereka, perasaan seperti ini tentu saja membuat orang saling terpikat. Julietta tidak akan bisa benci David yang seperti ini, sebalikanya dia sangat menyukainya.


"Makanannya sudah hampir dingin, cepat makan"


Ketika dia kembali ke kursinya, semua perasaaan sedih David sepertinya telah lenyap. Dia membuka kotak makan, lalu mulai makan. Julietta masih ingat kalau dia sangat menyukai ayam pedas ini, jadi dia minta koki supaya memasukan lebih banyak porsinya. David memakannya perlahan. Dia melihat Julietta dengan bahagia. Kedua orang itu makan dalam harmoni agak lama.


Akhirnya ketika Julietta sedang mengelap bibirnya dan bersiap untuk keluar, David tiba tiba bertanya "Pria seperti apa yang paling tidak kamu sukai"


Menanyakan langsung, maka akan langsung dapat hasil yang diinginkannya. David benar benar tidak tahu apa yang dinamakan dengan gengsi. Benar saja Julietta tersedak dan terkejut saat tiba tiba ditanyai hal itu oleh David.


Tadinya dia agak kaget dan tidak mengerti kenapa David tiba tiba bertanya seperti ini. Setelah mempertimbangkannya dengan cermat, Julietta menjawabnya.

__ADS_1


"Memiliki orientasi pria, egois, dan memikirkan keuntungan pribadi, berpikiran sempit, mesum, tamak, suka berbicara kasar, terlalu ambisius, mungkin itu saja"


David memilahnya dalam hati dan menemukan bahwa dia sama sekali bukan tipe pria yang disebutkan Julietta tadi. Seperti sedang bermain game dan mulai menghindari jam kerja, beberapa kali dia merasa baik setelah menghindari pertemuan.


"Tapi ada lagi" Julietta menatapnya dengan tatapan muram dan berkata "Pria brengsek"


Julietta "Aku kembali keruang kerjaku dulu, kamu semangat ya"


David mencari arti dari pria brengsek di internet cukup lama, lalu mulai mengerti apa maksud Julietta. Dia menghela nafas dan bergumam, untung saja bukan dia.


Herman yang bersiap untuk pergi bekerja itu tiba tiba ditarik oleh Tomy yang entah muncul dari mana. Tomy berbisik dengan wajah gugup "Apakah kamu tahu apa yang barusan kulihat"


Herman "Jangan bicara omong kosong, aku tidak bisa baca pikiran orang"


Tomy masih terdiam, dia menggunakan gerakan dan ekspresi berlebihan untuk menunjukan betapa terkejutnya dia saat itu.


"Bos membuka tangannya seperti ini lalu menunggu kaka ipar untuk datang memeluknya"


Dalam pikirannya yang sudah bertahun tahun duduk diposisi tinggi, saat ini dia benar benar jatuh kebawah. David bukan lagi seorang pria yang tidak punya kelemahan dan lebih dingin daripada orang lain. Dia bahkan memintanya peluk, sebentar.


Tomy sangat sulit untuk mendiskripsikan suasana hatinya sekarang. Seolah olah dia biasanya memelihara seekor singa, lalu tiba tiba dia menyadari bahwa singa itu berubah menjadi seekor kucing. Bahkan kucing itu menyuruh orang lain untuk menyakitinya.


Jika bukan dia tidak sengaja lewat karena ada urusan, dia tidak akan melihat gerakan bos dan istrinya dari luar pintu kaca. Sepertinya dia masih menganggap David sebagai kakak yang dingin dan cuek. Herman dan Tomy memiliki suasana hal yang sama rumitnya. Dia menghubungi Andy dan menceritakan lagi kejadian itu secara berlebihan. Jika bukan karena takut Bos akan menarik mereka kekuar dari grup, mereka masih ingin menggoda David.


Ekspresi kebingungan Tomy juga masih belum hilang saat bertemu David, seperti sedang menggenggam siswa baik dengan rambut yang dikepang. Wajahnya ragu ragu saat mau bicara dengan David. Dia berjalan mondar mandir membuat David merasa jengkel. David yang sedang sibuk dengan laptopnya itu berkata perlahan tanpa menoleh ke Tomy "Malam ini kamu lembur"


Tomy "Kenapa" sebuah berita buruk jatuh dari langit. Wajah David terlihat seperti bilang, apakah aku harus ada alasan untuk bekerja lembur.


Tomy kembali keruangannya dengan wajah sedih. Sekretarisnya itu masih belum pergi dan sedang membereskan dokumen. Matanya menyala, dia mempelajari gerakan bosnya yang sedang merentangkan kedua lengannya kearah sekretaris dan bicara "peluk aku"


Sekretaris itu memandang Tomy dengan tatapan dingin. Setelah keheningan yang cukup panjang, dia tidak bisa menahan diri untuk berkata kasar "Apakah otakmu sudah dijilat oleh keledai"


Diperjalanan keluar ruangannya, Julietta berpapasan dengan Erick yang sudah lama tidak dilihatnya. Sejak insiden terakhir dengan Sisca, mereka belum sempat bertemu lagi. Sisca sekarang sedang menjalani kehidupan dibalik jeruji besi. Julietta hanya berharap dia bisa tersadar dan tidak mencoba untuk berpikir berbuat aneh lagi.


Tidak tahu apakah Erick sempat mengunjungi Sisca. Namun melihatnya mengenakan mantel, dia nampak tampan, elegan dan sopan, dia pasti mengalami hidup yang baik akhir akhir ini. Wajah Erick sedikit terkejut.


"Julietta, apakah kamu selalu pulang selarut ini"


"Ya akhir akhir ini aku lumayan sibuk, dan aku juga akan memulai proyek baru lagi"


Proyek desain knight Walker  diterima dengan baik, dia pelan pelan menjadi tenar, ada beberapa perusahaan yang mengajak Julietta untuk bekerja sama.


"Kamu telah bekerja keras" Erick bicara sambil tersenyum.


"Inilah pekerjaan, menyakitkan dan juga bahagia"


Keduanya berbincang bersama. Setelah melalu kejadian terakhir, sepertinya Erick perlahan lahan mulai lega. Dia tidak lagi sengaja menahan ekspresinya dan membuat Julietta merasa kalau dia sangat bahagia.


Erick lanjut bicara sambil tersenyum "Akhir akhir ini aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat baik, kebetulan dia juga sempat satu grup denganku dalam sebuah game, jika perkembangannya berjalan dengan baik, aku akan mengenalkannya kepadamu nanti"


Sepertinya dia tidak menyangka bahwa Julietta akan terkejut seperti ini, Erick bertanya dengan kebingungan "ada apa"


"Emm tidak apa apa"

__ADS_1


Menyadari kalau reaksinya itu terlalu jelas, Julietta tertawa canggung. Dia menatap Erick dan bicara dengan tulus "selamat, dan aku memberkati kalian, dia pasti adalah seorang wanita yang sangat baik"


Jika dia tidak salah menebak, mungkin wanita itu adalah pasangan sesungguhnya Erick dimasa lampau, yang diceritakan dalam novelnya. Semuanya kembali sesuai alur cerita secara misterius, seolah olah adalah takdir.


__ADS_2