
Harga diri apa yang dimilikinya sebagai seorang pimpinan, bahkan sekretaris sendiri bisa mengolok oloknya seperti itu, apa lagi yang bisa dia lakukan.
Ruangan Julietta terletek tidak jauh dari sana. Setelah merasa cukup, Julietta berjalan keluar dan bertanya.
,Apa yang terjadi denganmu"
Tomy merasa seperti bertemu sahabat dekatnya, matanya mulai berlinang air mata, kemudian dia meraih tangan Julietta dan menariknya masuk kedalam ruangan. Ketika berjalan masuk, dia menabrak pandangan David yang sedang duduk didalam ruangan itu. Saat itu juga, Tomy merasa sangat canggung. Sejak dia masuk keruangan itu, David terus menatap tajam ketangannya yang memegang tangan Julietta. Tatapan itu membuat Tomy mengingat ketakutannya akan bekerja lembur. Tomy langsung melepaskan tangannya.
Dia telah menyinggung perasaan sekretarisnya tadi. Jika sekarang juga menyinggung perasaan bosnya, maka hari ini akan sangat sulit dilaluinya.
Julietta menyilangkan tanngannya didada dan bertanya "Jadi apa yang baru saja kamu lakukan"
Tomy bicara dengan wajah tertekan "Hanyalah interaksi normal antara pria dan wanita, tidak, kaka ipar, kamu tidak tahu, aku belum sempat memberitahumu, awalnya, kemarin aku ingin mencarimu dan membicarakan tentang situasi jelasnya, namun saat melihatmu menangis dan duduk berlutut dijalan"
"Sudahlah sudahlah, jangan bahas itu, terima kasih" Julietta menyeringai.
Tomy tidak menyadari bahwa dia telah menyinggung perasaan nyonya bos.
Dia menyentuh kepalanya dan berkata "Aku baru menyadari bahwa sekretarisku menyukaiku diam diam"
Julietta melongo, melihat reaksinya, Tomy semakin sedih dan bicarra "kaka ipar, mengapa reaksimu seperti ini, apa aku salah bicara"
"Tidak lanjutkan saja"
"Singkatnya aku merasa bahwa dia sangat memperhatikanku, tidak hanya dalam hal pekerjaan, juga dikehidupanku. Minggu lalu aku mengikuti perjodohan dua kali dan dia sangat tidak senang, dia memperlakukanku dengan dingin selama seharian lebih, dan juga selalu sengaja untuk menarik perhatianku, kemudian berpura pura tidak perduli dengan cara sebaliknya"
Julietta mengingat kalau Tomy sempat dua kali mengikuti perjodohan. Dia melemparkan semua pekerjaan dan negoisasi kerjasama kepada sekretarisnya, sehingga membuat sekretarisnya yang awalnya mau meminta cuti tidak bisa menghindarinya,
Saat itu wajah gadis itu depenuhi dengan perasaan tidak bahagia. Saat mendengar berbagai macam bukti yang disebutkan oleh Tomy, Julietta sangat yakin bahwa orang ini mungkin telah lajang terlalu lama dan dia mengidap semacam penyakit mythormania. Semua ini hanyalah perasaan yang dirasakan sepihak oleh Tomy.
Julietta bertanya dengan sabar "Jadi apakah ada bukti nyata, apakah dia sempat memberikan pengakuan kepadamu"
Saat mendengar ini mata Tomy terlihat cerah "ada" Sewakti dia sedikit lelah dan dia tertidur dimejanya sebentar. Sekretarisnya mengingatkannya bahwa setengah jam lagi akan ada pertemuan. Tomy bangun dan meluruskan badannya. Saat itu dia dan sekretaris saling bertukar pandang. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa mata yang seringkali nampak dingin itu menunjukan senyuman malu malu. Dia sedikit tersenyum. "Bos" Jantung Tomy berdegup dengan sangat kencang.
"Lalu dipotong oleh bunyi telepon berdering, aku benar benar kesal, menurutmu, apakah ada alasan lain selain ingin mengutarakan perasaaannya kepadaku saat itu.
Hari itu jika dia tidak salah ingat, dia baru saja keluar dari ruangan David dan menabrak sekretaris itu. Gadis itu tersenyum cukup lama. Julietta penasaran dan bertanya, dan sekretaris itu memberitahu, Bos Tomy tertidur dimeja sebentar, saat dia bangun ada tanda arloji yang mengecap jelas didahinya benar benar seperti karakter avatar.
