Memasuki Duniamu

Memasuki Duniamu
63


__ADS_3

Julietta memalingkan wajahnya dan berkata dengan wajah datar "Aku lapar, aku mau pergi, terserah jika kamu ingin main hujan disini"


Selesai mengatakan itu, dia berjalan ke samping. Tiba tiba dia merasakan suatu kekuatan dipergelangan tangannya. Sebelum dia sempat mengambil langkah kedua, dia telah ditarik kembali kedalam pelukan David. Dalam ekspresi kebingungan Julietta, David berbisik "lupakan saja"


Lupakan saja, apa yang dilupakan, sebelum kata kata Julietta itu sempat keluar, bibirnya sudah terblokir oleh sesuatu. Pikirannya menjadi kosong sesaat, dia terkejut dan terpaku bagaikan sebongkah kayu. Kepala Julietta pusing.


Dia hampir bisa merasakan nafas David yang berhembus dipipinya, seperti pendingin udara yang disetel kesuhu tertinggi, membuat pipi dan telinganya memerah. Sentuhan lembut dibibirnya terasa nyata, dan akhirnya dia menyadari apa yang sedang terjadi diantara mereka.


Tubuh Julietta mematung, dia tidak berani bergerak, dia hanya mendengarkan suara dengungan dikepalanya seolah olah ada baling baling besar yang berputar dilangit. Dia sempat memberontak, namun pinggangnya dipegang erat oleh David. Mengapa tenaga David sangat kuat.


Julietta merasa bahwa bumi berputar, dia hampir saja tidak bisa bernafas. David tidak melangkah lebih jauh. Dia hanya tertumpu dibibirnya sejenak, lalu meninggalkan bibirnya dan perlahan lahan melepaskan tangannya.


Julietta masih merasakan kehangatan bibir David dibibirnya. Hujan semakin deras. Hujan musim semi ini datang terlalu tiba tiba, sama seperti suasana hati Julietta saat ini.


Dia tidak berani mendongak, karena tahu David sedang menatapnya. Julietta masih belum siap untuk hubungan seperti ini. Suasana hening memenuhi atmosfer disana. Tetesan air hujan menghantam dinding dan tanah berlumpur, menimbulkan suara gemericik. Mulai terdengar suara David "Kamu"


Tiba tiba Julietta merasa sangat gugup "apa"


"Apkah kamu diam diam makan kue krim puf"


Dia memang membeli beberapa kue krim puf ketika di toko kue tadi, lalu berjalan keluar setelah memakannya. Mengenai bagaimana David bisa mengetahuinya, mungkin dia masih menyisakan sedikit aroma itu dibibirnya. David menghela nafas dan berkata perrlahan "ternyata kamu makan diam diam"


Pria brengsek ini, tidak mungkin menciumnya hanya untuk memeriksa apakah dia makan diam diam, pasti begitu. Julietta terdiam dan sedikit merasa tertipu "kamu"


"Ayo jalan " David memotong ucapannya.


David memegang pergelangan tangannya dan memimpin Julietta untuk keluar dari jalanan sepi itu, Ekspresinya sangat tenang, nampaknya Julietta sudah melupakan ciuman tadi. Mereka makan berdua dengan harmonis. Tidak ada yang menyebutkan masalah ini lagi.


David dan Julietta basah kehujanan. Sekujur tubuhnya basah kuyup, bahkan penghangat ruangan didalam restoran itu tidak mampu menghangatkan Julietta.


Ketika mereka keluar dari restoran, angin dingin mulai bertiup, Julietta tidak bisa menahan bersinnya dan gemeteran "Dingin sekali, lebih baik kita pulang naik taksi"


David bicara "Aku memakai mantel"


Karena mengira kalau dia akan melepaskan mantelnya untuk dirinya, Julietta buru buru melambaikan tangannya dan berkata "Tidak perlu, nanti juga akan terasa hangat ketika naik mobil"


David terdiam sejenak, lalu menatap Julietta dengan tatapan bingung. Wajahnya seakan mengatakan, apa yang kamu pikirkan.


"Maksudku mantel ini cukup hangat, lain kali kamu juga boleh memakainya"


David benar benar dipukul sebelum naik mobil. Pria brengsek yang benar benar tidak memiliki keiinginan untuk bertahan hidup.