Dia melihat Tomy yang memasang ekspresi bahagia. Julietta tidak tega untuk menghancurka kebahagiaannya.
"Ini semua hanyalah pemikiranmu sepihak, jika kamu tidak bisa memastikannya dan berkata seperti tadi pada sekretarismu, itu termasuk pelecehan, seperti romansa didalam kantor"
Tomy kelihatan sangat sombong dan bicara "Dia pasti akan membuat pengakuan kepadaku"
Julietta "Semoga beruntung"
Sekarang Tomy ada disini, jadi Julietta mendorong David secara paksa kearah Tomy. Dia tidak ingin bos besar berada diruangannya lagi dan mengganggu ketenangannya.
Masih banyak pekerjaan hari ini, dan Julietta sedang tidak ingin berbicara dengan mereka. Saat ini Julietta tiba tiba mengerti bagaimana perasaan sekretarisnya Tomy. Entah sejak kapan Tomy bermimpi disiang bolong seperti ini.
Saat Julietta sedang buru buru bekerja, pintu ruangannya terbuka dan Marc nerjalan masuk. Julietta meliriknya dan bertanya "ada apa"
Marc bertanya sambil tersenyum "Julietta hari ini masih saja tetap menjadi Julietta yang pekerja keras ya"
"Cepat katakan ada masalah apa"
__ADS_1
"Terima ini, dasar gadis kecil, sejak kapan kamu membuat souvenir, istriku sangat menyukainya dan ingin memintamu untuk membuat draftnya"
"Hah, souvenir"
Julietta menatap kosong ke Marc, Marc memutar mutar gantungan kunci yang ada ditangannya. Sebuah patung es ksatria wanita kecil, dibuat dengan indah dan penampilan yang jelas sebening kristal dengan panjang sekitar satu jari. Souvenir itu diumumkan secara resmi oleh Aquarius dan mereka juga memasangnya di semua platform internet.
Julietta sibuk menggambar, jadi tentu saja dia tidak menyadarinya. Dia melihat patung es kecil itu dengan terkejut dan gembira. Dia tidak menyangka kalau David akan membuatnya menjadi sebuah gantungan kunci kristal.
Teringat saat Julietta merasa sedih karena waktu untuk pembuatan pembuatan es kecil itu terlalu pendek. Sebaliknya sekarang patung es itu akan ada selama lamanya. Ternyata David meminta foto untuk ini. Hatinya hangat lalu mengambil gantungan kunci dan menggoyangkannya.
"Sangat cantik"
"Masih ada satu hal lagi"
"Apa"
"Apakah lusa kamu punya waktu, akan ada pesta kecil dan akan dihadiri oleh perusahaan lain dari industri yang sama, ada beberapa temanku, dan aku ingin mengajakmu mengenal dunia luar."
Julietta merasa tersanjung dan bertanya "apa, apakah. boleh"
"Kamu hanya perlu untuk berdandan yang cantik"
Marc membelai kepala Julietta sambil tersenyum, sama seperti merawat putrinya sendiri.
"Sngat bagus, jika bukan karena kondisi tubuh istriku yang tidak memadai, aku juga mengingunkan seorang putri, anak laki-lakiku itu setiap hari bermain diluar, benar benar tidak menyenangkan"
Mendengar penjelasan dari Marc, Julietta tersenyum dan berkata "Mana bisa menggambarkan anak sendiri menyenangkan atau tidak, dan juga, aku sudah bukan anak kecil lagi"
Belakangan ini rambut Julietta tumbuh cukup panjang, Julietta menggunakan karet gelang kecil untuk mengikat rambutnya dan terlihat seperti anak sekolah yang cantik imut. Hal itu membuat semua orang yang biasanya melihat Julietta dengan normal menjadi berpikir bahwa dia adalah teman wanita yang ideal untuk lak laki kaya.
Julietta sangat terharu karena bisa diajak ikut kepesta oleh Marc. Dalam lingkaran ini dia masih tidak memiliki tempat untuk berdiri. Marc lah yang membawanya selangkah demi selangkah maju kedepan.
"Jangan terlalu sungkan"
Patung es kecil itu digantung diponsel Julietta. Melihatnya bergantungan dihadapannya. Perasaan diakui itu membuat kekesalannya terhadap David lenyap. Dia berpikir bahwa David terkadang sedikit keterlaluan, tapi bukan berarti tidak memikiki sifat baik. Kejutan yang tulus ini benar benar menyentuh hatinya.
Dirumah David duduk disofa, lalu dia tersenyum melirik bibir Julietta. Sepertinya suasana hatinya cukup baik sejak kembali.
Julietta merasakan tatapannya, kemudia dia menunjukan hiasan diponselnya kepada David "Kuanggap ini adalah hadiah yang kau berikan kepadaku, terima kasih"
Hal sekecil itu bisa membuatnya bahagia seperti ini. David meletakan kedua tangannya dibelakang kepala, seakan akan dia sedang menonton TV. Karena Julietta sedang dalam suasana hati yang baik, dia pun juga ikut menjadi bahagia.
David bertanya "Lalu kapan kamu memberikan hadiah untukku"
Dulu pernah bilang saat merayakan ulang tahun, tapi David telah mengacaukannya. Dulu pernah bilang saat memuji kelakuannya, namun kue itu terlempar ditempat kecelakaan.
David bertanya dengan penuh keyakinan, namun Julietta malah menjawabnya dengan ketus "Aku telah memberimu banyak hadiah"
Meskipun hanyalah sebuah hal kecil, namun dia sangat menyukai batu kecil yang dibawa pulang itu. Bahkan dirinya sendiri juga memakai gelang batu kecil itu ditanganya.
Melihat tatapan kosongnya, Julietta mencibir dan bicara "Kamu seharusnya tidak melupakan batu ginjal yang telah kuberikan kepadamu itu"
David nampak berusaha keras untuk mengingatnya. Setelah waktu yang lama dia bertanya dengan ragu ragu "Batu kotoran kambing itu"
"Jika masih. bilang itu bola kotoran kambing, maka aku akan memusuhimu, terima kasih"
__ADS_1
Teman baikmu itu telah membuat Julietta melewati batas kesabarannya. Ternyata tidak bisa mengharapkam pria menyebalkan ini untuk mengerti apa yang disebut romantis. Julietta menatap dengan kesal dan mulai menginterogasi David.
"Bola kotoran kambing yang kiberikan padamu itu, eh batu kecil yang kuberikan kepadamu, tidak dibuang olehmu bukan"
David nampak serius "Apa perlu aku mencarinya"
Julietta "Mengapa kamu tidak membuang dirimu saja"
Namun seprtinya tidak perlu menyalahkan David, hanya karena masalah sebuah batu kecil. Jika hilang ya biarkan saja hilang. David juga tidak suka memakai aksesoris, jadi tentu saja dia tidak memperhatikannya. Tetapi masih ada sedikit rasa kecewa dihati Julietta. Dia merasa niat baiknya dibuang begitu saja, seperti dia tidak memperdulikannya sama sekali.
Namun jika dipikir lagi, saat itu David tidak menyukainya. Jadi bukanlah itu hal yang wajar jika dia membuangnya sembarangan. Julietta menenangkan dirinya sendiri.
"Baiklah" Julietta memasukan ponselnya kedalam saku dan bilang dia mau mandi. Suara genuruh petir terdengar dari luar, diikuti dengan hembusan angin dingin.
Sepertinya tengah malam akan ada turun hujan lagi. Belakangan ini cuaca membuat lemari pakaian Julietta sedikit lembab. Saat hari cerah nanti, dia akan menjemur pakaiannya untuk menghilangkan bau apek yang menempel. Air panas bercipratan dilantai keramik kamar mandi. Uap air panas mengepuk, membuat tubuh merasa hangat.
Julietta melepaskan pakaiannya dan berdiri dibawah shower untuk mandi. Tubunnya yang lembut dan putih itu diwarnai dengan merah muda, kakinya ramping, tubuhnya sangat indah. Pemandangan wanita cantik yang sedang mandi itu, hanya bisa dinikmati oleh cermin dalam kamar mandi itu.
Dia menambahkan busa dirambutnya dan menggosoknya. Aroma bunga sakura yang ringan dan tidak yerlalu kuat. Aroma itu sangat nyaman. Pikiran Julietta dipenuhi oleh rencananya mengikuti pesta yang akan dihadirinya lusa. Dia memikirkan pakaiannya dan dandanan apa yang akan digunakannya nanti. Rok panjang, apakah tidak terlalu berlebihan. Jika mengenakan celana jeans, sepertinya kurang formal.