Julietta berpikir bahwa dirinya benar benar terobsesi kepadanya, dan David memanfaatkan hal itu. Seharusnya dia meninjunya keudara saat dia berlaku jahat, sehingga David menyadari bahwa perlakuannya itu sangat tidak layak terhadap wanita.


Hujan semakin deras, udara mulai bercampur dengan aroma tanah yang lembab, bercampur dengan aroma ranting kayu yang segar. Tetesan air hujan berjatuhan kejalan, seperti romeo dan Juliet yang berciuman dengan panas dibawah hujan, membuat pakaian mereka basah kuyup.


Sesampainya dirumah, Julietta mengganti sepatunya dan berkata "romeo"


David "siapa yang kamu panggil"


"Maaf aku tidak sengaja"


Seluruh tubuhnya dingin, tulangnya seperti terbenam kedalam air dingin. Julietta menutup tubuhnya kedalam jaket dengan gemetaran, namun David tidak melepaskannya begitu saja "siapa romeo"


Julieta "Apa yang kamu lakukan, apakah kamu tidak tahu Romeo dan Juliet"


"Mengapa harus memanggil namanya"


"Aku tidak sengaja"


"Mengapa bisa tidak sengaja"


Julietta bingun dan berkata "Haruskah kamu bersaing dengan karakter diTV"

__ADS_1


David "kamu mulai ragu"


Kadang kadang benar benar tidak mengerti dengan pemikiran David, hal apa yang bisa membuatnya ragu. Julietta bicara agak tertekan. "aku terlalu malas untuk berdebat denganmu sekarang, aku mau mandi air hangat, kalau tidak aku akan flu masuk angin"


Sedetik kemudian, Julietta melihat apa yang disebut kenyataan, dia melihat David, mengalah dan segera menjaga jarak beberapa meter darinya. Dihadapan Julietta yang terkejut itu David bicara dengan tenang "Jangan sebarkan flu padaku"


Apakah ini sesuatu hal yang bisa dikatakan oleh seorang pria. Julietta mengakui bahwa jiwa pemberontaknya cukup serius. Jadi dia merespon dengan cepat untuk membalasnya.


Selesai mandi dia melihat David sedang duduk disofa sambil menonton TV. Julietta memanfaatkan kesempatan ini untuk menurunkan suhu pendingin ruangan diam diam. Dia sengaja menyetelnya diposisi sangat dingin, sementara dia memakai pakaian yang tebal. David tampat tidak sadar dan terus menonton TV. Setelah beberapa saat dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres


"Suhu dalam ruangan sedikit rendah, dimana remot AC"


Julietta "Tidak diizinkan untuk menyetel ke suhu tinggi, menurutku ini sudah cocok"


David "Aku akan kembali ke kamar"


"Coba saja kalau berani"


David terdiam sejenak "Apakah kamu ingin membalas dendam padaku"


Julietta menolak mengakuinya dengan menggeleng.


"Jika ingin membuatku flu, cara seperti ini tidak mempan terhadapku"


David mengalihkan wajahnya dan menyarankannya dengan serius "Lebih baik pikirkan cara yang lebih efektif"


Julietta segera mengerti maksud dari cara yang lebih efektif yang dikatakan David. Pandangannya gelap, gambaran didepan wajahnya menjadi terbalik, lalu punggungnya menabrak bantalan soda yang empuk. Julietta panik.


Dia bicara dengan panik "Lebih baik naikkan suhu ruangannya, tidak bagus jika kamu flu"


David meletakan sikuny disofa, meraih pergelangan tangan Julietta yang memberontak dan memilih untuk langsung mencium bibirnya. Kedua bibir mereka bersentuhan. Sentuhan intim itu membuat David menghela nafas rendah. Kali ini dia tidak berhenti. Namun dia menikmati rasa bibirnya, seperti sedang makan strawbery kecil. Seperti mashmalow yang lunak lembut, namun lebih lunak lagi, lebih manis daripada macaron, tetapi tidak membuat jenuh.


Julietta jarang sekali menunjukan sikap lemah pasrah seperti ini, sehingga David tidak bisa menahan diri untuk mengigit bibirnya. Julietta hampir mengira bahwa dia akan habis dimakan. Seperti sebuah hidangan yang dimakan perlahan sampai habis. Dia mengeluarkan suara rendah, tapi bibirnya segera dilumat.


Perlahan lahan mereka tidak lagi merasakan suhu dingin, nafas memburu dan panas itu membuat tubuh mereka menjadi hangat. Wajah dan telinga Julietta memerah, dia berpikir, apakah penyebaran air liur bisa menyebabkan orang flu, mengapa dia selalu merasa kalau dia sedang dimanfaatkan.


Ditengah malam, terdengar suara pintu dari dalam ruangan itu, nampak dua sosok orang yang berjalan keluar dari kamar  masing masing, dahinya panas, langkahnya melayang. Kedua orang itu duduk disofa secara bersamaan, kemudian mengambil termometer dan menjepitnya. Demam tinggi yang berlangsung semalaman itu membaik, untungnya hanya flu ringan.


Suasana hati Julietta sangat rumit. Mengingat ciuman tadi malam, dia menjadi sedikit canggung saat berpapasan dengan David. Tetapi karena keduanya menderita demam, juga ditambahkan oleh rasa canggung yang menambahkan perasaan, suasana jadi lucu. Julietta menutupi wajahnya.


Ketika orang lain memiliki hubungan yang manis saat berpacaran, mengapa mereka sellalu saja memiliki kejadian tak terduga. David keluar dari ruang kerjanya dan telah mengganti pakaiannya.


Dia mengenakan mantel hitam lagi, dengan sweater abu abu muda didalam mantelnya, dibagian dadanya ada logo gurita kecil yang lucu. Gaya berpakaian ini jelas bukan pakaian yang dibeli sendiri oleh David. Seleranya hampir selalu warna solid yang terdiri atas warna hitam, putih dan abu abu. Tidak ada pola dan tidak ada warna lain, sehingga membuat baju kasualnya pun terlihat populer.


Jika bukan karena wajah yang memberikan dampak negatif keorang lain, setelan itu akan menjadi setelan sederhana yang bagus.


"Ini seragam kantor lagi"


"Iya kamu mau"


"Tidak mau"


"Ayo berangkat"


Julietta berdehem, lalu mengambil tasnya dengan santai dan mengikuti David keluar.  Mereka duduk dikuris belakang, Julietta menundukan kepalanya main HP. 


Satu hari telah berlalu dan pengikutnya bertambah sampai seratus ribu orang. Jumlah unggahan yang diteruskan, pesan pribadi dan jumlah suka atas unggahannya sangat banyak. Julietta bahkan telah mengatur semua pengingat notifikasi ke mode diam.


Supir menyetel musik piano klaasik, Julietta membuka jendela mobil dan merasakan hembusan angin segar diwajahnya. Sepertinya hanya dalam satu malam, semuanya terlahir kembali.


Semak semak hijau dikedua sisi jalan menambahkan sedikit warna hijau. Pohon pohon yang ramping merentangkan cabang dan dedaunan, kuncup bunga mukai bermunculan, menunggu datangnya musim semi,.


Julietta mengambil nafas dalam dalam "Sangat indah, musim semi akan tiba"

__ADS_1


Ketika tinggal sendirian, Julietta takut akan musim gugur, musim terpanjang adalah musim dingin, sekarang dia tinggal bersama David. Sudah cukup lama, dan telah melewati banyak hal, namun dia tidak terlalu memperhatikan banyaknya perubahan pada musim. Dia tidak tahu apakah ini merupakan hal baik atau sebaliknya.


David "Dalam dua minggu bunga aprikot dan bunga sakura akan bermekaran, apa kamu ingin melihat pameran bunga"


Julietta menjawab tersenyum "baiklah"


Mereka berdua belum pernah melakukan kencan serius sampai hari ini. David tiba tiba mengajak untuk berjalan jalan keluar dan tidak lagi menetap dirumah seperti kucing. Bisa dibilang ini merupakan kemajuan yang cukup baik.


Julietta menoleh dan tersenyum. Sepasang mata persik dan cantik itu mengecil. Bulu matanya sedikit terangkat. Bola matanya gelap dan berkillau, seolah olah ada ribuan bintang yang tertidur didalamnya dan sedang berkedip dengan aktif karena sukacita yang dirasakan hatinya.