Sepertinya harus bertanya kepada Marc tentang pakaian apa yang cocok digunakan nanti. Saat sedang memikirkan ini,Julietta mengangkat kepalanya dan membiarkan air hangat membasahi wajahnya. Busa dirambutnya seperti krim yang perlahan lahan turun dari.kepala dan menetes dikulitnya yang putih dan berkilau. KLIK.
Terdengar suara samar, tiba tiba lampu dikamar mandi mati dan seketika dipenuhi oleh kegelapan. Julietta terkejut dan buru buru mematikan shower. Masih ada sedikit busa diwajahnya. Dia cepat cepat mengambil handuk dan mengelapnya, lalu berteriak.
"David, apakah mati lampu, apa yang terjadi"
Dibelakang pintu, David menjawabnya "iya, jangan takut, mati lampu diseluruh area ini"
Pagi dan malam normal saja, mengapa saat dia sedang mandi harus mati listrik, kamar mandi jadi gelap gulita. Tiba tiba dari terang menjadi gelap, Julietta tidak bisa melihat apa apa.
Julietta berjalan perlahan, meraba raba namun tidak menemukan tempat dimana dia meletakkan pakaiannya. Saat ini dari luar kaca buram yang memisahkan pintu kamar mandi itu tiba tiba muncul cahaya sehingga Julietta bisa melihat dengan jelas. David bertanya dari balik pintu dengan samar dan lembut
"Apa kamu bisa melihat jelas sekarang"
"Iya jelas"
Menggunakan cahaya dari David, Julietta buru buru membilas bersih rambutnya dengan air, kemudian mengelap tetesan air ditubuhnya dan memakai pakaiannya. Ketika dia melangkah keluar kamar mandi, dia menyadari kalau ruangan mereka sangat gelap. David bersandar di dinding, satu tangannya masuk kesaku, tangan lainnya menyalakan senter dari ponselnya untuk menerangi ruangan. Julietta bertanya dengan cemas "Kapan listriknya akan tersambung kembali"
David "petugas Sedang membetulkan sirkuit sekarang, mungkin akan makan waktu beberapa jam"
Perumahan itu berisi rumah yang lumayan tuda. Terkadang terjadi kerusakan pada peralatan kelistrikan, itu cukup normal. Sepertinya semua orang tidak menyangka bahwa bos dan nyonya bos perusahaan Aquarius itu tinggal disebuah rumah kecil yang buruk dan tua itu.
"Listrik padam, mau bagaimana lagi, tapi masih terlalu awal untuk tidur"
Julietta terdiam sejenak dan berkata "Lebih baik kita emm"
David yang sedang bersandar didinding itu segera berdiri tegak dengan mata berbinar.
"Lebih baik kita, menonton film hantu, aku memiliki beberapa film dilaptopku"
Entah mengapa David tidak terlalu bersemangat. Menonton film hantu saat mati listrik, adalah sebuah hal yang sangat sangat tepat. Untungnya laptop mereka telah terisi penuh sebelumnya. Diperkirakan bisa bertaham beberapa jam, cukup bagi mereka untuk menonton sebuah film.
Untuk menciptakan suasana yang lebih baik, Julietta mengumpulkan semua cemilan David yang dia sembunyikan. David melihatnya tapi tidak berani marah dan dia membantu memberi penerangan dengan senter dalam diam. Dia menatap Julietta yang membawa sekeranjang cemilan itu kemeja diruang tamu.
Dia juga mengeluarkan makanan yang tidak habis dimakan selama dua hari ini dari kulkas. Juietta sibuk bolak balik, sementara David bertanggung jawab untuk mengangkat barang barangnya. Setelah menghabiskan beberapa saat untuk bersiap siap. Julietta membuka laptopnya dan bertanya "Film apa yang ingin kamu tonton"
__ADS_1
David menatap lesu Julietta yang sedang membuka file dilaptopnya, file. Horor dari atas kebawah dia mengklasifikasikan film itu berdasarkan negara asalnya itu terlihat sangat rapih.
"Kamu ingin melihat film dari negara mana, pilihlah sesukamu, aku telah selesai menonton sebagian besar film film ini" sikap Julietta seakan sedang menghiburnya