Tatapan mata David jatuh dibibir mungil yang lembut dan berwarna merah muda itu. Rasanya sangat lezat. David tiba tiba menyadari bahwa betapa kata kata itu terdengar seperti menyakiti perasaan orang.


Dia menggenggam tangan Julietta, jari jarinya terasa sangat lembut dan bisa dengan mudah dipegang ditelapak tangannya. Saat Julietta terpana, David tiba tiba maju mendekat mau menciumnya, kemudian pipinya tiba tiba ditampar oleh Julietta.


Julietta berkata tanpa ekspresi "Nanti kamu akan flu, jangan sentuh aku"


Supir yang didepan tidak bisa menahannya. Dia mencoba untuk bernafas seringan mungkin sambil menahan senyumannya. Dia nampak seperti sebuah boneka kecil yang gemetaran naik dan turun.


Menyadari tatapan maut dari bosnya, supir itu menutup mulutnya dan menurunkan baffle diantara kedua baris itu untuk menutupi pandangannya.


Julietta menyatakan bahwa dirinya benar benar memiliki dendam kepadanya.


Dasar pria brengsek ini, dia takut flu makanya Julietta tidak menyentuhnya, namun dia menciumnya dengan bejat, dia sampai merenungi perilaku David ini. Sebelum Julietta memaafkannya, jangan harap dia bisa menyentuhnya.


Pintu lift kantor terbuka, Julietta melangkah keluar dari lift duluan, David mengikutinya dengan tenang dibelakangnya. Semua karyawan kantor yang berpapasan dengan mereka menyapanya dengan hati hati. Kurang dari setengah jam, gosip itu sudah menyebar didalam perusahaan.


Bos besar benar benar dikendalikan dengan ketat oleh istrinya.


Nyonya bos berjalan didepan tanpa menengok sedikitpun, keren sekali.


Wah, mungkin semalam dia berlutut dan dikendalikan.


Jika Julietta sampai mendengar gosip tersebut, mungkin dia akan merasa tertekan. Dia hanya berjalan didepan David, mengapa bisa sampai menimbulkan berbagai macam rumor yang aneh.


Julietta berjalan masuk keruangannya diikuti terus oleh David. Julietta menahanya didepan pintu.


"Apa yang kamu lakukan"


"Berjalan santai"


"Cepat kembali keruanganmu"


David berdiri diam dan menunjukan apa arti dari diam dan berdiri tegak. Ketika kedua orang itu sedang terdiam didepan pintu, mereka mendengar suara Tomy sedang berbicara sepanjang jalan.


"Malam ini kita makan bersama" Tomy bertanya


"Tidak" Sekretarisnya menjawab dengan dingin.


"Aku tahu kalau kamu malu, tidak apa apa, aku"


"Bos, ini adalah pelecehan di tempat kerja, apakah aku harus mengumumkannya bersama anda"


Tomy terdiam. Sekretaris manis yang selalu bersamanya itu berwajah muram, lalu dia mengeluarkan ucapan yang biasanya diucapkan kepada para saingannya kepada bosnya sendiri.


"Apakah karena bos sudah lama tidak memiliki pasangan, sehingga melakukan hal aneh untuk melepaskan diri, otak anda harus lebih raisonal, jangan perlakukan saya sebagai wanita sembarangan, diwaktu kerja saya harap anda lebih bisa mengendalikan diri, jika tidak, aku akan mempertimbangkan tawaran kerja dengan gaji tinggi yang diberikan oleh head hunter kemarin"


Tomy terkejut "Ada head hunter yang ingin menarikmu, gajinya sangat tinggi, aku akan memberimu kenaikan gaji, tidak masalah"


Sekretaris itu menggelengkan kepalanya "Meskipun gajinya lumayan baik, tetapi masih belum bisa membuatku berpikir untuk pindah kesana"


Tomy menghela nafas lega "Bagus kalau begitu"


"Yang membuatku terkesan adalah IQ dan EQ bos mereka itu sangat normal" Sekretaris melirik Tomy.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, Tomy sadar bahwa dirinya sedang dimarahi oleh sekretarisnya itu. Wajahnya pucat, sekretaris itu menatapnya, lalu meninggalkannya tanpa hormat.


__ADS_2